HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 45 Menyadari Perubahan


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Nindia, Bella, Tia, dan Gita melangkahkan kaki menuju tempat favorit mereka. Dimana lagi kalau bukan di kantin.


Seperti biasa, mereka selalu menjadi pusat perhatian mahasiswa yang lain. Tak banyak dari mahasiswa lain yang iri terhadap kecantikan mereka berempat.


Setelah memesan makanan masing-masing, mereka duduk di bangku yang mereka duduki seperti biasanya. Nindia duduk dengab Bella, bersebrangan dengan Gita dan Tia.


Gita seperti mendapati hal yang mengganjal di hatinya.


"Nin, gue lihat-lihat badan lo semakin berisi deh." ucap Gita.


"Maksud lo gue gendut gitu," sengit Nindia.


"Bukan, Nin. Maksud gue bukan..."


"Halah, bilang aja. Gue gak akan marah"


"tsk, Bilangnya gak marah. Tapi nyungut mulu.Bibir lo panjangnya udah hampir sama seperti jalan tol" sindir Tia.


"Diem lo," ucap Nindia dengan mata melotot.


"Maksud gue gini, Nin. Lo gak ngerasa ada perubahan pada tubuh lo?" tanya Bella dengan halus agar tidak menyinggung Nindia.


Nindia diam dan mulai berfikir. Nindia juga merasakan ada bagian tertentu dari tubuhnya yang mengalami perubahan. Selain itu, beberapa hari ini nafsu makannya meningkat.


"Iya juga sih. Gue juga ngerasa," jujur Nindia.


"Lo halim ya?" tanya Tia.


"Hamil ****," ucap Bella, Gita, dan Nindia serentak.


"Maksud gue itu," ucap Tia sambil menjentikkan jarinya.


"Ngaco lo,"


"Apa yang dikatakan Tia ada benarnya juga, Nin. Perubahan tubuh lo sangat terlihat, terus beberapa hari ini lo moodian mulu. Ibaratnya senggol dikit bacok," ucap Gita diselingi kekehan kecil.


"Bentar, seharusnya tanggal di bulan ini kan lo dapet. Biasanya juga bareng gue," ucap Tia. "Tapi kan sampai sekarang lo belum dapet,"


Nindia mulai mengingat terakhir kali ia menstruasi. Ia mulai menghitungnya. Nindia membekap mulutnya. Ia terkejut saat mengingat mendapatkan menstruasi dua bulan yang lalu. Sebelum Reyhan mengambil alih Aristarco Corp sepenuhnya.


Ada guratan bahagia di wajah Nindia. Ia sangat berharap Tuhan sudah mempercayakan satu nyawa hidup di dalam perutnya. Tanpa disadari, tangan kanan Nindia mulai mengelus perutnya.


"Sayang, apa kamu sudah ada di dalam perut Bunda?" tanya Nindia dalam hati.


"Nin... Nindiaaa," panggil Gita sambil melambaikan tangan di depan wajah Nindia.


"Nindia...." panggil Tia saat Nindia tak merespon Gita.


Bella yang berada di dekat Nindia langsung memegang bahu dan berhasil mengagetkannya, "A.. Apa?"


"Kenapa lo ngelamun?" tanya Tia.

__ADS_1


"Siapa juga yang ngelamun," bantah Nindia. Padahal sudah jelas bila dirinya melamun.


"Ya udah kalau gitu," jawab Gita cuek.


"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Bella.


"Belanja," jawab Tia dengan mata berbinar.


"tsk.. belanja mulu yang ada di otak lo. Belajar sana biar dapat Cumloude dengan IPK 4,01" ucap Nindia.


"****! gak ada ipk 4,01" bantah Gita.


"Siapa tahu aja ada tahun depan." jawab Nindia dengan santai sambil menyeruput jus mangganya. "Jadi mahasiswa itu benar-benar ber IQ tinggi."


"**** nya kebangetan ni bocah. Serah lo lah," kata Gita yang pasrah dengan ge gesrekkan Nindia.


Nindia cengengesan mendengar makian Gita. Entah kenapa ia merasa semakin jail kepada para sahabatnya. Bukan hanya itu, suaminyapun tak lepas dari kejahilan Nindia.


____________________


Karena penasaran dengan apa yang dikatakan Tia, akhirnya sepulang kuliah Intan singgaj di salah satu apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Tapi ia malu dan takut. Malu karena membeli barang yang privasi dan takut bila tidak sesuai dengan harapannya.


Tapi rasa penasaran nya berhasil mengalahkan rasa takut dan rasa malu. Nindia kemudian masuk ke dalam salah satu apotik yang tak jauh dari kampusnya.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu apoteker.


"Siang, saya mau beli testpack mbak." jawab Nindia.


"Oh iya. Ada banyak jenisnya, Mbak. Mbak nya mau yang mana?" tanya apoteker.


"Yang paling akurat, mbak." jawab Nindia yang memang baru pertama kali mengalami hal ini.


Setelah menerima apa yang dicarinya, Nindia langsung kembali ke mobil dan melanjukan mobilnya menuju rumah Ayah dan Bundanya. Ia ingin sekari makan masakan Bundanya. Kebetulan juga Rethan sedang ada rapat dan akan pulang terlambat.


Setelah sampai di rumah orang tuany, Nindia langsung disambut oleh Helena yang kebetulan ada di ruang tamu.


"Bunda... Anin kangen sama Bunda" ucap Nindia sambil memeluk bundanya dari belakang.


"Astaga," Helena memegang dadanya. "Kamu mau bikin bunda jantungan, Hem?"


Nindia hanya bisa tersenyum. Menampilkan deretan gigi putihnya. "Maafkan anakmu yang satu ini. Bunda, aku pingin makan Ayam pedas manis." ucap Nindia yang sudah duduk di sebelah Helena.


"Ya kamu buat sendiri lah, atau enggak minta Bi Sumi buat bikinin," ucap Helena.


"Ihhhh, Bunda kok gitu sih. Anin kan pingen makan masakan Bunda," ucap Nindia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Lho,, kok kamu nangis sih?" tanya Helena yang bingung dengan tingkah aneh Nindia.


"Habisnya Bunda gak mau masakin Anin," ucap Nindia yang air matanya sudah menetes.


Helena mengusap air mata Nindia dengan kedua ibu jarinya, "Kamu kok jadi cengeng sih Nin? Biasanya kamu juga kan masak sendiri."


"Tapi sekarang Anin pingennya makan masakan Bunda. Anin gak mau makan masakan orang lain ataupun masakan Anin sendiri."


Helena mengernyot bingung, tapi tetap menuruti keinginan anaknya, "Ya udah kalau gitu. Bunda masakan ayam pedas manis."


Mata Nindia langsung berbinar, "Bunda beneran?" tanya Nindia antusias.


"Iya. Tapi jangan nangis lagi ya..." bujuk Helena dan Nindia mengangguk.

__ADS_1


"Kamu aneh," Nindia cemberut mendengar ucapan Bundanya. Tapo ia juga senang karena dapat merasakan masakan Bundanya.


Nindia hanya butuh waktu lima belas menit untuk menunggu masakan Helena terhidang di meja makan.


Setelah mendengar panggilan Helena, Nindia melangkahkan kakinya menunju meja makan. Matanya semakin brrbinar setelah melihat ayam pedas manis yang berhasil membuat dirinya mengecap beberapa kali. Air liurnya sudah meronta ingin keluar bila ia tidak mengingat masih ada Helena di sebelahnya.


"Duduk, Nin. Ngeces tuhh," goda Helena.


Bodohnya, Nindia mempercayai omongan Helena. Ia mengangkat tangannya dan meletakkannya di bibirnya, "Ihhh, kan. Bunda bohong lagi."


Nindia yang kesal langsung menarik kursi dan menghempaskan pantatnya dengan keras. Nindia mengambil piring, mengisinya dengan sedikit nasi dan 3 potong sekaligus ayam pedas manis.


"Nin, kamu yakin habis?" tanya Helena yang bingung dengan nafsu makan anaknya. Padahal Nindia tipikal orang yang susah makan, tapi bukan pilih-pilih makanan.


"Yakin," jawab Nindia sambil menggigit satu potongan ayam. Nindia diam sejenak untuk menikmati rasanya. Saat dinilai sesuai dengan apa yang diinginkan, Nindia tersenyum sambil menggoyangkan kedua tangannya. Persis seperti anak kecil yang senang saat dibelikan permen.


Helena hanya tersenyum saat mengamati tingkah putrinya. Ia seperti melihat wanita hamil yang sedang mengidam.


"Tunggu! Hamil? Apa mungkin Nindia hamil? Aku lihat berat badannya sedikit bertambah dan ada beberapa bagian tubuhnya yang berubah," gumam Helena dalam hati. Ia terus saja memperhatikan bentuk tubuh anaknya dari atas sampai bawah. Kalau ia tak salah menebak, Nindia pasti sedang hamil.


"Ya ampun Nin," ucap Helena terkejut. "Kamu habiskan semua ayam yang ada di wadah ini?" tanya Helena pada Nindia. Baru saja ditinggal melamun sebentar, tak ada satu potong ayampun yang tersisa. Padahal ia memasak dua paha, dua sayap, dan satu dada ayam.


Nindia hany bisa menampilkan deretan gigi putihnya, "Makasih Bunda makanannya. Nindia pulang dulu," ucap Nindia sambil mencium pipi Bundanya. Kemudian ia langsung meninggalkan rumah.


"Dasar anak nakal. Kesini cuma minta makan doang. Mana gak disisain buat yang masak," gerutu Helena.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2