HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 36 Tanda Merah


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Reyhan menggeliatkan tubuhnya. Ia terusik dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamar dari celah-celah ventilasi. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada.


Ia melihat Nindia yang masih nyenyak dengan berbantalkan lengan kirinya. Lengan kanan Nindia melingkar di pinggang Reyhan. Mereka berdua masih sama-sama tanpa busana.


Reyhan merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Nindia. Setelah itu ia hujamkan ciuman tanpa henti hingga mengusik orang yang ada di dekapannya.


"Pagi Sayang, cupp" ucap Reyhan saat Nindia membuka matanya.


Nindia yang tiba-tiba mendapatkan ciuman hanya mematung. Ia merasakan ada yang berbeda di tubuhnya.


Saat Ia menyadari apa yang telah terjadi, Ia langsung menyembunyikan wajah di dada bidang Reyhan.


"Kamu kenapa?" goda Reyhan seakan tidak tahu apa yang terjadi.


"Malu," gumam Nindia yang masih bisa didengar Reyhan.


"Sekarang aja malu, semalam rasa malu kamu kemana? Lepes dikit aja merengek." ejek Reyhan.


Nindia semakin menyembunyikan kepalanya ke dada bidang Reyhan. Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


Reyhan menarik selimut yang menutupi kepala Nindia, "Gak usah ditutupi, aku udah lihat semuanya. Tanpa ada yang terlewatkan." bisik Reyhan.


"Nihh rasain," Nindia mencubit perut sixpack Reyhan.


"Sakit!" protes Reyhan sambil memegang perutnya.


"Makanya jangan dibahas lagi!" ucap Nindia.


Reyhan terkekeh mendengar gumaman Nindia. Ia membelai rambut Nindia.


"Makasih ya,"


"Terus aja 'makasih' sampai aku jadi istri orang," protes Nindia yang tak suka dengan apa yang diucapkan Reyhan.


"Dan itu tidak akan mungkin!" tegas Reyhan.


Respon Reyhan seperti apa yang diharapkan Nindia. Respon yang membuat Nindia jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.


Mereka masih belum menyadari pukul berapa. Mereka masih menikmati kebersamaan yang terjadi.


1 detik, 2 detik, 3 detik


"Sekarang pukul berapa?" tanya Nindia yang mulai sadar.


"Mungkin masih pukul 6," jawab Reyhan asal.


Nindia meraba nakas yang ada disampingnya. Mencari keberadaan ponsel yang ia abaikan sejak kemarin sore.


"Ya ampunn..." ucap Nindia yang langsung duduk. Ia lupa kalau tidak pakai baju, sehingga tubuh bagian atasnya terekpos.


"Udah pukul 9 Rey, kenapa kamu gak bangunin aku?" gerutu Nindia


Reyhan bangkit dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Nindia.


"Mau lanjut lagi?" goda Reyhan sambil membelitkan selimut ke badan Nindia.


"Ihhh..... masih bisa mesum lagi. Aku udah telat, aku ada kelas pukul tujuh" kesal Nindia.


"Aku aja bangunnya aja juga telat, gimana mau bangunin kamu?" jawab Reyhan.


Nasib sudah menjadi bubur. Reyhan bangun terlebih dahulu, memungut boxer dan mengenakannya. Stelah itu diausul oleh Nindia yang beranjak dan ingin membersihkan diri.


"Awwww," ringis Nindia. Ia memegang area bawahnya yang terasah nyeri dan perih.


Nindia melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia beranjak dan berjalan pelan-pelan, tapi tetap saja rasanya perih.


Reyhan yang melihat Nindia kesusahan jalan, akhirnya menghampiri dan menggendong Nindia ala bridal style.


"Bee, turunin!" protes Nindia.


"Lepesain selimut kamu! Kamu mau semuanya basah,"


Akhirnya Nindia membiarkan Reyhan menggendong nya menuju kamar mandi. Toh Ia juga kesakitan di area bawah.


Reyhan yang ikut masuk akhirnya tidak dapat menahan gairahnya dan mereka mengulangi kegiatan malam di pagi hari. Jadinya mereka membutuhkan waktu yang lama karena olahraga pagi.


____________________


Keadaan rumah sudah sepi saat mereka berdua turun dari lantai dua.


"Tuh kann... gara-gara kamu ikutan masuk buat mandi. Seharusnya aku mandi itu dua puluh menit kalau sendiri, ini jadi satu jam," protes Nindia


Reyhan mengendikkan bahu untuk menanggapi celotehan istrinya. Mereka tidak memperdulikan lagi tentang terlambat datang ke kampus. Yang difikirkan mereka berdua adalah makan untuk memulihkan tenaga mereka sehabis bertempur lama.

__ADS_1


"Udah cukup?" tanya Nindia saat mengambilkan nasi untuk Reyhan.


"Udah,"


Hanya dentingan sendok yang terdengar di ruang makan. Mereka makan dengan lahap. Entah karena lapar atau karena doyan dengan masakan Maya.


"Kamu masuk kuliah lagi pukul berapa?" tanya Reyhan yang selesai menghabiskan satu gelas air putih.


"Pukul sepuluh," jawab Nindia yang masih menikmati omlet.


"Aku gak ada jadwal buat ngajar. Kamu mau aku antar atau berangkat sendiri?"


"Mau ke kantor?" Reyhan mengangguk. "Kalau gitu aku berangkat sendiri aja,"


"Ya udah, hati-hati cup. Aku berangkat dulu," pamit Reyhan.


"Hemm"


____________________


Nindia audah sampai di parkiran kampus. Ia melangkahkan kakinya menelusuri lorong-lorong kampus.


Terlihat beberapa mahasiswa yang berada si luar kelas. Bergosip tentang semua hal. Termasuk dosen killer yang tak luput dari pembicaraan mereka.


Nindia memperhatikan mahasiswa yang sedang tidak ada kelas. Nindia merasa dirinya sebagai pusat perhatian.


Apalagi mahasiswa perempuan yang seakan jijik dan menggunjingkan Nindia, meskipun Nindia tak menyentuh mereka sama sekali.


"Coba tuh lihat,"


"Iya yah.. kok bisa sih?"


"Sama siapa kira-kira?"


"Gue gak tau siapa pacarnya."


"Wahh gak bener tuh"


"Kenapa harus pamer? kan bisa ditutupi"


Seperti itulah percakapan mereka tentang Nindia. Meskipun hanya bergumam, Nindia tetap dapat mendengar apa yang dikatakan Mahasiswa yang ia lewati.


Nindia tak ambil pusing dengan apa yang dikatakan mahasiwa tersebut. Ia menuju kantin untuk menghampiri ketiga sahabatnya. Bella sudah mengirimkan pesan sebelmnya.


Tatapan mereka kepada Nindia semakin tajam. Nindia sungguh-sungguh tidak ingin membahas masalah atau topik yang dibicarakan. Namun, semuanya membuat Nindia risih.


"Hay..." sapa Nindia yang sudah duduk disebelah Gita.


"Nin, dari parkiran rambut lo iket gitu?" tanya Bella sambil menunjuk ikatan rambutku.


"Kenapa lo ke kampus pakai pakaian seperti ini?" tanya Tia yang sudah tahu berita yang tersebar luas.


"Iya. Emang ada yang salah?" tanya Nindia yang bingung akan Ucapan Bella.


"Lah.... ni bocah!" Bella mengambilkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Ada apa sih?" tanya Nindia pada Gita.


Gita mengendikkan bahu untuk menjawab pertanyaan Nindia. Nindia semakin dibuat bingung oleh sahabatnya.


Satria? jangan tanya lagi. Ada amarah dalam dirinya. Bagaimana tidak, saat bersamanya Nindia selalu menolak untuk disentuh. Sekarang Nindia sudah menjadi milik orang sepenuhnya.


"Nih, lo lihat!" Bella memberikan kaca.


"Apaan si....." mengambil kaca. "Oh My God" Nindia menutup mulutnya.


"Mampus kan lo! Kalau mau gituan jangan dileher, malu kan?" ucap Bella.


"Bentar....." teriak Tia. "Berarti lo udah gituan dong?" tanya Tia sambil memperagakannya dengan jarinya.


"Lo udah gituan, Nin?" tanya Bella.


"Sumpah?" tanya Gita saat Nindia mengangguk. "Gimana rasanya?"


"Ena....." jawaban Nindia terpotong.


"Gue permisi dulu. Kalian lanjutin aja!" ucap Satria.


Nindia, Bella, Gita, dan Tia termangu melihat kepergian Satria. Seakan lupa kalau ada orang selain mereka. Bukan maksud mereka untuk berbicara tentang Nindia di depan Satria.


"Dari tadi ada Dia?" tanya Nindia.


"Lo gak lihat orang segede gaban di sebelah gue?" Nindia menggeleng.


"Gue gak enak jadinya," ucap Nindia meresa bersalah.


"Udah..... Gak usah dipikirin" ucap Gita mengelus punggung Nindia.


"Udah waktunya buat dia move on. Emang cewek di dunia ini yang cantik cuma lo?" ucap Tia diselipi sindiran.


"Ya iyalah.... Emang ada yang cantik lagi selain gue" jawab Nindia penuh percaya diri.

__ADS_1


pletak


Bella menyentil kening Nindia cukup keras. Entah sejak kapan tingkat kepercayaan diri temannya meningkat. Bahkan bisa dikatakan narasis.


"Uwekkk," Gita ingin muntah rasanya.


"Sakit bego," Nindia mengelus keningnya.


"Gimana rasanya?" tanya Tia.


"Lah... ni bocah pertanyaannya." Bella membenarkan posisi duduknya. "Gimana, hmm?"


"Sama aja kalian berdua tuh... Otaknya gak jauh-jauh dari 21+. Sakit gak?"


"Sama aja bocah!" ucap Bella dan Tia bersamaan.


Gita hanya cengengesan, "Gimana? Penasaran cuy."


"Kenapa gak Live aja," ucap Tia spontan.


"Bodoh.."


"Begoo"


Umpatan mereka keluar mendengar usulan tak masuk akal dari Tia.


"Kalian ada yang bawa foundation gak?" tanya Nindia yang masih melihati lehernya.


Tia, Bella, dan Gita mulai mencari dalam tas mereka. Biasanya yang paling sering membawa tas make up adalah Tia. Segala macam jenis alat kecantikan ada di dalam tasnya. mau bikin salon cuyyy, wkwkwk.


"Gue gak bawa," ucap Bella.


"Gue juga," timpal Gita.


"Nih.." Tia mengulurkan foundation.


"Makasih sayang,"


Nindia mulai mengaplikasikan foundation itu pada lehernya. Mengolesi setiap bagian tanda merah yang ada di lehernya.


"Terimakasih, Tia" ucap Nindia sambil mengembalikan foundation milik Tia.


"Sama-sama"


"Gimana rasanya,?" tanya Gita tidak sabaran.


"Ya gitu deh" cuek Nindia.


"Yahhh... gitunya itu gimana?" kesal Gita.


"Rahasia dong. Kejadian di ranjang hanya gue dan dosen killer yang tahu,"


"Yahhhh... Lo mah pelit sama sahabat sendiri. Hitung-hitung bagi pengalaman gitu" bujuk Tia.


"No," jawab Nindia sambil menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.


Meskipun kecewa, Bella tetap mengingatkan Nindia untuk lebih berhati-hati. Main aman lah istilahnya. Jangan sampai tanda merah akan menjadikan orang terkena Masalah.


"Ayo masuk! Udah jamnya prof Beno," ucap Nindia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa  Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- Bintang

__ADS_1


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.


__ADS_2