
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Bella audah duduk di kursi kerjanya. Ia sedikit melirik ruang kerja Ilham yang tertutup rapat.
"Kemana Dia? Biasanya keluar, langsung kasih berkas untuk diperiksa. Tapi kata Yuda, dia ada di ruangannya." gumam Bella Dalam Hati. "Ngapain juga gue mikirin udah lah!"
Bella mengecek jadwal Ilham hari ini. Cukup padat jadwal hari ini. Ia sampai menggeleng heran melihat jadwal Ilham. Bahkan Bella sempat berfikir kalau Ilham itu robot, bukan manusia.
"Apa dia gak capek dengan jadwal sepadat ini?" tanya Bella dalam hati.
"Maaf mbak. Ilhamnya ada di dalam?" tanya perempuan yang berdiri di depan mejanya.
"Dengan siapa kalau boleh tahu?" tanya Bella tanpa rasa curiga.
"Saya Kania. Pacarnya."
Bella menghentikan aktivitasnya, Ia menatap Kania dari atas sampai bawah.
"Cantik, tinggi, sexy lagi. Pantesan aja Ilham suka." gerutu Bella. "Kenapa gue gak suka? Siapa lo, Bella?"
"Mbak.. Hallo," Kania melambaikan tangan di depan muka Bella.
"Eh, maaf mbak. Ada mbak. Silakan, saya antar." ucap Bella sambil berjalan menuju ruangan Ilham.
ttok ttok ttok
"Masuk," jawab suara dari dalam.
"Maaf, Pak. Ada mbak Kania yang mau bertemu dengan Bapak." ucap Bella. Kemudian ia melihat Ilham memperhatikan Kania.
"Kamu boleh keluar!" ucap Ilham tanpa menatap Bella.
"Baik. Saya permisi, Mbak." ucap Bella sebelum undur diri."
Bella keluar dari ruangan Ilham dengan perasaan kesal. Ia bahkan melihat saat Ilham tak memandangnya.
"Awas aja nanti kalau teriak-teriak minta tolong. Gue gak akan mau," ucap Bella sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Kemuadian ia kembali duduk di mejanya.
____________________
Bella semakin dibuat gusar karena sudah hampir dua jam Kania dan Ilham berada dalam satu ruangan. Ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh keduanya.
Lima belas menit lagi adalah waktu berakhirnya jam kerja. Bella sangat lapar. Cacing-cacing diperutnya sudah mulai menggonggong, meminta jatah makan. Terlebih lagi tadi pagi ia tidak sarapan. Tapi statusnya sebagai sekretaris pribadi mewajibkannya stay di dekat Ilham.
Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Dengan merapalkan berbagai doa, akhirnya Bella memutuskan untuk berpamitan kepada Ilham.
Pintu ruangan Ilham tidak kunjung dibuka meskipun Bella sudah mengetuknya beberapa kali. Ia tidak berani masuk sebelum mendapatkan ide.
__ADS_1
"Bodo amat. Gueasuk aja dah, lapar banget ni perut." ucap Bella pada dirinya sendiri.
Ia nekat untuk masuk ruangan Ilham sebelum ada izin dari sang empunya. Setelah pintu terbuka, pandangan didepannya membuat Bella mematung. Bagaimana tidak, Ia melihat Ilham dan Kania sedang tidur dan saling berpelukan.
Sesak. Dadanya tiba-tiba merasakan sesak. Entah sejak kapan air matanya menetes. Ia membekap mulut agar suara isak tangisnya tak terdrngar oleh kedua orang yang tengah tidu.
Setelah cukup tenang, ia menghapus air matanya. Sialnya dia menabran sofa sehingga menimbulkan suara ringisan yang berhasip mengganggu tidur dua orang tersebut.
Ilham terlebih dulu bangun, Ia kemudian mengucek matanya untuk melihat siapa yang datang. Ia juga terkejut saat melihat Bella ada di ruangannya, terlebih lagi dengan posisinya dengan Kania yang bisa dibilang inti..
"Maaf, kalau saya membangunkan Bapak. Saya cuma mau izin pulang. Nanti kalau saja pulang begitu saja, takutnya Bapak cari saya." jelas Bella sambil berusaha menahan isak tangisnya.
"Tunggu dulu. Kamu temani saya makan. Saya belum makan." ucap Ilham dingin sambil merapikan pakaiannya.
Ilham yang sudah sepenuhnya bangun dan sudah mencuci muka, kemudian membangunkan Kania dengan menepuk-nepuk pipi perempuan tersebut.
"Kania sayang, Bangun!"
deg
"Sayang? Apa hubungan mereka? Oh Bella, apa yang lo lakukan? Kenapa po. memikirkan hubungan mereka? Ingat! lo bukan siapa-siapa bagi dia. Lo itu cuma asisten pribadinya. Jadi, jangan berharap lebih!" ingat Bella pada dirinya sendiri.
____________________
"Kamu makan apa?" tanya Ilham dingin.
"Terserah Bapak," jawab Bella tak kalah dingin. Entah mengapa rasa sesak saat melihat Kania dan Ilham tidur bersama semakin menjadi. Meskipun ia mencoba menyangkal, tapi kebenaran itu lebih besar.
Ilham menghela nafas. Ia kemudian menyebutkan menu apa saja yang ingin ia pesan.
"Tidak apa-apa. Lagian bukan urusan Bapak juga" ketus Bella.
Lagi-lagi Ilham menghela nafas. Jika perrmpuan bilang tidak apa-apa, pasti ada apa-apa dibalik perubahan sikapnya.
Mereka sama-sama diam hingga makanan yang dipesan Ilham datang. Mereka menyantap menu makanan pesanan Ilham dengan hening. Tak ada satupun yang membuka pembicaraan hingga mereka menyelesaikan kegiatan makan mereka.
"Kenapa saya rasa kamu semakin dingin sama saya," ungkap Ilham.
"Saya tidak merasa. Mungkin hanya perasaan bapak saja." sangkal Bella.
"Sudah berapa kali saya bilang sama kamu, jangan panggil Bapak kalau hanya ada kita berdua dan di luar kantor! Saya belum setua itu." protes Ilham yang merasa sangat risih dengan panggilan Bella.
"Mohon maaf, saya tidak bisa." ucap Bella.
"Saya permisi," Bella melihat arloji di tangannya. "Maaf, saya permisi. Ini sudah terlalu malam untuk perempuan pulang."
"Ini masih pukul 7 Bella. Alasan kamu terlalu klasik untuk menghindari Saya."
Ilham justru meninggalkan Bella setelah membayar pesanan mereka.
Bella yang melihat Ilham keluar dari restoran langsung mengejarnya. Ia sudah tidak bisa menahan apa yang sejak tadi memgganggu fikirannya.
"Kania siapa?" tanya Bella yang sudah menggunakan kata informal.
__ADS_1
Ilham berhenti tapi tidak kunjung membalikkan badan.
"Kenapa kamu pelukan sama dia?" tanya Bella. Akhirnya roboh sudah benteng pertahanan dirinya.
"Itu bukan urusan kamu. Itu sudah masuk dalam ranah pribadi saya."
"Bukan itu jawaban yang aku mau." protes Bella.
Ilham membalikkan badannya, "Lalu bagaimana kalau saya tanya sama kamu, Ada hubungan apa kamu sama laki-laki itu?"
Bella tak kunjung menjawab pertanyaan dari Ilham. Jujur saja ia merasa senang saat mengetahui Ilham tidak menyukainya jalan dengan laki-laki lain.
"Kenapa kamu bisa jauh dari diri kamu yang sekarang. Kamu tahu, saya tidak suka kamu bersikap dingin sama saya. Kenapa kamu bisa tersenyum saat jalan sama laki-laki itu. Kenapa itu tidak bisa saat kamu jalan sama say. KENAPA?" teriak Ilham. Ia sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.
Bella bergerak mundur saat mendengar teriakan Ilham. Ini kali pertamanya ia mendengar bentakan dari pria itu.
"Kenapa?" tanya Ilham dengan suara yang lebih lembut.
Bella mencoba mengatur nafasnya agar dadanya tidak berdebar karena ketakutan. Ia mencoba merengkuh tubuh Ilham, tapi sayangnya pria itu menghindar.
"Khemm. Saya rasa kamu sudah tidak di perlukan lagi. Maka dari itu, saya memberhentikan kamu saat ini juga. Saya akan segera kirim gaji kamu ke rekening." Ilham hendak meninggalkan Bella sebelum ia mengingat sesuatu.
"Dan jangan pernah menemuk saya lagi. Selamat malam."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
__ADS_1
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊