HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 63 BuMil Menyebalkan


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Hari minggu seharusnya terpakai untuk santai-santai. Namun berbeda dengan Nindia yang harus menyelesaikan tugas hukuman dari Prof. Reyhan yang tak lain adalah suaminya. Sebenarnya Nindia sangat kesal karena diberikan tugas, tetapi Nindia juga menyadari bahwa kemarin adalah kesalahan dan berhak mendapatkan sanksi.


Nindia saat ini sedang menikmati perannya sebagai seorang istri. Ia sudah mulai berkutat dengan peralatan dapur, sementara Reyhan sedang mandi di kamar mereka. Hari ini hanya memasak menu sederhana yaitu ayam goreng tepung, sup, dan sambal kecap. Nindia sangat bersyukur karena Reyhan bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan.


Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, Nindia dikejutkan dengan tangan 6ang melingkar di perutnya. Dari bau parfumnya saja Nindia sudah bisa menebak, siapa lagi kalau bukan suaminya.


"Bisa gak sih kalau enggak ngagetin orang. Apalagi aku lagi masak tahu," protes Nindia sreraya mencoba melepaskan pelukan Reyhan, tapi gagal karena Reyhan semakin mengeratkan pelukannya.


Reyhan menaruh dagunya di bahu kiri Nindia seraya menampilkan watados nya, "Maaf, habis aku cariin udah gak ada aja," ucap Reyhan sambil menggesekkan hidungnya di ceruk leher Nindia.


Nindia mencoba menjauhkan kepala Reyhan, "Geli, Bee. Aku jadi gak konsen masaknya."


Reyhan melepaskan pelukannya setelah mencium pipi kiri Nindia kemudian mundur beberapa langkah dan menyandarkan punggungnya di meja bar.


"Gak biasanya kamu masak banyak, emang ada apa?" tanya Reyhan yang masih mengamati Nindia yang lihai dalam mengolah masakan.


Nindia menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada masakannya, "Sahabat aku mau kesini. Mau ngerjain tugas dari dosen killer,"


Reyhan berdecak karena tahu arah pembicaraan Nindia, "Siapa aja yang kesini?" tanya Reyhan memastikan.


"Rencananya sih Gita, Bella, sama Tia." jawab Nindia.


"Ya udah kalau gitu. Jangan terlalu capek. Minta bantuan Bi Minah, ingat kamu lagi hamil," pesan Reyhan seraya mengacak gemas rambut Nindia.


____________________


📱GRUP BGSD📱


📢Kumpulan Mahasiswa Anti Tugas📢


Nindia


Kalian jadi pukul berapa ke rumah gue?


09.00


📩Ibuk Bella


Kalau gue nunggu jemputan aja.


09.01


📩Ibuk Bella


Prof. Reyhan di rumah?


Nindia


Iyalah, Ibuk. Diakan laki gue. @Ibuk Bella sama siapa lo?


09.01


📩Gita Melow


Bentaran, gue mau poop dulu.


09.02


Nindia


😑 gue lagi makan ogeb @Gita Melow.


09.02


📩Ibuk Bella


Gita lah, dia kan yang ngajak gue. Males gue bawa mobil.


09.04


📩Gita Melow


Sabar woy.. Iya-iya, nanti gue jemput. @Nindia sorry prend, gue gak tahu. Bentar gaes, Satria chat gue.


09.05


Nindia


Apaan?


09.05


📩Gita Melow


Gue tadi diajak jalan, tapi sayangnya gue mau ngerjain tugas. Jadi, dia mau anterin gue ke rumah Nindia, habis utu lanjut jalan deh.


09.07


📩Ibuk Bella


Lah.. terus berangkat sama siapa dong?


09.08


📩Tia Rempong


Naik taxi online ya, rumah kita gak se–arah soalnya. @Gita Melow dianter sopir gue.


09.08


Nindia


Beliin gue makanan ringan dong, buat camilan. Gue males keluar.


09.08


📩Gita Melow


Gak kebalik lo. Elo tuan rumah ogeb, seharusnya lo yang sediain makanan buat tamu. Bukan malah tuan rumah yang minta beliin makanan.


09.08


📩Tia Rempong


(2)


09.09


📩Ibuk Bella

__ADS_1


Ya 😔


Nindia


Gue cuma nitip ogeb. Nanti gue ganti. Lagian makanan nanti pasti masuk di perut kalian-kalian.


09.10


📩Tia Rempong


(2)


09.11


Nindia


@Tia Rempong elo bela siapa sih? Ikutan mulu dari tadi.


09.11


📩Gita Melow


(2)


09.11


Setelah itu Nindia meninggalkan chat room dan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa. Ia telah menyelesaikan tugas masaknya dan sudah menyetrika baju meskipun harus berdebat terlebih dahulu dengan Reyhan.


Merasa lelahnya sudah berkurang, Nindia beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri dan siap-siap.


____________________


Nindia sedang mengistirahatkan tubuhnya di ranjang seraya menunggu sahabatnya datang. Sedangkan Reyhan sendiri sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Reyhan memang sedang disibukkan dengan pembangunan hotel di Bali yang tinggal finishing.


"Bee, tugasnya gak bisa diundur gitu? Misalnya kumpulin hari rabu," tawar Nindia. Pasalnya tugas diberikan hari kamis dan harus dikumpulkan hari senin.


Reyhan tetap fokus pada laptopnya, "Gak, enggak ada perbedaan antara kamu dan mahasiswa yang lain. Apalagi kamu sudah membuat gaduh kelas,"


"Selasa deh," Nindia masih berusaha nego.


Reyhan melepas kaca bacanya, "Enggak bisa, sayang. Kasian Gita kalau kamu kumpulinnya belakangan." Reyhan mencoba memberikan pengertian pada Nindia.


Nindia menghela nafas, "Iya juga sih. Ya udah deh, tapi bantu aku ngerjin ya," ucap Nindia seraya menampilkan wajah seimut mungk8n agar Reyhan luluh.


Reyhan menggelengkan kepalany, "Untuk kali ini kamu kerjakan sendiri."


Nindia langsung mengerucutkan bibirnya saat mendengar jawaban dari Reyahan. Nindia sebenarnya sudah tahu kalau Reyhan tidak akan mau melakukan nepotisme.


ttokk ttokk ttokk


"Masuk aja, Bi. Enggak di kunci kok." jawab Nindia dari dalam.


Bi Minah membuka pintu, "Permisi Den, Non. Di bawah ada tamu."


Reyhan menoleh ke Bi Minah, "Siapa, Bi?"


"Itu Den, teman-temannya Non." jawab Bi Minah sopan.


Nindia menurunkan kakinya, "Ya udah, Bi. Suruh nunggu, bentar lagi saya ke bawah."


Bi Minah mengangguk, "Baik Non. Saya permisi." Bi Minah menutup pintu.


"Aku turun dulu ya,"


cupp


___________________


Nindia jalan menuruni tangga. Ia melihat teman-temannya sedang asik memakan cemilan yang mereka bawa. Padahal camilan itu titipan Nindia.


"Bagus ya.. tuan rumah belum turun udah pada nyemil. Gak ada ijin lagi, itukan cemilan gue," protes Nindia sambio meletakkan tangannya di pinggang.


Tia dan Gita mendongak, "Katanya makanan ini buat kita, jadi ya gue makan lah." jawab Tia.


"Gue belum mempersilahkan ogeb," ucap Nindia seraya duduk disebelah Bella.


"Bumil itu jangan marah-marah terus," timpal Satria yang duduk di sebelah Gita.


Nindia mengalihkan pandangan ke orang yang duduk di sebelah Gita, "Ngapain lo disini? Katanya cuma mau nganter aja,"


Satria tersenyum menampilkan smirk nya, "Oh jadi gitu, mentang-mentang udah jadi mantan gak boleh main ke rumah lo? Emang lo gak kangen sama gue? Gue aja kangen sama lo," goda Satria.


uhukk uhukk


Gita tersedak mendengar perkataan Satria. Tiba-tiba hatinya merasa tercubit mendengar Satria merindukan Nindia. Ia seperti tidak suka jika Satria merindukan orang lain meskipun itu mantannya dan juga sahabat Gita.


"Bi Minah, tolong ambilkan air putih." teriak Nindia.


Tak berselang lama Bi Minah datang dengan 6 gelas air putih. Kemudian Bella memberikannya pada Gita.


"Nih minum,"


Gita mengambil gelas berisikan air putih, "Makasih,"


Tia berdehem, "Gue kaya cium bau gosong nih," ucap Tia sambil mengendus sekitarnya.


"Iya, gue juga cium bau gosong. Tapi dimana ya?" ucap Nindia menimpali perkataan Tia.


Gita menghela nafas, ia tahu siapa yang sedang disindir oleh Tia dan juga Nindia. Siapa lagi kalau bukan dirinya.


"Udah deh, jangan sindir gue." ucap Gita.


"Emang gue nyindir elo? Enggak ya," sangkal Nindia.


"Sumpah ya Nin, lo sekarang jadi nyebelin parah. Dari kemarin lo terusan ngejek gue." ucap Gita.


"Emang gue nyebelin?" tanya Nindia dengan muka polosnya.


Gita memutar matanya jengah, "Bodo, Nin. Gue pus.."


Mereka dikagetkan oleh suara berat yang sangat mereka kenal dan selalu dengar saat di kampus.


"Kalau kalian ribut terus, kapan selesainya?" tanya Reyhan dengan wajah datar nan dinginnya.


Semua orang merasa dibicarakan segera menoleh ke belakang dan mendapati Reyhan yang sedang bersandar di dinding dengan tangan yang masuk dalam saku celana. Terlihat sangat keren.


Gita tersenyum kikuk, "Eh.. Prof. Reyhan, siang Prof." sapa Gita


"Siang, Prof." sapa Bella, Tia, dan Satria.


Reyhan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kemudian melangkah ke dapur meninggalkan mereka yang masih melongo karena tak medapat jawaban dan aura dingin yang ditampilkan Reyhan.


"Gila ya, Nin. suami lo dingin banget." bisik Satria.


"Hussttt..... Awas Prof. Reyhan denger," tegur Bella.


"Dia bukan dosen di kelas gue," jawab Satria santai.

__ADS_1


Mereka kemudian kembali fokus pada pekerjaan dan tugas masing-masing. Bella juga beberapa kali membantu Nindia. Sedangkan Gita dibantu oleh Satria.


Mau tidak mau tugas mereka harus selesai malam ini kalau tidak, bisa dipastikan besok akan mendapatkan tugas yang lebih banyak dari prof. Reyhan karena dua kali tidak mengerjakan tugas.


Nindia sangat bersyukur karena memiliki suami yang tidak suka nepotisme. Ia sendiri juga termasuk mahasiswa berprestasi yang tidak menginginkan nepotisme. Artinya, Reyhan adalah dosen yang adil. Tidak memandang mahasiswanya dari sisi materi. Meskipun mahasiswa nya anak dosen, ia akan tetap memberikan hukuman bila mahasiswa nya itu melakukan kesalahan.


Tia berdehem, "Kok gue haus ya, ehmm ehmm"


"Kalau haus bilang aja, Gak usah pakek kode-kodean. Bentar gue buatkan minum."


Nindia sibuk berada di dapur untuk membuatkan sahabat mereka jus karena udara memang sangat dingin.


Tak menunggu waktu lama, Nindia kembali dengan memabawakan jus bewarna hijau dan memberikan kepada sahabatnya satu-satu.


"Nah, gini dong. Tamu itu adalah raja." ucap Tia sambil menerima gelas.


Gita yang akan meminumnya langsung saja menutup hidung karena tidak tahan dengan jus yang dibuatkan oleh Nindia.


"Gila, Nin. Buwau banget. Ini jus apaan sih?" tanya Gita yang diangguki oleh sahabatnya yang lain.


"Ya jus,"


Gita berdecak, "Ya bahannya apa aja?"


Nindia ber 'o'ria, "Bahannya sih bayam, sawi, tomat, timun, jeruk" Nindia mengingat sesuatu, "Oh ya, tadi gue masukin satu siung bawang putih"


Bella, Tia, Gita, dan Satria langsung melototkan matanya. Mereka seperti dihadapkan pada racun yang ada di genggaman masing-masing. Pantas saja baunya tidak enak, ternyata ada bawang putih di dalamnya.


"Lo gak niat suruh kita minum ini kan?" tanya Bella penuh selidik.


"Kalian gak mau?" tanya Nindia yang wajahnya sudah berubah sedih.


"Jelaslah ogeb, lo mau bunuh kita?" tanya Tia yang kesal karena disuruh minum racun.


Nindia menundukkan kepalanya dan memelin ujung bajunya. Tak lama kemudian mata Nindia mulai berkaca-kaca dan menangislah Nindia.


huwaaaa hiks hiks hiks...


Sura tangis Nindia nyaring terdengar di seluruh sudut rumah. Reyhan yang sedang menyelesaikan urusan kantor langsung berlari menuruni tangga. Sedangkan Bi Minah yang sedang menyiran halaman belakang langsung berlari ke arah ruang tamu.


"Kenapa, Non?" tanya Bi Minah yang lebih dahulu sampai.


"Ada apa ini?" tanya Reyhan yang sudah duduk di samping Nindia seraya mengelus punggung Nindia.


Bella yang hanya berani menjawab Reyhan, "Gini Prof. Nindia tadi kan buatkan jus, tapi jus itu loh..." Bella tak berani meneruskan.


"Jusnya kenapa?" tanya Reyhan tak sabaran.


Bella mengambil gelas jus yang sama sekali tak disentuhnya, "Lebih baik Prof. cium sendiri deh."


Reyhan mengambil gelas dari tangan Bella kemudian menciumnya. Selesai menciumnya, mata Reyhan langsung melotot karena baunya sangat tidak enak.


"Pantas saja tidak ada yang mau minum. Ini namanya racun yang berkamuflase dalam wujud jus." ucap Reyhan dalam hati.


Nindia masih saja menangis karena tidak ada yang mau meminum jusnya. Padahal ia sudah susah payah membuatnya.


"hiks kalian jahat hiks padahal aku udah susah payah membuatnya hiks hiks. Dedek disini ingin lihat jus itu diminum" ucap Nindia di sela tangisnya.


Reyhan kembali menenangkan Nindia dengan mengecup puncak kepalanya berkali-kali.


Reyhan menghela nafas, "Biar aku yang minum ya.."


Nindia langsung mendongak mendengar perkataan Reyhan, "Beneran?"


Reyhan mengangguk kemudian meminum jus buatan Nindia dalam sekali teguk. Sahabat Nindia yang melihatnya hanya bisa meringis dan seakan ingin muntah meskipun tidak meminumnya.


"Tahan, Rey. Ini semua buat anak lo yang ngidamnya aneh-aneh."


Reyhan yang sudah menghabiskan jusnya langsung memejamkan mata dan menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak memuntahkan jus yanh telah ia minum. Jangan tanya bagaimana rasanya.


"Makasih, Bee." Nindia mencium wajah Reyhan. Mulai dari kening, mata, pipi, dan hidung.


"Tapi dedeknya mau aunty-aunty nya sama om itu minun juga," ucap Nindia yang langsung membuat bola matanya sahabatnya ingin keluar.


Gita menelan ludahnya dengan susah payah, "Lo bercanda kan, Nin?" tanya Gita.


Nindia menggelengkan kepalanya, "Kalian mau kinum kan. Kalian gak mau kan kalau anak gue ileran? Please." ucap Nindia dengan menampilkan puppy eyes nya.


Dengan berat hati mereka meminumnya. Demi Tuhan, kalau boleh pilih mereka lebih memiluh makan sambal yang banyak daripada meminum jus buatan Nindia yang hancur.


Setelah tandas, Mereka langsung menahan mulutnya agar tidak muntah di depan Nindia.


"Bi, antar mereka ke kamar mandi." ucap Reyhan yang tahu apa yang akan dilakukan sahabat istrinya.


"Baik, Den."


Bella, Tia, Gita, dan Satria langsung berlari mengikuti Bi Minah.


"Kapok, gue." ucap Gita disela muntahnya.


"Gila, Prof. Reyhan kok bisa tahan ya?" tanya Satria.


"Namanya juga Cinta," jawab Bella


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG

__ADS_1


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊


__ADS_2