
HAI CHINGU..... đđđđ
SELAMAT MEMBACA
đš
đš
ă
Tak terasa kandungan Nindia sudah meniginjak usia tiga Bulan. Perut Nindia pun juga semakin terlihat membuncit. Kebahagian tersendiri saat melihat perubahan pada bentuk perutnya. Nindia setiap pagi rajin mengelus perutnya yang membuncit dan rajin mengajaknya, padahal yang mengatakan usia empat bulan yang lebih efektif di ajak berbicara karena bayi sudah mulai bisa mendengar.
Morning Sickness yang dialami Nindia pun mulai berkurang, tetapi nafsu makan Nindia yang belum normal. Meskipun sudah ada perubahan.
"Nanti kamu ke Dokter Devi pukul berapa?" tanya Reyhan.
Hari ini adalah jadwal chek up rutin untuk Nindia dan Reyhan berencana untuk menemani Nindia setelah bulan sebelumnya tidak bisa dikarena sedang melakukan peninjauan resort di Lombok.
"Kamu bisanya pukul berapa? Aku gak mau ya kalau gak sama kamu" ucap Nindia penuh penekanan.
Satu bulan lalu, Nindia pernah mendiami Reyhan selama satu minggu karena tak menemaninya periksa kandungan. Ia iri karena melihat wanita muda yang tengah hamil sepertinya ditemani oleh suami. Bukan bermaksud iri dan egois, tapi hatinya terasa teriris melihat pemandangan itu.
Reyhan menghembuskan nafas, "Kalau kamu mau, aku bisa kosongin jadwal aku hari ini"
"Aku minta kamu pulang saat makan siang bisa?" tanya Nindia.
Reyhan mengiyakan permintaan sang istri. Ia juga sangat menyesal karena tidak bisa menemani istrinya bulan lalu. Ia sudah berjanji akan selalu menemani Nindia selama pemeriksaan kandungan. Ia tak ingin melewatkan satu detikpun mengenai perkembangan sang buah hati. saat dikantorpun, Reyhan selalu menelepon Nindia untuk menanyakan apa saja yang dilalukan sang buah hati. Memang tertengar sedikit konyol mengenai pertanyaan Reyhan, tapi perhatian kecil itulah yang membuat Nindia bahagia.
Nindia beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Reyhan yang tengah kesusahan memasangkan dasinya.
"Jangan terlalu capek. Aku gak mau kamu sakit." ucap Nindia sambil menyimpulkan dasi Reyhan.
Reyhan tersenyum mendengar perhatian yang diberikan oleh Nindia. Inilah yang membuatnya semangat bekerja, memberikan yang terbaik dari yang terbaik.
"cupp.. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Aku tahu kapan aku capek. Kamu kelas pukul berapa?"
Cukup informasi saja. Sejak bulan lalu, Reyhan sudah mengurangi jadwal mengajar di kampus. Ia hanya mengambil jam mengajar kelas Nindia dan satu kelas lainnya. Pengurangan jam mengajar adalah permintaan langsung dari Nindia.
Milhat dasi yang dipasangkannya rapi, Nindia menepuk pelan dada Reyhan, "Selesai." ucap Nindia dengan senyum merekas.
"Makasih ya," ucap Reyhan kemudian berjongkok dan menempatkan wajahnya tepat di depan perut Nindia. "Selamat pagi anaknya Ayah. Jangan nakal ya sayang, kasihan Bundanya kalau kamu nakal. Ayah kerja dulu habis itu ngobrol lagi sama kamu. cupp"
"Iya ayah. Aku gak nakal Ayah. Aku cuma mau main sama Bunda" ucap Nindia menirukan anak kecil. Nindia selalu dibuat terharu saat melihat pemandangan ini setiap pagi. Melihat Reyhan mengajak bicara anaknya membuatnya semakin sayang akan sosok pelindung keluarga yang ada di depannya saat ini.
"Ayah tahu kalau dedek gak nakal. Tapi Bundanya kadang nakal, suka bantah apa yang dilarang Ayah." ucap Reyhan mengadukan perbuatan Nindia pada sang anak.
"isshhhh jangan gitu dong. Nanti dedeknya marah sama aku." rajuk Nindia dengan bibir mengerucut.
"cuuppp bilang aja kalau mau dicium. gak usah pakek maju-majuin bibirnya." ucap reyhan sambil mencapit bibir Nindia.
Nindia memutar bola matanya jengah karena terus-terusan menjadi objek kejahilan Reyhan. Semenjak hamil, Reyhan selalu menjadikan Nindia sebagai objek pelampiasan kejahilan karena Ilham sudah jarang berkunjung.
"Kamu mah alasan aja. Bilang aja kalau kamunya yang pingen cium aku."
Reyhan menyengir, "Nah,,, tu tahu." Reyhan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 8. "Aku berangkat dulu ya."
"Mau aku antar?"
"Enggak usah. Kamu mandi aja, habis itu siap-siap ke kampus. Jangan kebanyakan bolos biar cepat lulus!"
Nindia meringis karena ketahuan sering bolos, "Aku tahu semua yang kamu lakukan. Jangan lupa! aku punya banyak mata-mata di kampus." ucap Reyhan seakan tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya.
"Iya, Bee. Pasti Bella yang lapor." ucap Nindia sambil cemberut.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan sahabat kamu. Aku cuma ngasih kamu izin masuk sampai tiga bulan ke depan. Setelah itu kamu ikut kuliah terbuka. Tidak ada bantahan!" tegas Reyhan sebelum Nindia mengeluarkan protesnya.
Memang sudah menjadi keputusan final bagi Nindia untuk melaksanakan kuliah terbuka. Ia hanya diberikan Reyhan waktu sampai usia kandungannya lima bulan. Reyhan tak mau mengambil resiko untuk keselamatan Nindia juga anaknya. Ini pilihan terbaik buatistrinya dan Nindia menyetujuinya.
"Aku ingat kok. Buruan berangkat. Nanti kamu telat."
"Aku berangkat. cup Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam"
____________________
"ALhamdulillah, kandungan Ibu Nindia baik-baik saya. Baby nya juga sehat. tapi Ibu perlu menaikkan berat badan minimal 3 kg lagi ya, supaya baby nya tambah sehat." ucap Dokter Devi setelah melakukan pemeriksaan kandungan Nindia.
Reyhan dan Nindia tersenyum lega mendengar perkataan Dokter Devi. Tapi Reyhan sedikit cemberut karena berat badan Nindia masih menjadi masalah.
"Baik kalau gitu, Dok." ucap Nindia.
Reyhan yang sejak tadi ragu ingin bertanya, pada akhirnya tetap menanyakan keresahan hatinya. "Dok, apakah boleh melakukan 'itu' saat ini?"
Jangan ditanya lagi bagaimana wajah Nindia saat ini. Wajahnya sudah mirip dengan kepiting rebus. Pipinya bersemu merah, tangannya menggenggam ujung bajunya untuk meluapkan rasa malunya. Kalau tidak ingat akan dosa, Nindia sudah pastikan Reyhan pulang dengan wajah lebam.
"Kenapa tanya itu? Malu tau" bisik Nindia pada Reyhan.
Dokter Devi tersenyum geli melihat pasangan di depannya saat ini, yang laki-laki dengan wajah penuh harap, sedangkan yang perempuan sudah tak tahu lagi gimana ekspresinya.
"Saya mengerti apa yang dirasakan Pak Reyhan. Pada saat ibu sedang hamil bukan berarti ibu dan pasangan harus menghentikan kegiatan hubungan intim. Namun perlu diingat, banyak hal yang harus diperhatikan sebelum ibu melakukan hubungan intim dengan pasangan. Mulai dari suasana hati hingga kondisi kesehatan ibu dan janin." ucap Dokter Devi. "Sebaiknya Pak Reyhan perhatikan posisi saat berhubungan intim, usahakan Bu Nindia nyaman. Selain itu, perhatikan juga saat akan maaf 'ejakulasi', usahakan tidak mengeluarkan di dalam karena hormon prostaglandin yang terdapat pada ****** dapat menyebabkan kontraksi pada rahim ibu, sehingga dapat membahayakan janin dalam kandungan, terakhir jangan lakukan 'oral' **** terlebih dahulu" jelas Dokter Devi.
Mendengar penjelasan Dokter Devi semakin membuat pipi Nindia memanas. Apalagi mendengar kata fulgar yang, padahal itu adalah hal umum yang sering dikatakan dokter kandungan.
Berbeda dengan Nindia yang memanas, Reyhan justru berbinar saat mendengar penjelasan Dokter Devi. Ia sangat memperhatikan dengan detail penjelasan Dokter Devi, tak ada satupun yang ia lewatkan.
"Terimakasih Dok atas penjelasannya,"
"Sama-sama Pak Reyhan. Semoga Ibu dan dedeknya sehat"
Nindia jalan ter;lebih dahulu meninggalkan Reyhan di belakangnya. Ia masih malu dengan apa yang ditanyakan oleh Reyhan. Nindia tak habis fikir, bagaimana Reyhan bisa menanyakan hal itu pada Dokter Devi.
"Sayang, jalannya pelan-pelan" teriak Reyhan dari belakang.
Nindia sama sekali tak mengindahkan apa yang dikatakan Reyhan. ia semakin mempercepat langkah agar cepat sampai di parkiran rumah sakit.
blamm
Pintu mobil tertutup cukup keras. Siapa lagi pelakunya jika bukan Nindia. Ia memalingkan wajahnya menatap luar saat merasakan Reyhan mulai masuk ke mobil.
Mobil berjalan meninggalkan parkiran rumah sakit. Reyhan mengendarainya dengan standar, ia ingin menghabiskan waktunya dengan Nindia. Sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini khusus untuk Nindia. Padahal ada meeting penting tentang pembangunan resort di Lombok, tapi ia rela membatalkannya demi Nindia. Bukan bermaksud tidak profesional, tapi entah mengapa hari ini ia ingin bersama dengan Nindia.
"Kamu kenapa?" tanya Reyhan saat Nindia tak memalingkan pndangannya dari jalan raya.
"....."
"Aku ada salah sama kamu? kalau ada, kamu bilang dong! Jangan diem aja" ucap Reyhan sedikit meninggi karena melihat tingkah Nindia. Ia sama sekali tidak tahu akan kesalahannya.
"Kenapa mesti tanya itu sih?" tanya Nindia. Ia akhirnya menghadap Reyhan setelah sepanjang jalan memalingkan pandangannya agar tidak bertemu dengan manik milik Reyhan.
"Apa sih? AKu enggak ngerti maksud kamu."
Nindia menghembuskan nafasnya, "Kenapa tadi tanya soal 'itu' sih?"
Akhirnya Reyhan mengerti pokok permasalahannya, "Bilang dong dari tadi, enggak usah ngambek-ngambek gak jelas"
"Gak jelas?" kesal Nindia. Reyhan tak tahu saja seberapa malu dirinya.
__ADS_1
"Aku tanya juga buat kebaikan kalian. Kamu gak berencana buat aku nunggu selama satu tahun kan?" tanya Reyhan menyelidik.
Nindia terdiam. Ia tak pernah berfikir sampai sejauh itu. Ia sadar Reyhan juga membutuhkan dirinya untuk menuntaskannya. Ia tak ingin Reyhan jajan diluar, itu tak akan pernah ia biarkan. Nindia tak akan rela jika Reyhan sampai jajan diluar.
"Bukan gitu maksud aku."
"Kalau bukan itu, terus apa?" tanya Reyhan.
Merasa pembicaraannya mulai memanas, Reyhan mencari tempat sepi dan meminggirkan mobilnya. Ia tak mau membahayakan dua orang terkasihnya dengan mengendarai mobil saat emosi.
"Kamu jangan marah dong," ucap Nindia dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Semenjak hamil, ia sangat tidak suka ada orang yang berbicara tegas dengannya, apalagi samapai membentak.
Reyhan menyugar rambutnya frustasi, bukan maksudnya membentak. Ia hanya bertanya dengan nada tegas, tapi Nindia menangkapnya berbeda, "Maaf sayang. Aku enggak amrah sama kamu" ucap Reyhan sambil merengkuh Nindia dalam pelukannya.
Nindia mengangguk dalam pelukan Reyhan, "Aku malu" cicit Nindia.
Reyhan terkekeh mendengar perkataan Nindia, "Kenapa harus malu? Itu wajar ditanyakan sama semua suami yang istrinya hamil."
"Tapi aku malu," rengek Nindia yang lagi-lagi membuat Reyhan terkekeh.
Reyhan membelai rambut Nindia, "Udah ya pelukannya." Nindia menggeleng. "Nanti lanjut di rumah. Sekarang kita jalan-jalan."
"Emang kamu gak kerja?" tanya Nindia yang masih belum mau melapaskan pelukannya.
Reyhan tersenyum, "Khusus hari ini, pangeran akan mengikuti kemanapun tuan putri pergi." ucap Reyhan setelah mengurai pelukan mereka.
Nindia tersipu mendengar perkataan Reyhan, "Baiklah pangeran, tuan putri mau jalan-jalan ke taman."
"Baik tuan putri, permintaan terkabulkan."
Reyhan dan Nindia terkekeh geli mengingat apa yang mereka ucapkan. Bahagia bagi mereka sangat sederhana. Hanya dengan menghabiskan waktu berdua sudah cukup bagi mereka, walaupun hanaya satu menit akan sangat berarti bagi kebahagian dan keharmonisan rumah tangga mereka. Jangan lupakan komunikasi, hal terpenting dalam membangun sebuah hubungan. Terhalangnya komunikasi, bisa dipastikan juga menjadi penghalang sebuah hubungan.
ă
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like đ & Komentar đŹ
Jadikan Favorit â¤
Bila berkenan silakan beri Tip â
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
__ADS_1
- BINTANG
A/n  : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih đđ