HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 67 Nindia Hilang


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Pembicaraan seputar foto yang di unggah di instagram pribadi Prof. Reyhan masih menjadi topik hangat. Bahkan ada yang secara terang-terangan bertanya pada Prof. Reyhan. Sedangkan yang menjadi topik hanya acuh di dalam ruangannya.


ttok ttok ttokk


"Selamat siang Prof. Reyhan, bisa bicara sebentar?" tanya Bu Angeline.


Bu Angeline adalah salah satu dosen perempuan yang secara terang-terangan mengatakan menyukai Reyhan. Ia tak habis cara untuk selalu dekat dengan pria idamannya itu. Apalagi tadi ada berita menggemparkan yang pastinya sudah di dengar oleh Bu Angeline.


Bisa dikatakan Bu Angeline adalah dosen yang sangat cantik. Mempunyai tinggi badan yang proposional, surai panjang, dan emm sedikit 'nakal'. Maksudnya nakal adalah, pakaian yang dikenakan cukup sexy dan pres boddy. Untung saja yang didekati adalah Reyhan yang terkenal dingin dan datar. Apalagi Reyhan bukan tipikal orang yang menyukai wanita sexy, kecuali istrinya.


"Selamat siang, Bu. Mau bicara apa ya?" tanya Prof. Reyhan formal.


"Bisa temenin saya makan siang?" tanya Bu Angeline.


Reyhan berhenti sejenak dari kegiatannya, "Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Masih banyak pekerjaan penting yang menunggu saya. Saya permisi." ucap Reyhan sembari berlalu meninggalkan Bu Angeline.


Bu Angeline menghentakkan kakinya karena kembali mendapat penolakan dari laki-laki idamannya. Ia sebelumnya tidak pernah ditolak oleh laki-laki yang didekatinya. Bermodalkan wajah cantik dan tubuh sexy nya Bu Angeline dengan mudah menggait kaum adam.


"Awas aja ya Prof. Reyhan. Aku pastikan kamu akan bertekuk lutut dihadapanku," ucap Bu Angeline dengan tangan terlipat di dada.


Reyhan keluar dari ruangannya dengan wajah dingin. Terlebih lagi setelah melihat komentar yang menjelekkan dan menghina Nindia, istrinya. Ia merasa bersalah karena telah mengunggah foto mereka di instagram pribadinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia akan selektif lagi dan kejadian tadi semakin membuat Reyhan ingin memerkan kalau dirinya sudah ada yang memiliki.


Setiap melewati koridor kelas, Reyhan menjadi pusat perhatian mahasiswa/i nya yang sedang berlalu atau yang sedang menunggu dosen datang. Ia juga mendengar beberapa bisikan dari mahasiswanya.


"Udah pupus harapan buat dapatin Prof. Reyhan."


"Beruntung banget wanita yang memilikinya,"


"Semoga langgeng ya mereka, gue rela asalkan dosen idola gue bahagia."


"Kasian juga Nindia."


"Kalau itu emang Nindia nya aja yang kegatelan,"


Perkataan terakhir yang di dengar Reyhan sukses memancing amarahnya. Ia tak rela istrinya dijelekkan dan di hina.


Kemarahan Reyhan sedikit mereda saat melihat Nindia yang berada tepat di depannya tertawa lepas. Tak salah Nindia dalam memilih teman sehingga menjadi sahabat. Buktinya sahabatnya menerima dan selalu berada di dekatnya saat keadaan senang dan terpuruk.


Saat mendekati Nindia dan sahabatnya, Reyhan berhenti dan memanggil Bella. Tak ada yang tak menoleh ke arah Reyhan, termasuk Nindia. Karena di sini Reyhan sebagai dosennya, Bella tanpa ragu menghampiri Reyhan.


Reyhan membisikan seauatu kepada Bella sehingga membuat tiga orang yang tengah berkumpul mulai kepo. Setelah selesai, Reyhan mengangguk dan mulai meninggalkan Bella.


"Kenapa?" tanya Tia saat Bella kembali.


Bella tersenyum, "Kepo amat sih lo."


"Sumpah ya Bel," geram Tia.


Tanpa memperdulikan ekspresi Tia, Bella melangkah mendekati Nindia dan membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Nindia tersenyum.


Bella sedikit menunduk, "Ada salam dari suami tercinta. I LOVE YOU, jangan terlalu mikirin perkataan orang. Jaga kesehatan anak yang ada di kandungan kamu," bisik Bella menirukan perkataan Reyhan.


"Makasih," ucaop Nindia dan dijawab anggukan oleh Bella.


"Pasti kata-kata romantis. Buktinya lo senyum-senyum kaya orang gila," tebak Gita tepat sasaran.


"Kepo," ucap Bella dan Nindia bersamaan.

__ADS_1


____________________


Nindia sampai terlebih dahulu di rumah. Tadi, Reyhan hanya menurunkannya saja kemudian langsung ke kantor karena ada meeting mendadak.


Sebenarnya Nindia sangat kasian dengan Reyhan. Kerja di dua tempat secara bersamaan memang menguras tenaga dua kali lebih banyak. Tapi, Reyhan tidak mempermasalahkannya. Alasannya hanya sederhana yaitu ingin menabung untuk masa depan anaknya. Ia tak apa jika tidak memiliki apapun, tapi Reyhan tidak akan membiarkan anaknya kekurangan.


"Non Anin udah pulang?" tanya Bi Minah ketika melihat Nindia sudah duduk di sofa.


Nindia mengangguk sambil memejamkan kedua matanya. Rasanya ia sangat lelah, apalagi nafsu makannya akhir-akhir ini Menuru. Apalagi saat mendengar beberapa perkataan teman-temanya di kampus. Bohong kalau Nindia tidak memikirkannya.


"Mau diambilkan makanan? Kebetulan tadi Bibi masak rawon kesukaan Non." ucap Bi Minah.


Nindia menggeleng, "Enggak, Bi. Nindia mau ke kamar langsung."


Bi Minah tetap mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Ia mengira kalau Nindia masih berada di kamar karena kelelahan. Tak ada pikiran buruk yang menghampiri Bi Minah sampai Reyhan pulang dari kantor.


"Assalamualaikum.." ucap Reyhan saat masuk ke rumah.


Bi Minah datang dari dapur, "Waalaikumsalam, Aden. Mau Bibi ambilkan minum?"


Reyhan menggelang, "Nindia?"


"Non Anin ada di kamarnya. Dari tadi tidak turun, mungkin kelelahan, maklum ibu hamil pasti cepat capek." jelas Bi Minah.


"Saya ke atas dulu, Bi."


Reyhan menaiki anak tangga sambil melepas dua kncing kemejanya. Kemudian dilanjutkan dengan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.


Reyhan membuka pintu kamar, "Sayang... Aku pulang"


Saat pintu terbuka, Reyhan tak mendapati siapapun di dalamnya. Hanya ada tas yang dipakai Nindia saat kuliah.


Reyhan masih berfikir positif. Ia mengira kalau Nindia berada di kamar mandi. Untuk memastikannya, Reyhan pun mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Namun, tak ada jawaban dari dalam sehingga Reyhan membuka paksa.


Reyhan melangkahkan kakinya di walk in closet tapi tetap tidak mendapati Nindia.


Raut wajah panik mulai terlihat di wajah Reyhan. Ia secepat mungkin menuruni anak tangga.


"Bi.... Bi Minah..." panggil Reyhan sedikit beryeriak.


Bi Minah dari dapur dengan sedikit berlari.


"Ada apa, Den?"


"Nindia kemana?" tanya Reyhan.


Bi Minah terlihat bingung, "Non Anin ada di kamarnya."


Reyhan menggeleng, "Enggak ada, Bi."


"Beneran, Den. Soalnya Bibi enggak lihat Non Nindia turun dari kamar."


Reyhan mulai panik mendengar jawaban Bi Minah. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.


"Sial!" umpat Reyhan saat tak mendapatkan respon dari orang yang dipanggilnya.


Reyhan mengulangi beberapa kali, tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban dari orang itu.


"Bi Minah tolong cari di sekitar rumah ya. Siapa tahu Nindia di sekitar rumah. Saya mau mandi dulu." ucap Reyhan yang diangguki Bi Minah.


Reyhan ingin meredakan kekhawatirannya dengan mandi air dingin. Kepalanya terasa mau pecah. Di kantor terjadi sedkit masalah dengan pembangunan resort di Bali dan sekarang bebannya bertambah saat tak mendapati Nindia di rumah.


Reyhan : Assalamualaikum Bun. Apa Nindia di situ?


📲 Helena : Enggak, Rey. Memangnya Nindia kemana?

__ADS_1


Reyhan : (Reyhan menghela nafas sambil memijat pangkal hidungnya) Reyhan juga nggak tahu, Bun. Waktu Reyhan pulang dari kantor, Nindia udah nggak ada.


📲 Helena : Udah kamu telepon?


Reyhan : (Reyhan mengangguk) Udah, Bun. Tapi ponselnya di rumah. (Reyjan memandang ponsel Nindia yang tergeletak di ranjang.


Pantas saja Nindia tidak mengangkat panggilan dari Reyhan maupun sahabtnya. Tepat sekali, Reyhan sudah menanyakan keberadaan Nindia kepada sahabatnya tapi jawaban mereka sama


"Enggak, Prof. Nindia nggak ada sama kita," jawab sahabat Nindia saat Reyhan meneleponnya.


📲 Helena : Kamu udah tanya sahabatnya atau teman kelasnya?


Reyhan : Udah, Bun. Tapi jawaban mereka semua sama. Tolong bantu Reyhan cari Nindia.


📲 Helena : Bunda pasti bantu kamu. Sekarang kamu tenang biar bisa berfikir jernih. Kalau kamu panik semuanya ikut panik. (Helena mencoba menenangkan Reyhan, Ia tahu bagaimana khawatirnya Reyhan saat ini.


Reyhan : Terimakasih, Bun. Assalamualaikum.


📲 Helena : Waalaikumaalam.


Bi Minah yang sejak tadi menunggu Reyhan langsung berbicara setelah Reyhan selesai.


"Gimana, Bi?" tanya Reyhan.


Bi Minah dan Bang Tejo menggelengkan kepala karena tak memdapatkan hasil. Mereka melihat jelas raut wajah khawatir Reyhan.


Reyhan kembali menghembuskan nafas. Kepalanya semakin berat. Ra lelahnya sudah berganti dengan wajah khawatir. Terlebih lagi jam sudah menunjukkan pukul 19.00.


"Kamu kemana, sayang? Jangan buat aku khawatir."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2