
HAI CHINGU....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Sudah satu minggu sejak Reyhan keluar dari rumah sakit. Keadaannya semakin membaik. Reyhan sudah bisa berjalan walaupun masih sedikit pincang.
"Lo yakin mau ke kampus?" tanya Nindia memastikan.
"Yakin,"
"Masih sakit?" tanya Nindia sekali lagi. Ia merasa khawatir melihat Reyhan.
"Kalau sakit sih masih. Tapi mau gak mau harus maauk hari ini. Kasian Bu Rani kalau harus masuk saat usia kandungannya semakin tua. Karena dia mengajukan cuti, secara tidak langsung gue bukan lagi asdosnya, tapi dosen pengganti sementara!" terang Reyhan.
Nindia hanya ber-oh ria. Ia sudah menebak kalau Reyhan akan menjadi dosen pengganti Bu Rani.
"Gue butuh asdos. Lo mau jadi asdos gue?" tawar Reyhan.
"Siapa? Gue? jangan bercanda lo!" tegas Nindia.
"Iya. Emang lo gak kasian lihat gue kalau harus ngajar sendiri. Kan lo tahu, gue belum sehat" Reyhan berusaha menjerat Nindia.
Nindia sedikit berfikir. Bimbang dengan apa yang akan diputuskannya. Namun saat melihat kondisi Reyhan yang belum sehat sepenuhnya, membuat hati Nindia tersentuh dan mau menjadi asdos Reyhan.
"Kalau gue mau bolos gimana?" tanya Nindia. ia tidak yakin akan selalu ada saat Reyhan membutuhkan.
"Nilai lo yang jadi taruhannya,!" ancam Reyhan dan Skakmat bagi Nindia.
Seperti ibarat keluar kandang macan dan masuk kandang singa. Bahkan Reyhan lebih menakutkan daripada Bu Rani saat sudah berada di kampus.
"Eh curut, gak bisa gitu dong! gini deh, gue ambil jatah bolos satu kali seminggu. Gue gak bisa kalau harus jadi anak tertib dan rajin," Nindia mencoba negosiasi dengan Reyhan.
"Terserah lo. Itu konsekuensi yang harus lo terima. Gue udah jelasin saat pertama kali gue masuk kelas. Lo gak lupa kan.!"
Oh ya, sekarang mereka berada di dalam mobil dan menuju kampus. Namun perdebatan tentang hal-hal sepele masih berlanjut.
Saat mendekati area kampus, Nindia turun di pertigaan dekat kampus. Ia tidak mau orang lain mengetahui dirinya satu mobil dengan Reyhan. Yang notabennya mempunyai fans fanatik dan ganas. Nindia tidak mau menyerahkan dirinya sebagai upan di pagi hari.
____________________
Nindia saat ini sudah berada di dalam kelas. Seperti biasa, kelas Nindia selalu ramai. Apalagi pembuat kebisingan sudah sembuh dari sakitnya.
"Nin...." teriak Tia. "Gue kangen sama lo," kini Tia sudah memeluk Nindia.
Nindia yang mendengar teriakan Tia sontak menutup telinganya. Ia masih sayang dengan kedua telinganya.
"Ya ampun.! Toak masjid udah bunyi lagi," kata Bella yang langasung mendapatkan sambutan tawa dari Nindia.
"Ya ampun, kok jahat sih. Tia kan baik, kenapa selalu di buli sih," Tia berbicara dengan nada yang sedikit dibuat-buat.
"Jijik gue denger lo ngomong kaya gitu," Nindia brrgidik saat mendengar Tia berbicara.
"Gue kangen sama lo," ucap Tia yang langsung memeluk Nindia lagi.
"Gue juga kangen. Kangen teriakan lo, sikap lo, dan semuanya" Nindia menepuk punggung Tia. Nindia sangat merindukan sosok yang sudah di anggapnya sebagai adik.
__ADS_1
"Oh iya, kemarin gue di chat sama anak Fakultas teknik. Ganteng tau, gimana menurut kalian?" Tia menunjukkan isi chat dan foto anak itu.
Bella dan Nindia memutar matanya. Mereka sangat jengah dengan apa yang selalu menjadi topik apabila berbicara dengan Tia.
Tak lama Gita datang dari arah pintu dengan mata sembab. Nindia sudah bisa menebak apa yang terjadi sama Gita karena Gita sudah menceritakannya pada Nindia.
Gita yang melihat Nindia langsung berlari dan berhambur ke dalam pelukan hangat Nindia. Gita terisak, bahunya naik turun saat meluapkan segala emosinya. Nindia dan Bella menepuk punggung Gita. Bella sebenarnya juga tahu permasalahan Gita, namun tidak tahu kelanjutannya.
"Udah tenang?" tanya Nindia saat dirasa isakan Gita sudah mereda.
Gita melepaskan pelukan Nindia dan menyeka air matanya yang tersisa dengan tisu yang diberikan Tia.
"Gue putus sama Akas." air mata kembali jatus dari mata indah Gita. Nindia membantu Gita menyeka air mata itu.
"Udah ya, kalau jodoh gak akan kemana kok!" Nindia berusaha menenangkan sang sahabat.
"Yang di belakang masih mau ngerumpi?"
Bariton suara yang sangat dikenal Nindia mengintrupai percakapannya dengan Bella, Gita, dan Tia.
"Kalau masih mau ngerumpi, silakan keluar dan jangan mengganggu kelas saya!" ucap tegas sang Dosen Ganteng.
Gila,! sikap di rumah sama di kampus kenapa beda banget. Kalau dirumah aja jahilnya minta ampun, saat sudah dikampus berubah jadi dingin. Mimpi apa gue punya suami dengan berbagai tingkah ajaibnya. Gumam Nindia yang masih senantiasa menatap Reyhan yangbsedang menjelaskan materi.
____________________
Nindia, Bella, Tia dan Nindia sedang menikmati makan siangnya di kantin. Namun mereka mersa terganggu saat ponsel Nindia rerus berbunti dan berkali-kali Nindia acuh dengan gangguan tersebut. Ke acuhan Nindia membuat tiga temannya meradang.
"Ganggu, Nin" keluh Tia.
"Angkat aja Nin,! siapa tahu penting kan?" kata Bella.
"Iya, ganggu banget tahu," sekarang Gita yang melayangkan protesnya.
"Ya udah. Gue angkat." ucap Nindia yang sudah mengangkat teleponnya
Nindia : Hallo
..........
Nindia : Di kantin.
..........
Nindia : Iya. Saya kesana sekarang! (menutup telepon)
Nindia menghela nafas panjang.
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau dosen pujaan kalian!" kata Nindia sambil meminum jusnya.
"Maksud lo Pak Reyhan?" tanya Tia.
"Iya," jawab Nindia dengan malas.
"Kenapa?"
"Gue disuruh ke ruangannya" kalimat yang diucapkan Nindia berhasil membuat ke tiga temannya melotot.
__ADS_1
"Punya hubungan apa lo sama Pak Rey?" tanya Bella penuh selidik
"Hubungan? hadeh, pikiran kalian itu terlalu jauh. Itu hukuman buat gue. Kalian masih ingat saat gue sama Bu Rani berdebat? Nah, itu hukuman buat gue, jadi asdosnya selama satu semester." jelas Nindia yang tentunya seratus persen berbohong.
"Asdos?" tanya Bella.
"Iya,"
"Awas naksir entar."
Gak mungkin gue naksir. Meskipun gue istrinya. guman Nindia
"Lo kan sama pak Reyhan udah kaya Tikus sama kucing." sindir Tia.
"Ya udah. Gue mau keruangannya. Kalau telat, nilai gue cuy yang jadi taruhannya!" Nindia langsung meninggalkan kantin tanpa mendengarkan pendapat sang sahabat.
____________________
Nindia berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan antar kelas, ruang dosen dan kantin. Nindia masih saja menggerutu karena waktunya dengan sahabatnya terganggu.
Saat sampai ruangan orang yang mengganggu dirinya, Nindia mengetuk pintu. Nindia memberikan pembatas antara di rumah dan di kampus. Saat di kampus dia adalah dosennya, apabila di rumah dia adalah suaminya.
"Masuk," perintah orang dari dalam.
"Ada apa pak?" tanya Nindia saat sudah berada di dalam ruangan dosen tersebut.
"Duduk,!" perintah dia yang langsung dituruti oleh Nindia.
"Sudah makan?" tanya Reyhan.
Nindia menghembuskan nafasnya. "Kalau anda menyuruh saya kesini hanyab menanyakan hal tidak penting, lebih baik saya pergi," Nindia sudah berdiri dari kursi, rasanya sangat kesal saat waktu bersama sahabatnya terbuang karena pertanyaan yang tidak penting.
"Duduk,!" sekali lagi Nindia hanya menuruti apa yang diperintahkan dosen sekaligus suaminya itu.
"Tolong bantu gue kerjain ini, besok mau gue pakek buat seminar,"
"Saya tidak bisa,!" tolak Nindia.
"Lo bisa! Lo itu pintar, tapi males lo yang nggak ketulungan." sindir Reyhan yang langsung mendat cebikan dari Nindia
"Nin, ini ruangan khusus gue. Jadi gak usah pakek bahasa formal saat gak nggak ada orang lain!" ucap Reyhan sambil mengeluarkan makanan yang diantarkan Bang Jon, supirnya.
"Gue lapar Rey, dikerjaain dirumah ya. Gue mau balik ke kantin buat makan," Nindia terus saja protes. Bahkan ia tidak tahu kalau Reyhan mulai menyiapkan lunch untuk mereka.
"Aa.." menyodorkan suapan nasi lengkap dengan laukanya.
Nindia terdiam sebentar saat mendapatkan perlakuan seperti itu. Namun rasa laparnya mengalahkan segala keterkejutannya.
Nindia menyambar suapan yang diulurkan Reyhan. "Makanan dari mana?" tanya Nindia dengan mulut penuh dengan nasi.
"Ditelan dulu!" perintah Rey dengan nada lembut. Kemudian ia makan menggunakan sendok yang sama dengan Nindia.
Nindia lagi-lagi dibuat terkejut saat melihat Reyhan makan menggunakan sendok yang sama dengan dirinya yang artinya mereka ciuman secara tidak langsung. Namun Nindia tak bisa protes karena mereka pasangan yang sah dimata agama dan negara
"Tadi bang Jon yang antar. Katanya titipan dari Bunda buat gue, tapi gue gak mungkin makan sendiri makanan sebanyak ini," Reyhan kembali mengurlurkan tangannya dan disambut baik oleh Nindia.
"Tadi udah makan?" tanya Reyhan.
"Gimana mau makan kalau dosen galak ganggu mulu," sindir Nindia sambil mengunyah makanan dan mengerjakan tugas dari Pak Rey.
__ADS_1
Reyhan yang mendengar kekesalan Nindia hanya bisa tersenyum. Ia tak bisa menutup-nutupi lagi rasa bahagianya saat berhasil mengganggu Nindia.
Lo manis kalau senyum. Puji Nindia dalam hati saat tak sengaja melihatnya, dan berhasil membuat dirinya ikut tersenyum