HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 32 Nasib (1)


__ADS_3

HAI CHINGU.....😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


ttok ttok ttok


“Nindia, Reyhan... Ayo makan,” teriak Maya.


"Rey... berhenti! Mami di luar" peringat Nindia


"Biarin," acuh Reyhan.


"Kita keluar ya,," membelai wajah Reyhan. "Kita tunda dulu. Kita bisa melakukan di rumah," bujuk Nindia.


“Sial!” umpat Reyhan.


Nindia hany tertawa melihat Reyhan yang harus menunda kegiatannya. Nindia sangat memahami bagaimana perasaan Reyhan. Reyan beranjak masuk ke kamar mandi untuk meredakan hasratnya yang tinggi. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower menggunakan air dingin.


Sementara itu Nindia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Mengenakannya kembali, memasukkan pakaian kerja Reyhan yang juga berserakan ke keranjang pakaian kotor.


Setelah mengenakan pakaiannya, ia memilihkan baju santai untuk Reyhan yang masih ada di rumah Maya. Ia menuju meja rias untuk merapikan rambutnya. Ia tersenyum saat mendapati banyak kissmark di lehernya. Ia menutupinya dengan menggerai rambut panjangnya.


"Belum turun?" tanya Reyhan saat keluar dari kamar mandi dan hanya melingkarkan handuk di tubuh bagian bawahnya, sedangkan bagian atasnya dibiarkan terbuka.


"Nunggu kamu. Aku sudah siapin baju kamu,"


Reyhan menekuk mukanya. Ia sangat kesal dengan Maya karena mengganggu kegiatannya. Padahal ia sudah sangat menginginkan Nindia, tapi saat dapat kesempatan mjustru digagalkan oleh sang Mami.


Nindia mengelus rahang Reyhan, "Jangan cemberut dong."


"Aku kesel sama Mami," adu Reyhan.


Nindia tertawa mendengar rengekan Reyhan, "Kan bisa lagi kalu sudah di rumah, malam ini kita tidur disini ya, kasian Mami. Papi lagi ke luar negeri,"


Reyhan hanya mengangguk dengan bibir cemberut. Mereka menuruni tangga dan langsung disambut oleh Ilham yang sedang asik meminum kopi.


"Bos, jangan ngamar mulu. Masih sore," canda Ilham.


"Boro-boro ngamar. Mau mulai aja di ganggu Mami," Ilham tertawa sampai memegang perutnya saat mendengar perkataan Reyhan.


"Ham, gimana keadaan Bella? Masih kamu pantau kan?" Nindia mengalihkan pembicaraan agar Reyhan tak semakin cemberut.


"Udah mendingan daripada kemarin. Kangen Bu Bos katanya,"


"Tolong dong Ham, panggil nama saja," pinta Nindia.


"Maaf tidak bisa! Tapi kan sudah gak formal."


"Terserah,"


"Ngambek tu," cibir Ilham yang mendapatkan gerutuan dari Nindia.


Ilham, Nindia, dan Reyhan melangkahkan kaikinya untuk ke meja makan untuk makan siang. Merek menyantap hidangan yang dipersiapkan Maya dengan lahap.


____________________


Sepeninggal Prof. Reyhan, mahasiswa masih mengerjakan tugas yang diberikan Pak Dosen. Beberapa mahasiswa ada yang menyumpahi dosen tersebut karena memberikan tugas yang tak masuk akal. Padahal tugas tersebut masih wajar.


"Gila tuh dosen!" umpat Dani, "Bu bunuh mahasiswa?"


"Udah! Kerjain aja," ucap Gita.


"Boro-boro ngerjain, Ngerti aja kagak," keluh Kevin dengan cengengesan.


"Itu mah elunya aja yang begok," ucap Tia cengengesan.


"Protes aja idup lo!" ucap Bagas dan Amel secara bersamaan.


"Cieeeeee...." ledek Dani.


"Entar cinta lo," ledek Tia.


"Amit-amit" Amel mengelua perutnya.


"Gue tunggu Lima Belas menit lagi. " ucap Gita sebagai penanggung jawab pelajaran.


Kelaspun kembali sunyi. Mahasiswa sedang sibuk mengerjakan tugas Prof Reyhan. Meskipun mengeluh dan protes, mahasiswa tetap mengerjakan tugas tersebut.


____________________


Ilham, Nindia, dan Reyhan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Nindia menepati janji untuk menjenguk Bella. Ia sudah mengirim lokasi ke Tia dan Gita. Mereka memberitahu kalau masih mengerjakan tugas yang diberikan oleh Dosen Killer.


Mobil mereka berhenti terlebih dahulu untuk membeli buah dan beberapa camilan untuk persediaan selama menemani Bella dirawat.


Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


"Bee, mereka kok belum sampai sih?" tanya Nindia pada Reyhan.


"Salah siapa tadi main pergia aja, jadi Aku kasih tugas" ucap Reyhan.


"Pantes aja lama. Tugas Dosen Killer itu mematikan," sindir Nindia.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?"


"Dosen Killer," ejek Nindia sambil sedikit berlari menghindari Reyhan.


Merasa diledek, Reyhan mengejar Nindia. Menggelitiknya hingga tawa nyaring Nindia terdengar.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian di setuap lorong rumah sakit. Puas dengan hukumannya, Reyhan kembali menghujani Nindia dengan ciuman. Tak tanggung-tanggung, Reyhan juga memberikan lumatan kecil.


"Malu," ucap Nindia yang bersembunyi di punggung Nindia.


"Biarin aja. Cium istri sendiri bukan istri orang, kenapa malu?" acuh Reyhan.


Mereka mengabaikan orang yang sedang meratapi nasibnya.


"Nasib... Nasib... Jomblo mah gini" keluh Ilham dalam hati.


Ilham hanya menjadi penonton umbaran kemesraan antara Reyhan dan Nindia. Ia sangat bahagia saat melihat Reyhan bahagia.


Sejak kecil Reyhan selalu dibebani oleh tanggung jawab sebagai pemwaris tunggal Aristarco Corp.


Tanggung jawab yang ada tidak dijadikan beban oleh Reyhan. Bahkan Reyhan menjadi mahasiswa kebanggaan Universitasnya. Setelah sukses ia memberikan investasi kepada Universitas tersebut dan menjadi pemiliknya.


Setelah sukses pun Reyhan tidak melupakan kebaikan orang yang telah membantu keluarganya saat susah. Misalnya Mang Maman, ayah dari Ilham merupakan orang yang memberikan modal awal untuk Reno meskipun baru kenal.


Untuk membalas kebaikan Maman, Reno menyekolahkan Ilham hingga ke luar negeri sebagai rasa terimakasih dan menganggap Ilham sebagai anaknya.


____________________


Nindia menggandeng Reyhan dengan posesif. Banyak sekali suster yang menatap Reyhan tanpa berkedip. Salah siapa punya suami ganteng.


"Awas aja ganjen," ancam Nindia.


"Salah siapa punya suami ganteng," sombong Reyhan. Tapi sesuai kenyataan.


"Idiihh... Narsis amat, Bang" ucap Nindia menyengir.


kreekk


Nindia melihat Bella sedang asik bermain game di ponselnya.


"Hai Mak," sapa Nindia.


Bella meletakkan ponselnya, "Hai," cupika cupiki. "Gita sama Tia mana?"


"Ngerjain tugas dari dosen killer," bisik Nindia sambil melirik Reyhan yang sedang mengobrol dengan Ilham di luar ruangan.


"Suami lo tu." ingat Bella.


"Biarin," acuh Nindia


"Yuhuuuu.... Tia dateng," teriak Tia saat masuk ruangan Bella.


"Cempreng,"


"Dasar toak"


Umpatan Bella dan Nindia keluar saat mendengar teriakan Tia yang tak tahu tempat.


"Sat, lo ikut?" tanya Bella saat melihat Satria berdiri di belakang Gita.


Reyhan yang mendengar nama Satria disebut mulai menunjukkan ketidaksukaan.


"Siapa?" bisik Ilham.


"Mantannya Nindia,"


"Jadi itu..." Ilmam angguk-angguk


Satria masuk ke ruangan Bella. Ia melihat ada dua orang yang sedang duduk.


Ia mengernyit bingung karena melihat salah satu dosen berada di dalam ruang rawat mahasiswa nya. Tapi Satria tidak terlalu memperdulikannya.


"Ciieeee yang ketemu mantan pacar. Jodoh emang gak kemana ya" ucapan Tia tanpa tau sikon. Sedangkan Gita yang dibelakang Tia hanya bisa tepuk jidat.


Reyhan mengetatkan rahangnya saat mendengar perkataan Tia. Ia tahu kalau Tia tidak bermaksud. Tapi ia tetap tidak suka dengan perkataan Tia.


"Bodoh!" rutuk Bella yang masih memberikan tatapan tajam pada Tia.


"Ya ampun.. sahabat gue yang satu ini mau bikin rumah tangga gue hancur," rutuk Nindia dalam hati.


Tia yang mendapat tatapan tajam dari sahabatnya menjadi bingung. Iya tak tahu apa yang terjadi.


"Eh.. Prof Reyhan ada disini juga?" sapa Gita.


Sapaan Gita berhasil membuat Tia paham akan situasi dan kondisi.


Tia menyengir saat melihat Reyhan, "Eh, ada Prof Reyhan" Tia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hai, Nin." sapa Satria.


deg


Orang yang disapa hanya bisa tersenyum kikuk. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.


Nindia memperhatikan Reyhan yang mulai tidak nyaman dengan situasi yang terjadi. Ia tahu betul apa yang dirasakan Reyhan.

__ADS_1


"Bos, tahan emosi lo! Ini rumah sakit," pesan Ilham.


Reyhan memejamkan mata untuk meredam emosinya. Ia tidak mau membuat keributan di rumah sakit.


Helaan nafas berat terdengar. Reyhan benar mati-matian menahan emosinya.


Satria mendekat ke brangkar Bella. Ia basa-basi menanyakan kesehatan Bella. Setelah selesai dengan Bella, ia mendekat ke Nindia. Berdiri tepat disampingnya.


Satria mengajak Nindia untuk berbicara. Nindia hanya menjawab sekenanya. Pandangannya tertuju pada Reyhan yang semakin mengetatkan rahangnya.


"Permisi, saya keluar sebentar." ucap Reyhan meninggalkan kamar rawat.


Reyhan tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia memilih meninggalkan ruangan untuk menjernihkan fikirannya.


Nindia yang melihat Reyhan keluar langaung mengikutinya tanpa mendengarkan perkataan sahabatnya.


Ilham beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke tepi brankar.


"Udah minum obat?"


"Udah,"


"Istirahat! jangan kebanyakan main game!" perintah Ilham.


"Cerewet," ucap Bella.


"Biar saya cerewet. Kalau kamu tetap di rumah sakit, perusahaan bisa bangkrut. Padahal baru kerja satu hari," sindir Ilham.


Rasanya Bella ingin menyakar wajah Ilham. Menyebalkan, satu kata yang menggambarkan Ilham.


____________________


Reyhan melangkahkan kakinya menuju taman rumah sakit. Ia tidak suka melihat Nindia berbicara dengan laki-laki lain. Apalagi itu mantan pacarnya.


Rasanya sulit sekali untuk bisa mempercayai Nindia sepenuhnya setelah kejadian itu. Ada saja yang mengganggu usahanya untuk mempercayai Nindia.


"Bee," panggil Nindia yang berdiri di belakang Reyhan.


Tidak ada jawaban, Reyhan larut dalam fikirannya.


Nindia melangkahkan kakinya menghampiri Reyhan. Duduk di sebelah kiri Reyhan


"Kamu kenapa?" tanya Nindia saat melihat muka kusut Reyhan.


Reyhan masih larut dalam fikirannya. i


Ia tidak mendengarkan apa yang dikatakan Nindia.


"Bee," Nindia menepuk paha Reyhan.


Seakan tersengat listrik, Reyhan tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa?" tanya Nindia untuk kedua kalinya.


Reyhan tetap diam. Tapi pandangannya terfokuskan pada Nindia.


"Kamu masih punya rasa sama dia?"


//(^>^)...//


To Be Continue


//(^>^)...//


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa  Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- Bintang

__ADS_1


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.


__ADS_2