HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 33 Nasib (2)


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


"Kamu masih punya rasa sama dia?"


Pertanyaan Reyhan seperti bom waktu yang meledak buat Nindia. Bukan hanya Reyhan saja yang belum bisa sepenuhnya melupakan, Nindia juga begitu.


Ia juga belum yakin kalau Reyhan akan melupakan kejadian itu secepatnya. Apa yang ditakutkan Nindiapun terjadi.


"Kenapa? Kamu gak percaya sama aku?" tanya Nindia yang sudah menghadap Reyhan.


"Entahlah. Saya sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa percaya sama kamu sepenuhnya. Tapi rasanya sangat sulit. Selalu ada aja perbuatan kamu yang membuat saya tidak percaya." ucap Reyhan mengatakan apa yang dirasakan selama ini.


Nindia mulai paham sekarang. Reyhan akan menggunakan bahasa formal saat dirinya tertekan seperti yang terjadi tadi siang.


"Apa yang membuat kamu ragu?" tanya Nindia.


"Entahlah, mungkin sikap kamu" jawab Reyhan asal.


Nindia menghembuskan nafas, "Sikap? Sikap aku yang mana?"


Reyhan mengendikkan bahu. Rasanya sangat sulit untuk kembali seperti semula.


"Bee," panggil Nindia untuk kesekian kalinya.


"Saya capek... Saya mau kembali ke dalam," hindar Reyhan.


grep


Nindia memeluk Reyhan dari belakang. Mereka saling diam untuk sementara waktu.


"Aku tahu kamu sulit percaya sama aku karena kesalahan yang pernah aku buat. Tapi aku minta tolong sama kamu, hiks tolong kamu coba percaya sama aku. Aku sayang dan cinta sama kamu. Aku sudah melupakan itu. Yang ada hanya kamu. Aku tidak menyalahkan atau kecewa karena kamu tidak percaya sama aku. Itu semua kesalahan aku, kebodohan ku karena telah bermain dibelakang kamu. Aku mohon, buat fondasi yang kuat untuk membangun kepercayaan kamu buat aku. Aku tidak akan menghancurkannya lagi. Aku mohon! Aku mohon hiks Reyhan Aristarco, suamiku," Nindia audah tidak bisa menahan air matanya.


Reyhan mengelus tangan Nindia yang ada di melingkar diperutnya.


____________________


Bella, Tia, dan Gita terlihat khawatir dengan Nindia. Mereka selalu memperhatikan pintu kamar rawat Bella. Sudah hampir satu jam mereka tidak kunjung kembali.


Satriapun tidak terlihat di kamar rawat Bella. Tak lama dari keluarnya Nindia dan Reyhan, Satria keluar juga. Sekarang hanya tinggal Ilham yang sedang menjadi pengawas tiga gadis.


"Gara-gara kalian ini," ucap Bella.


"Kok gue?" jawab Gita dan Tia bersamaan.


"Ya ngapain ngajak Satria kesini. Kalau kalian diajak Nindia jenguk gue, otomatis akan ada Prof Reyhan. Kenapa kalian gak peka?"


"Kita gak tahu. Nindia tadi pulang duluan, bahkan Nindia gak masuk kelas Prof Reyhan sama sekali. Nindia telat 15 menit." bela Tia.


"Tadi juga langsung pergi gara-gara dibentak Prof Reyhan karena telat," jelas Gita.


"Ya ampun,... Kalau misalnya masalahnya belum selesai, terus sekarang berantem lagi. Gimana nasib rumah tangga mereka?"

__ADS_1


Tia dan Gita semakin merasa bersalah karena membawa Satria untuk mengunjungi Bella.


krekk


Bella, Tia, dan Gita terkejut saat mengetahui siapa yang datang.


Bagaimana tidak. Reyhan, Nindia, dan Satria kembali bersamaan. Terlihat juga wajah Nindia yang sayu karena habis menangis. Matanya terlihat bengkak dan terdapat sisa-sisa air mata di pipinya.


Nindia berhambur dalam pelukan Bella. menceritakan semuanya.


Flashback On


"Permisi, saya keluar sebentar." ucap Reyhan meninggalkan kamar rawat.


Nindia yang melihat Reyhan keluar langaung mengikutinya tanpa mendengarkan perkataan sahabatnya.


Satria mengernyitkan dahinya saat melihat Nindia keluar mengikuti Reyhan. Satria penasaran dengan hubungan keduanya.


"Gue mau keluar bentar," ucap Satria.


Satria terus mengikuti Nindia. Sampai akhirnya berhenti taman rumah sakit. Yang lebih mengejutkannya adalah ada Reyhan di sana.


"Apa hubungan mereka?" tanya Satria. Ia terus mendekat dan mendengar semua apa yang dikatakan Nindia.


Kebenaran yang membuatnya patah hati untuk kedua kalinya. Dan lebih mengejutkannya lagi ia adalah salah satu penyebab kesalahpahaman dalam rumah Nindia.


Kepergiannya selama dua minggu menjadi awal dari hilangnya cinta Nindia.


"Aku tahu kamu sulit percaya sama aku karena kesalahan yang pernah aku buat. Tapi aku minta tolong sama kamu, hiks tolong kamu coba percaya sama aku. Aku sayang dan cinta sama kamu. Aku sudah melupakan itu. Yang ada hanya kamu. Aku tidak menyalahkan atau kecewa karena kamu tidak percaya sama aku. Itu semua kesalahan aku, kebodohan ku karena telah bermain dibelakang kamu. Aku mohon, buat fondasi yang kuat untuk membangun kepercayaan kamu buat aku. Aku tidak akan menghancurkannya lagi. Aku mohon! Aku mohon hiks Reyhan Aristarco, suamiku," Nindia audah tidak bisa menahan air matanya.


Reyhan mengelus tangan Nindia yang ada di melingkar diperutnya.


"Saya mohon pada Anda untuk percaya kepada Nindia." ucap Satria yang mengejutkan dua insan tersebut.


"Satria," gumam Nindia.


"Saya sudah tidak ada hubungan dengan Nindia. Saya akan melupakan Nindia untuk selamanya. Jadi saya mohon agar Anda bisa percaya sama Nindia. Dan Saya juga minta maaf karena telah menjadi duri dalam rumah tangga kalian." jelas Satria. "Nin, aku harap kamu bahagia dan aku berdoa supaya rumah tangga kalian awet hingga maut memisahkan. Saya titip Nindia Prof. Jaga dia baik-baik."


Satria pergi meninggalkan Nindia dan Reyhan setelah menjelaskan. Meskipun sedikit, Satria berharap bisa membantu Nindia.


"Bee," panggil Nindia


"Hemm"


"Bilang aja kalau cemburu" ucap Nindia.


"....."


Nindia memeluk Reyhan, "Aku minta maaf sama kamu. Aku akan membuat kamu percaya lagi. Setelah aku mendapatkan kepercayaan kamu, aku akan menjaganya."


"Saya hanya takut semua itu akan terulang kembali."


"Ihhh... Kenapa formal? Gak enak tahu di dengarnya" protes Nindia.


"Saya dosen kamu," canda Reyhan tetap tanpa ekspresi.


"Iya, Dosen Killer." Reyhan tersenyum mendengar perkataan Nindia.

__ADS_1


"Janji sama saya tidak akan membuat saya kecewa," Reyhan menangkup wajah Nindia.


"Aku tidak bisa berjanji karena bisa menyakiti kamu kalau janji itu terlanggar. Aku hanya bisa membuat kamu percaya sama cinta dan kasih sayang yang aku berikan. Aku akan membuktikannya sama kamu." ungkap Nindia dengan sungguh-sungguh.


"Astaga... Dosen killer digombalin sama mahasiswa pembuat onar" bisik Reyhan.


Nindia tersenyum mendengar perkataan Reyhan.


Setelah puas berpelukan, mereka kembali ke dalam rumah sakit.


Flashback Off


"Beneran? Satria bilang gitu?" tanya Gita yang tidak percaya.


Nindia mengangguk, "Gue aealnya juga gak percaya sama yang diomongin Satria. Tapu setelah Satria datang, Gue sama Reyhan jadi baikan deh," ucap Nindia sambol tersenyum.


"Gila... Gue beneran gak nyangka. Sumpah!" ucap Tia yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Reyhan.


"Syukur kalau gitu. Gue seneng dengarnya" ucap Bella yang kembali memeluk Nindia.


Sore hari Bella sudah diperbolehkan untuk pulang. Gita dan Nindia mengantarkan Bella pulang bersama Ilham dan Reyhan. Sedangkan Satria dan Tia sudah pulang terlebih dahulu.


"Udah semua?" tanya Nindia.


"Beres, Bu Bos." ucap Ilham sambil hormat.


Mereka menaiki mobil Reyhan yang terparkir di basement rumah sakit. Bella duduk di depan bersama Ilham, Reyhan dan Nindia duduk di tengah, sedangkan Gita duduk di jok mobil paling belakang.


"Jangan aneh-aneh lo, perusahaan bisa bangkrut gara-gara lo," ucap Ilham di tengah -tengah perjalanan.


"Siapa juga yang mau sakit. Yang pesenin gue makan siapa?" tanya Bella tak mau kalah.


"Siapa yang gak mau bilang kalau ada alergi. Tengasin lo sampai gak mau bilang ada alergi?" tuduh Ilham.


"Menu srafood kan gak cuma itu. Salah siapa?" Bella tidak terima disalahkan.


"Jangan berantem, entar jatuh cinta baru tahu rasa," sindir Nindia.


"Amit-amit," ucap Ilham dan Bella bersamaan.


"Tuh kan... Jawab aja samaan. Tanda-tanda hodoh tuhhh" goda Nindia


"Hobi banget godain anak orang," Reyhan mencubit hidung Nindia.


plaakk


"Sakit, Sayang.." keluh Reyhan saat tangannya di pukul Nindia.


"Hidung aku juga sakit tau..." protes Nindia sambil memegang ujung hidungnya.


"Mana yang sakit?" tanya Reyhan.


Tetlihat hidung Nindia yang memerah akibtat ulah Reyhan. Untuk menebus rasa bersalahnya, Reyhan mengelus dan meniup hidung Nindia.


"Woyyy... di sini masih ada orang kalau kalian gak ingat. Jangan mesra-mesraan di depan orang jomblo dong," protes Gita.


Ilham, Bella, Reyhan, dan Nindia menoleh ke belakang saat lampu merah.

__ADS_1


"KASIAN"


__ADS_2