HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 14 Menceritakan


__ADS_3

HALLO CHINGU.....😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Reyhan saat ini sedang mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa ke rumah yang akan ia tinggali bersama Nindia. Rencana pindahnya memang masih dua minggu lagi, namun karena alasan tertentu Reyhan memutuskan untuk pindah sekarang.


"Lo sayang. Kamu jadi pindah sekarang?" tanya Helena.


"Iya Bun, Rey pingen ngerasain punya rumah tangga yang sebenarnya. Ngurus rumah sendiri, cari nafkah untuk bahagiain Anin," jelas Reyhan yang masih sibuk memasukkan barangnya ke dalam tas.


"Anin gak pulang sama kamu?" Helena membantu mengemasi barang-barang Nindia.


Reyhan tidak langsung menjawab pertanyaan Helena. Ia sendiri tidak tahu keman perginya sang istri.


"Lagi jalan Bun, sama temannya," Reyhan mencoba menutupi sifat buruk Nindia yang bahkan tidak mengatakan akan pergi kemana.


"Ya udah. Ini udah bantu beresin barang-barang Nindia." Helena beranjak dari tempat duduknya.


"Makasih Bun,"


"Sama-sama," Helena mengelus puncak kepala Reyhan, setelah itu ia keluar meninggalkan Rey.


Nin, apa kamu sudah tidak menganggap saya sebagai suami kamu? gumam Reyhan dalam hati. Ia sangat kecewa dengan tingkah laku sang istri. Ia rasanya tidak mempercayainya, mengingat sikap manis Nindia saat ia dirawat di rumah sakit.


**


Seperti yang dikatakan saat di kelas. Bella dan Nindia pergi jalan-jalan di mall berdua. Sedangkan dua sahabat mereka sudah pulang terlebih dahulu. Gita yang mengurus hubungannya dengan Akas, sedangkan Tia pulang karena sudah tidak tahan ingin bertemu pacar dalam mimpinya.

__ADS_1


"Nin, makan dulu ya! Gue lapar." Bella menunjuk tempat makan yang sangat terkenal di Indonesia.


"Ya udah," Nindia berjalan mengikuti Bella.


"Lo makan apa?" Bella menoleh ke samping.


"King Meals Cheeseburger aja deh. Gue cari tempat dulu ya," Nindia meninggalkan Bella untuk mencari tempat duduk.


"Oke," Bella mengantre untuk mendapatkan pesanan.


Nindia memilih tempat yang dekat dengan jendela, sehingga dapat melihat pemandangan luar.


"Bel," Nindia melambaikan tangannya agar terlihat oleh Bella yang terlihat kesusahan membawa pesanan.


"Makasih," balas Bella saat Nindia membantunya.


Setelah mendapatkan makanan masing-masing, Nindia dan Bella segera memakannya.


"Hn,,"


"Gue mau tanya sama lo. Tapi lo jangan marah!"


"Hubungan gue sama Pak Reyhan?" tanya Nindia. Ia sebenarnya tahu kalau Bella menyadari hubungannya dengan Reyhan.


"Iya," jawab Bella dengan memperhatikan ekspresi Nindia. Takut apabila Nindia menolak untuk menceritakan atau bahkan marah.


"Gue bingung mau cerita dari mana," Nindia menghentikan kegiatan makannya dan beranjak dari tempat duduknya untuk membersihkan tangannya.


Bella yang melihat Nindia beranjak mulai bingung. Ia menundukkan kepalanya karena takut Nindia akan marah, namun di lain sisi, dirinya sangat penasaran dengan hubungan sahabatnya dengan salah satu dosen tampan di kampusnya.


"Makan dulu! baru gue cerita" Nindia kembali duduk di depan Bella.

__ADS_1


"Gue sama Rey.. maksud gue Pak Reyhan udah menikah dua bulan yang lalu," Nindia membuka pembicaraan.


"What the ****,!" saking terkejutnya Bella berdiri dan menggebrak meja.


"Ihhh,, gak usah teriak juga kali." menarik Bella untuk duduk lagi.


Bella mengamati sekitarnya. Banyak orang yang menatapnya dengan tatapan tajam. "Serius?" tanya Bella.


"Iya. Bunda sama Maminya Rey udah merencanakan sejak dulu. Asal lo tahu, gue dulu jadi sahabat Rey waktu kecil. Mungkin karena kedekatan kami membuat Bunda sama Mami Maya membuat perjodohan"


"Terus?"


"Ya gitu deh," Nindia memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.


"Bentar dulu.. Satria gimana? Apa dia tahu kalau lo udah nikah?"


"Gak gimana-mana. Dia belum tahu kalau gue udah dihalalin orang," jelas Nindia tersenyum miris.


"Lo masih berhubungan sama dia?" tanya Bella.


Untuk kali ini Nindia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bella.


"Lo benar-benar gila kalau masih berhubungan sama Satria. Ingat Nin! Lo udah punya suami. Apa lo gak takut dosa?" Bella menghentakkan punggungnya di sandaran sofa.


"Gue tahu Bel, gue tahu lalau gue salah!" mata Nindia mulai berkaca-kaca.


"Bentar, jadi saat pak Rey masuk kelas?" tanya Bella dengan tatapan tajam.


"Mungkin dia lihat. Maka dari itu gue buru-buru lepasin Satria,"


"Gila lo.!"

__ADS_1


__ADS_2