HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 69 Untuk Kalian


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Setelah Nindia pulang ke rumah, Reyhan lebih memilih kembali ke kamar terlebih dahulu. Ia tak habis fikir dengan Nindia. Ia lebih memilih merebHkan tubuhnya di kasur. Tak berapa lama, Reyhan yang memejamkan matanya mendengar langkah kaki mendektai kamarnya. Ia sudah tahu siapa yang datang.


ceklek


Nindia menghela nafas saat melihat Reyhan memunggunginya. Ia lebih memilih untuk membersihkan badan lebih dulu.


Saat keluar kamar mandipun, Reyhan masih memunggunginya. Ia lebih memilih mengenakan baju. Setelah selesai, Nindia langsung menghampiri Reyhan dan duduk di ranjang yang masih kosong.


Nindia menunduk, "Aku minta maaf," ucap Nindia


Reyhan belum menjawab ucapan Nindia. Ia mazmsih mau mendengar penjelasan Nindia.


"Aku tahu aku salah. Seharusnya aku minta izin dan minta bantuan kamu. Tapi, hiks aku kasian sama kamu. Aku tahu kamu lelah karena setelah pulang, kamu langsung tidur. Beberapa hari ini tidur kamu juga enggak nyenyak. Kamu lagi ada beban fikiran, maka dari itu aku lebih memilih beli sendiri. Tadi aja setelah selesai ngajar, kamu harus balik lagi ke kantor. Aku enggak hiks bisa lihat kamu kecapekan. Bisa aku pastikan kamu bawa pekerjaan kamu ke dalam mimpi. Aku sering lihat kening kamu berkerut tidur." jelas Nindia.


Reyhan yang awalnya matanya terpejam langsung terbuka lebar. Ia tak menyangka kalau selama ini Nindia selalu meperhatikannya dalam diam. Bahkan ia tak menyadari kalau tidur dengan kening yang selalu berkerut. Jujur saja, ia memang lelah. Bahkan sangat lelah dengan dua pekerjaan sekaligus. Tapi, ia melakukan semua itu demi istri dan anak-anaknya.


"Aku minta maaf ya. kamu jangan marah dong," bujuk Nindia sambil menyentuh bahu Reyhan.


Masih tak ada jawaban dari Reyhan.


"Bee." panggil Nindia untuk kesekian kalinya. "Mas..."


Reyhan tersenyum dalam diam. Dia sangat senang dengan panggilan baru yang dibuat oleh Nindia. Rasa marahnya sudah reda sejak pengakuan Nindia.


"Kamu marah beneran sama aku? hiks aku minta maaf. Jangan marah-marah! hiks aku gak suka lihat kamu marah." ucap Nindia dengan isak tangis yang kembali terdengar.


Reyhan sudah tak bisa lagi menahannya. Ia kemudian duduk dan memandang Nindia terus menerus dengan wajah datar terkesan dingin.


"Kok gitu sih natapnya, aku hiks aku kan jadi takut." Nindia mengalihakan pandangannya agar tak bersitatap dengan manik mata Reyhan.


"Kamu udah makan?" tanya Reyhan.


"Belum," jawab Nindia tanpa menatap Reyhan.


Reyhan menghela nafas karena Nindia tak mau melihatnya.


"Kalau diajak bicara tatap lawan bicara kamu. Dosa kalau kamu berpaling dari suami" tegas Reyhan.


Dengan takut-takut Nindia menatap Reyhan. Namun, tak berselang lama Nindia kembali menundukkan kepalanya.


Reyhan yang mulai geram dengan tingkah sang istri langsung meraih dagu Nindia dan membuat mata mereka saling berasitatap.


"Saya rela lelah asal kalian bahagia. Saya sudah beberapa kali bilang sama kamu kalau saya tidak mau anak-anak saya serba kekurangan. Jadi, saya minta kamu tidak perlu memikirkannya terlalu dalam. Ini sudah tugas saya sebagai suami kamu, yang menafkahi dan mencintai kamu seumur hidup. Saya juga tidak keberatan jika kamu ingin pergi dan diantar oleh saya. Sekalipun ada rapat penting, kalau kamu ingin pergi saya tidak masalah, yang terpenting kamu dan anak kita." jelas Reyhan sambil mengelus perut Nindia.


Tangan Reyhan terulur untuk menghapus lelehan air mata Nindia, "Kamu tahu betapa khawatirnya saya saat kamu tidak ada di rumah? Kepala saya rasanya mau pecah. Di kantor lagi ada masalah, saya butuh kamu sebagi penguat dan energi saya, tapi kamu justru tidak ada di rumah."


"Maaf," ucap Nindia sambil menunduk.


Reyhan kembali mengangkat dagu Nindia, "Untuk kali ini saya maafkan. Tapi lain kali, saya tidak akan berbaik hati lagi. Izin suami adalah ridho bagi istri, kamu paham?" tanya Reyhan dengan tegas. Ia akan kembali mengingatkan Nindia jika istrinya itu melakukan kesalahan.


Nindia mengangguk, "Paham. Tapi kamu jangan marah ya.." bujuk Nindia seraya menampilkan ekspresi andalannya saat membujuk orang. Apalagi kalau bukan puppy eye.


Reyhan tersenyum, "Saya tidak marah sama kamu."


"Tsk... Bilangnya sih gak marah. Tapi masih pakek 'saya – kamu " rajuk Nindia.


Reyhan terkekeh melihat sikap kekanak-kanakan Nindia, "Iya sayang. Aku gak marah sama kamu." Reyhan mendekat ke Nindia dan membisikan sesuatu. "Aku suka kamu panggil 'Mas', terkesan lebih romantis."


Nindia tersipu mendengar perkataan Reyhan. Memang sudah lama ia ingin memanggil Reyhan dengan 'mas', tapi belum ada waktu yang tepat.


"Ya udah, sekarang kamu makan. Aku temenin."


"Kamu udah makan?" ucap Nindia sambil merapikan rambut Reyhan yang berantakan.


"Kamu fikir? Mana ada suami bisa makan enak saat istrinya hilang." kesal Reyhan yang kembali mengingat kekonyolan Nindia.

__ADS_1


Nindia menggeleng kemudian tersenyum, "Ya udah, yuk makan. Aku sama dedek udah lapar."


Reyhan turun dari ranjang dan jongkok tepat di depan perut Nindia, "Dedek lapar ya? Salahkan Bunda kamu yang enggak kasih kamu makan. cupp"


"Enak aja, aku kasih makan ya. Tapi cuma es krim sama mangga." jawab Nindia cengengesan.


"Ayo turun," Reyhan menarik tangan Nindia.


____________________


Setelah makan malam, Reyhan dan Nindia bergabung dengan para orang tua yang sedang asik berbicara. Entah masalah bisnis maupun hanya sekadar bercanda.


"Aduh aduh, lengket banget sih kak. Suaminya sampai gak bisa nafas tuh." ucap Helena saat melihat anaknya yang menempel pada Reyhan sejak keluar dari kamar.


"Biarian aja. Orang Reyhan nya aja gak protes, kenpa jadi Bunda yang protes." ucap Nindia setelah duduk di sofa dengan masih memeluk Reyhan.


Memang beberapa hari ini ia tak bisa bermanja dan bermesraan dengan sang suami karena kesibukan Reyhan. Ia juga tak mau mengeluh saat Reyhan pulang dan langsung tidur.


"Biarin aja, Bun. Kamu itu hobi banget kalau jahilin Nindia." bela Handoko.


Nindia menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya, memberikan finger heart kepada Handoko karena telah membelnya.


"Love u, ayah."


Helena hanya bisa mengfelengkan kepalanya saat melihat tingakah putrinya. Meskupun bukan anak kandung Handoko, tapi ptia tua itu sudah menganggap Nindia anak kandungnya.


"Sebaiknya kalian tidur aja. Ini sudah malam. Lagian Nindia besok juga ada kuliah." ucap Reno.


Reyhan menganggukkan kepalanya, "Baik Pi."


"Rey, jangan lupa besok kamu harus berangkat ke Bali unruk melihat perkembangan resort dan hotel yang ada di sana." ingat Reno.


Meskipun sudah tidak memimpin perusahaan, tapi Reno masih memegang sahan tertinggi di Aristarco Grup.


"Iya, Pi. Rey ingat kok. Besok Rey berangkat sehabis ngajar."


Nindia masih mencerna apa yang dibicarakan mertua dan suaminya. Yang ada di otaknya saat ini adalah Reyhan akan pergi meninggalkannya.


Setelah membisikkan kata ke Reyhan, Nindia langsung meninggalkan ruang keluarga tanpa pamit terlebih dahulu.


"Kenapa Rey?" tanya Maya.


Reyhan menghela nafas, Ia sudah bisa menebak jika Nindia akan marah. "Enggak apa-apa Mih" bohong Reyhan.


"Pasti kamu belum cerita sama Nindia soal kamu mau ke Bali," tebak Handoko dan Reyhan hanya bisa menganggukkan kepala saat tebakan ayah mertuanya benar.


"Enggak apa-apa sayang. Nindia cuma kebawa hormon kehamilan aja, jadi mudah kesulut emosinya. Nanti kamu jelasin baik-baik, pasti Nindia akan mengerti." ucap Hrlena menenangkan menantuanya.


"Iya, Bang. Coba bicara sama Nindia. Akhir-akhir ini kan kamu sibuk, jadi dia gak bisa manja ke kamu. Jadi maklum aja kalau sekarang dia ngambek karena mau kamu tinggal lagi." kekeh Maya.


"Atau kamu suruh aja Ilham buat gantiin kamu," usul Reno.


"Enggak usah, Pih. Kasian Ilham juga. Dia juga sibuk ngurus perusahan aku. Reyhan tetap akan berangkat, nanti Reyhan coba bujuk Nindia. Kalau Nindia Reyhan tinggal, aku izin buat ngerepotin Bunda ataupun Mamu. Aku enggak tega kalau ninggalin Nindia sendiri di rumah meskipun udah ada Bi Minah." jelas Reyhan.


"Kamu apan sih, Rey. Nindia kan anak Bunda jadi enggak repotin sama sekali kok."


"Nindia juga udah Mami anggap sebagai anak Mami sendiri, jadi kamu tenang aja. Mami akan menjaga istri kamu."


Reyhan tersenyun lega, "Makasih Bun, Mih." ucap Reyhan yang diangguki Maya dan Helena.


"Emang kamu berapa hari di Bali?" tanya Handoko.


"Insyaallah 7 hari Yah, soalnya agak ribet masalahnya."


Semua orang mengangguki apa yang dikatakan Nindia. Setelah itu Reyjan izin ke kamar dan para orang tua tetap melanjutkan obrolan mereka karena berencana untuk menginap hari ini.


____________________


Seperti apa yang diduga Reyhan. Nindia sedang mode ngambek. Terbukti dengan diabaikannya Reyhan setelah masuk ke kamar dan lebih memiluh fokus pada ponselnya.


"Sayang," panggil Reyhan yang sudah berada di tepi ranjang setelah menunaikan ibadah shalat isya'.


"....."

__ADS_1


"Kamu beneran ngambek? Padahal aku besok udah harus berangkat ke Bali lho." bujuk Reyhan dan terbukti berhasil.


Air mata Nindia langsung turun saat Reyhan mengingatkan kembali akan kepergiannya ke Bali. Meskipun fokusny masih pada ponsel, tetapi telinganya masih sangat berfungsi.


Reyhan menangkup wajah Nindia, "Hey kenapa nangis?"


Nindia berusaha lepas dari Reyhan, namun sayangnya tenaganya kalah dengan Reyhan.


"Kamu kenapa?" tanya Reyhan sambil menghapus air mata Nindia dengan kedua ibu jari nya.


Reyhan membawa Nindia dalam pelukannya. Ia mengelus punggung Nindia yang bergetar. Sedangkan Nindia yang awalnya berontak akgirnya luluh dan membalas pelukan Reyhan tak kalah eratnya.


"Aku cuma pergi sebentar Sayang." ucap Reyhan sambil memberikan beberapa kecupan di kepala Nindia.


Pelukan Nindia semakin mengerat dan isakan Nindia semakin terdengar.


"Hiks... kamu gak boleh hiks pergi. Aku mau hiks sama kamu."


Reyhan tersenyum mendengar rengekan Nindia, "Aku enggak lama Sayang. Cuma tujuh hari."


Nindia semakin menjadi saat mengetahui akan ditinggal Reyhan selama tujuh hari.


"Enggak hiks aku nggak mau, itu terlalu lama. Kamu aja hiks yang di rumah jarang bicara sama aku, apalagi nanti saat kamu di Bali. Mungkin kamu sama sekali enggak akan hubungi aku. Aku bakalan kangen banget sama kamu, terus kalau kamu pergi, aku mau manja ke siapa? hiks.. hikss..."


Reyhan kembali terkekeh mendengar ucapan Nindia. Disamping itu, ia juga merasa sedikit bersalah karena beberapa haru terlalu sibuk dengan kerjaan sehingga jarang mempunyai waktu untuk Nindia.


Reyhan mengurai pelukan dan menatap Nindia lekat. Kedua tangannya terulur untuk mebghapus dan mengelus rambut Nindia.


"Maaf ya Sayang kalau aku akhir-akhir ini jarang punya waktu buat kamu. Bukan maksud aku untuk mengabaikan kamu, tapi aku mau cepat menyelesaikan pekerjaanku agar bisa menghabiskan waktu dengan kamu. Aku coba untuk menyelesaikan tepat waktu, tapi apa mau dikata saat pekerjaan aku semakin menumpuk saat resort dan hotel di Bali ada masalah dan mengharuskan aku untuk terbang ke sana. Kamu izinin aku kan?" tanya Reyhan mencoba meluluhkan Nindia.


Nindia sedikit memikirkan apa yang dikatakan Reyhan. Ia tak seharusnya memberi beban kepada Reyhan dengan marah dan tidak mengizinkan menyelesaikan masalah di Bali.


Nindia mengangguk pelan, "Maaf. Maafin tingkah aku yang kekanakan." ucap Nindia di ceruk leher Reyhan.


Reyhan mengelus punggung Nindia dan beberapa kali memberikan ciuman di puncak kepala Nindia.


"Aku ngelakuin ini demi kalian. Aku rela capek asalkan kalian bahagia dan tidak kekurangan apapun. Termasuk cinta dan kasih sayangku,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2