HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 87 Go Public


__ADS_3

HAI CHINGU.... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


 


Pertengkaran Nindia dan Luvita menjadi topik terhangat minggu ini. Semakin besarnya masalah ini tak lepas dari setatus Reyhan sebagai pemilik RC Ltd, dan pewaris Aristarco Corp, dan status Herlambang sebagai pemilik PT. Adiaksa Jaya.


"Yudha, cari tahu siapa yang menyebar video itu. Saya mau nanti siang sudah ada di meja saya." titah Reyhan dengan tatapan tajam mengarah ke ponsel.


"Baik pak," ucap Yudha memgangguk hormat. "Kamu boleh pergi,"


📲 Handoko   : Hallo, Assalamualaikum.


Reyhan     : Hallo Yah, Waalaikumsalam.


📲 Handoko   : Ayah langsung to the point aja. Selesaikan masalah ini tanpa kekerasan.


Reyhan     : Reyhan sudah memiliki solusi Yah dan Reyhan pastikan tanpa kekerasan.


📲 Handoko   : Ayah percaya sama kamu. Udah dulu, Ayah mau lanjut kerja. Assalamualaikum.


Reyhan     : Baik Yah. Assalamualaikum.


Setelah kepergian Yudha dan telepon dari Ayah mertuanya, Reyhan menelepon rumah dan memberikan pesan agar menutup semua akses media sosial (baik cetak maupun online). Entah bagaimana caranya, yang terpenting Nindia tidak melihat berita. Selain itu, Reyhan juga menyuruh Maminya menenemani Nindia agar keluar rumah dan tidak merasa kesepian.


"Tidak akan Saya biarkan kalian mengganggu keluarga, terutama istri dan anak Saya." ucap Reyhan dalam hati dengan tangan terkepal erat.


Reyhan mengalihkan amarahnya dengan bekerja dan bekerja. Ia tak mau bertindak gegabah untuk melindungi anak dan istrinya. Semuanya perlu strategi dan penyelesaian yang tepat tanpa ada nyawa yang hilang. Sisi lain dari Reyhan mulai diuji semenjak pertemuannya dengan Herlambang yang mencoba menjodohkan anakanya.


ttokk ttokk ttokk


"Masuk," tatapan Reyhan tak lepas dari berkas di depannya.


"Permisi, Pak. Saya mau meberikan informasi mengenai siapa yang menyebarkan video tersebut," ucap Yudha.


Reyhan langsung menghentikan kegiatannya dan mulai menyimak apa yang disampaikan Yudha.


"Setelah saya cari, ternyata penyebar video adalah akun yang sengaja dibuat untuk menyebarkan video tersebut. Tapi tenang saja, pelakunya sudah berhasil teridentifikasi. Luvita Pramudya Herlambang. Ia menyuruh seseorang untuk mempublikasikan dan membayar salah satu media online untuk membuat berita yang menjatuhkan Ny. Nindia." jelas Yudha. Tak susah bagi Yudha untuk mengetahui pelakunya.


Reyhan tersenyum sinis mendengar penjelasan Yudha. Ia tak menyangka peringatan yang diberikan kepada Luvita dianggap remeh oleh mahasiswa nya sendiri dan secara jelas mengusik Nindia.


"Apakah Tuan Herlambang mengetahuinya?"


"Saya rasa tidak, Pak. Tuan Herlambang beserta istrinya saat ini sedang ada perjalanan bisnis ke Amerika." jawab Yudha.


"Baik kalau begitu. Tolong suruh anak buah kamu untuk mengikuti kemanapun Luvita pergi. Cari jarak aman!  Jangan sampai dia menyakiti Nindia lagi. Pastikan Nindia dalam keadaan aman, perketat pengawasan di rumah," perintah Reyhan tak main-main. Ia tak mau mempertaruhkan keselamatan Nindia.


"Baik, Pak."


Reyhan masih tak habia fikir dengan mahasiswanya itu. Reyhan masih berusaha menemukan solusi supaya tidak menyentuh Luvita sedikitpun tapi bisa membuatnya sadar.


"Saya rasa ini waktu yang tepat." gumam Reyhan.


Reyhan : Laksanakan yang saya perintahkan


📲 .....


Reyhan : Terimakasih


tutt


____________________


Nindia mulai dilanda bosan. Sejak pagi Bi Minah dan Mang Tejo melarangnya untuk menonton tv dan keluar dari rumah. Bahkan Maya yang sedang berkunjungpun selalu berusaha mengalikan perhatiannya. Apalagi Nindia lupa letak ponselnya, semakin bosanlah dia.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa semua akses seakan ditutup?" tanya Nindia dalam hati.


"Kamu ngelamunin apa Sayang?" tanya Maya yang kembali dengan camilan.


Nindia tersenyum, "Nindia cuma bosan aja Mi. Apalagi dari pagi Nindia enggak pegang ponsel jadi enggak bisa bicara deh sama Reyhan."


"Kamu mau bicara sama Reyhan?" tanya Maya


Nindia mengangguk kemudian menunjukkan raut wajah sedihnya. Maya yang melihatnya menjadi tidak tega.


"Ya udah kalau gitu. Mami ambilkan ponsel Mami yang ada di kamar," ucap Maya seraya mengelus rambut Nindia.


"Oke Bos" Nindia mengacungkan jempolnya.


Nindia terus mengikuti kemana Maya melangkah hingga punggungnya tak terlihat lagi.


"Kebetulan Mami bolehin gue pegang ponsel untuk menghubungi Reyhan jadi ada kesempatan untuk mecari tahu," gumam Nindia dalam hati.


"Nih, pakai aja ponsel Mami. Habis telepon langsung kembaliin ke Mami ya, jangan bka yang lain." ucap Maya sambil memberikan ponselnya.


Nindia mengangguk dan mengacungkan jempolnya, "Mami is the best,"


"Ya udah, buruan telpon. Katanya kangen."


"Mi, kalau Nindia telponnya di kamar boleh enggak? Soalnya yang mau Nindia bicarakan hal sedikit privasi,"


Maya tak langsung menjawab permintaan Nindia. Ia sebetulnya sudah diwanti-wanti Reyhan suoaya menjauhkan Nindia dari ponsel meskipun Nindia merengek atau bahkan menangis. Tapi ibu mana sih yang tega melihat anaknya menangis? Pasti tidak ada.


"Boleh, tapi di kamar tamu aja ya." jawab Maya setelah berfikir panjang.


Nindia mengangguk, "Makasih Mi, cupp"


Nindia langsung berjalan menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah sambil menggenggam erat ponsel ditangannya, "Maafin Nindia Mi. Bukan maksud Nindia buat bohongi Mami. Tapi hati Nindia mengatakan terjadi sesuatu yang berhubungan denganku langsung," ucap Nindia dalam hati.


Setelah di kamar, Nindia langsung mendapatkan pemeberitahuan dari beberapa portal online.


📰 Pewaris tunggal Aristarco Corp dan pemilik Rc Ltd. dikabarkan dengan seseorang


📰 Putri tiri dari Handoko Corp. dikabarkan hamil diluar nikah


📰 Nindia putri tiri Handoko dikeluarkan dari kampus karena ketahuan hamil diluar nikah.


📰 Reyhan Aristarco dan Anindia Putri terlibat sekandal perselingkuhan

__ADS_1


📰 Diduga Anindia Putri menjadi orang ketiga di pernikahan Reyhan Aristarco


🎬 Video pertengkaran Anindia Putri dan Luvita Pramudya Herlambang, putri pemilik PT.  Adiaksa Jaya terjadi karena Luvita tak terima suaminya selingkuh.


Nindia langsung menangis melihat pemberitaan yang menyudutkan dirinya. Terlebih lagi banyak yang membela Luvita dan menyumpahi dirinya.


Nindia menghapus air matanya, "Jadi ini alasan kamu suruh orang rumah jauhin aku dari media sosial dan larang aku keluar rumah?"


ttokk ttokk ttokk


Nindi secepat mungkin menghapus air matanya dan mencuci muka agar Maya tidak curiga kalau Nindia habis menangis. Setelah dirasa wajahnya kembali segar, Nindia menghapus history pencarian.


ceklekk


"Udah selesai nelponnya?" tanya Maya.


Nindia tersenyum kemudian mengangguk, "Nindia ke kamar dulu ya Mi, ngantuk."


Tanpa curiga sedikitpun, Maya langsung mengizinkan Nindia masuk ke kamar.


____________________


Reyhan memutuskan pulang lebih awal karena khawatir dengan Nindia. Selain itu, ia juga harus mencari cara agar Nindia mau ikut dengannya nanti malam.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Maya.


Reyhan menghampiri dan mencium punggung tangan Maya.


"Maaf ya Mi, Reyhan jadi repotin Mami." sesal Reyhan.


Maya mengelus rambut anaknya, "Enggak apa-apa Sayang. Mami justru senang bisa menemani cucu Mami."


"Nindi mana Mih?"


"Di kamar sari siang. Sampai sekarang belum turun. Gimana tadi? Bicara apa aja sama Nindia?" tanya Maya.


Reyhan mengernyit heran, "Bicara apa? Reyhan sejak pagi sibuk Mi, enggak ada telepon dari Nindia."


"Astaga," Maya menutup mulutnya.


"Ada apa Mi?" tanya Reyhan.


"Jadi kamu enggak telponan sama Nindia?" Reyhan menggeleng.


"Mi..." Reyhan seakan menyadari apa yang terjadi selama dirinya pergi.


"Maaf Sayang. Tadi Nindia bilang kangen dan mau nitip sesuatu ke kamu. Tapi Mami enggak kepikiran kalau Nindia akan nekad. Mami cuma kasihan lihat istri kamu murung dari pagi." ucap Maya penuh penyesalan.


"Kan Reyhan udah bilang, mau alasan apapun jangan kasih Nindia ponsel," sesal Reyhan seraya memijat pangkal hidungnya. "Ini semua juga salah Reyhan. Seharusnya Reyhan bisa menjaganya jauh lebih baik,"


"Maaf sayang, Mami benar-benar minta maaf."


Tanpa menjawab ucapan Maya, Reyhan langsung lari menuju kamar. Dilihatnya Nindia yang berdiri di dekat jendela dengan pandangan kosong. Semakin dekat, semakin terlihat pula mata sembab Nindia. Bahkan bekas air matanya pun masih ada.


grepp


"....."


"Bukan maksud aku buat bohongi kamu. Aku cuma enggak mau kalau kamu sampai setres sehingga berdampak buruk bagi calon bayi kita dan psikis kamu. Aku udah ada solusi untuk menyelesaikan masalah ini."


"....."


Reyhan membalik tubuh Nindia hingga salimg berhadapan. Lagi-lagi Nindia menangis. Bukan salahnya kalau hormon kehamilan semakin membuatnya cengeng.


"Udah ya.. Jangan nangis lagi." bujuk Reyhan. Nindia langsung berhambur ke pelukan Reyhan. Menumpahkan air matanya sehingga membuat kemeja Reyhan basah. Bahkan Reyhan masih menggunakan jas kerjanya.


"Kenapa semua orang hina aku? Padahal disini aku yang disakiti, bukan Luvita. Kenapa orang-orang menyumpahi anak kita, padahal dia belum lahir di dunia hiks." ucap Nindia.


"Reyhan mencium puncak kepala Nindia, "Udah ya, aku udah punya solusinya kok. Pasti aku akan memberikan pelajaran bagi orang yang menghina, menjelekkan maupun yang fitnah kamu. Aku udah hubungi Bang Andhika untuk menjadi pengacara kasus kita dan Siang tadi Kak Helen sama Bang Andhika terbang dari Jakarta. Sekarang udah di rumah Bunda."


Andhika adalah suami dari Helen, kakak tiri Nindia yang bekerja sebagai pengacara.


"Malam ini kamu siap-siap, jangan ada pertanyaan" potong Reyhan saat melihat Nindia ingin bertanya. "Ikuti semua apa yang Mas katakan. Mas pasti melakukan yang terbaik buat kalian."


____________________


Reyhan dan Nindia sudah selesai makan malam. Mereka kembali ke kamar dan tinggal menunggu kedatangan Andhika. Sebenarnya Reyhan kasihan dengan Andhika yang baru tiba di Surabaya.


ttokk ttokk ttokk


"Bi Minah, minta tolong bukakan pintunya," pinta Maya.


Bi Minah bergegas membukakan pintu dan ternyata Andhika sudah datang dengan pakaian formal.


"Eh, Den Andhika. Silakan masuk Den,"


"Makasih ya Bi," ucap Andhika.


"Andhika," sapa Maya. "Cari Reyhan?"


"Iya Tante. Soalnya harus berangkat sekarang. Semuanya sudah stand by," jawab Andhika setelah mencium punggung tangan Nindia.


"Bang Dhika," sapa Nindia keluar dari kamar.


Nindia langsung lari dalam pelukan Andhika. Air matanya kembali tumpah. Andhika hanya bisa mengelus punggung Nindia untuk menguatkannya.


"Udah, enggak apa-apa. Abang akan bantu kamu," Andhika mengurai pelukannya dan menghapus air mata Nindia. "Make up nya entar ilang lo,"


"Bang," sapa Reyhan sambil memeluk Andhika.


"Gimana, udah siap?" Reyhan dan Nindia mengangguk.


Meskipun Nindia tidak mengetahui cara Reyhan menangani masalah ini, tapi Nindia tetap menuruti semua perkatan Reyhan dan Maya.


"Udah," jawab Reyhan singkat.


"Kalau gitu kita berangkat sekarang. Sekertaris kamu udah telepon Abang sejak tadi,"


"Kamu enggak makan malam dulu?" tanya Maya pada Andhika


"Enggak usah Tante. Dhika udah makan sama Ayah , Bunda," tolak Andhika halus.

__ADS_1


"Kalau gitu kalian hati-hati. Reyhan, Nindia nya dijagain."


"Pasti Mi," jawab Reyhan tanpa ragu.


Reyhan, Andhika, dan Nindia menuju tempat yang sudah ditentukan. Selama perjalanan Nindia selalu menatap luar, fikirannya masih berpusat pada pemberitaan yang Ia baca.


"Udah Dek, nggak usah difikirin! Percaya aja sama Suami kamu," nasihat Andhika.


Nindia semakin bingung saat mobil yang dikendarai Mang Tejo berhenti di depan perusahaan. Keadaannya sangat ramai, dipenuhi oleh wartawan.


"Mas,"


"Udah, enggak apa-apa." Reyhan menenangkan Nindia dengan menggenggam tangannya.


"Abang turun dulu. Rey kamu udah minta pengawalan?"


"Udah Bang,"


Baru Andhika yang turun sudah banyak blitz kamera membuat Nindia semakin takut. Nindia juga mendengar banyak wartanya yang bertanya mengenai kasus ini. Tapi sayangnya Andhika selalu menolak untuk menjelaskan.


Tak lama dari itu, Reyhan turun dari mobil dan menjadi tameng utama agar Nindia terhindar dari blitz kamera.


"Apakah benar Mbak Nindia orang ketiga di pernikahan Pak Reyhan?" tanya wartawan perempuan.


"Bagaimana pendapat Pak Reyhan tentang pemberitaan ini?" tanya wartawan yang memakai masker.


Semua pertanyaan wartawan tak ada yang dijawab. Para wartawan masih terus melemparkan pertanyaan hingga lift tertutup.


"Hah," Nindia menghela nafas lega. "Ini ada apa sih?"


"Nanti kamu akan tahu," jawab Andhika yang fokus pada ponselnya. Sesekali ia menerima telepon dari Helen yang menanyakan kabar Nindia.


Akhirnya mereka sampai di aula kantor yang sudah disulap memjadi ruangan press conference. Blitz kamera langsung memenuhi aula saat Reyhan, Nindia, dan Andhika tiba.


"Bisa tenang?" tanya Andhika saat mendengar wartawan mulai ricuh.


"Kita mulai sekarang. Assalamualaikum wr. wb. Selamat malam," sapa Reyhan.


Nindia hanya menunduk. Ia tak berani menatap para wartawan.


"Baik, disini saya akan mengklarifikasi pemberitaan yang adi di media sosial. Saya minta jangan ada yang menyela penjelasan saya,"


Reyhan melihat sekeliling. Tak ada yang mengajukan protes.


"Semua yang ada di media salah. Saya memang sudah menikah,"


"Kalau begitu Mbak Nindia benar orang ketiga," salah satu wartawan laki-laki.


"Saya sudah bilang, JANGAN ADA YANG MENYELA." ucap Reyhan penuh penekanan.


"Saya teruskan. Saya menikah sudah hampir dua tahun. Pernikahan saya memang bukan untuk umum, hanya dihadiri oleh keluarga dekat. Dan yang kalian juluki sebagai orang ketiga adalah istri sah saya. Ya Anindia Putri adalah istri sah Reyhan Aristarco dan perempuan yang ada di video adalah orang yang terobsesi dengan saya. Kalian pasti tidak akan percaya kalau tidak ada buktinya, tapi tenang. Saya sudah menyiapkan buktinya." Reyhan mengeluarkan buku nikah dan dokumentasi pernikahan.


"Sudah jelas atau masih ada yang ditanyakan?" tanya Andhika.


Salah satu wartawan angkat tangan, "Kenapa pernikahan dilakukan secara tertutup. Apakah Mbak Nindia hamil diluar nikah?"


Pertanyan itu berhasil membuat Reyhan geram, "Perhatikan baik-baik! Usia pernikahan saya hampir dua tahun. Sedangkan istri saya baru hamil tujuh bulan. Apakah bisa dikatakan hamil di luar nikah?"


Para wartawan kembali berbisik-bisik. Membenarkan apa yang dikatakan Reyhan.


"Apa benar Anindia Putri adalah mahasiswa anda?" tanya wartawan yang memakai hijab.


"Benar. Apakah ada larang dosen menikahi mahasiswanya? Kalau kalian menanyakan kredibilitas saya anda salah. Saya sangat profesional, jika dia melakukan kesalahan langsung saya tegur. Bahkan saya tidak segan memberikan nilai C pada mata kuliah saya. Masih ada yang ditanyakan?"


Wartawan berambut cepak mengangkat tangan, "Apakah Mbak Nindia mempunyai masalah pribadi dengan Mbak Luvita?"


Nindia semakin gugup. Meskipun sudah sering diwawancara, tapi masih seputar pendidikan. Reyhan yang mengetahui Nindia gugup langsung menggenggam tangannya.


"Sa.. Saya tidak mempunyai masalah pribadi dengan Mbak Luvita. Mungkin bisa ditanyakan langsung dengan yang terkait,"


"Saya rasa sudah cukup jelas dan Saya akan mempermasalahkan berita hoax yang tersebar dengan kasus pencemaran nama baik. Jadi siap-siap saja. Pengacara saya akan mengurusnya," ucap Reyhan penuh nada ancaman.


"Saya rasa sudah cukup. Saya akan memberikan surat somasi kepada media yang mencemarkan nama baik keluarga saya," ucap Andhika tak kalah dingin.


 


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2