HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 48 Bilang Saja Kalau Suka


__ADS_3

Maaf karena slow update. Akhir-akhir ini sibuk banget sama tugas kuliah terlebih lagi author juga lagi sakit. Mungkin minggu-minggu yang akan datang jarang update, tapi di usahakan tetap update. Terimakasih atas pengertiannya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


๐Ÿ€


๐Ÿพ


๐Ÿ‡


HAI CHINGU..... ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


SELAMAT MEMBACA


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Disinilah mereka sekarang. Bergelung di bawah selimut yang menutupi badan mereka.Mereka mengakhiri permasalahan dengan kegiatan panas diranjang. Itu salah satu cara mereka agar hubungan mereka tetap harmonis meskipun ada masalah seperti kemarin.


Reyhan yang bangun terlebih dahulu sibuk dengan kegiatan memandangi wajah cantik istrinya saat tertidur. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik sang istri. Reyhan sangat mengagumi wajah cantik Nindia meskipun tanpa make up. Polos seperti bayi yang baru lahir.


"Morning," sapa Reyhan sambil mengecup kening Nindia saat melihat pergerakan kecil yang dilakukan Nindia.


Nindia yang mendengar sapaan dan kecupan mulai mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk dari cela-cela jendela.


"Morning," balas Nindia sambil menyelusupkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Mencari tempat ternyaman untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh suara sexi Reyhan.


Reyhan mengelus lembut surai coklat milik Nindia, "Kamu gak mau ke kampus?" tanya Reyhan.


"Capek," jawab Nindia dengan suara manja yang berhasil membuat Reyhan terkekeh saat mengingat keagresifan Nindia sekarang.


Reyhan menundukkan kepalanya dan membisikkan sesuatu pada Nindia yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku suka kamu yang agresif seperti semalam,"


Mendengar perkataan Reyhan berhasil membuat pipinya merona. Ia semakin menyembunyikan kepalanya pada dada bidang Reyhan. Tingkahnya yang agresif saat memeluk, mencumbu, dan... Aishh Nindia sangat malu bila mengingatnya.


"Apaan sih. Mulai deh mesumnya," cicit Nindia.


"Bangun gih, udah pukul 9. Kamu kelas jam berapa?" tanya Reyhan memastikan.


Nindia mengingat-ingat jadwalnya hari ini. Matanya melotot saat berhasil mengingat sesuatu.


"Ihhhhh, kenapa baru kamu bangunin sih. Aku ada kelas pukul 10." gerutu Nindia yang langsung menegakkan badannya dan mengikat rambut dengan asal. Ia tidak menyadari kalau tubuhnya masih full *****.


"Sayang, kamu mau aku bikin gak bisa jalan?" tanya Reyhan saat melihat tubuh ***** sang istri yang berhasil menggodanya.


Nindia yang menyadari keadaannya langsung menari selimut guna menutupi tubuh bagian depannya. "Apa lihat-lihat? Minggir!" ucap Nindia yang beranjak sambil menggelung tubuhnya dengan selimut. Ia menghembuskan nafas lega saat melihat Reyhan sudah memakai boxernya.


Reyhan terkekeh melihat tingkah lucu istrinya. Bahkan sikapnya sangat berbeda dengan semalam. Nindia semalam seperti kucing kecil yang sedang kelaparan, sekarang sudah berubah menjadi Induk macan yang mencari mangsa.


Mereka sudah melupakan permasalah yang sempat membuat mereka bertengkar. Terlebih lagi dengan kata keramat yang hendak keluar dari mulut mungil milik Nindia, untung saja Reyhan berhasil membungkamnya.


____________________


Di kampus, lagi-lagi Bella terlihat jalan berdua dengan Satria. Banyak pasang mata yang menganggap mereka memiliki hubungan yang tidak biasa. Di mana ada Satria, disitu ada Bella.


"Sat, lo ngapain nempel-nempel sama gue?" tanya Bella.

__ADS_1


"Suka-suka gue lah," jawab Satria.


Bella hanya bisa menghembuskan nafas lelah dengan kelakuan mantan pacar sahabatnya ini.


"Kalau ketahuan bisa ada tsunami di dekat gue," ucap Bella sambil melihat sekelilingnya.


"Wah, beneran bakal ada tsunami ini mah," sambung Bella saat menangkap wanita cantik yang menatapnya tajam.


Satria mengikuti arah pandang Bella. Ia tersenyum saat menanggkap sosok wanita cantik yang sedang memperhatikannya.


"Siap-siap! tsunami datang." ucap Satria saat melihat wanita cantik itu berjalan menuju arahnya.


Wanita itu berdiri di depan Bella dan Satria. Memandang keduanya secara bergantian. Seakan mencari sesuatu yang mengganjal fikirannya.


"Kalian barengan?" tanya wanita itu.


Satria berdehem, "Eh Gita, iya. Kita barengan kesininya. Lo sama siapa?" tanya Satria sambil merangkul bahu Bella.


Bella menyadari perubahan mimik muka Gita. Yang awalnya hanya asam, sudah berubah menjadi pahit.


"Gue sendiri. Ya udah kalau gitu, gue pergi dulu." Gita melangkah meninggalkan Bella dan dan Satria, namun Gita berhenti tepat disamping Bella.


"Gue ngomong sesuatu sama lo. Gue tunggu di kelas." sambungnya.


Bella menghela nafas jenuh. Kedua orang ini terlalu jauh menyeretnya ke dalam permasalahan mereka.


"Puas lo?" tanya Bella pada Satria.


Satria tersenyum kemudian mengangguk dengan semangat.


"Sakit, Bangke!" umpat Satria.


____________________


Seperti apa yang dikatakan Gita waktu di kantin. Sekarang ia sedang menunggu Bella, berdiri di dekat jendela dan mengamati mahasiswa yang lalu lalang.


"Ada apa?" tanya Bella yang berdiri di belakang Gita.


Gita membalik badannya, menatap Bella dengan tajam. "Lo ada hubungan khusus gitu sama Satria?" tanya Gita dengan santai, mencoba mencari informasi.


"Gak ada,"


"Gak usah bohong deh! Gue tahu kalau lo suka sama Satria," sanggah Gita dengan nada yang mulai meninggi.


"Kata siapa?" tanya Bella cuek. Ia tak terlalu menanggapi apa yang dikatakan Gita. Meskipun ini kali pertama Gita berbicara ketus padanya. Ia tahu apa yang sedang dirasakan Gita saat ini. Cemburu, ia bisa membaca dari gerak-gerik Gita saat menatap dirinya berjalan dengan Satria.


"Gak usah muna lo!" ucap Gita yang mulai tersulut emosi.


Bella lagi-lagi menghela nafas, "Yang muna gue atau lo? Lo kalau suka bilang dong, gak usah sok-sok an ngelabrak gue kayak gini. Lo aja gak berani ngakuin perasaan, apa namanya kalau bukan muna? Bilangnya enggak, tapi nyatanya iya." ucap Bella dengan penuh penekanan tapi masih terkesan santai. Setelah itu ia keluar meninggalkan Gita diam mematung.


Gita memaku mendengar apa yang dikatakan Bella. Apa dirinya memang menyukai Satria? Gita mencoba mencari jawaban dalam dirinya sendiri. Ada gelenyar aneh saat Satria berdekatan dengan lawan jenis selain dirinya. Tapi Gita juga takut akan menjadi makanan empuk bagi Satria seperti saat Satria bermain di belakang Nindia.


Bella keluar dari dalam kelas dan berhenti di dekat pintu kelas. Ada orang yang sudah menunggunya dengan senyum lebarnya.


"Seneng banget kalau lihat orang berantem," sindir Bella.


"Engga gitu juga,"

__ADS_1


Bella melangkahkan kakinya menjauhi kelas tersebut.


"Udah dengar kan?" tanya Bella.


"Udah,"


"Puas?"


"Lumayan. Yang paling penting, gue udah tahu kalau dia juga ada rasa sama gue," jawabnya dengan percaya diri.


"Idihh, percaya diri banget lo. Dia aja gak bilang kalau dia suka sama lo," ucap Bella.


"Cuma perasaan gue aja."


"Terserah lo! Gue cuma mau ingetin lo, jangan pernah sakitin dia seperti lo nyakitin Nindia. Awas aja kalau lo berani!" ancam Bella. Ia akan melindungi anak-anaknya agar tidak disakiti oleh orang lain.


"Siap,"


"Buruan pepet. Dipepet orang lain baru nangis-nangis."


"Enggak ada yang berani."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Likeย ๐Ÿ‘ย & Komentarย ๐Ÿ’ฌ


Jadikan Favoritย โค


Bila berkenan silakan beri Tipย โญ


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


A/nย  ย  : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2