
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Tidak ada keinginan maupun angan Reyhan berada dalam posisi sulit ini. Menjadi pengambil keputusan dalam kondisi seperti ini membuat dirinya seakan berada di tepi jurang, salah melangkah sedikit saja akan berakibat fatal. Setelah mengambil keputusan terberat dalam hidupnya, Reyhan memaksakan diri untuk menemani istrinya berjuang. Meskipun tak bisa secara langsung berada di sisi Nindia, tapi doa yang terucap selalu menyertai.
Tak ada satupun orang yang tenang di depan ruang UGD. Helena dan Maya sudah tertunduk lemas, Bella menangis dalam rengkuhan Bi Ijah, sedangkan Ilham sejak tadi berusaha menenangakan Reyhan yang terlihat sangat khawatir.
Jika ada yang bertanya keberadaan Reno dan Handoko, jawabannya mereka sedang menyelidiki kasus kecelakaan bersama dengan pihak kepolisian. Kecelakaan tersebut sempat terekam kamera cctv salah satu toku buku sehingga pihak kepolisian berhasil mendapatkan plat nomor mobil itu. Pihak kepolisian bisa menyimpulkan bahawa kasus ini sudah direncanakan oleh pelaku, terlihat dari kerusakan parah akibat benturan mobil yang cukup keras. Naasnya pelaku juga dalam kondisi tak jauh berbeda setelah mobil pelaku dihantam truk dari arah yang berlawanan. Karma is real.
Dua jam berlalu, tapi operasi belum juga selesai dilakukan. Mereka menunggu kedatangan dokter, kalau bisa membawa kabar yang melegakan. Reno dan Handoko sudah merengkuh istri masing-masinng. Jika kalian bertanya bagaiman kondisi mereka, pasti kalian akan tahu sendiri jawabannya. Terlebih lagi Reyhan yang tak henti-hentinya menangis. Biarlah hari ini orang mengatakan dirinya cengeng.
"Bolehkah aku berharap kalau kalian berdua akan selamat?" tanya Reyhan dalam hati sambil jarinya tak berhenti bergerak menggulir butiran tasbih dengan kenangan-kenangan bersama Nindia kembali berputar di kepalanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anindia Putri Binti Alm. Irmanto dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 30 gram dibayar tunai"
Reyhan ingat saat Nindia baru saja sah menjadi istrinya. Dapat dilihat raut muka mereka menunjukkan keterpaksaan meskipun Reyhan sangat senang karena telah berhasil mengklaim Nindia menjadi miliknya.
Ingatan Reyhan kembali membawanya pada saat mengambil first kiss Nindia dan dengan tidak gentle-nya mengucapkan maaf. Mengingat ekspresi Nindia saat itu berhasil membuat Reyhan tersenyum meskipun tipis. Sejak saat itu, dadanya selalu berdebar bila berdekatan dengan Nindia.
Senyuman manis berubah menjadi senyuman miris saat mengingat dirinya tengah memergoki Nindia dan pacarnya sedang duduk berduaan yang menimbulkan kesan mesra. Meskipun saat itu tidak ada cinta diantara mereka, tapi Reyhan sangat menghargai ikatan suci itu dan berharap tak ada pengkhianatan dalam pernikahannya. Namun, justru dirinya berhasil dibuat kecewa oleh Nindia.
Air mata kembali menetes saat Reyhan kembali mengingat hadiah terindah dalam hidupnya. Apa lagi kalau bukan kehadiran buah hati dalam perut sang istri.
Nindia mengangguk, "Iya, itu hadiah dari aku."
Nindia mengurai pelukan mereka dan menyeka air mata Reyhan, "Sama-sama, Bee. Aku juga bahagia bisa memberikan keturunan buat kamu."
Semua orang semakin dibuat khawatir karena hampir empat jam belum ada tanda-tanda operasi akan selesai. Mereka bahkan tak ada nafsu untuk makan. Istirahat saja hanya saat waktu shalat, itupun bergantian dengan catatan tidak meninggalkan Reyhan sendirian. Mereka tahu, dokter yang ada di dalam tengah berusaha keras untuk mencoba menyelamatkan keduanya, meskipun sudah dikatakan hanya akan satu yang selamat. Tapi siapa yang tahu kehendak Tuhan? Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya kita hanya bisa bertawakal.
Reyhan hanya bisa menunduk sembari tangannya terus bergerak menghitung butiran tasbih. Doa tak pernah berhenti terucap dari mulut Reyhan. Putaran kenangan bersama Nindia terhenti saat mendengar pintu ruang operasi terbuka.
ceklek
Seorang suster keluar dari ruang operasi dengan raut wajah cemas sekaligus khawatir. Saat hendak melanjutkan langkahnya, tangannya dicekal oleh Reyhan.
"Ada apa? Istri saya baik-baik saja kan?" tanya Reyhan yang sama khawatirnya.
Suster melihat sekeliling sebentar, kemudian kembali fokus pada Reyhan, "Tolong jangan sekarang. Saya sudah ditunggu dokter di dalam."
"Ada apa?" tanya Handoko.
Terlihat suster itu menghela nafas, "Kondisi Ny. Nindia dalam kondisi yang mengkhawatirkan atau bisa dibilang kritis. Beliau kehilangan banyak darah saat proses melahirkan sesar. Beberapa kali kami kehilangan denyut jantung pasien,"
Pasrah. Satu kata yang menggambarkan semua orang. Bila takdir Nindia hanya sampai di sini, maka keluarga sudah ikhlas. Tapi mungkin tidak bagi Reyhan, berita kemunduran kondisi Nindia menjadi pukulan berat baginya. Sepuluh menit setelah suster kembali, tangis bayi terdengar menggema.
oeekk oeekk oeekk
Ucapan syukur langsung terucap. Semua orang saling memeluk karena bahagia sekaligus menguatkan satu sama lain jika berita buruk terjadi. Berbeda dengan Reyhan yang hanya tertunduk. Entah apa yang dirasakan papa baru itu. Haruskah ia bahagia atas kelahiran anak pertamanya ataukah harus bersedih karena kemungkinan istrinya, belahan jiwanya dan hidupnya tidak selamat?
__ADS_1
ceklek
Dokter keluar dari ruang operasi masih dengan mengenakan baju operasi. Peluh terlihat menetes dari dahi menunjukkan berapa keras usaha mereka di dalam. Perlahan semua perlengkapan operasi dilepas, mulai dari sarung tangan, masker hingga penutup kepala.
"Bagaimana dok?" tanya Reyhan tak sabaran.
Dokter menghela nafas, "Selamat, anak anda perempuan sangat cantik, tidak ada yang kurang pada bagian tubuh dan tidak ditemukan kelainan pada organ dalam."
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di sana.
"Keadaan istri saya bagaimana?"
Dokter menggeleng pelan, "Maaf,"
____________________
Pemakaman umum Al-Amin ramai dengan para pelayat. Suasana berkabung sangat semakin terasa saat pihak keluarga mulai menabur bunga pada pusara. Isak tangis mulai terdengar dari pelayat yang datang, terutama pihak keluarga. Tak hanya pihak keluarga yang hadir dalam prosesi pemakaman, tapi pemakaman siang ini dihadiri oleh banyak orang, mulai dari dosen, teman, sahabat, mahasiswa, hingga rekan bisnis ikut mengantar kepergiannya.
"hiks hiks... kenapa kamu harus pergi secepat ini?"
"Kamu masih muda nak, tapi mengapa Tuhan menggariskan takdir seperti ini padamu?"
"Semoga kamu tenang. Senang bertemu dan berteman dengan mu,"
Semua orang masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Di depan mereka tertulis nama yang cukup tak terduga. Masih teringat bagaimana tingkahnya, tawanya, dan sikapnya. Hah... memang kita tidak bisa menentang apa yang digariskan oleh Tuhan. Everything in the hand of Allah
Kusut, itulah definisi penampilan Reyhan sekarang. Mata sembab dengan kantung mata hitam di sekitarnya, bulu-bulu tipis tumbuh di sekitar wajahnya dan rambut yang mulai memanjang. Padahal Reyhan tipe orang yang tidak suka berambut panjang. Bahkan saat Nindia ingin melihat Reyhan berambut panjang, laki-laki itu dengan tegas menolaknya. Lihatlah penampilan Reyhan sekarang, seperti keinginan Nindia, tapi sama sekali bukan cerminan dosen idola mahasiswa. Kemana perginya Reyhan yang dulu? tentu saja pergi bersama belahan jiwanya.
Setelah prosesi selesai, pihak keluarga mulai meninggalkan area pemakaman diikuti oleh pelayat lainnya. Hanya tersisa Reyhan, Reno, Handoko, Ilham dan ketiga sahabat Nindia yang masih berada di pemakaman. Berat rasanya bagi mereka untuk meninggalkan makam itu.
"Sekarang kita harus kembali ke rumah sakit Rey," bujuk Reno.
Tak ada jawaban dari Reyhan yang masih diharuskan duduk di kursi roda. Hanya butuh satu minggu lagi agar kakinya benar-benar berfungsi seperti semula. Namun, seperti tak ada dorongan dari dalam diri agar bisa kembali seperti semula.
"Kamu harus kembali ke rumah sakit. Kaki kamu perlu diterapi agar cepat sembuh. Apa kamu tega membiarkan anak kamu sendirian?" ucap Handoko. Reno sudah menyerah untuk membujuk anaknya. Semenjak kejadian itu, hidup anaknya seperti tak terarah. Hanya melamun yang sering Reyhan lakukan.
Reyhan mengangguk lemah. Sebelum pergi, Reyhan memandang makam itu dalam-dalam. Reno yang mendorong Reyhan pun sesekali memandang makam tersebut. Sahabat Nindia masih berada di belakang menatap makam tersebut dalam-dalam.
"Semoga lo tenang di sana," ucap Bella.
"Aamiin," jawab Gita dan Tia, setelah itu mereka melangkahkan kaki meninggalkan area pemakaman.
____________________
Gema tangis bayi terdengar nyaring di ruang rawat Reyhan. Bayi perempuan yang baru berusia dua hari itu memiliki berat 2,8 kg dan panjang 50 cm tengah menikmati susu botol. Malang sekali nasib bayi itu karena tak bisa menikmati asi seperti bayi pada umumnya.
"Nafeezalwa sayangnya grandma, lagi mimik cucu ya?" ucap Maya sambil memegang botol susu Nafeeza.
"Sayangnya oma juga dong," lanjut Helena sambil menoel-noel pipi gembul Nafeeza.
Anak pertama pasangan Reyhan dan Nindia itu sangat menuruni gen sang Buna, hanya rambut dan bentuk bibir yang menurun dari Reyhan. Tentu saja kecantikan Nindia menurun seratus persen. Meskipun harus kehilangan satu nyawa, tapi semua orang sangat bersyukur atas kehadiran Nafeeza.
Tanpa keduanya sadari, Reyhan sudah memerhatikan mereka dengan senyuman yang sangat tipis. Senyum adalah sesuatu yang mahal bagi Reyhan setelah kejadian buruk terjadi. Hanya Nafeeza (panggilan dari anaknya) alasan yang bisa membuat Reyhan tersenyum.
__ADS_1
"Eh Ayah.. Ayahnya Nafeeza sudah datang ya, Nak?" ucap Maya saat sang cucu melihat arah lain sambil menciumi pipi gembil Nafeeza
Nafeezalwa Hibatillah Aristarco memiliki arti anak perempuan anugrah dari Tuhan yang diharapkan menjadi pelipur lara untuk keluarga Aristarco. Nama itu dipilih Reyhan karena Nafeeza merupakan anugrah terbaik yang diberikan Tuhan untuk melipur lara hati semua orang. Berkat Nafeeza semua orang tersenyum, berkat Nafeeza semua orang melupakan kesedihannya.
"Mami sama Bunda ke kantin ya, nyusul ayah sama yang lain," pamit Maya sambil mengusap puncak kepala Reyhan tak ketinnggalan memberikan ciuman pada pipi Nafeeza.
Setelah membantu Reyhan duduk nyaman di sofa, Maya dan Helena menyusul yang lain ke kantin rumah sakit. Sejak siang, Maya dan Helena bertugas menjaga Nafeeza saat yang lain pergi ke pemakaman. Sebenarnya Helena dan Maya ingin pergi, tapi tak kuasa menahan suasana hati yang bergejolak.
"Anak Ayah," ucap Reyhan sambil mengelus pipi Nafeeza.
"Cantik banget sih kayak Buna," diam, Reyhan kembali terdiam saat mengingat Nindia. Padahal baru tadi siang ia bertekad untuk mengikhlaskan, tapi ternyata tak semudah yang ia bayangkan, tak semudah apa yang difikirkan orang lain apalagi mengikhlaskan orang yang kita sayang dan yang sudah menemani kita.
"Doakan Buna ya, Nak. Jangan rewel, kasian grandma dan oma kalau kamu nangis terus,"
Reyhan menatap Nafeeza dalam-dalam. Wajah Nafeeza sangat mirip dengan Nindia, mungkin ini cara Tuhan untuk menghibur hati Reyhan. Menatap Nafeeza semakin membuat Reyhan Rindu akan kehadiran Nindia yang selalu berada di dekatnya. Reyhan mendongak saat merasa air matanya hendak jatuh kembali. Dengan keluarnya hembusan nafas, Reyhan akan berusaha untuk melupakan semua yang terjadi untuk membahagiakan putrinya, buah cintanya dengan Nindia dan tujuan Reyhan untuk bangkit.
END
Selesai sudah cerita author, semoga kalian bisa mengambil sisi baik dari karya author dan membuang sisi buruknya. Terimakasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca karya author yang ecek-ecek ini. Sampai jumpa di karya yang baru.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
- My Destiny
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari pinterest dan google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan dan kesamaan baik nama tempat, tokoh maupun role model. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊