HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 91 Keputusan Terberat


__ADS_3

HAI CHINGU.... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Semenjak tiga kejadian yang menimpa Nindia, Reyhan meminta Bunda dan Maminya untuk bergantian menemani Nindia saat dirinya kerja. Memang keputusannya akan terasa mengekang Nindia, tapi semua ini harus ia lakukan untuk keselamatan Nindia dan calon anak mereka.


Beberapa kali, Reyhan sampai harus membawa pekerjaannya ke rumah karena tidak tenang meninggalkan Nindia meskipun sudah bersama kedua orang tuanya.


CCTV di rumah juga diperbanyak.  Nindia hanya mengetahui bahwa ada dua cctv di dalam rumahnya, selebihnya hanya Reyhan yang tahu.


"Mau masak apa Bun?" tanya Nindia yang sudah duduk di kursi meja Bar.


Helena menoleh sebentar kemudian melanjutkan aktivitasnya, "Mau masak sup, tempe, tahu, ayam goreng dan sambal kecap."


"Aku bantuin ya,"


"No way! Bunda bisa di gorok sama suami kamu," Nindia mendengus mendengar ucapan sang Bunda. "Kamu mau apa?"


"Bunda mah gitu." Nindia mengerucutkan bibirnya. "Aku juga bosen tau Bun. Cuma makan, tidur, nonton, gitu tiap hari. Aku juga ingin melakukan pekerjaan rumah meskpiun tidak bisa jalan-jalan." adu Nindia.


"Suami kamu itu sayang lho sama kalian. Dia perhatian sama kalian berdua, harusnya kamu bersyukur dong. Tidak boleh gitu, Sayang. Kamu lagi hamil besar, jadi wajar saja kalau Reyhan melarang kamu mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk jalan-jalan, kan bisa kalian lakukan setelah anak kalian lahir pasti lebih seru."


"Tanpa Bunda suruh, aku sudah sangat sangat bersyukur memiliki Reyhan.. Nindia hanya bosan Bun kalau diam saja." jawab Nindia tegas.


"Kalau gitu kamu enggak usah bawel, turuti apa kata Reyhan, sayang. Jangan sampai bantah, dosa tau kalau bantah suami," ingat Helena kepada putrinya yang terkadang masih manja dan terkadang memiliki jiwa bebas.


Nindia mengangguk, "Iya Bundanya Nindia yang cantik,"


____________________


Bella menggerutu di sepanjang koridor kampus. Alasannya adalah Ilham membatalkan janji untuk mengajaknya jalan ke Korea di liburan semester. Memang libur semester 2 bisa dibilang sangat lama. Padahal Bella sudah membuat list tempat yang akan mereka datangi.


"Sumpah ya, kesel banget gue. Tahu gini gue ikut Mama ke Jepang," gerutu Bella sambil beberapa kali menghentakkan kakinya.


"Kenapa Nyet?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di sebelahnya.


plakk


"Sakit, ****!"


"Bodo! Siapa suruh ngagetin gue. Mana manggilnya nyet nyat nyet, emang gue monyet?"


Satria terkekeh geli, "Muka marah lo udah kaya monyet kebelet poop,"


plakk


"*****! KDRT mulu perasaan," dengus Satria sambil mengusap lengan yang menjadi samsak Bella.


Bella menghentikan langkahnya dan menatap Satria lekat, "Gue heran, kenapa Gita bisa suka sama orang kayak elo. Ganteng? Lumayan, pinter? Lumayan, dompet? Gak tebel-tebel amat. It's okay lah."


Satria menoyor kening Bella lumayan keras, "Hina aja terus, hina sampai lo puas. Gita aja kagak protes,"


Bella tertawa mendengar ucapan pacar sahabatnya ini. Bukan hanya sekali dua kali, tapi Bella cukup sering membuat Satria kesal. Salah satunya adalah tadi.


Langkah Bella harus berhenti saat melihat orang berdiri di depannya dengan pandangan yang sulit di artikan. Sebenarnya Ia masih kesal dengan orang di depannya ini, tapi Ia juga menghargai usahanya meluangkan waktu.


"Gila, pawang lo serem banget," bisik Satrka sambil sesekali melihat Ilham yang menatapnya datar.


"Pergi sono, kasian Gita kalau lama nunggunya," ucap Bella sambil mendorong Satria.


"Bye honey," ucap Satria sambil terkekeh sebelum pergi.


"Awas lo!" ancam Bella sambil memberikan kepalan tangan.


"Udah?" Bella menoleh saat suara Ilham terdengar dingin. "Atau mau lanjutin? Aku masih bisa tunggu."


"Udah," jawab Bella singkat sambil masuk mobil.


Di luar, Ilham berkali-kali menghembuskan nafas. Bella masih memusuhinya karena membatalkan rencana liburan mereka. Tak mau membuang waktu, Ilham langsung berlari memutari mobil. Rencananya hari ini, Ia akan meminta maaf ke Bella karena telah membuatnya kecewa.


Hening, satu kata yang terlintas melihat suasana di mobil Ilham. Sedari tadi Bella ingin bertanya kemana Ilham membawanya, tapi karena masih dalam mode ngambek tak jadi bertanya.


Bella sempat melihat papan arah jalan yang menunjukkan menuju Malang. Ia sempat bingung mengapa Ilham membawanya ke Malang.


"Kak, ngapain ke Malang?" tanya Bella yang menoleh ke Ilham.


"Udah, kamu diam saja!" jawab Ilham yang tetap fokus pada jalan.


"Aku belum izin ke Mama,"


"Aku udah minta izin. Kamu tenang saja,"


"Beneran?"


Ilham mengangguk, "Kalau kamu ngantuk, tidur aja dulu. Nanti kita nginap di rumah Bude aku."


Bella menganga, bagaimana bisa Mama nya memberikan izin buat menginap, ya meskipun tidak berdua dengan Ilham.


"Emang Mama kasih izin buat nginap?"


"Di kasih izin Bella, lagian juga kita enggak cuma berdua. Mama kamu juga sudah aku kasih nomor Bude, jadi kalau aku macam-macam atau kita kenapa-napa, Mama kamu bisa langsung datang."


"Emangnya kamu mau macam-macam sama aku?" sengit Bella.


"Satu macam aja belum kamu kasih. Apalagi yang macam-macam," jawab Ilham dengan muka datar.


Bella heran, mengapa kekasihnya ini sulit memberikan ekspresi disetiap kata yang diucapkan. Bella jadi bingung harus merespon seperti apa. Terkadang Ilham bisa bersikap romantis, tapi yang anehnya tetap gitu-gitu aja. Datar.


"Enggak usah aneh-aneh deh Kak."


"Daripada kamu terus ngerecokin aku, lebih baik kamu tidur sekarang. Nanti kita singgah dulu di mall buat beli baju,"


"Boros tahu kak. Kalau aku tahu mau kamu ajak jalan, kan bisa prepare dulu,"


"Enggak apa-apa, sekali-kali harus boros. Kita kerja buat dinikmati hasilnya, tapi harus ingat menyisihkan sebagian untuk menabung. Jangan sampai kita dikira pelit gara-gara terlalu perhitungan," jelas Ilham.

__ADS_1


"Au ah, tapi bayarin ya," ucap Bella, sebenarnya Ia tak sungguh-sungguh untuk mengatakannya.


Ilham mengangguk, "Jadi udah enggak ngambek nih?"


Bella berdecak, "Kamu mah aku udah baik malah di gituin lagi, kesel kan jadinya," ucap Bella sambil mengerucutkan bibirnya.


Tangan kiri Ilham bergerak mengusak puncak kepala kekasihnya. Satu hari didiamkan Bella sungguh sangat menyiksa. Ia sudah terbiasa dengan cerewet dan juteknya Bella, jadi kalau tidak ada ya... hampa.


____________________


 


Sdtelah istirahat sebentar di rest area, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Kurang lebih dua jam, mereka sampai di kediaman Bude Ilham.


"Assalamu'alaikum,"


Rumah yang terkesan klasik, memiliki halaman yang luas cukup untuk parkir dua mobil, dan taman dengan berbagai jenis bunga. Pohon mangga di depan rumah semakin membuat pemandangan semakin rindang. Bella yang memang menyukai bunga langsung memekik bahagia.


ceklekk


"Waalaikumsalam," jawab perempuan paruh baya yang membukakan pintu. "Eh Thole bagus,"


Ilham langsung melepas kangen dengan memeluk erat perempuan yang katanya Bude, atau kakak dari Ibunya.


"Gimana kabarnya Bude Lilis?"


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat," Bude lilis menepuk bahu Ilham pelan. "Cah ayu ini siapa?"


"Kenalin Bude, ini Bella. Insyaallah calonnya Ilham,"


Bella menganga mendengar perkataan Ilham. Jujur saja dirinya sangat senang saat Ilham mengenalkannya kepada keluarganya. Tapi untuk mengakui dirinya sebagai calon Ilham, menurutnya terlalu cepat. Jalan masih panjang dan bukan tidak mungkin dirinya bukan jodohnya Ilham. Jika mereka berdua ditakdirkan berjodoh, Bella akan mengucapkan berubu syukur karena telah diberikan lelaki baik hati seperti Ilham. Jarang sekali ada laki-laki yang mendekatinya berani datang bertemu orang tua dan mengenalkan dirinya kepada keluarga.


Bella tersenyum kikuk, "Saya Bella, Bude. Temannya Kak Ilham,"


"Teman hidup maksudnya?" tanya Bude Lilis sambil tertawa diikuti oleh Ilham. Sedangkan Bella hanya bisa menahan malu akibat ulah Bude dan keponakan. "Ayo masuk,"


Setelah cukup istirahat dan makan siang, Bella diajak Ilham berkeliling sekitar rumah Bude Lilis. Ternyata bukan rumah Bude Lilis saja yang asri, daerah tempat tinggalnya pun tak kalah asrinya. Apalagi tetangga Bude Lilis banyak yang ramah, tapi tak menutup kemungkinan ada yang suka nyinyir.


"Kak, kenapa kamu bilang gitu sama Bude?" tanya Bella sambil sesekali mengagumi ciptaan Tuhan.


Ilham menautkan alisnya, "Bilang apa?"


"Ya itu.. itu lhoo," ucap Bella tergagap. Entah mengapa dirinya tiba-tiba gugup saat teringat ucapan Ilham.


"Yang mana Bel? Kalau ngomong yang jelas!" Ilham bersikap seakan tak tahu apa yang dimaksud Bella. Padahal Ilham sudah menahan diri agar tidak khilaf mencubit pipi Bella saat mulai memerah.


Bella berdecak malas, "Aku tahu kak kamu paham maksud aku,"


"Emang salahnya di mana kalau aku bilang kamu calonku?"


"Ya enggak ada salahnya sih, tapi.. ah ya udahlah"


Ilham menghentikan langkahnya dan otomatis Bella juga berhenti, "Jujur saja aku sebenarnya sudah lama ingin menghindari hal-hal yang berpotensi mengarah ke zini. Contohnya jalan berdua sama kamu, kayak gini. Jalan berdua dengan kamu itu beberapa kali hampir membuat saya khilaf."


"Maksud Kakak?" tanya Bella yang belum mengerti makna yang tersirat dalam perkataan Ilham


"Jadi, maksud kakak mau putus gitu?" tanya Bella ketar-ketir saat mendengar ucapan Ilham.


"Iya. Mungkin Ini keputusan terberat yang aku ambil," Ilham menunduk lesu.


Air mata Bella sudah luluh, "Kalau kamu mau putus sama aku, kenapa kamu bawa aku ke sini? Apa maksud kamu?" Ilham tak ingin menjawab pertanyaan Bella. "Ya udah kalau itu keputusan kamu," Bella mengusap air matanya. "Terima kasih untuk kebersamaan kita selama ini,"


Bella sudah melangkahkan kaki meninggalkan Ilham yang masih terpaku di tempat. Ia tak menyangka bahwa Ilham membawanya ke Malang untuk memberikan hadih terakhir sebelum mengakhiri hubungan mereka.


Bella yang datang dengan mata sembab berhasil membuat Bude Lilis khawatir. Bahkan Bella langsung masuk kamar tanpa menghiraukan kehadiran orang sekitarnya.


brakk


Biarlah kali ini Bella dikatakan perempuan tak beretika. Saat ini dirinya hanya mau meluapkan emosi. Mungkin ia salah karena melampiaskannya kepada orang lain, tapi mau bagaimana lagi?


"Dasar bocah semprul," maki Bude Lilis saat melihat Ilham datang dengan senyuman setengah hati.


Ilham langsung memeluk Bude tercintanya, "Apa sih Bude? Jangan marah-marah, nanti wajah cantik Bude yang mirip Yuni Shara hilang lhoo,"


plakk


"Pacar e nesu kok malah digawe guyon. Bocah gendeng! Wayah e iku diparani, terus dibujuk ben ora nesu maneh," ucap Bude Lilis.  (Pacarnya marah kok justru dibuat bercandaan. Anak gila! Seharusnya didatangi terus dibujuk suapaya tidak marah lagi)


"Bude tenang mawon, Mungkin ini sudah jalannya Ilham dan Bella" jawab Ilham singkat padat tapi membuat tenang. (Bude/tante tenang saja,)


____________________


Tak pernah Bella bayangkan hubungannya dengan Ilham akan berakhir secepat ini. Jika memang dari awal Ilham tak berniat untuk berpacaran, mengapa harus memberinya harapan.


Selama di dalam kamar, Bella tak henti-hentinya menangis. Meredamnya dengan menelungkupkan wajahnya di bantal agar isak tangisnya tak terdengar oleh siapapun


ttokk ttokk ttokk


"Nduk, ini Bude. Buka pintunya,"


Bella tak menghiraukan Bude Lilis yang berada di depan kamarnya. Bella masih betah di dalam kamar meskupun hari sudah nerganti malam.


"Buka pintunya ya sayang, Bude mau bicara."


ceklekk


Bella langsung berhambur dalam pelukan Bude Lilis. Tangisnya tak lagi dapat dibendung. Bahunya naik turun dan nafasnya tak beraturan.


Bude Lilis mengelus punggung Bella penuh sayang. Mencoba menyalurkan kehangatan pada Bella agar tenang.


"Kenapa?" tanya Bude Lilis sambil menuntun Bella duduk di tepi ranjang.


Bella menggeleng, "Enggak Kenap-napa Bude. Bella cuma capek aja," ucap Bella sambil mengusap sisa air matanya.


Bude Lilis tersenyum simpul, "Bude boleh minta tolong?"


Bella mengangguk mantap, "Bella bisa bantu apa, Bude?"


"Bude mau ke acara teman. Tapi enggak ada temannya, kamu mau menemani Bude?"

__ADS_1


Bella diam untuk memutuskan. Kalau dirinya hanya berdiam diri di kamar, Ia akan teringat keputusan Ilham tadi siang dan ujung-ujungnya nangis lagi.


"Bisa Bude,"


"Ya udah kalau begitu. Bude sudah menyiapkan gaun buat kamu."


Bella tak enak hati, "Ya ampun, Bella jadi merepotkan Bude,"


Bude Lilis tersenyum sambil mengelus surai Bella, "Enggak, Nduk. Bude senang karena anak perempuan selain Kania. Anak Bude laki-laki semua," Bella tersenyum manis. "Sekarang kamu siap-siap ya, Bude tunggu di bawah,"


"Bude," panggil Bella.


"Ya,"


Bella menjadi ragu tapi ingin tahu, "Kak Ilham kemana?" tanya Bella lirih.


Bude terlihat tersenyum, "Ilham lagi ada kerjaan di luar. Jadi kita nanti naik taxi online, enggak apa-apa kan?"


Bella menggeleng halus, "Bella enggak keberatan Bude."


"Ya udah, Bude tunggu di bawah ya," Bella mengangguk.


Tiga puluh menit perjalanan, Bella dan Bude Lilis sampai di Cafe Bukit Delight, salah satu cafe populer di kota Malang.


"Bude, ini enggak salah tempat?" Bella melihat sekeliling yang masih sepi.


"Enggak, Nduk. Bude mau pesan dulu ya, kamu tunggu saja di sini,"


Setelah Bude Lilis pergi, Bella mulai mengagumi keindahan cafe ini. Bella melihat berbagai pernak-pernik cantik yang menghiasi area cafe. Kerlap-kerlip lampion dan terangnya bintang-bintang bersinar di langit semakin menambah kesan romantis.


Bella tiba-tiba tersenyum sendiri saat berangan seandainya dirinya dan Ilham pergi ke sini berdua. Meskipun Ilham tak romantis, tapi Bella bisa merasakan keromantisan Ilham.


Bella semakin dibuat galau saat iringan musik 'pergi untuk kembali' milik Ello mulai mengalun. Persis menggambarkan dirinya yang baru saja ditinggal pergi, sayangnya mungkin tak akan kembali.


Walaupun langit pada malam itu


Bermandikan cahaya bintang


Bulanpun bersinar betapa indahya


Namun menambah kepedihan oh


Menunduk untuk menyembunyikan air mata yang sudah menggenang dan siap untuk jatuh. Hanya itu yang bisa Bella lakukan saat ini. Kenangan dengan Ilham kembali berputar indah di kepalanya.


Ku akan pergi meninggalkan dirimu


Menyusuri liku hidupku


Janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu


Berikan senyuman padaku


Senyum miris terukir di bibir indah Bella. Ia benci, ia benci harus berada di keadaan ini. Ia benci harus mengakui bahwa dirinya sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Ilham. Bahkan Bella menertawai dirinya sendiri saat dahulu dengan sombongnya mengatakan tak akan jatuh pada Ilham.


Selamat tinggal kasih


Sampai kita jumpa lagi


Aku pergi takkan lama


Hanya sekejap saja


Ku akan kembali lagi


Asalkan engkau tetap menanti


Luluh sudah air mata Bella. Tangannya membekap mulut agar isak tangisnya tak terdengar memilukan meskipun hatinya merasakan pilu yang teramat.


Bukan salah Ilham jika jalinan kasih mereka sampai disini. Yang salah adalah dirinya yang tak bisa menerima keputusan Ilham.


 


TBC


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari pinterest dan google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2