
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Naura Bella William, atau yang kerap dipanggil Bella merupakan anak pekerja keras. Ia sama sekali tidak mau merepotkan kedua orang tuanya. Ia tahu betapa susahnya kedua orang tuanya merintis usaha hingga seperti sekarang. Hari ini Bella akan pergi ke RC GROUP, LTD. Ia mendapatkan email untuk datang ke perusahaan tersebut.
Bella sudah pernah melakukan kerja part time dan menurutnya itu sangat melelahkan. Bahkan ketiga sahabatnya saja bingung kenapa Bella melakukan itu. Bahkan kedua orang tuanya bisa memberikan apa yang diinginkan.
"Bel, sudah pagi nak." panggil perempuan paru baya.
Perempuan tersebut bernama Ratih Aruningrum. Pemilik restoran disalah satu kawasan elit yang ada di Surabaya. Suaminya adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ojek online. William, laki-laki pekerja keras yang berjuang dari nol. Kebanggaan semua keluarga. Dulu pernikahannya dengan Ratih ditentang orang tua ratih. Alasannya klasik, karena ia berasal dari kalangan bawah. Namun, William dan Ratih tidak putus asa. Mereka terus meyakinkan kedua orang tua Ratih bahwa ia bisa membahagiakan anak satu-satunya tersebut. Melihat kesungguhan dan pengorbanan William, akhirnya kedua orang tua Ratih menyetujui hubungan keduanya.
Selain Ratih dan William, Bella mempunyai adik kembar bernama Stevi William dan Stevan William. Dua adik kembar yang sangat disayanginya. Keduanya masih duduk di kelas sebelas SMA. Namun kepintaran dan parasnya tidak kalah dengan Bella.
"Kak, bangun!" teriak Stevi dari luar kamar Bella.
Salah satu kebiasaan buruk dari Bella adalah susah dibangunkan. memang ciptaan Tuhan tidak ada yang sempurnya. Banya dari mereka yang berwajah cantik tapi kelakuannya nyeleneh, tak sedikit juga yang berwajah pas-pasan memiliki kelakuan yang normal. Memang Tuhan menciptakan hambanya beraneka ragam. wkwkwk
"Bentar!" teriak Bella saat merasa tidurnya terganggu.
Bella mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Ia berjalan masuk kamar mandi masih dengan mata terpejam.
duukkk
"Awww," jerit Bella saat kepalanya terbentur pintu kamar mandi yang tertutup.
(Benar kan kata author, Tuhan itu menciptakan hamba-Nya maha adil)
"Sial,!" umpat Bella sambil memukul pintu kamar mandi. "Siapa sih yang naruh pintu disini," protes Bella kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
____________________
Bella turun dari angkot. Ia memang jarang menggunakan mobilnya. Ia lebih suka menaiki kendaraan umum. Kecuali ke kampus. Ia sese kali menggunakan mobilnya.
"Makasih neng," ucap sopir angkot setelah menerima uang Bella.
Terdapat banyak genangan air akibat hujan lebat tadi malam. Bella sudah berhati-hati supanya tidak terkena percikan genangan air. Ia tidak ingin bajunya kotor di hari ia melamar pekerjaan.
byurrr
Satu mobil mewah melaju dengan cukup kencang dan melintasi genangan air yang tepat disebelah Bella. Tanpa bisa menghindar lagi, Bella basah kuyup. Baju dan rokya basah, mukanya juga terkena air.
"Brengsek!" umpat Bella kepada mobil tersebut. "Punya mata gak lo? Woy, berhenti lo! Pengecut." umpat Bella yang membuatnya jadi pusat perhatian.
cittttt
Mobil yang dikendarai orang tersebut berhenti. Orang itu turun untuk meminta maaf pada orang.
Bella membersihkan baju dan wajah sebisanya. Ia mengambil tisu di dalam tas. Ia mengambil kaca dan bedak untuk memperbaiki riasannya yang rusak, kemudian mengelap roknya.
"Maaf, saya tidak senga—," mohon orang tersebut.
Bella mendongakkan kepalanya. "Elo!" teriak mereka secara bersamaan dengan saling tunjuk.
"Mimpi apa gue semalam ketemu sama kayu jalan," ejek Bella.
Ilham, ya... orang tersebut adalah Ilham. Orang yang menurut Bella seperti kayu berjalan.
Mata Ilham melotot mendengar perkataan Bella, "Mulut lo!" geram Ilham dengan gerakan tangan yang seolah-olah ingin meremat mulut.
Setelah mengucapkan itu, Ilham meninggalkan Bella begitu saja. Niatnya 8ngin minta maaf, ternyata justru meningkatkan kadar darah tingginya.
"Sial banget hidup gue," umpat Bella sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk membersihkan pakaiannya. "Awas aja tuh orang kalau ketemu lagi! Bakal gue bejek-bejek," Bella menggenggam tangannya dengan gemas sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Bella kembali jalan memasuki kantor. Banyak orang yang menatapnya dengan ilfil. Bagaimana tidak, ia memasuki kantor dengan baju kotor.
"Permisi mbak, saya yang kemarin mendaftar untuk bekerja sebagai sekretaris." ucap Bella.
"Namanya siapa?" tanya resepsionis tersebut.
"Naura Bella,"
"Silakan tunggu di sana!" tunjuk resepsionis.
Bella akhirnya di panggil oleh resepsionis setelah satu setengah jam menunggu. Bahkan ia sempat ingin pergi dari kantor. Ia kemudian diarahkan ke HRD untuk penyeleksian. Ia diarahkan menaiki?" lift ke lantai lima belas, disana ada ruangan Wakil CEO dan diluarnya ada sekretaris.
"Permisi mbak," sapa Bella kepada seorang wanita yang berbadan dua.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita tersebut.
"Saya Naura Bella. Saya disuruh Pak Rudi (bagian HRD) untuk ke seni" jelas Bella.
Wanita tersebut berdiri sambil memegangi punggungnya, "Oh kamu Bella, yang akan menggantikan saya sebagai sekretaris?" Bella menganggukkan kepalanya. "Perkenalkan, saya Indah. Sementara saya akan membantu kamu dalam pekerjaan ini. Tentang bagaimana mengatur jadwal dan lain-lain. Sekarang saya akan memperkenalkan kamu kepada atasan." Indah jalan menghampiri ruangan Wakil CEO.
ttok ttok ttok
__ADS_1
"Masuk," suara dari dalam.
Setelah itu Indah masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh Bella dibelakangnya. Bella berusaha melihat seperti apa Wakil CEO tersebut. Ia mencoba melihatnya tapi gagal karena CEO tersebut sednag membalikkan badannya.
"Permisi, Pak. Saya Indah, saya kesini ingin memperkenalkan pengganti saya,"
Kursi Wakil CEO tersebut berputar dan menampilkan wajah yang amat Bella hindari.
"Mampus!" gumam Bella sambil memejamkan matanya. Ia tidak menyangka bahwa atasannya adalah orang kepercayaan suami sahabatnya sekaligus orang yang menaikkan darah tingginya.
Mata Bella dan Mata Wakil CEO tersebut sempat bertemu beberapa detik sebelum Bella memutuskan kontak mata tersebut.
"Pak Ilham, ini pengganti saya." jelas Indah sambil menunjuk Bella. "Perkenalkan diri kamu," bisik Indah.
Bella membungkuk, "Saya Naura Bella, sekretaris baru bapak."
Ilham hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Ilham masih memandang Bella dari atas sampai bawah.
"Kenapa baju kamu?" tanya Ilham. "Saya tidak bisa bekerja dengan orang yang jorok," tegas Ilham.
Bella geram dengan perkataan Ilham. Ini merupakan penghinaan baginya, tapi ia berusaha menahan agar kata-kata kasarnya tidak keluar.
Bella tersenyum paksa, "Maaf sebelumnya, Pak. Saya sebenarnya sudah rapi dalam berpakaian. Tadi di depan kantor ada mobil yang pemudinya buta" penuh penekanan. "Ia mengotori saya dengan genangan air."
"Bukan alasan," tegas Ilham dengan ekspresi datar.
"Sabar Bella, sabar. Ini masih hari pertama kerja kamu, kamu tidak mungkin mengundurkan diri. Dia pasti akan menertawai kamu." doa Bella dalam hati.
"Kalian bisa keluar." Indah dan Bella pergi meninggalkan ruang Wakil CEO.
Bella duduk di sebelah Indah. Memperhatikan dengan cermat apa yang dikatakan oleh Indah. Mulai dari makanan dan minuman favorit, hingga bagaimana cara menyusun jadwal. indah juga berpesan untuk mendahulukan yang penting untuk perusahaan. Indah juga memberitahukan alamat apartemen Ilham. Sering kali Indah bekerja di apartemen Ilham karena pekerjaan belum selesai.
"Mbak, Dia galak gak?" tanya Bella sambil berbisik.
"Maksud kamu Pak Ilham?" Bella mengangguk. "Pak Ilham itu tegas, bukan galak tapi cenderung dingin dan datar," bisik Indah. "Pak Ilham sangat hormat kepada dua orang."
"Siapa Mbak?" tanya Bella penasaran.
"Pak Reyhan CEO perusahaan RC GROUP LTD, dan Pak Reno, mantan CEO Aristarco Corp," jelas Indah.
"Maksud mbak Indah Pak Reyhan Aristarco?" Bella berharap tebakannya salah.
"Iya. Beberapa kali Pak Reyhan beserta istrinya datang kemari."
(Tuhan... takdir-Mu sangat kejam. Tapi takdir-Mu lah yang membawa berkah)
Bella merutuki nasibnya yang siang selama satu hari ini. Pagi hari sudah terbentur pintu kamar mandi, saat berangkat kerja terkena percikan genangan air, dan yang terakhirlah yang lebih parah. Bertemu dengan orang yang sangat dihindarinya.
Nasib tetap nasib. Meskipun bekerja dengan orang yang seperti kayu berjalan. Ia harus tetap semangat dan menjalankan pilihan yang sudah ia ambil.
____________________
Bella sangat sibuk mempelajari apa yang diberitahukan oleh Indah. Ia meneliti semua dengan seksama.
kringg kringg
"Selamat siang, Pak." sapa Indah. "Baik, Pak" Indah menutup telepon.
"Bel, kamu buatkan kopi untuk Pak Ilham,"
"Sa— saya?" tanya Bella sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Jangan lupa, coffe Americano tanpa gula" pesan Indah.
"Baik," Bella melangkahkan kakinya untuk membuat kopi.
Dalam perjalanan membuat kopi di dapur, Bella terus menggerutu. Menyumpahi bosnya yang seperti kayu.
Setelah selesai, ia mengantarkan kopi tersebut langsung ke ruangan Ilham.
ttokk ttokk ttok
"Masuk," ucap Ilham dari dalam.
Bella maauk dan meletakkan kopi di samping meja Ilham.
"Kopinya, Pak" ucap Bella sesopan mungkin.
"Hemm" hanya itu yang keluar dari mulut Ilham.
"Tuh kan! Dasar kayu!" gumam Bella.
"Apa kamu bilang?" tanya Ilham yang ternyata mendengar gumaman Bella.
Bella berbalik, "Bukan apa-apa Pak. Hal tidak penting."
Bella beranjak dari tempatnya. Ia sudah memegang handle pintu dan sudah siap untuk keluar.
"Kamu siap-siap. Ikut saya menemui perwakilan Orlando Corp." perintah Ilham.
__ADS_1
Bella mengiyakan perkataan Ilham. Membungkukkan badannya untuk undur diri.
____________________
Pertemuan tersebut berjalan cukup alot. Ada perdebatan sedikit tentang nilai kontrak. Pihak Orlando meminta konrak dengan nilai fantastis, sedangkan RC GROUP, ltd tetap kekeh dengan pendapatnya.
"Gila! gue baru sehari kerja udah mau bikin pala gue mau pecah," keluh Bella saat sudah keluar dari Orlando Corp.
"Lebay," ejek Ilham.
krukk krukk
Ilhan ingin sekali tertawa saat mendengar bunyi perut Bella. Dipandangnya Bella yang menunduk karena malu.
"Bodoh bodoh bodoh. Kenapa perut gue harua bunyi sekarang sih... gue malu banget." gerutu Bella dalam hati. Saking malunya ia bahkan menundukkan kepala tidak berani menatap Ilham.
Ilham kembali menetralkan ekspresinya. Ia melihat arloji yang melingkar di tangannya. Ini juga salahnya, jam makan siang sudah lewat sekitat 3 jam yang lalu. Jadi tidak salah jika perut Bella demo.
"Hemm," Ilham berdeham. "Temani saya makan! saya lapar," Ilham berjalan meninggalkan Bella yang masih mematung.
Ilham melajukan mobilnya mencari restaurant terdekat. Ilham memang jarang menggunakan sopir, meskipun perjalanan ke luar kota. Ia lebih sedang mengemudikan sendiri mobilnya.
Setelah lima belaa menit mengendarai mobilnya, Ilham membelokkan mobilnya ke salah satu restaurant.
"Kamu bisa makan seafood?" tanya Ilham.
Bella bingung bagaimana harus menjawabnya. Ia sama sekali tidak bisa memakan berbagai olahan dari bahan baku seafood. Ia memiliki alergi, tapi ia tidak enak untuk menolak bosnya. Ia baru bekerja dan prinsipnya adalah tidak mengecewakan orang lain.
"Bi— Bisa, Pak." Bella mengikuti Ilham turun dari mobil.
"Ya Allah, jaga aku! Semoga saja bukan cumi, udang, ataupun gurita" doa Bella
Saat Bella masuk, Ilham sudah memasan makanan. Tangannya gemetar, ia takut kalau alerginya kambuh kembali. Buliran keringat memenuhi keningnya. Ia trauma akan masuk rumah sakit.
Makanan yang dipesan Ilham akhirnya datang. Untung saja Ilham tidak memasan banyak makanan, hanya dua porsi.
Bella terkejut melihat makanan yang dipesan Ilham, Cumi bakar saus pedas. Bella memandang Ilham yang menyantap makanan tersebut dengan lahap. Karena tidak ingin mengecewakan, akhirnya Bella mau tidak mau memakannya.
Efek alergi Bella sudah mulai terlihat. Ada bintik-bintik merah di punggung tangan Bella. Ia juga sudah mulai merasakan sesak nafas.
"Kamu kenapa?" tanya Ilham saat melihat wajah pucat Bella.
Bella hanya menggelengkan kepalanya. Karena tidak mendapatkan jawaban akhirnya Ilham melanjutkan menaiki mobil.
"Rumah kamu di mana? Saya antar kamu pulang"
"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri." Bella tidak ingin merepotkan Ilham.
"Saya antar!" tegas Ilham tak menerima penolakan.
Mau tidak mau Bella ikut dengan mobil Ilham. Sebenarnya ia tidak ingin Ilham mengetahui alerginya. Baru kepalanya saja yang masuk, rasa gatal diselur tubuhnya semakin parah. Rasanya seperti terbakar.
Tak berselang lama mobil meninggalkan restoran. Dalam perjalanan Bella semakin tidak kuat menahan alerginya. Badannya mengigil tapi mengeluarkan banyak keringat meskipun AC di dalam mobil menyala. Dadanya semakin sesak dan kepalanya semakin pusing. Wajahnya sudah sangat pucat, bahkan hampir kehilangan kesabaran.
"Kamu kenapa?" tanya Ilham saat menyadari keanehan pada Bella.
Bella tidak menjawab pertanyaan dari Ilham. Badannya sangat lemas seakan tak memiliki tenaga.
Saat tak mendapati jawaban dari Bella, Ilham menepikan mobilnya. Memiringkan tubuh Bella agar bisa melihat wajah Bella.
"Hey,, Bel," Ilham menggoyangkan badan Bella saat melihat kesadaran perempuan tersebut hampir hilang.
"Kamu kenapa?" tanya Ilhan sambil menepuk pipi Bella.
Ilham semakin bingung. Ia tidak bisa memikirkan apa yang harus dilakukannya. Ia sangat panik, entah mengapa. Ia mencoba untuk tenang dan mencoba mencari solusi.
"Nindia, saya harus telpon dia." Ilham meraih ponselnya di dalam saku celana.
Sekali Nindia tidak mengangkat teleponnya, dua kali masih sama. Hingga panggilan ketiga tetap tidak diangkat. Ilham tak putus asa. Ia tetap mencoba menelepon Nindia.
Nindia    : Hai
📲 Ilham  : Bella punya sakit?
Nindia    : Enggak
📲 Ilham  : Tapi kenapa wajahnya pucat, ada bintik-bintik merah dibadannya, badannya menggigil (terlihat panik)
Nindia    : Kamu habis dari mana?
📲 Ilham   : Habis makan.
Nindia    : Makan? (Nindia mulai terdengar khawatir)
📲 Ilham  : Makan cumi bakar saus pedas.
Nindia    : Cumi? (Nindia sedikit berteriak) Astaga! Bella alergi sama cumi. Sekarang kamu bawa dia ke rumah sakit. Sekarang!
Ilham mematikan sambungan teleponnya. Ia kemudian menoleh ke Bella, mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
"Bodoh,"