HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 85 Syukuran Tujuh Bulanan


__ADS_3

HAI CHINGU.... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Sejak kemarin rumah pribadi Nindia dan Reyhan sibuk dengan berbagai kegiatan. Rencananya tiga hari lagi akan diadakan acara tujuh bulanan. Sesuai dengan keinginan Nindia, acara tujuh bulanan diadakan dengan sederhana, hanya kerabat  dekat yang akan menghadiri. Nindia lebih mengutamakan kehadiran anak yatim untuk mendoakan kehamilannya dan mengundang tetangga sekitar. Nindia menolak mengadakan acara tujuh bulanan dengan adat Jawa, cukup doa yang Nindia butuhkan. Bella yang dekat dengan Ilham mengharuskan ikut andil dalam acara tujuh bulanan Nindia.


"Bingkisan makanan ringan buat anak-anak yatim udah?" tanya Nindia


"Tinggal dikit lagi, katanya nanti sore Gita sama Tia mau bantu buat bungkus. Emangnya lo undang berapa anak yatim?" tanya Bella seraya mengecek makanan ringan yang ada di depannya.


"Sekitar 500 anak sih, sekaligus pengajian juga," jawab Nindia.


"Sama tetangga? Lo mau kasih nasi kotak juga?"


Nindia mengangguk, "Kalau tetangga gue sih enggak, cuma anak yatim aja. Gue masih bingung sama menunya. Gue mau semuanya bergizi,"


"Gampang, nanti biar Tia sama Gita yang cari. Tantenya Gita kan punya catering, jadi bisalah kasih harga miring,"


"Oh iya," ucap Nindia seraya menepuk jidat. "Saking sibuknya ngurus yang lain, gue sampai lupa kalau tantenya Gita punya catering. Nanti biar gue hubungi secara pribadi, enggak enak kalau lewat Gita,"


"Terserah elo sih," jawab Bella.


"Bella, kamu sibuk? Ikut aku buat beli isian parcel untuk tetangga," ucap Ilham yang baru datang.


"Loh? Belum dibeli?" tanya Nindia. Pasalnya ia mengira kalau masalah parcel buat tetangga sudah selesai.


"Udah, kemarin Bunda sama Mami yang beli. Kurang beberapa bahan lagi," jawab Ilham mengurangi kecemasan Nindia.


"Aku kira belum disiapin, yaudah pergi sana. Hati-hati,"


"Yeeeee, ngusir nih?" tanya Bella.


"Iya, gue udah bosen lihat lo sejak pagi," jawab Nindia enteng.


"*****," umpat Bella.


"Bel, dijaga mulutnya. Yang di dalam udah bisa denger loh," Bella langsung diam mendengar ucapan Ilham, sedangkan Nindia sudah menjulurkan lidahnya untuk mengejek Bella.


"Iya-iya. Maaf,"


"Idihhh, bucin lo?" ejek Nindia.


"Ba..,"


"Udah, ayo pergi aja. Jangan kotori otak ponakan ku dengan kata-kata kasar kalian."


Setelah mengucapkan itu, Ilham menyeret Bella menjauhi Nindia. Memang benar, diusia 7 bulan bayi sudah bisa mendengar apa yang diucapkan orang disekitar Bunda Bayi, maka dari itu harus pintar-pintar menjaga kata yang mau diucapkan


"Sayang, kamu enggak capek?" tanya Reyhan yang datang dari belakang.


Nindia menggelengkan kepalanya, "Mana bisa aku capek kalau semuanya di urus sama Mami, Bunda, sama sahabat aku. Aku mah tinggal duduk santai sambil neliti apa yang kurang. Kamu enggak ngajar? Hari ini jadwal kamu loh?"


"Aku ambil izin 3 hari di kampus. Kamu mau minum?"


"Mau, boleh minta tolong?"


"Yes, as you wish baby girl," jawab Reyhan seraya mengerling nakal.


"Oh, God. Don't do it, I'm ticklish" ucap Nindia seraya bergidik ngeri.


Reyhan berlalu sambil terkekeh mendengar teriakan Nindia. Memang Nindia kerap melarangnya bertingkah genit. Kata Nindia jauh lebih ngeri melihat Reyhan bertingkah genit daripada melihat Reyhan bermuka tegas dan bermata tajam.


Nindia merasakan tepukan di pundak sebelah kananannya langsung menoleh.


"Itu beneran Reyhan?" tanya Ibu mertuanya.


"Iya Mi. Kenapa? Aneh ya?"


Maya mengangguk, "Mami kok jadi geli ya lihatnya." ucap Maya.


Nindia terkekeh, "Kalau Mami aja geli gimana sama Nindia yang hampir tiap hari lihat. Semenjak usia kandungan Nindia lima bulan, tingkah Mas Rey jadi aneh, genit dan suka gombal."


"Tiap hari? Mami belum pernah lihat Rey begitu dari orok sampai sesukses sekarang," ucap Maya yang masih tak percaya akan perubahan anaknya.


"Tapi syukurlah kalau Reyhan bahagia. Waktu dulu harus ke luar negeri buat ngehindari kamu, hidupnya monoton. Hanya belajar dan bekerja." ucap Maya seraya menghapus buliran bening di sudut matanya.


Nindia juga bersyukur bisa membuat Reyhan bahagia meskipun harus menyakiti nya terlebih dahulu. Jika Maya dan Helena mengetahui, sudah bisa dipastikan Reyhan akan diminta untuk meninggalkannya.


Nindia menghambur dalam pelukan Maya, "Nindia janji akan bahagiakan Mas Rey Mi, doakan kita selalu bahagia,"


cupp

__ADS_1


"Aamiin 3x, Sayang."


____________________


Hari ini acara 7 bulanan Nindia dilaksanakan. Sejak pagi sudah banyak sanak saudara yang datang menghadiri. Nindia sendiri sudah bangun sejak pukul 3 pagi. Ia tak mau acara berjalan tidak sesuai keinginannya. Meskipun acara dilaksanakan pada malam hari, sahabat Nindia sudah datang. Mereka sengaja izin dan dipermudah oleh Reyhan.


"Nin, lebih baik lo istirahat aja dulu. Lagian ini masih pukul 10 pagi, masih ada 8 jam lagi menuju acara." ucap Gita yang sedang sibuk menata dekorasi.


"Santai aja kali. Kalau cuma nyusun ini aja, gue enggak bakalan capek." jawab Nindia seraya meletakkan bendera segitiga disisi boks bayi


duaarrrr


"Astagfirullah..." ucap Bella, Tia dan Nindia bersamaan.


Pelaku utama hanya bisa menyengir, "Sorry, gue enggak sengaja."


"Tia...." geram Gita.


"Gue kan udah bilang, enggak usah besar-besar niupnya" ucap Bella yang juga kesal dengan kejahilan Tia.


"Untung ya jantung gue normal, kalau enggak pasti udah khekkk," ucap Nindia seraya memperagakannya dengan lucu.


"Sorry, gue enggak senga. Beneran deh, sumpah," jawab Tia


"Ada apa? Kok rame-rame?" tanya Helena yang datang dari belakang membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.


"Eh tante," ucap sahabat Nindia yang langsung berdiri untuk salim.


"Kok enggak sarapan dulu?"


"Sudah sarapan tante sebelum ke sini," jawab Gita.


"Beneran?"


"Bener Tante," jawab Tia sopan.


"Ya udah kalau gitu. Kalau kalian lapar, cari aja di dapur." ucap Helena yang diangguki semuanya. "Bel, Mama, Papa sama Adik kamu datang kan?"


Bella mengangguk, "Iya Tan, mungkin agak sorean. Soalnya masih ada janji makan siang sama klien Papa."


"Enggak masalah. Kalau gitu Tante ke belakang dulu ya, kalian juga harus cepat siap-siap soalnya pengajiannya mulai ba'da dzuhur."


"Bukannya malam ya?" tanya Nindia.


"Acara initinya memang malam. Tapi pengajiannya mulai ba'da dzuhur. Emang kamu enggak dikasih tahu sama Reyhan?"


"Pantes. Ya udah kalau gitu, tante ke belakang ya..."


"Iya tante," jawab mereka bersama.


Acara dekorasi langsung dipercepat karena perubahan jadwal yang tidak diketahui oleh Nindia. Dekorasi memang cukup simple. Hanya terdapat boks bayi dan foto bayi yang dikelilingi balon bewarna hitam putih dengan sedikit sentuhan warna emas dan juga bendera segitiga dengan warna sama.


"Nin, ini simple tapi elegant lhoo," puji Gita.


"Jelas lah, pilihan siapa dulu dong," ucap Nindia seraya memukul dadanya pelan.


"Nyesel gue puji elo," sinis Gita seraya berlalu untuk siap-siap.


____________________


Setelah dari siang diisi bacan ayat suci Al-Qur'an, akhirnya tibalah diacara inti. Papi Reno mengundang salah satu teman ustadz nya untuk mengisi acara dengan memberikan tausiyah serta wejangan-wejangan bagi calon orang tua.


"Apakah Mbak dan Mas nya sudah siap menjadi calon orang tua?" tanya Ustadz Jafri kepada Nindia dan Reyhan.


"Insyaallah saya siap menjadi orang tua," jawab Nindia.


"Saya juga sudah siap menjadi auami sekaligus ayah yang baik bagi iatri dan anak saya," jawab Reyhan tegas. Tak ada keraguan dari kata yang diucapkan Reyhan membuat Nindia meneteskan air mata.


Ustadz Jafri tersenyum, "Subhanallah, saya rasa Mas Reyhan akan sanggup memikul beban berat. Terlebih lagi jika anaknya perempuan, pasti tugasnya akan berlipat dua kali,"


Reyhan hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Ustadz Jafri. Memang tugas Ayah akan jauh lebih berat jika memiliki anak perempuan. Jangan sampai anaknya membuka pintu neraka untuknya.


"Anak perempuan dan anak laki-laki pada hakikatnya sama. Tinggal bagaimana kita menyikapi. Tidak ada orang tua yang membenci anaknya meskipun telah berpisah. Karena tidak ada kata mantan orang tua ataupun mantan anak. Didiklah mereka akhlak dan sikap yang baik. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda "Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarga, dan raja juga pemimpin bagi rumah tangga dan anak-anak. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan memenangkan pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya." Jadi, Seorang suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu agama, memahaminya serta mengamalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, serta menjauhkan diri dari setiap yang diminta oleh Allah' Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Kemudian dia mengajak dan membimbing sang ayah untuk melakukannya, juga anak-anak akan meneladani orang tuanya karena tabiat anak memang memerlukan untuk menghubungkan apa-apa yang ada di sekitarnya."


Semua orang menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Jafri. Tak ada kata yang terlewatkan. Bahkan Nindia beberapa kali meneteskan air mata saat mengingat Almarhum Ayahnya. Betapa berat tanggung jawab ayahnya untuk membesarkan Nindia. Sebelum mengadakan syukuran tujuh bulanan, Nindia terlebih dahulu ziarah ke makam ayahnya. Mendoakan dan memberitahukan bahwa sebentar lagi Nindia akan menjadi ibu


"Jangan nangis. Percayalah, ayah pasti luhat kamu dari atas. Melihat bahwa sebentar lagi anaknya akan menjadi seorang ibu," ucap Reyhan seraya menghapus air mata Nindia.


Reyhan langsung membawa Nindia masuk dalam dekapan hangatnya. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan Nindia saat ini, apalagi setelah mendengar tausiyah Ustadz Jafri.


Acara dilanjutkan dengan santunan anak yatim. Selain itu, masing-masing anak mendapatkan bento dan bingkisan makanan ringan. Banyak sekali anak yang gembira mendapatkan oleh-oleh dari Nindia. Senyum mereka tak pernah luntur selama acara.


Tak hanya anak yatim saja yang mendapat santunan. Reyhan dan Nindia juga mengundang janda-janda, orang tak mampu untuk diberikan parcel berisi sembako, santunan dan nasi kotak. Sedangkan tetangga diberikan sembako dan nasi kotak.


Acara baru selesai satu jam yang lalu. Kini kerabat dan juga sahabat Nindia ikut membantu membersihkan rumah. Para kerabat jauh sudah pamit terlebih dahulu karena haru sudah larut, Reyhan juga Nindia sangat memaklumi. Mereka sudah berterima kasih karena telah meluangkan waktu untuk datang mendoakan keselamatan ibu dan calon anak.

__ADS_1


"Tante, saya pulang dulu," pamut Gita.


"Sama siapa?"


"Sama saya Tan," jawab Satria baru kembali dari belakang.


"Kalian?"


Satria tersenyum melihat reaksi Helena. Pasalnya Helena mengetahui bahwa laki-laki ini pernah menjalin kasih dengan anaknya.


"Iya, doakan ya Tan." ucap Satria.


Helena kembali tersenyum, "Pasti. Mau sekarang?"


"Iya Tante, kasihan Gita kalau pulang kemalaman. Enggak enak juga sama tetangga."


"Hati-hati kalau gitu."


Satria dan Gita mengangguk, "Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Sekarang tinggal Tia yang belum dijemput oleh supir. Padahal sudah sejak tadi Tia menelepon dan mengirimkan pesan, tapi belum ada satupun yang dibalas.


"Tia pulang sama siapa sayang?" tanya Helena


"Enggak tahu Tante. Ini masih coba hubungi supir," jawab Tia yang mulai resah seraya terus melihat ponsel.


"Kamu pulang diantar Yudha aja gimana? Kebetulan dia juga mau pulang," tawar Reyhan. Ia kasihan melihat muridnya, meskipun kerap membuat ulah di kelasnya.


"Saya tunggu supir saja. Takut repotin Mas nya," jawab Tia.


"Halah... Sok-sok an malu, padahal sering malu-maluin," ledek Nindia yang langsung mendapatkan pelototan dari Tia.


"Nindia," tegur Reyhan.


"Enggak apa-apa. Daripada kamu kemalaman, saya jadi tidak enak dengan orang tua kamu. Enggak apa-apa kan Yud kalau sahabat istri saya ikut kamu?"


Yudha tersenyum dan mengangguk, "Tidak masalah Pak,"


"Udah sih, ikut aja" paksa Nindia yang kembali mendapatkan tatapan tajam Tia.


"Iya sayang, ini udah malam lho,"


"Ya udah kalau gitu, aku ikut Mas nya. Enggak apa-apa?" tanya Tia yang dijawab gelengan oleh Yudha.


Setelah kepergian Tia, kini Bella yang ikut pamit undur diri bersama orang tuanya setelah sedikit memberi waktu orang tuanya berbicara dengan Ilham. Bella merasa senang saat orang tuanya menyambut niat baik Ilham, bahkan Ilham biaa bernafas lega Karen orang tua Bella tak memandang status.


"Pulangnya hati-hati." pesan Ilham yang mengantar Bella keluar.


Bella mengangguk, "Aku pulabg dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam,"


 


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


- My Destiny

__ADS_1


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊


__ADS_2