
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Reyhan mendarat di Bandar Udara Internasional Juanda pukul 4 pagi. Ia langsung bergegas menuju rumahnya. Mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan penuh. Jalanan masih terlihat sepi, belum banyak orang yang melakukan aktivitasnya.
Dua puluh menit Reyhan audah sampai di rumahnya. Apabila ditempuh dengan kecepatan normal, maka Reyhan akan sampai di rumah antara 30 menit atau 45 menit apabila macwt.
Sesampai di depan gerbang, security yang sedang berjaga langaung membukakan pintu. Memarkirkan mobilnya di garasi rumah setelah Mang Udin sang penjaga rumah sudah membukakannya.
"Pagi Den," sapa Mang Udin.
"Pagi Mang, udah bangun?" tanya Reyhan basa-basi.
"Habis pulang dari masjid, den. Aden lewat pintu belakang saja, Bi Minah sudah bangun."
"Makaaih, Mang." Reyhan langsung menuju pintu belakang. Dilihatnya Bi Minah yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Aden?"
"Iya, Bi."
"Aden kemana aja? Non, sudah berkali-kali coba hubungin Aden."
__ADS_1
"Maaf Bi, Ponsel saya di copet. Saya lupa beli ponsel baru." jelas Reyhan yang duduk di meja makan sambil menikmati kopi buatan Bi Minah. "Nindia di mana bi?"
"Non lagi di kamar. Selama Aden pergi, Non nagis terus. Bahkan Non jarang makan sekarang. Badannya semakin kurus,"
"Terimakasih Bi infonya." Reyhan langsung lari menaiki tangga.
Ia langsung membuka pintu kamarnya. Dilihatnya orang yang ia rindukan sedang tidur nyenyak sambil memeluk guling. Terlihat sekali bahwa berat badan Nindia semakin menurun. Reyhan berjalan pelan-pelan menghampiri Nindia. Dilihatnya dari tepi ranjang wajah yang cantik.
Cup, Reyhan mencium istrinya. "Pagi istriku," sapa Reyhan.
Cukup lama Reyhan mencium kening istrinya. Sedangkan yang dicium mulai terganggu dengan aktivitas Reyhan.
Nindia mulai mengetjapkan matanya. "Reyhan," ucapnya lirih. Namun, sepersekian detik dirinya menyangkal bahwa yang ada di depannya adalah Reyhan.
"Ini beneran?" tanyanya saat sudah berhasil sepenuhnya terbangun.
Reyhan hanya tersenyum melihat tingakah lucu istrinya.
"Hey,, kenapa nangis?" tanya Reyhan yang mengurai pelukannya.
hiks hiks. Nindia kembali berhambur dalam pelukan hangat Reyhan. Menumpahkan segala rasa yang selama ini dia pendam.
"Aku kira kamu ninggalin aku. Aku tahu aku salah. Enggak seharusnya aku peluk-peluk laki-laki lain. Laki-laki itu namanya Satria. Dia pacar aku sebelum aku nikah sama kamu. Belum ada kata putus di antara kita. Aku masih sayang sama dia dan juga dia masih sayang sama aku. Tapi rasa sayang aku ke dia udah pudar. Aku sadar kalau dia sudah tidak ada di hatiku. Rasa yang ada hanya sebatas pertanyaan. Tapi sekarang aku yakin kalau aku udah nggak ada rasa sama dia. Jadi aku mohon kamu jangan pergi. Jangan cuekin aku, jangan ninggalin aku. Aku nggak mau jadi janda muda."
Reyhan tertawa mendengar kalimat terakhir sang istri.
"ihhh jangan ketawa!" Nindia mencubit perut Reyhan.
__ADS_1
"aww"
"AKU KANGEN DAN AKU SAYANG SAMA KAMU" Nindia semakin menenggelamkan wajahnya. Rasanya malu saat mengakui perasaannya.
"Aku juga sayang sama kamu" tanpa pikir panjang Reyhan membalas pernyataan Nindia. Pelukannyapun semakin erat. Sesekali ia mengecupi kening, pipi, hingga bibir. Tak ada penolakan dari Nindia.
"I LOVE YOU MY WIFE"
"I LOVE YOU TO MY HUBBY" Nindia mencium bibir Reyhan. Ia sangat merindukan sosok yang selalu mengejeknya, yang selalu menyindirnya, dan yang selalu mengerti akan dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
SELESAIKAN MASALAH TANPA KEKERASAN MAUPUN KATA PERCERAIAN. SESUNGGUHNYA DI BALIK PERSELISIHAN ADA PERASAAN SAYANG DAN CINTA YANG BERLEBIHAN SEHINGGA MEMBUAT SATU PIHAK ATAU DUA PIHAK TIDAK INGIN KEHILANGAN.