
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Pagi hari yang seharusnya cerah menjadi mendung karena kedatangan Maya. Maya langsung memberondong Reyhan dengan banyak pertanyaan. Bahkan Reyhan sempat beberapa kali kena pukulan karena dianggap tidak bisa menjaga Nindia.
"Kamu gimana sih, Rey? Kenapa Nindia bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Maya semenjak tiba di ruang rawat Nindia.
Reyhan memutar bola matanya, "Reyhan kan udah bilang kalau Nindia kecapean."
"Nindia gak apa-apa kok, Mi. Reyhan juga gak salah. Nindia emang benar-benar kecapean." bela Nindia. Ia tak mau Reyhan menjadi pelampiasan amarah Maya. Di sini ia juga salah.
Maya mencium kening Nindia, "Mami nggak mau menantu Mami kenapa-napa."
Reyhan merasa tersentuh karena wanita yang telah melahirkannya sangat menyayangi wanita yang menjadi nafas untuk selamanya. Reyhan tersenyum melihat kedekatan Maminya dengan Istri. Dua wanita yang teramat ia cintai. Ia bersyukur telah menjadi bagian dari dua wanita hebat itu.
"Iya, Mi. Maafin Reyhan karena udah teledor saat menjaga Nindia." jawab Reyhan. Ia sangat tahu bahwa Maya sangat menyayangi dan menganggap Nindia seperti anaknya sendiri.
"Nindia juga minta maaf karena udah bikin Mami khawatir, tapi Mami nggak kasih tahu Ayah sama Bunda kan?" tanya Nindia. Ia tidak mau membuat kedua orangtuanya khawatir.
Maya menggelengkan kepalanya kemuadian tersenyum, "Kamu tenang aja. Cuma Mami yang tahu. Kalau bukan staff rumah sakit yang kasih tahu, Mami pastikan semua orang tua tidak ada yang tahu."
"Dan saya yang jadi korbannya," timpal Ilham yang berdiri di ambang pintu.
Ilham berjalan mendekat, "Kalian sih enak. Nah, giliran mau kena omel langsung kasih saya." Ilham tak sepenuhnya marah. Ia hanya menggoda Maya.
"Ini juga. Dasar anak kurang ajar, Kapan kamu mau pulang? Ohh... atau jangan-jangan kamu enggak kangen Mami sama Papi ya?" Maya tidak membedakan antara Ilham dan Reyhan. Maya benar-benar menyayangi Ilham dengan tulus.
"Aduh.. Aduhh. Sakit, Mi." eluh Ilham karena telinga kirinya ditarik oleh Maya.
Ilham melepas tangan kanan Maya yang ada ditelinganya dan menyalaminya, "Assalamualaikum, Maminya Ilham." mengcup tangan Maya dengan sayang. "Ilham kangen sama Mami dan Ibu, tapi gara-gara anak Mami yang satu ini, jadi Ilham jarang pulang deh,"
Reyhan melotot karena dijadikan umpan Ilham, "Enak aja lo. Itu mah cuma alasan lo aja. Percuma sekolah sampai luar negeri kalau ilmu lo gak guna." dalih Reyhan. "Tugas lo kan emang buat bantu gue, saat gue jadi dosen."
"Tsk.." Ilham berdecih mendengar perkataan Reyhan. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang Reyhan katakan. "Itu mah cuma akal-akalan lo yang mau berduan sama Nindia. Dasar kang ngibul,"
Reyhan melotot mendengar ucapan Ilham, "Siapa yang li maksud kang ngibul?" protes Reyhan. "Bukannya lo selalu pacaran, Dasar kang modus."
Ilham memutar bola matanya jengah dengan perkataan Reyhan, "Iya in aja deh biar cepat."
"Mi, emangnya Mas Reyhan sama Kak Ilham sering begitu ya?" bisik Nindia sambil menunjuk kedua orang yang masih melayangkan tatapan maut dengan dagunya.
Maya mengikuti arah pandang Nindia, "Mereka kan masih anak-anak"
"MAMI..... KITA MASIH BISA DENGAR" protes Reyhan dan Ilham bersamaan.
Nindia dan Maya salang tatap kemudian tawa keduanya pecah saat melihat protes yang dilayangkan Ilham dan Reyhan dengan nada maja pada seorang ibu.
____________________
Kamar Nindia kemabali tenang sejak dua jam yang lalu setelah Ilham dan Maya pulang. Ilham harus kembali ke kantor, sedangkan Maya harus menemani Reno menghadiri undangan makan siang bersama client mereka.
"Rey..." panggil Nindia.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Reyhan. Ia sangat fokus pada laptop yang ada dipangkuannya. Pekerjaannya sangat menumpuk. Tak enak hati bila merepotkan Ilham terus-menerus.
"Bee," panggil Nindia lebih mesra.
Reyhan langsung mengalihkan perhatiannya, "Apa?" tanya Reyhan.
"Dasar! Bilang aja kalau mau dipanggil mesra" ucap Nindia dalam hati. Nindia hanya bisa tersenyum dengan tingkah Reyhan.
"Lapar,"
Reyhan meletakkan laptop dan beranjak menghampiri Nindia. Membelai surai hitam dengan sayang, "Mau apa, hem?"
Nindia menaruh jari telunjuknya di dagu dan memikirkan sesuatu, "Aku mau es krim 5 coklat sama roti keju 3." mata Nindia langsung berbinar hanya dengan membayangkan.
"No. Big No. Kamu masih sakit, Nin." bantah Reyhan. Untuk kali ini ia tidak akan menuruti kemauan Nindia.
"Please," mohon Nindia dengan puppy eyes yang sangat menggemaskan.
Reyhan menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Nindia, "1 es krim, 3 roti keju. Gimana?" tawar Reyhan.
Nindia menggelengkan kepalanya menolak usulan Reyhan, "No no no. 3 eskrim dan 3 roti keju" jawab Nindia.
Reyhan tetap menggelengkan kepalanya, "2 eskrim dan 3 roti keju atau enggak sama sekali."
Nindia mengerucutkan bibirnya, ia ingin menolak tapi juga sangat menginginkannya.
"Jangan cemberut. Minta dicium tu bibir?" goda Reyhan.
Mata Nindia mau keluar saat mendengar godaan Reyhan, "Ishhh, tambah satu ya? ya.. ya... " bujuk Nindia dengan menampilkan wajah menggemaskan.
"Iya, atau enggak sama sekali," Reyhan kali ini bersikap tegas. Kalau tidak mengingat Nindia baru sakit, Ia akan menuruti kemauan Nindia.
Reyhan langsung membelikan permintaan istrinya. Ia langsung turun tangan, ia ingin merasakan menjadi suami siaga dengan menuruti ngidam istrinya.
Nindia sangat bosan menunggu Reyhan. Ketiga sahabatnya masih ada mata kuliah, ia tak mungkin meminta sahabtnya untuk membolos. Ya meskipun dirinya dan ketiga sahabatnya termasuk mahasiswi yang nakal. Namun, setelah mengandung rasanya ia sudah tak pantas untuk melakukannya. Ia harus bisa bersikap dewasa.
____________________
Hari ini Nindia audah diperbolehkan pulang setelah dua hari dirawat di rumah sakit. Ia sekarang sedang berada di dalam mobil. Tadi Reyhan langsung menjemput nya, padahal Reyhan ada rapat penting.
"Aku antar ke rumah Mami ya, Bunda kan lagi nemenin Ayah ke Jepang." ucap Reyhan seraya fokus pada jalanan.
Nindia mengangguk, "Iya. Sebenarnya aku udah bisa langsung ke rumah. Lagian aku juga udah sehat."
"Enggak! Aku nggak bakal izini kamu sendirian di rumah"
"Kan masih ada Ami." jawab Nindia yang tak setuju dengan pendapat Reyhan.
"Enggak, aku lebih tenang kalau kamu di rumah Mami. Aku tahu kamu, Sayang. Kamu gak bisa diam kalau di rumah. Apalagi sahabat kamu yang kaya cacing itu mau ke rumah"
Nindia melotot tak terima karena sahabatnya di sebut cacing, "Sahabat aku bukan cacing ya, ya cuma suka bikin rusuh aja."
Reyhan menoleh ke Nindia sebentar kemudian kembali fokus pada kemudinya, "Sama aja. Aku pastikan kalau sahabat kamu main ke rumah, kamu gak bakalan bisa istirahat." jelas Reyhan yang sudah hafal dengan tingkah isterinya.
"Terserah kamu, Aku tidur dulu ya. Ngantuk soalnya." ucap Nindia dengan cengiran khasnya.
Reyhan tersenyum seraya mengusak puncak kepala Nindia, "Iya, cup... selamat istirahat"
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya Nindia dan Reyhan sampai di rumah Mami Maya.
Reyhan menoleh sebentar ke kiri. Diluhatnya istri tercinta yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia tak tega untuk membangunkannya. Ia turun dari mobil lebih dahulu kemudian memutari mobil untuk menggendong Nindia.
"Eh.. Aden," sapa Bi Ijah yang sibuk merapikan taman. Taman yang menjadi kesukaan Maya.
Reyhan tersenyum saat Bi Ijah yang tak lain ibu Ilham menyapanya, "Iya, Bu. Mami ada di dalam?"
"Ibu ada di dalam, Den." jawab Bi Ijah sopan. Mwakipum tuan rumah sudah menganggapnya seperti keluarga, tapi Bi Ijah tetap menjaga sopan santunnya. Ia juga mengijinkan Reyhan untuk memanggilnya Ibu, seperti saat Ilham memanggi Maya dengan sebutan Mami.
Reyhan menundukkan kepalanya hormat, "Ya udah, Bu. Reyhan masuk dulu. Ibu jangan capek-capek. Enggak usah rawat tanaman Mami. Menuh-menuhin rumah," ucap Reyhan dengan kekehan. Ia sangat senang bercanda dengan Ibu Ilham yang sudah menjadi ibu kedua baginya.
Bi Ijah hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Reyhan, "Iya, Den. Hati-hati bawa Non Nindianya, jangan sampai di culik orang."
"Gak ada yang berani, Bu. Toel aja udah bikin pawangnya ngamuk." ucap Ilham yang keluar dari dalam.
"Curut, berisik lo." Ucap Reyhan.
Bi Ijah menggelengkan kepalanya, kedua anaknya selalu seperti tom and jerry bila bertemu "Udah-udah, jangan ribut terus. Kasian Non Nindianya," ucap Bi Ijah yang menjadi penengah.
Reyhan melangkahkan kakinya dan dengan sengaja menabrak bahu Ilham, "Minggir, Lo."
Ilham menggeram, "Eh ogeb, jalan masih luas kali. Gak usah nabrak kan bisa"
"Bodo," jawab Reyhan sambil terus berjalan menaiki tangga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
__ADS_1
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊