HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 30 Memaksakan


__ADS_3

HAI CHINGU.....😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Bella sudah mendapatkan pertolongan pertama saat tiba di rumah sakit. Sekarang Bella sedang berada di ruang rawat VIP. Bella belum sadarkan diri karena pengaruh oba tidur. Dokter memberikan obat tersebut bertujuan agar Bella bisa istirahat dan tidak merasakan gata.


"Bodoh!" maki Ilham. Meskipun begitu raut wajah khawatir tidak bisa dihilangkan dari diri Ilham.


Ilham memperhatikan wajah pucat Bella. Ia merutuki kebodohan Bella yang memakan apa yang dipesan oleh Ilham. Ilham tidak masalah jika karyawannya tidak satu selera dengan dirinya. Bukan brarti memaksakan diri dengan hal yang tak disukai.


Kenapa dia juga tidak bisa mengartikan kegugupan Bella saat ditawari ke restoran seafood.


Seharusnya Ilham bisa menyadarinya.


"Kenapa ada orang seceroboh kamu di dunia ini,” gerutu Ilham.


Untung saja ia cepat membawa Bella dke rumah sakit. Dokter tadi bilang bila terlambat Bella bisa anfal. Bahkan beberapa alergi bisa merenggut nyawa seseorang saat mengidap alergi kronis dan salah penanganan.


____________________


Setelah mendapatkan kabar dari Ilham bahwa Bella diharuskan rawat inap, Nindia langsung mengajak Reyhan untuk mengunjungi Bella. Ia bahkan tak habis fikir kenapa sahabatnya tersebut bisa melakukan hal cerobh tersebut.


“Tenang sayang,” ucap Reyhan yang tetap fokus pada jalanan. “Bella sudah aman. Dia sudah ditangani oleh dokter. Di sana juga ada Ilham.”


Nindia meremas tangannya, “Iya Bee,” Nindia tersenyum paksa.


Jalanan yang macet semakin membuat Nindia cemas. Ia terus menatap layar ponselnya, siapa tahu Ilham memberikan kabar terbaru tentang kondisi Bella.


“Bisa lebih cepat gak Bee?” tanya Nindia dengan suara yang jelas khawatir.


“Bisa, kalau kamu ingin masuk rumah sakit karena kita celaka,” gertak Reyhan. Nindia yang mendengarkan perkataan Reyhan terdiam seketika. Ia mulai menenangkan diri. Apa yang dikatakan suaminya memang benar. Bukannya menjenguk, justru nantinya dia dan suaminya yang ikut masuk rumah sakit.


Tiga puluh menit Nindia dan Reyhan sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Reyhan dan Nindia menuju resepsionis untuk menanyakan kamar Bella. Nindia sampai lupa menanyakan kamar Bella kepada Nindia. Ia baru terungat saat sampai di bassmeant rumah sakit.


“Terimakasih, Sus.” ucap Reyhan. Nindia sendiri sudah jalan terlebih dahulu. Reyhan melihat istrinya seperti orang yang kesetanan.


Nindia langsung masuk ke ruang rawat Bella. Di sana ada Ilham yang menunggu di samping brankar Bella sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


“Ham,” sapa Nindia saat baru masuk ke dalam ruang Bella.


Ilham yang melihat Nindia langsung berdiri dan membungkuk, “Bella baik-baik saja. Tadi dokter hanya memberikan obat tidur agar Bella tidak merasakan panas akibat gatal-gatal,”


Reyhan baru saja masuk. Ia melihat Ilham seperti sedang di ospek oleh kakak tingkat. Hanya diam dan menjelaskan apabila ditanya.


“Ham, lo belum pulang?” tanya Reyhan saat sudah duduk di sofa.


“Gila aja gue pulang! Gue nunggu anak orang, Bos. Mana bisa gue pulang.” Yang masih duduk di dekat brankar Bella.


Nindia menghampiri Reyhan dan duduk disebelahnya dengan tangan menggenggam tangan Reyhan yang ada di paha kiri, “Gimana ceritanya dia bisa masuk rumah sakit?”


Ilham menarik nafas, “Tadi tiba-tiba Bella datang ke kantor. Katanya diterima sebagai sekretaris untuk menggantikan Indah. Lo tahu kan Rey, Indah lagi hamil tua.” Reyhan mengangguk. “Ya karena gue gak tega bawa Indah buat nemuin perwakilan Orlando, Corp. Akhirnya gue bawalah si Bella. Gue tahu kalau dia sudah mempelajari soal pertemuan tersebut dibantu oleh Indah. Gue gak ngira kalu pertemuan itu sampai sore. Gue dengar perut dia bunyi,” menahan tawa. “Jadi gue bawa dia makan. Sebenarnya sih gue udah tanya bisa makan seafood atau enggak. Dia jawabnya bisa, jadi bukan sa-“


“Haus,” rintih Bella yang sudah sadar dari pengaruh obat bius.


Ilham yang ada di samping Bella langsung mengambilkn air. Menahan tengkuk Bella untuk membantunya minum. Sedangkan Reyhan dan Nindia langsung beranjak untuk menghampiri Bella.


hukk..hukk,..


"Hati-hati," kata Ilham sambil menepuk punggung Bella.


Bella belum menjawab pertanyaan dari siapapun. Badannya masih merasa lemas. Ilham keluar untuk memanggilkan dokter, tak berselang lama dokterpun datang bersama dengan Ilham.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Dokter sambil mengecek denyut nadi Bella.


"Mual dok," keluh Bella.


"Itu hal wajar. Bisa dibilang sebagai efek dari alergi. Saya sudah menyuntikkan obat anti mual ke kantong infus kamu. Kalau infus ini habis dan kamu masih merasa mual, saya akan memberikan obat lagi." jelas dokter. "Kamu di sini Rey?"


"Iya dr. Frans, dia teman istri saya" jelas Reyhan dengan tersenyum.


Setelah itu dr. Frans meninggalkan ruang rawat Bella. Reyhan kembali duduk di sofa sambil mengecek beberapa dokumen dan menyesuaikan jadwal agar bisa mengajar lagi di kampus. Ilham jga sudah berada di samping Reyhan untuk membicarakan urusan kerja.


"Kenapa lo bisa sama ilham?" tanya Nindia penuh selidik Nindia hanya ingin penjelasan secara langsung oleh Bella.


"Gue kerja di perusahaan suami lo, Nasib aja ketemu sama tuh orang." sungut Bella yang terdengar masih sangat lemas.


"Kenapa masih kerja sih? bokap lo gak kasih jatah?" tanya Nindia.


"Lo kan kenal gue. Gue gak mau merepotkan orang tua." jelas Bella sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Terus kenpa lo makan seafood?" tanya Nindia penuh selidik.


Bella diam sebentar, "Gue gak enak buat nolak, secara kan dia bos gue,"


Nindia menghela nafas, "Namannya lo memaksakan diri,"


Bella tersenyum, "Coba-caba aja gue, siapa tahu alergi gue hilang saat ketemu kayu berjalan."


Nindia beranjak, "Gila!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa  Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- Bintang

__ADS_1


__ADS_2