HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 65 Bersama Calon Mertua


__ADS_3

HAI CHINGU****..... 😀😀😀😀


SELAMAT MALAM


🌹


🌹


Semakin malam perbincangan semakin seru. Banyak hal yang diceritakan Maya maupun Bi Ijah tentang Ilham. Mulai dari masa kecil hingga sekarang. Bahkan Bella mengetahui hal-hal menggelikan yang dilakukan oleh Ilham seperti setiap sebelum tidur harus mencium ketek Bi Ijah terlebih dahulu, suka mendengkur, dan hobi menyembunyikan kaos kaki Reyhan.


"Beneran Kak Ilham suka cium ketek ibu sebelum tidur?" tanya Bella antusias.


Bi Ijah mengangguk, "Beneran nak, kalau enggak dia enggak bakalan bisa tidur. Suatu hari Ilham sampek berantem sama bapak karena dilarang cium ketek ibu." jawab Bi Ijah.


"Jangan lupakan Reyhan yang selalu dibuat nangis saat lihat kaos kakinya selalu tinggal satu di dalam sepatu," tambah Maya yang sama antusiasnya.


hahahaha


Semuanya tertawa mendengar perkataan Bi Ijah dan juga Maya. Nindia pun yang baru mengetahui masa kecil Ilham dan Reyhan sampai mengeluarkan air mata karena tidak kuasa menahan tawanya.


"Mih, kalau Mas Reyhan masa kecilnya gimana?" tanya Nindia.


Maya mengalihkan perhatian ke Nindia, "Reyhan itu kecilnya cengeng. Dikit-dikit nangis. Pokoknya cengeng deh," jawab Maya.


"Aku gak percaya. Orang di kampus aja killer, masa kecilnya cengeng?" bantah Nindia.


"ish.. beneran, Mami gak bohong. Tanya aja sama Papi kalau kamu gak percaya. Reyhan itu juga jorok kecilnya. Waktu itu Reyhan dibelikan kaos kaki baru sama Papi. Entah males atau takut bau tokonya hilang, jadi enggak ganti kaos kaki. Bahkan Mami sampai curi waktu buat cuci kaos kaki Reyhan, kalau enggak reyhan akan menggunakan kaos kaki itu-itu aja."


Nindia bergidik geli sambil memegang perutnya, "Sayang, kalau sudah besar jangan niru Daddy kamu ya. Mommy gak suka sama yang jorok." ucap Nindia yang berhasil membuat orang tertawa.


"Gue gak percaya Nin kalau Prof. Reyhan kecilnya jorok dan cengeng, tapi gedenya disiplin sama tegas banget. Nah, kak Ilham yang kecilnya jahil aja gedenya jadi kayu. Datar, dingin, persis kayu." ucap Bella yang heran dengan sikap keduanya yang berbeda jauh dengan masa kecilnya.


"Kayu?" tanya Maya dan Bi Ijah bersamaan.


"Iya Mih, Bu. Bella dulu panggil kak Ilham itu kayu karena tak memiliki ekspresi alias datar. Oh ya.. ada alasan lagi, dulu Kak Ilham selalu bicara formal sama aku jadinya ya gitu deh." jelas Nindia.


Maya dan Bi Ijah hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan Nindia.


Maya melihat jam yang ada di tangannya, "Udah mau malam. Kalian makan malam di sini aja ya! Mami udah telepon Reyhan sama Ilham. Mungkin pukul 7 mereka sampai."


"Eh.. enggak usah, Mih. Bella pulang aja." tolak Bella yang merasa tidak enak.


"Mami tidak menerima penolakan. Bi Ijah masak kesukaan anak-anak ya. Sayang, kamu suka apa?" tanya Maya pada Bella.


"Bella enggak pilih-pilih makanan, Mih."


"Gak ada alergi?"


"Ada, tapi bukan makanan." jawab Bella.


"Bella alergi debu, Mih. Kalau kambuh sampai bisa bikin anfal." jelas Nindia.


"Astaga, jadi kamu bawa obat sama inhaler?" tanya Maya.


"Iya, tapi buat jaga-jaga aja kok. Bella jarang kambuh, tapi sekalinya kambuh bisa anfal" jawab Bella dengan senyum.


Maya tersenyum hangat, "Hati-hati ya. Nin, bawa teman sahabat kamu ke kamar tamu. Pinjami dulu baju kamu, masih ada kan di kamar?"


"Masih Mih. Nanti Nindia ambilkan." jawab Nindia. "Mihh..." panggil Nindia manja.


Maya mengerti maksud panggilan Nindia, "Mau apa sayang?"


"Mami the best deh," ucap Nindia sambil memberikan dua jempol.


"Mau Mami masakin?" Nindia mengangguk. "Mau dimasakin apa?"


"Mau kentang goreng balado. Tapi Mami yang buat," ucap Nindia dengan manja.


Maya menganggikkan kepala sehingga membuat Nindia tersenyum.


Nindia berlari menghampiri maya, "Makasih, Mih." ucap Nindia sambil mencium pipi Maya.


"Sama-sama."


Maya tidak akan pernah bisa menolak keinginan Nindia selama hamil, meskipun hal aneh sekalipun. Ia melakukan semuanya untuk cucu pertamanya dan untuk kebahagian Nindia.


___________________


Setelah membersihkan diri, Nindia dan Bella membantu para ibu yang sedang sibuk dengan peralatan dapurnya. Maya memang terjun langsung untuk urusan dapur tapi masih dibantu oleh Bi Ijah.


"Mau masak apa, Mih?" tanya Bella yang datang lebih dulu.


"Capcay, asem-asem daging, tempe + tahu goreng, dan sambal. Oh ya, sama pesanannya bumil." jawab Maya.


"Bella bantu Mih, Bu." ucap Bella yang mulai memotong sayuran untuk capcay.


"Mih, nindia aja yang buat asem-asem dagingnya. Mamih buat kentang goreng Nindia. Bi Ijah bantu Nindja ya," ucap Nindia yang baru datang.


"Okew kalu gitu," jawab Maya yang langsung beralih tugas ke kentang goreng balado.


Semua sibuk dengan bagian masing-masing. Nindia sibuk memitong daging sedangkan Bi Ijah mulai menggoreng tempe. Sedangkan Bella masih memotong wortel.


"Bu, Kak Ilham suka makan apa?" tanya Bella.


Bi Ijah menoleh, "Ilham itu paling suka sama ayam goreng tepung, sop, dan sambal kecap. Masak itu aja pasti Ilham langsung makan. Ilham gak suka sama junk food. Pokoknya makanan Indonesia pasti suka."


"Sehat dong," ucap Bella sambil beranjak membawa potongan bahan capcay.


"Bel, lo suka pedes kan?"


"Suka," jawab Bella sembari mulai menumis.


Saat mereka sibuk memasak di dapur, bel rumah berbunyi berulang kali.

__ADS_1


"Siapa sih?" tanya Nindia.


"Biar, Ibu yang bukain." ucap Bi Ijah yang sudah selesai menggoreng tempe.


Bella memegang tangan Bi Ijah, "Biar Bella aja yang buka. Ibu tolong terusin masakan Bell." ucap Bella yang diangguki Bi Ijah.


Bella sedikit berlari untuk membukakan pintu depan karena tamunya sudah tak sabaran.


"Sabar," teriak Bella yang tidak akan terdengar sampai luar.


ceklek


"Assalamua... Kamu kok disini?" tanya Ilham yang terkejut dengan kehadiran Bella.


"Waalaikumsalam Kak, Prof. Rey" sapa Bella.


Reyhan mengangguk, "Panggil kak aja kalau di luar kampus. Nindia ada di dalam?" tanya Reyhan.


Bella mengangguk, "Ada, lagi siapin makan malam."


"Ya udah, saya duluan." ucap Reyhan kemudian berlalu meninggalkan Ilham dan Bella.


Bella berhasil membuat Ilham terkejut karena tiba-tiba menyaliminya. Sudah sama seperti istri yang menyambut suaminya pulang.


"Waalaikumsalam, Kak. Gak mau masuk nih?" tanya Bella yang membubarkan lamunan Ilham.


Ilham berlalu memasuki rumah, sedangkan Bella masih sibuk mengunci pintu.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Ilham yang masih penasaran mengapa Bella berada di rumah Maya.


"Diajakin Nindia. Emangnya kenapa?"


"Kamu ketemu sama Ibu saya?" bukannya menjawab, Ilham justri kembali melemparkan jawaban.


Bella mengangguk, "Emangny kenapa sih? Kamu enggak suka kalau aku di sino ketemu ibu?" tanya Bella.


Ilham meraup wajahnya, "Bukan gutu maksud saya. Kamu enggak apa-apa?"


Bella mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Ilham, namun sedetik kemudian Bella menjawab saat tahu maksud Ilham.


Bell maju satu langkah dan tepat berada di depan Ilham, "Aku enggak apa-apa. Jadi alasan kamu enggak amu ajak aku ketemu Ibu cuma gara-gara itu?" Ilham menunduk kemudian mengangguk.


"Kak, lihat aku," Ilham mendongak, "Aku bukan dari keluarga yang gila hormat dan kekuasaan. Kamu kan tahu sediri asal usul keluarga aku." Bella menangkup wajah Ilham, "kak, jadi enggak usah khawatir kalau keluarga aku menolak Ibu kamu." Ilham mengangguk. Kedua mata mereka saling mengunci dengan saling melempar senyuman.


Nindia keluar dari dapur dengan membawa hasil masakan yang siap dihidangkan di meja makan.


"Woy, jangan pacaran mulu. Bantuin gue." teriak Nindia.


Bella dan Ilham tersentak dengan teriakan Nindia.


"Ganggu aja," ucap Bella lirih.


"Enggak apa-apa. Bantuin Anin, kasian dia lagi hamil. Saya mau bersih-bersih dulu." ucap Ilham kemudian berlalu meninggalkan Bella.


Maya dan Bi Ijah yang melihat kejahilan Nindia hanya bisa tertawa.


____________________


Setelah selesai makan malam, mereka terlebij dahulu berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang sebentar.


"Mih, tadi capcay nya rasanya beda tapi tetap enak. Siapa yang masak?" tanya Reno.


Maya menunjuk Bella, "Menantu kita yang masak." jawab Maya.


"Belom sah, Mih." protes Ilham.


Reno mengangguk, "Kok kamu mau sih sama, dia." ucap Reno sambil menunjuk Ilham.


Ilham mendengus, "Mulai deh,"


Bella tersenyum, "Aku juga gak tahu, Om."


"Papi, Sayang. Maya aja kamu panggil Mami, masa saya dipanggil Om." protes Reno.


"Please deh, Pih. Gak usah kaya anak kecil." ucap Reyhan.


Reno melotot ke Reyhan, "Dasar anak kurang ajar. Untung istri kamu hamil, kalau enggak udah Papi pukul kamu." canda Reno.


Reyhan memutar bola matanya jengah. Sedangkan yang lain tertawa melihat tingkah Reyhan dan Reno.


derttt derttt


"Bentar, mau angkat telepon dulu."


Bella pergi menjauh dari ruang keluarga. Ia menerima telepon dari Ratih, mamanya.


Setelah selesai, Bella kembali masuk ke rumah untuk berpamitan karena Mamanya sudah mencark dan jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Pi, Mi, Pak, Bu, Bella pamit pulang dulu soalnya Mama udah telepon." pamit Bella.


Maya melihat arloji di tangannya, "Ya ampun udah pukul 9 ternyata. Kamu mau pulang sendiri?" tanya Maya.


Bella mengangguk, "Iya, Mi. Nindia bawa mobil sendiri soalnya.


"Sudah malam, Nak. Perempuan nggak baik pulang malam-malam sendirian, lebih baik kamu diantar Ilham." ucap Bi Ijah.


Bella menggeleng, "Engga usah, Bu. Bella bisa pulang sendiri. Kasian kak Ilham kalau ngantar Bella pulang. Kak Ilham juga masih capek baru pulang."


"Biar aku antar." potong Ilham.


"Nah, Ilhamnya aja mau. Kamu mau ya." bujuk Maya.


Bella tersenyum kemudian mengangguk. Ia tidak enak kalau harus menolak permintaan Maya dan Bi Ijah.

__ADS_1


"Ya udah, Ilham antar Bella dulu. Assalamualaikum."


Bella beranjak dan menyalimi semua orang kemudian jalan ke depan untuk mengjampiri Ilham.


"Waalaikumsallam" jawab semua orang.


____________________


"Maaf ya, Jadi ngerepotin kamu." ucap Bella memecah keheningan.


Ilham melirik Bella sebentar kemudian kembali fokus, "Nggak apa-apa." ucap Ilham sambil mengacak rambut Bella.


Bella tersenyum, "Terus kamu nanti pulang naik apa? Ini udah malam lo, tukang ojek online udah jarang."


"Saya mah gampang. Yang penting kamu sampai rumah dengan selamat."


Bella cemberut karena Ilham menggunakan 'saya–kamu' lagi, padahal Ilham sudah menyetujui untuk menggunakan 'aku–kamu'.


"Kenapa cemberut?"


"Nggak apa-apa" jawab Bella cuek.


Ilham menghembuskan nafas. Ia sama sekali tidak suka main tebak-tebkan karena perempuan selalu sulit untuk ditebak.


"Bilang!" ini bukan pernyataan tapi sudah perintah yang harus dijawab.


Bella menghela nafas, "Aku sebel sama kamu. Kemarin kan udah aku bilang buat gunain 'aku–kamu' tapi kenapa hari ini pakek 'saya–kamu' lagi, kaya ada jarak diantara kita."


"Gitu aja ngambek." ucap Ilham sambil mencubit pipi Bella.


plakk


"Sakit,"


"Kamu enggak mau turun?" tanya Ilham.


"Emang udah nyampek?"


Ilham menunjuk rumah Bella dengan dagunya, "Tuh lihat. Dari tadi malah."


Bella bengong mendengar perkataan Ilham. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kalau sudah sampai rumah. Dasar.


"Kak, turun yuk."


Ilham tak enak kalau tidak bertemu dengan orang tua Bella. Terlebih lagi Bella sampai rumah pukul 09.30 malam.


"Assalamualaikum,"


ceklek


"Waalaikumsalam," jawab Mama Ratih yang langsung disalami Ilham dan Bella.


"Eh, ada Nak Ilham. Mau mampir dulu apa langsung pulang?" tanya Ratih.


"Langaung aja, tante. Udah malam juga." jawab Ilham sopan.


"Ma, mobil aku boleh ya di bawa Kak Ilham. Kasian kalau ngojek." ijin Bella.


"Enggak usah, Bel. Aku masih bisa naik taxi. Lagian besok kamu kan kuliah."


"Enggak apa-apa kok, masih ada mobil kembar. Boleh ya, Mah."


Ratih tersenyum, "Boleh sayang. Enggak apa-apa nak Ilham, bawa aja mobil Bella. Kembar masih diantar supir kok."


"Baik kalau gitu. Saya pulang dulu, Tan. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Bella dan Ratih.


Mereka menunggu sampai mobil Bella yang dikendarai Ilham keluar dari perkarangan rumah.


"Menantu idaman,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow

__ADS_1


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊


__ADS_2