
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
"Bunaaaaaa, Kavin ganguin Nafeeza lagi," teriak gadis cantik yang baru saja genap berusia dua belas.
Nindia yang datang dengan naman berisikan jus buah sudah tak asing lagi dengan teriakan Nafeeza karena kejahilan Kavin. Memang diantara Saga, Andra, Kavin, dan Ghibran, Kavinlah yang snagat jahil. Saga tipikal laki-laki ang cuek, tetapi masih bisa tertawa, Ghibran tipikal laki-laki yang bijak dan selalu menjadi penengah, sedangkan Andra sangat menuruni sifat sang Ayah. Hanya wajahnya saja yang jiplakan Nindia.
Jika kalian bertanya siapa Ghibran, jawabannya adalah anak kedua Bella dan Ilham. Bella dan Nindia selalu jadi bahan ledekan sahabatnya yang lain karena sama-sama memiliki anak dengan urutan yang sama. Tia selalu mengatakan bahwa mereka janjian saat proses membuatnya. Ada-ada saja mereka.
Nafeeza yang melihat kedatangan sang Buna langsung menubruknya, "Sayang, nanti minuman yang Buna bawa tumpah," tegur Nindia.
Nafeeza mendongak dan menunjukkan cengirannya, "Maaf," ucapnya sambil melepaskan pelukan.
Nindia menggelengkan kepalanya meliht tingkah putrinya. Ia sudah tak heran mendengar rengekan sang putri akibat tingkah jahil Kavin.
Semenjak Yudha menjadi sekretaris tetap Reyhan, mereka membeli rumah yang berada satu kompleks dengan rumahnya. Maka, tak heran jika meilhat Kavin bermain ke rumah dan menimbulkan kebisingan bila brtemu dengan Nafeeza.
Hai ini, kebetulan sahabatnya sedang berkumpul dirumah. Mereka sudah tak bisa sesering dahulu untuk berkumpul karena kesibukan masing-masing. Tiga kali dalam sebulan sudah termasuk sering untuk mereka, yang lebih menyenangkannya lagi adalah tempat berkumpulnya selalu berganti. kadng di rumah Tia, terkadang di rumah Bella, terkadang di rumah gita, dan hari ini waktunya untuk menjadi tuan rumah.
"Emang sifat anak lo enggak jauh beda sama sifat lo dulu," ucap Gita saat melihat kejahilan Kavin.
Tia menghendikkan bahunya, "Dariapada kaya Andra, diem aja."
"Yang penting anak gue ganteng, bibit unggul," ucap Nindia menyombongkan diri. memang Kavin, Saga, dan Ghibran termasuk anak yang tampan. namun, tak bisa dipungkiri jika Andra menjadi nomor satu diantara mereka.
Tia mendengus sebal mendengar kesombongan Nindia, "Bibit gue juga unggul kali,"
"Tapi sayangnya sifatnya bobrok kayak emaknya," timpal Gita yang membuat semuanya tertawa.
"Git, Sharna kemana?" tanya Nindia.
"Sama Satria, minta beliin novel," ucap Gita.
Sharna adalah anak kedua Gita dan Satria. Bisa dibilang mereka kebobolan saat usia Saga baru satu tahun. Bahkan Gita sampai setres karena takut tidak bisa membagi waktu antara kehamilannya dengan Saga yang saat itu masih membutuhkan perhatiannya. Beruntung Satria berhasil menenangkan dan membantu Gita merawat Saga.
_____________________
"Nafeeza, Andra, turun, Nak!"
Nindia masih menata hasil masakan untuk makan malamnya. Semua menu makanan harus dirinya yang memasak. Jika tidak, mereka hanya akan makan beberapa sendok dan pasti sisanya akan menumpuk meskipun tak terbuang.
"Iya Buna," jawab Nafeeza sambil berlari menghampiri Nindia.
"Ayah dimana?" tanya
"Mungkin masih di ruang kerja. Andra, boleh minta tolong panggilkan?"
Andra hanya mengangguk kemudian melangkahkan kaki untuk memanggil sang Ayah yang sednag asik bergelut dengan dokumen dan berkas-berkas penting.
"Buna,"
Nindia menoleh sebentar kemudian melanjutkan kegiatannya, "Apa sayang?"
"Buna,"
Nindia tersenyum kemudian menghampiri Nafeeza yang terlihat ragu akan satu hal, "Apa, Kak?"
"Kakak mau minta beliin album,"
Nindia mengernyitkan keningnya, "Album apa, hm?"
__ADS_1
Kedua tangan Nafeeza yang bertaut saling meremas. Dapat dilihat seberapa gugupnya anak ini. Memang selama ini Ayah dan Bunanya tak melarang, tetapi ada timbal baliknya dengan mendapatkan nilai yang memuaskan. Tidak harus juara yang terpenting tidak mengecewakan. Dan selama ini, Nafeeza selalu memberikan juara satu dan berbagai piala olimpiade.
"AlbumBlackpinkterbaru," jawab Nafeeza cepat tanpa jeda.
"Hah?" Nindia mendekatkan telinganya dengan meletakkan tangan di belakang telinga. "Pelan-pelan, Sayang."
Nafeeza semakin menggigit bibir bawahnya, "Sayang, jangan digigit!" Nindia mengusap bibir Nafeeza dengan ibu jarinya. "Bilang sama Buna, Nak"
"Nafeeza mau album baru BlackPink," Nafeeza menunduk. Ia masih belum mau melihat Buna nya karena takut akan dimarahi.
"Kakak kemarin kan udah minta dibeliin album BTS," ucap Nindia sambil mengelus
"Ihh, tapi Kakak mau album Blackpink, ya ya ya" ucap Nafeeza dengan menunjukkan puppley eyes nya. Persisis seperti Nindia remaja yang menginginkan sesuatu. "Kakak janji akan jadi juara lagi, tapi beliin albumnya," ucap Nafeeza sambil menggoyang-goyangkan tangan Nindia.
"Kalau ayah gak bolehin gimana?" tanya Reyhan yang datang dengan Andra disampingnya.
Nafeeza menoleh kebelakang dan tatapannya mulai menyendu. Kalau ayahnya sudah tidak memperbolehkan, keputusan Buna nya tak akan berpengaruh.
"Ya udah kalau enggak boleh, Nafeeza enggak apa-apa kok,"Â bilangnya sih enggak apa-apa, tapi sudut matanya mulai berair.
Reyhan menyamakan tingginya dengan Nafeeza. Ia tidak mungkin menolak keinginan Nafeeza disaat anaknya ini selalu membanggakan keluarga dengan segala prestasinya. Bukan bermaksud memanjakan, tetapi tak ada salahnya memberikan rewords kerja kerasnya. Bukankah Nindia pernah mengatakan bahawa apresiasi sekecil apapun akan sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri anak?
"Ayah bercanda kak, enggak usah nangis kali," ucapnya sambil mengusap air matanya Nafeeza yang mulai turun. "Ayah akan belikan asal semuanya tidak mengganggu belajar Kakak, deal?"
Senyum Nafeeza mulai merekah, "Deal,"
"Ya udah, sekarang kita makan, Kakak nanti telat sekolah."
____________________
Malam harinya setelah makan malam, Nindia menemani Andra dan Nafeezza belajar. Kesempatan ini terkadang Nindia gunakan untuk mengakrabkan diri dengan kedua anaknya dan saling berbeda cerita. Berbeda dengan Andra yang sedikit tertutup, Nafeeza sangat semangat menceritakan apa saja yang dialaminya di sekolahan. entah itu tentang temannya, guru-guru, atau pelajaran yang ia anggap sulit.
"Andra, lagi apa nak?" tanya Nindia saat melihat putra bungsunya.
"Lagi kerjakan matematika."
Nindia akhirnya membiarkan kedua anaknya untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah waktunya bagi Andra dan Nafeeza tidur. Nindia memang sangat memerhatikan pola tidur anaknya. Jika bukan weekand, Nindia akan melarang kedua anaknya tidur diatas pukul sembilan.
"Andra, Nafeeza. Suadah saatnya kalian tidur." ucap Nindia.
Andra yang tipikal anak penurut langsung beranjak dari dari tempat duduknya setelah merapikan bukunya. Berbeda dengan Nafeeza yang masih asik dengan tayangan televisi yang sedanf menayangkan cartoon favoritnya. Apalagi kalau bukan frozen.
"Nafeeza," panggil Nindia. "Ayo sayang, ini udah malam," Nindia mengusap puncak kepala Nafeeza.
"Bentar lagi Buna, masih nanggung. Bentar lagi selesai kok," jawab Nafeeza sambil memakan camilan yang diambil dari toples yang ada di depannya.
Nindia menggeleng. Menolak permintaan Nafeeza. "Enggak sayang. Bukan kasih izin tidur malam kalau weekand. Sekarang kamu tidur ya atau,..." Nindia menggantung ucapannya.
"Atau apa?" tanya Nafeeza takut-takut.
"Buna akan bilang sama Ayah buat batalkan pemesanan album kamu," ucap Nindia dengan penuh kemenangan. Terkadang Nindia perlu mengajarkan sang anak membuat keputusan agar setelah dewasa tidak salam mengambil keputusan untuk hal yang baik terlebih dahulu.
Nafeeza menggembungkan kedua pipinya. Ia tak akan berkutik jika sang Buna sudah mengatakan seperti itu, "Buna mah gitu, coba pilihannya lebih bagus!"
"Oh.. jadi kamu pilih lihat frozen?" Nindia baeranjak dari duduknya, "kalau gitu, Buna bilang ke Ayah supaya enggak jadi belikan kakak album BlackPink,"
Nafeeza yang meliha Buna nya akan menemui sang Ayah langsung memegang lengannya, "Jangan! Iya iya, Nafeeza tidur sekarang,"
Nafeeza jalan memasuki kamar dengan mulut yang masih ngedumel. Nindia yang masih berdiri di belakang hanya bisa terkekeh mendengarkan dumelan sang anak.
grepp
"Astaga," Nindia memukul tangan yang melingkar di perutnya. "Kamu bikin aku kaget tau enggak?"
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Reyhan. Ia sangat merindukan momen-momen berdua dengan sang istri. Semenjak kelahiran dua buah hatinya, waktu mereka sangat terbatas karena sebagian besar waktu mereka untuk mencurahkan kasih sayang kepada dua buah hati.
__ADS_1
Reyhan menduselkan kepala pada ceruk leher Nindia, "Mas, jangan gitu. Geli,"
Reyhan tak memerdulikan protes yang dilayangkan Nindia. Ia semakin memererat pelukannya pada pinggang Nindia, "Aku kangen sama kamu."
Senyum Nindia terbit, sudah lama sekali Reyhan tidak bersikap manja padanya, "Kita selalu ketemu, Mas. Masa kangen sih?"
Reyhan mengecup ceruk leher Nindia, "Rasanya udah lama banget kita enggak mesra-mesraan gini."
Nindia menggeliat dalam pelukan Reyhan, "Setiap aku tidur juga kamu peluk,"
Reyhan menatap ke depan sekan menerawang semua yang pernah ia lewati dan masa depan yang akan ia lewati. Rasanya sangat bahagia melihat orang disekitar kita bahagia. Terlebih saat melihat tumbuh kembang sang anak. Meskipun ia sibuk kerja, Nindia selalu mengirimkan foto dan memberitahu perkembangan sang anak setiap harinya, sehingga ia tak pernah melewatkan satupun.
"Terima kasih," ucap Nindia yang berhasil memutus lamunan Reyhan.
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Untuk kerja keras kamu membahagiakan kami dan untuk kerja keras kamu melindungi kami. Kalau kamu enggak ada, mungkin kami tak tahu harus bagaimana."
Reyhan tersenyum, "Sama-sama. Sayang. Aku juga sangat bahagia bisa membahagiakan dan melindungi kalian. Dan terima kasih karena kamu selalu disisi aku." Nindia memiringkan kepalanya hingga bisa melihat tatapan penuh cinta dari Reyhan. "I Love You My Wife"
"I Love You Too Our Hero,"
Bibir Reyhan mulai mencecap bibir manis milik Nindia. Bukan ciuman penuh nafsu, melainkan ciuman yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Tak ada paksaan dan tuntutan dalam penyaluran perasaan mereka.
Reyhan terlebih dahulu melepaskan tautan mereka. Sekarang senyuman yang sangat Nindia kenal mulai muncul. Alarm siaga sudah Nindia bunyikan.
"Aaaaa," teriak Nindia saat Reyhan tiba-teba menggendongnya ala bridal style. Mau tidak mau Nindia mengalungkan tangannya pda leher Reyhan. "Bener-bener ya, kamu hobi banget buat aku jantungan," gerutu Nindia dalam gendongan Reyhan.
cupp
"Anak-anak udah tidur," ucap Reyhan.
"Terus?"
Reyhan mendekatkan mulutnya pada telinga Nindia. Rasa aneh mulai meresapai Nindia saat merasakan hembusan nafas Reyhan yang terasa hangat, "Kita bikin adek buat mereka,"Â Reyhan langsung membawa Nindia berlari setelah ucapannya selesai.
"REYHAAAANNNNN"
END
ALHAMDULILLAH, PUJI SYUKUR SAYA UCAPKAN KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA KARENA TELAH MEMUDAHKAN LANGKAH SAYA DALAM MEMBUAT CERITA INI. SAYA JUGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA ORANG TUA, SAHABAT, DAN PEMBACA YANG TELAH MENDUKUNG SAYA MEMBUAT CERITA INI.
RASANYA BENAR-BENAR LEGA DAN SEKALIGUS BAHAGIA KARENA KARYA PERTAMA SAYA BANYAK DIBACA MESKIPUNÂ TERDAPAT KEKURANGAN DI DALAMNYA. SEMOGA, SAYA TETAP BISA MENULIS DAN MELANJUTKAN HOBI SAYA. SELAIN ITU, SAYA JUGA BERHARAP KARYA-KARYA SAYA YANG BARU DAPAT DINIKMATI.
 
SALAM HANGAT DARI REYHAN DAN NINDIA
SAMPAI BERTEMU DI CERITA SELANJUTNYA
BYE... BYEE...
 
SALAM JAUH
TZ
 
__ADS_1