
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Setelah menyelesaikan tugas yang diberikan Reyhan, Nindia kembali ke dalam kelas dengan wajah lesu.
"Habis diapain lo sama Pak Reyhan?" tanya Bella.
"Gila, gue disuruh review bahan seminar dia," Nindia menjatuhkan kepalanya di meja, menggunakan lebgan kanannya sebai bantalan.
"Mampus lo, muntah-muntah deh lo," ejek Gita.
"Sialan lo,"
"Gak apa-apa lagi. Kan bisa ketemu sama Dosen ganteng" ucap Tia dengan senyum lebarnya.
"Dasar," hujat Bella.
Ditengah perbincangan mereka muncullah sosok yang selama ini selalu menjadi objek pembicaraan. Saat mengetahui Bella akan memberitahu Nindia, Satria meletetakkan telunjuknya di depan bibir tanda supaya tidak memberitahukan Nindia.
"Terus lo diapain lagi sama tuh dosen?" Bella melanjutkan pembicaraan.
"Gue gak dikasih makan," bohong Nindia.
Meskupun matanya terpejam, Nindia bisa merasakan kalau ada yang mengusap lembut rambutnya.
"Apaan sih kalian. Lepas gak tangan kalian. Gue mau tidur," kata Nindia yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
"Jadi gue disuruh pergi ni?" canda Satria yang suaranya bisa langsung dikenali oleh Nindia.
"Jangan,!" sergah Nindia dengan memegang tangan Satria namun masih belum mau membuka matanya.
"Katanya gak boleh ganggu," ejek Satria.
"Kalau mereka boleh pergi, tapi kalau lo jangan, " Nindia membuka mata dan memutar kepalanya, menggunakan dagu sebagai penyangganya.
"Hemm.. hemm... Masih ada orang ya disini," sindir Gita.
Nindia tidak mendengarkan sindiran dari Gita dan masih menikmati usapan dirambutnya dengan mata tertutup. Ia akan menikmati sampai kelas berikutnya dimulai.
"Masih ada kelas?" tanya Satria dengan masih mengelus rambut Nindia.
"Masih. Tinggal satu, jamnya Pak Reyhan. Habis itu pulang."
"Mau gue antar pulang?" tawar Satria.
Bella yang tiba-tiba namanya tersebut jadi kelabakan, namun tiga detik kemudian berhasil menangkap kode dari Nindia.
"Nanti pulang sama gue aja. Gue suruh temenin cari barang,"
"Beneran gak mau diantar pulang?" tanya Satria memastikan.
"Iya," Nindia **** senyum.
Mereka tidak menyadari kalau saat ini ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Tatapan matanya tidak bisa ditebak oleh siapapun.
"Selamat siang," ucap Reyhan yang sudah memasuki kelas.
Nindia yang mengenali suara itu sangat terkejut. Secara sepontan Nindia melepaskan tangan Satria dari kepalanya yang sedari tadi asik mengelus rambutnya. Nindia seolah tertangkap saat berselingkuh. Salivanya seakan sulit ditelan. Pandangannya lurus ke depan. Matanya sembat beberapa detik bertemu dengan manik mata coklat milik Reyhan.
__ADS_1
Kegugupan Nindia tak lepas dari pandangan Bella. Bella semakin yakin kalau tebakannya selama ini bener. Nindia memiliki hubungan dengan Pak Reyhan.
"Ya udah, gue balik dulu ya. Kelas gue udah selesai." Satria berdiri dari bangkunya dan hendak mencium Nindia, namun Nindia berhasil menghindar. Tindakan itupun tak luput dari pandangan Reyhan.
Baru tadi siang Reyhan makan berdua dengan Istrinya. Namun apa yang dilihatnya saat ini jauh dari apa yang difikirkan. Sedangkan Satria yang mendapat penolakan Nindia membuat Satria sedikit kecewa, namun dirinya sadar saat ini ada dosen dan Satria berfikiran kalau itu alasan Nindia menghindarinya.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Reyhan dengan mengalihkan pandangannya dari Nindia ke semua siswa.
Nindia masih tetap dengan pandangan yang menuju arah Reyhan. Penyesalan dan rasa bersalah seolah menghantuinya. Sampai mata kuliah mau selesai, Nindia tidak bisa fokus. Dalam fikirannya saat ini adlah cara memandang Reyhan yang tidak bisa ditebak oleh siapapun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/n : Aduh kasian banget deh Pak Reyhan. Kalau gak mau buat Author juga boleh.
__ADS_1