HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 88 Keluarga Aristarco


__ADS_3

HAI CHINGU.... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


 


Sesuai keinginan Nindia, akhirnya Reyhan menyetujui adanya meternity shoot. Meskipun mengiyakan, Reyhan tetap tidak mau menggunakan jasa photografer laki-laki, meskipun pakaian tertutup. Reyhan bukan tipe suami yang posesif, tapi Reyhan lebih cenderung suami yang menjaga istri dari segala fitnah.


Setelah perdepatan cukup sengit tentang photografer, akhirnya Reyhan meminta bantuan salah satu rekan kerja Kania. Tentu saja perempuan dan sudah memiliki keluarga. Jadi, tak akan ada fitnah di antara mereka.


"Jadi sama temannya Kania?" tanya Nindia sambil melihat beberapa hasil maternity shoot di internet.


Reyhan berhenti sebentar kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya, "Itu jauh lebih baik. Mengurangi dosa dan fitnah,"


Nindia setuju dengan perkataan Reyhan, "Memangnya Kania pulang? Aku udah kangen banget sama tu anak."


"Besok dia sampai di Indo. Habis ada pemotretan di Singapur," jawab Reyhan dengan mata yang masih fokus pada laptopnya.


Nindia yang mulai merasakan nyeri di pinggangnya langsung merebahkan diri di sofa yang ada di ruang Reyhan. Ya... Nindia sekarang menjadi lebih sering ikut Reyhan ke kantor. Alasannya hanya karna tak ingin menahan rasa rinduh. Alayyy... Dasar bucin.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Nindia memaksa Reyhan untuk segera pulang setelah mendapatkan pesan darj Maya yang mengatakan Kania sudah berada di rumah Reno dua jam yang lalu. Pekerjaan yang belum selesai terpaksa Reyhan tinggalkan demi menuruti keinginan sang istri. Maklum saja kalau Nindia dekat dengan Kania. Ia sudah menganggap Kania seperti adiknya sendiri meskipun usia mereka tidak terlalu jauh. Mereka selalu membahas tentang segala macam keperluan wanita mulai dari skincare, make up, fashion yang lagi hits dan masih banyak yang lainnya.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya Nindia dan Reyhan sampai di kediaman Reno. Kehadiran mereka langsung disambut oleh teriakan Kania. Bukan hal baru bagi Reyhan tapi masih cukup membuat Nindia terkejut.


"Kak Nindi..." teriak Kania saat melihat Nindia yang baru datang.


Nindia langsung memeluk Kania, "Hai sayang, gimana kabarnya?" tanya Nindia sambil mengelus rambut Kania.


Dulu, Kania cukup canggung saat bertemu dengan Nindia, apalagi untuk bersikap manja rsanya tak pernah terfikirkan oleh Kania. Berbeda jika bertemu dengan Reyhan, Kania akan menjadi adik yang sangat manja. Bahkan Kania lebih manja ke Reyhan daripada ke Ilham. Kalau dengan Ilham selalu ejek, tapi rasa sayang jauh lebih besar. Tapi semakin lama, Kania semakin nyaman dengan kehadiran Nindia sehingga munculah sikap manjanya. Kania merasa nyaman karena merasa memiliki kakak perempuan setelah beberapa tahun hidup dengan dua kakak laki-lakinya.


Kania tersenyum cerah, "Baik kak. Tapi aku suka capek, habis kuliah langsung pemotretan." keluh Kania yang hanya dibalas kekehan oleh Nindia.


"Enggak apa-apa. Jalanin aja dulu, buat happy," nasihat Nindia yang diangguki Kania.


"Cuma Kak Nindia doang yang dipeluk, Abangnya enggak?" tanya Reyhan yang cukup senenang melihat interaksi Nindia dan Kania.


Kania yang baru sadar akan adanya Reyhan langsung memeluk erat. Ia sangat merindukan abangnya yang satu ini.


"Abang, Nia rindu."


"tsk... masih kaya anak kecil aja, padahal umur udah dua puluh tahun," cibir Reyhan.


"Kak Nindi," adu Kania.


"Udah, masuk dulu. Enggak enak ngobrol di depan pintu,"


Kebetulan hari ini semua orang berkumpul karena kepulangan Kania oleh karena itu, dimanfaatkan untuk shalat berjamaah. Jarang sekali mereka bisa melaksanakan shalat berjamaah bersama semua anggota keluarga, ditambah Bella yang datang bersama Ilham. Terlebih lagi bagi keluarga Aristarco yang memiliki segudang kesibukan, pasti sangat sulit melaksanakan shalat berjamaah. Hari ini Reyhan bertugas sebagai imam.


"Assalaamu’alaikum warohmatullooh,"


"Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarookaatuh,"


Setelah selesai shalat, para perempuan langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sedangkan para laki-laki sedang duduk melingkar membicarakan tentang bisnis, politik, maupun ekonomi.


"Kak Bella udah jadi pacarnya kak Ilham?" tanya Kania.


Bella tersenyum kemudian mengangguk. Jika mengingat kecemburuannya pada Kania dahulu, rasanya Bella ingin menghilang dari hadapan semua keluarga.


"Kamu kenal sama Bella?" tanya Maya.


Kania mengangguk,"Kenal lah Mih, wong aku yang dijadiin alat buat bikin kak Bella cemburu. Emang kak Ilham itu sontoloyo jadi orang," gerutu Kania mengingat tingkah kekanak-kanakan Ilham.


"Beneran?" tanya Bi Ijah antusias.


Kania menangguk antusias, "Iya Bu. Coba bayangin aja, aku baru sampai dari Paris niatnya mau main ke kantor Kak Ilham, eh sampai sana dijadiin alat buat orang cemburu. Ngeselin kan?"


"Ngapain kamu bawa-bawa Kakak?" tanya Ilham yang muncul di belakang Kania.


Kania hanya bisa menyengir melihat Kakaknya yang sudah berada disampingnya.


"Piss Kakk," ucap Kania menunjukkan huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Bella.


"Mau ambil minum buat yang di depan," jawab Ilham sambil menyiapkan cangkir beserta piring kecil / lepek (di rumah author nyebutnya gini)


"Kamu ke depan aja. Biar aku yang ambilin," ucap Bella mengambil alih pekerjaan Ilham. "Mau minum apa?"


"Teh hijau aja,"


"Ciyeeee," goda Kania. "khemm.. Khemm"


pletakkk


Kania meringis saat merasakan sakit di keningnya akibat sentilan Ilham.


"Kak sakit...." teriak Kania.


"Salah kamu juga," jawab Ilham santai sambil mencomot tempe goreng yang sedang ditata Nindia.


plakkk


"Sakit Dek," protes Ilham.


"Tangan Kakak kotor,"


"Ilham, Kania," tegur Bi Ijah.

__ADS_1


Saat Ilham ingin membalas pukulan Kania, Maya sudah terlebih dahulu menajamkan tatapannya.


"Ilham," tegur Maya. "Kembali ke depan,"


Merasa menang, Kania menjulurkan lidah untuk mengejek Ilham yang pergi dengan muka masamnya. Ilham sebelas dua belas dengan Reyhan, mereka selalu memasang muka datar cenderung dingin saat berada di lingkungan baru atau dengan orang lain, berbeda bila sudah masuk dalam lingkungan keluarga dan orang dekat. Sikap mereka akan berubah total, yang semulanya datar menjadi murah senyum cenderung membuat jengkel, yang semula dingin menjadi hangat cenderung jahil.


"Bella, kamu antarkan dulu minumannya," ucap Bi Ijah.


"Iya Bu,"


____________________


Semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. Bercanda dan saling adalah cara untuk menunjukkan kasih sayang. tidak perlu kata-kata manis kalau akhirnya tetap pahit, tidak perlu ada janji kalau akhirnya menyakiti. Jadilah diri sendiri untuk menunjukkan kasih sayang.


"Kak Nin, jadi maternity shoot?" tanya Kania


Nindia mengangguk sambil menyenderkan kepala di bahu Reyhan, "Jadi. Kamu udah hubungi teman kamu?"


"Kamu mau maternity?" tanya Maya.


Lagi-lagi Nindia mengangguk sambil memainkan jari Reyhan, "Iya Mih. Mau mengabadikan moment aja."


"Udah tentuin tema?"


"Belum, aku masih mau tanya-tanya Kania. Soalnya temannya yang jadi photografer,"


"Mendingan di rumah aja. Gue ngeri lihat lo bawa perut segede itu," sahut Bella.


"Iya Kak, foto di rumah juga bagus. Tinggal bikin konsep nya aja. Aku punya contohnya, Kakak bisa lihat." ucap Kania sambil memerlihatkan beberapa contoh maternity shoot indoor. "Di rumah jauh lebih aman kalau mau foto pakek pakaian terbuka," ucap Kania sambil menaik turunkan alisnya.


"Enggak ada. Enggak usah ngajarin yang aneh-aneh," ucap Ilham.


"Enggak ya... Aku cuma ngomong fakta. Siapa tahu Kak Nin mau,"


"Gue yakin dia enggak bakalan berani. Lihat aja tuh pawangnya, udah kaya mau nerkam mangsa," ucap Bella sambil menunjuk Reyhan menggunakan dagunya.


Reyhan memberikan tatapan tajam ke Bella yang hanya dibalas cengiran. Memang hubungan keduanya menjadi semakin dekat, tapi bukan berarti terlalu akrab.


"Lihatnya biasa aja dong Bro. Udah punya bini juga," sinis Ilham.


"OMG," teriak kania sambil menutup mulutnya. "Kakak cemburu? aku enggak nyangka lho kalau orang sekaku kakak bisa cemburu," ucap Kania


Nindia tidak memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia tetap fokus melihat beberapa maternity shoot baik yang ada di internet maupun di sosial media yang sedang digandrungi anak muda. Beberapa tema menarik perhatian Nindia, timbul pula keinginan untuk memakai pakaian yang terbuka. Tapi Nindia tidak seberani itu untuk menentang keputusan Reyhan. Baginya restu dan ridho Reyhan sama dengan ridho dan restu kedua orang tuanya.


"Jadi indoor atau outdoor kak?" tanya Kania setelah lelah bertengkar dengan Ilham.


"*In*door aja kayaknya. Males keluar juga." jawab Nindia.


"Kapan? Mau gue temenin?" tanya Bella beruntun.


"Kamu kuliah, Bella." tegur Reyhan.


"Kan belum ditentuin tanggalnya, bapak Reyhan yang terhormat," jawab Bella tak mau kalah.


"Aku usahain di hari Sabtu atau Minggu. Dua minggu lagi teman kamu bisa?" tanya Nindia pada Kania.


Kania mengangkat bahunya, "Belum tahu Kak. coba aku contact dulu."


Kania sedikit menjauh dari semua orang. Ia berusaha agar temannya bisa sesuai keinginan Kakak tersayangnya.


"Gimana?" tanya Reno setelah sekian lama bungkam.


Kania menggeleng dan menampilkan wajah lesu, "Kalau dua minggu lagi udah ada jadwal. Dia free satu minggu lagi, tapi aku paksa buat mau. Gimana?"


"Kalau aku sih enggak apa-apa. Kalau masalah baju, aku lebih tertarik pakai baju rumah tapi tetap terkesan elegant beberapa gaun hamilku. Jadi enggak terlalu ribet." jelas Nindia. "Kalau lo enggak bisa enggak usah memaksakan,"


"Insyaallah gue bisa," jawab Bella.


"Ya udah kalau gitu, Bella udah malam sayang, lebih baik kamu pulang."


Bella mengangguk, "Iya Mih, dari tadi sebenarnya Mama udah telepon," ucap Bella sambil menunjukkan ponselnya.


"Aku antar kamu," ucap Ilham sambil mengambil kunci di meja.


"Assalamualaikum," ucap Ilham dan Bella.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang.


"Kak, jangan bawa kabur anak orang," teriak Kania.


"Jangan teriak,"


"Jangan buat mesum di jalan. Banyak Satpol PP," lagi-lagi Kania teriak.


"Berisik Kania,"


Semua orang tertawa melihat kejahilan Kania. Maya dan Bi Ijah sempat bercerita kepada Nindia betapa jahilnya Kania. Terlebih lagi kepada kakaknya, tapi beda lagi kalau dengan Abangnya. Kania akan menjadi anak anjing yang keinginannya harus terpenuhi.


____________________


Persiapan maternity shoot Nindia telah rampung. benar perkiraan Nindia bahwa tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyiapkannya. Nindia sendiri hanya menyiapkan beberapa gaun dan pakaian rumah untuk foto. Masalah dekorasi Kania yang mengatur. Kania mengambil cuti tiga bulan, tentu saja diizinkan. Kania terkenal anak yang rajin, jadi sama sekali belum mengambil jatah libur.


"Udah siap sumuanya Kak?" tanya Agnes.


Agnes adalah teman Kania saat seleksi untuk kulaih di Perancis. Tapi sayangnya hanya Kania yang diteriama di salah satu sekolah fashion di Perancis, sedangkan Agnes diterima di salah satu sekolah fotografi di Perancis.


"Udah. Kita foto sendiri dulu ya. Mas Reyhan nya masih di Kantor,"


"Emang gila kerja laki lo. Masa ambil cuti sehari aja gak mau," ucap Bella.


"Bukannya enggak mau Bella sayang, tapi bentar lagi Mas Reyhan ambil cuti buat nemenin aku lahiran, jadi sekarang lagi sibu-sibuknya." bela Nindia. "Maaf ya Agnes, jadi nunggu lama."

__ADS_1


Agnes mengangguk kemudian tersenyum, "Enggak apa-apa kok Kak. Ayahnya kan masih cari uang buat dedek,"


Nindia sudah siap dengan dres rumahan dengan rambut diikat ekor kuda. Nindia berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan berada di atas perut dan pandangannya turun ke bawah dengan sedikit senyum.


" 1 2.."


cekrekk


"Kak, sekarang lihat luar. Satu tangannya tetap stay di perut, satunya seakan nyentuh kelambu,"


"Gini?" tanya Nindia.


Agnes mengangguk, "1 2.."


cekrekk


Satu baju kira-kira lima sampai enam kali jepret. Nindia terlalu enjoy melakukannya. Apalagi Agnes tipe orang yang banyak bicara, jadi Nindia tidak mati karena bosan menunggu Reyhan.


Baju untuk foto selanjutnya cukup terbuka, tapi hanya di bagian perut saja. Nindia tiduran di ranjang dengan kaki diarahkan ke atas. Kania merapikan rambut Nindia agar telihat rapi. Tangan Nindia yang satu berada di ada perut, sedangkan yang satunya berada di bawah perut. Agnes mengambil beberapa kali foto. Selanjutnya Nindia menyender ke tembok dengan pakaian olahraga. Nindia membawa sepatu bayi dengan senyum manis menatap perut.


"Istirahat dulu ya.. Kania ajak Agnes sama Bella makan siang dulu baru lanjut lagi," ucap Nindia.


Setelah membutuhkan waktu yang cukup lama unuk menunggu reyhan, akhirnya orang yang ditunggupun akhinya datang.


"Siang," sapa Reyhan kemudian berjalan untuk mengecup puncak kepala Nindia dengan tangan di tangan di perut Nindia.


cekrekk


Nindia sempat tersentak karena Agnes mengambil foto secara tiba-tiba. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum canggung.


"Posenya bagus Kak, jadi reflek ambil deh. Kelihatan lebih natural," ucap Agnes memberi penjelasan.


Memang jiwa fotografi Agnes tak terbantahkan. Hanya menggunakan feeling dan melihat moment langsung tangannya otomatis bergerak.


"Enggak apa-apa. Aku kaget aja." ucapku sambil mengelus tangan Agnes yang terlihat lebih canggung. "Mas, kamu ganti baju ya. Sekarang pakek apa Nia?"


"Kak Nindi pakai dres buat tidur, kalau bisa yang warnanya putih dan tanpa lengan." jelas Kania.


Nindia mengangguk, "Kebetulan aku ada. Mas Reyhan pakai apa?"


"Karena temanya casual, jadi Bang Rey pakai kaos putis polos putih dan celana pendek. kalau ada yang warna krem,"


"Kamu ada Mas?" tanya Nindia sambil melepas simpul dasi Reyhan.


"Ada. Aku ke atas dulu,"


Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, Reyhan langsung turun ke bawah. Di sana terlihat Agnes dan Kania yang sedang mempersiapkan Nindia.


"Sekarang Suaminya berdiri di belakang dan Kak Nindianya di depan. Tangan kak Nindia yang kiri taruh di perut" Agnes mulai memberikan arahan. "Kepalanya menoleh ke kiri Kak. Senyumnya jagan lupa. Nah Masnya sama, tangan kiri taruh perut, tapi agak bawahan. Terus masnya cium bahu kiri istrinya,"


Meskipun canggung, Reyhan tetap melakukan apa yang diarahkan Agnes. Ia menghargai kerja keras yang dilakukan untuk istrinya. Setelah beberapa kali jepret, kembali ganti pakaian dengan tema hitam.


Sekarang Reyhan jongkok bertumpu pada lututnya, sedangkan Nindia tetap berdiri. Reyhan merangkul Nindia dan mencium perut buncitnya. Tangan Nindia diarahkan untuk mengelus kepala Reyhan. Selanjutnya Reyhan tetap di bawah tetapi menengadah sambil tersenyum, hal sama dilakukan Nindia dengan menunduk dan tersenyum ke arah Reyhan.


"Terima kasih ya Agnes sudah mau meluangkan waktu," ucap Nindia setelah semua sesi shoot selesai.


Agnes tersenyum, "Sama-sama Kak. Aku juga seneng, apalagi keluarga ini ramah-ramah."


"Kamu hati-hati ya, jangan ngebut,"


"Iya Kak. Kania, Kak Bella, Mas Reyhan. Saya permisi pulang dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


 


 


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG

__ADS_1


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari google dan pinterest, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊


__ADS_2