HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 84 Hemat Itu Usaha


__ADS_3

HAI CHINGU.... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


 


Dinginnya udara pagi terasa menusuk tulang membuat siapa saja tak ingin bangun dan tenggelam dalam pulau kapuk. Akan terasa lebih nikmat saat ditemani dan dipeluk oleh teman hidup sekaligus kekasih halalnya.


Setelah shalat subuh, Nindia merasa malas dan kembali terjun dalam pulau kapuk. Untuk masalah sarapan, masih ada Bi Minah. Lagi pula Reyhan bukan tipikal laki-laki yang menuntut istri harus mengerjakan semua. Terlebih lagi Nindia sedang hamil.


cupp


"Masih mau tidur?" tanya Reyhan seraya mengelus surai panjang milik Nindia.


Melihat wajah Nindia saat tidur membuat Reyhan semakin cinta. Memiliki wajah mulus dan cantik walaupun tanpa make up merupakan karunia tersendiri buat Nindia. Terlebih lagi di kehamilan trimester akhir, Nindia sangat gila kebersihan.


"Hmmm," gumam Nindia seraya mengeratkan pelukan pada guling.


"Katanya mau ke mall buat beli perlengkapan bayi, kok malah masih tidur?"


"Ini kan masih pagi, Mas. Mall juga bukaknya pukul 10 paling enggak." jawab Nindia yang matanya tetap terpejam.


Reyhan mengalihkan tangannya pada perut buncit Nindia, "Ini udah pukul 9 pagi Sayang."


Nindia diam beberapa saat. Tapi bebrapa detik setelahnya membalikkan badannya sehingga berhadapan langsung dengan Reyhan Matanya mengerjap lucu saat menyesuaikan dengan sinar mentari.


"Kata mas tadi pukul berapa?" tanya ulang Nindia.


"Pukul 9."


Nindia memukul dada Reyhan pelan, "Kenapa enggak bangunin sih? Tadi kan aku suruh buat bangunin pukul 8. Tau ah, kesel aku sama Mas."


Reyhan terkekeh, "Habisnya Mas enggak tega buat bangunin kamu. Tidurnya pulas banget,"


"Au ah. Aku mau mandi. Awas ya kalau hari ini Mas bahas pekerjaan atau nerima telepon dari kantor, Mas udah janji kalau seharian ini mau temenin aku." ancam Nindia saat di depan kamar mandi.


Reyhan mengangguk patuh, "Iya. Hari ini Mas milik kamu,"


"Aduu totwett benget. Makin cinta deh." ucap Nindia sebelum masuk ke kamar mandi.


Reyhan menggelengkan kepala seraya terkekeh melihat tingkah Nindia. Semakin hari bukannya semakin dewasa justru semakin manja dan mirip anak kecil. Meskipun begitu, Reyhan sangat menyukai tingkah manja Nindia.


Setengah jam di kamar mandi, Nindia tak kunjung keluar membuat Reyhan khawatir. Tak ada suara gemercik air yang terdengar.


ttokk ttokk ttokk


"Sayang, kamu ngapain aja di kamar mandi? Udah setengah jam loh kamu di dalam," panggil Reyhan.


Tetap saja tak ada jawaban dari dalam. Entah apa yang dilakukan Nindia sehingga lama di kamar mandi.


"Jangan buat Mas khawatir Sayang," ucap Reyhan.


"Nindia, kalau kamu enggak bukak, Mas akan dobrak pintunya sekarang," ancam Reyhan.


Fikiran Reyhan semakin kalut saat tak mendapatkan respon dari dalam. Saat akan mendobrak pintu kamar mandi, Ia ingat kuci candangan yang ia simpan. Sesudah menemukan kuncinya dan pintu terbuka, Reyhan dibuat menganga saat melihat Nindia justru tengah asik tidur di dalam bathup yang dipenuhi oleh busa. Tak ada rasa bersalah sedikutpun karena telah membuat suaminya khawatir.


Nafas lega menghembus dari hidung Reyhan. Ia kemudian berjalan menuju bathup untuk membangunkan Nindia karena sudah terlalu lama berendam.


"Sayang, hei bangun." panggil Reyhan seraya mengelus pipi Nindia.


"Engghhh," erang Nindia. "Lima menit lagi, Bu" ucap Nindia yang mengura bahwa Reyhan adalah ibunya.


"Ini Mas sayang," ucap Reyhan.


"Mas Rey?" tanya Nindia seraya mengerjapkan matanya.


"Bangun sayang, kalau masih ngantuk mendingan kita enggak jadi ke mall daripada kamu harus tidur di bathup,"


Nindia masih pada posisinya, "Harus jadi. Aku mau ke mall," rengek Nindia seraya menggoyangkan lengan Reyhan.


"Ya udah, sekarang bilas dulu badannya. Kamu tahu gimana Mas tadi? Jantung Mas rasanya udah nggak karuan saat kamu diem aja. Kamu berhasil buat Mas khawatir,"

__ADS_1


Nindia mengangguk, "Iya, aku bilas sekarang. Maaf ya udah bikin kamu khawatir. Aku enggak bakal ngulangi lagi,"


"Janji?"


"Janji Mas Suami."


"Aku suka panggilan baru kamu," ucap Reyhan seraya menoel dagu Nindia


"Masa? Sekarang Mas keluar dulu, aku mau bilas,"


"Kalau mau bilas ya bilas aja. Toh Mas udah pernah lihat dan yang penting udah pernah merasakannya. Bahkan Mas hafal ukuran dan bentuk tubuh kamu," jawab Reyhan seraya mengerling nakal.


"Mas..." teriak Nindia dengan wajah merah merona.


"Apa sayang? Mau Mas mandiin?" goda Reyhan.


"Reyhan, keluar sekarang!" teriak Nindia.


"Enggak sopan loh panggil suami pakek nama aja," tegur Reyhan dengan nada bercanda.


"Biarin. Kamu juga yang buat aku nambah dosa," jawab Nindia acuh


"Mas udah siap lahir batin buat mandiin kamu"


"Reyhan! Kamu keluar sekarang atau aku guyur" ancam Nindia.


"Bagus dong kalau Mas kamu guyur. Jadinya Mas basah dan bisa mandi bareng," ucap Reyhan yang masih semangat menggoda Nindia.


"Mas..."


"Lihat sayang Mama kamu minta dimandiin sama Papa," ucap Reyhan mengadu pada anaknya.


"Mas, keluar!" rengek Nindia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Reyhan terkekeh melihat Nindia yang hendak menangis. Ia kemudian memberikan kecupan singkat di kening Nindia sebelum keluar dari kamar mandi.


"Mas tunggu diluar,"


____________________


Sudah lebih dari satu jam Nindia dan Reyhan mengelilingi mall. Tapi belum ada satupun perlengkapan bayi yang ada di tangan mereka. Semua itu karena Nindia ingin memberikan yang terbaik bagi buah cinta pertamanya.


"Di depan kata Mami ada toko perlengkapan bayi yang lengkap. Kita istirahat di sana aja," ucap Nindia seraya mengelus pipi Reyhan yang terlihat khawatir karena sempat mengeluh.


Hanya berjalan 15 menit, Reyhan dan Nindia sudah sampai di depan toko perlengkapan bayi yang dibicarakan oleh Mami Maya.


"Kamu bantuin aku milih ya," bujuk Nindia yang diangguki oleh Reyhan.


"Jangan beli banyak-banyak sayang. Pasti Ibu sama Mami juga belikan, enggak mungkin enggak." pesan Reyhan yang diangguki Nindia.


Nindia bukanlah tipe wanita hedonisme atau menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Nindia lebih mirip wanita yang perhitungan dalam pengeluaran dan pemasukan. Terbukti dari bertambahnya jumlah tabungan mereka untuk masa depan anak-anak. Memang sesekali Nindia membeli tas atau sepatu bermerek, tapi bukankah itu wajar? Bohong kalau tidak tergiur.


"Sayang, Mami kemarin bilang enggak usah beli stroller bayi, udah dibeliin Mami." ucap Reyhan saat melihat pesan masuk dari Mami Maya.


"Iya, bilang sama Mami 'Terimakasih'," ucap Nindia seraya sibuk memilih baju bayi yang lucu-lucu.


Nindia memilih baju bayi dengan warna netral karena belum mengetahu jenis kelamin buah hati mereka. Menghindari warna pink dan biru ada lah keputusan Nindia dan lebih memilih warna-warna monokrom. Saat umur tiga bulan, baru Nindia akan membelikan baju yang lebih bewarna agar memberikan stulimulus pada baby.


"Mas, aku beli baju yang agak besaran enggak apa-apa?" tanya Nindia. Ia ingin semuanya berpartisipasi dalam mengurus keperluan baby.


"Enggak masalah, Mas malah lebih setuju kamu beliin baju besaran. Soalnya kata teman Mas, pertumbuhan bayi itu cepat. Jadi usahakan beli sesuatu yang bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama," jelas Reyhan.


"Makasih. Mas udah nemuin baju yang mas suka?" tanya Nindia saat melihat baju di tangan Reyhan.


"Udah, aku pilih yang bisa dipakai cewek atau cowok,"


"Bahannya bagus atau enggak? Soalnya kulit bayi itu sensitif, mudah muncul ruam merah. Cari aja yang agak mahal tapi punya kualitas bagus. Untuk kali ini enggak apa-apa keluar uang banyak, yang penting anak kuta nyaman."


Reyhan mengangguk, "Iya Sayang. Aku juga di bantu mbaknya buat milih. Aku lihat bahannya lembut dan jahitannya halus,"


Nindia mengangguk, "Oke. Aku juga udah dapat. Sekarang kita cari bedongnya," ucap Nindia seraya beralih ke tempat bedong.


Setelah hampir dua jam di toko bayi, akhirnya tangan Reyhan terdapat dua kantong ukuran sedang yang berisi beberapa pakaian, bedong, sarung tangan, dll. Mereka mencegah membeli barang yang tak dibutuhkan karena yakin pasti akan ada yang memberikan kado berisi perlengkapan bayi.


"Asik juga belanja keperluan baby." ucap Nindia saat duduk di salah satu restoran yang ada di mall.

__ADS_1


"Mas juga antusias banget. Mas kira kamu bakalan kalap saat lihat pernak-pernik baby,"


"Kalau boleh jujur sih Nindia hampir kalap, tapi Nindia coba tahan. Kan percuma kalau nanti ada barang-barang dari Mami dan Ibu, pasti banyak yang enggak ke pakek," ucap Nindia yang mendapat anggukan Reyhan.


"Makin sayang deh kalau istrinya hemat," ucap Reyhan seraya mengelus rambut Nindia.


"Hemat itu usaha buat kebahagian masa depan bukan keharusan. Jadi bisa enggak bisa harus bisa hemat," jawab Nindia.


anindiaputri1102



❤ 💬 ↗


112.500 Suka


anindiaputri1102 👶


Komentar dibatasi


helenmuria_wiratama Kangen banget, main ke Jakarta dong Dek.


a_reyhan11 🔜


andhika_wiratama Hemm


kania.rumansayu Udah go public?


bella_william Kangen


_ilham.mhmmd Nyempil aja bos.


gita.anggrita Ada yang nyempil tuh


bahari.pramestia (2)


real_satriagautama (3)


anindiaputri1102 Kangen juga sama kakak. Kakak aja yang main ke Surabaya @helenmuria_wiratama | apaan kak? @andhika_wiratama | Do'ain aja ya Kak @kania.rumansayu | Baru kemarin ketemu\, Buk. @bella_william | Tau tuh si Bapak @_ilham.mhmmd @gita.anggrita @bahari.pramestia @real_satriagautama


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


 


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG

__ADS_1


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊


__ADS_2