
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Sinar matahari menerangi dua insan yang nyenyak tidur dengan berpelukan. Nindia bangun terlebih dahulu, menyingkirkan tangan Reyhan yang memeluknya posesif. Mengikat rambutnya asal dan beranjak menunu dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Hari ini Reyhan akan pergi ke kampus setelah beberapa hari izin akibat pekerjaan kantor yang membutuhkan perhatian khusus. Bahkan Nindia sembat menjadi 'asisten pribadi' selama Reyhan menyelesaikan pekerjaannya. Ia juga sempat menghadiri pesta ulang tahun rekan bisnis Reno mendampingi Reyhan.
Saat menuruni tangga, Nindia melihat Bi Minah yang sedang menyapu ruang keluarga. Ia berhenti sejenak dan berfikir untuk mencari tambahan pekerja untuk membantu Bi Minah.
"Pagi, Non." sapa Bi Minah dengan senyuman.
"Pagi, Bi. Bibi kok udah bangun?" tanya Nindia basa basi.
"Non mah lupa! Kalau saya masi tidur, makan gaji buta dong," canda Bi Minah.
Nindia tertawa nyaring mendengar candaan Bi Minah, "Bibi bisa aja. Saya ke dapur dulu Bi," pamit Nindia yang dibalas angukan oleh Bi Minah.
Sebagian bahan masakan sudah dikeluarkan oleh Bi Imah. Nindia tinggal mengambil bahan makanan yang ia butuhkan sebagai bahan masakan. Ia membuat menu sederhana yaitu nasi goreng. Untuk kali ini ia menambahkan daging di dalamnya.
Tak lama Reyhan turun dengan pakaian rapinya. Ia sudah mengenakan setelan jas lengkap. Reyhan berjalan menghampiri Nindia, mencium kenin dan bibir Nindia singkat. Kemudian mereka menikmati nasi goreng. Sesekali Reyhan muji masakan Nindia. Membuat Nindia malu.
Reyhan menghampiri Nindia yang sedang mencuci piring kotor, ,elingkarkan tangannya di pinggang Nindia, "Sayang, kamu berangkat sendiri atau berangkat sama aku?"
"Ya ampun, Bee. Aku bisa jantungan kalau kamu tiap hari gini" gerutu Nindia
Reyhan hanya cengengesan mendengar omelan Nindia. Ia tetap tidak melepaskan pelukannya.
"Gimana?" tanya Reyhan. Ia sesekali mengecup leher belakang Nindia yang berhasil membuat Nindia geli.
"Bee," tegur Nindia sambil menggerakkan bahunya agar Reyhan berhenti. "Berangkat sendiri aja ya. Aku mau ajak Gita sama Tia buat jenguk Bella. Kasian kalau dia sendirian." jelas Nindia yang sudah tidak memperdulikan kegiatan Reyhan yang terus menciumi lehernya.
"Aku berangkat dulu," mencium kening Nindia.
"Hati-hati"
____________________
Nindia telat 15 menit dari jam masuk. Ia langsung berlari menaiki tangga. Dilihatnya pintu ruang kelas sudah ditutup, menandakan dosen sudah masuk. Lebih parahnya lagi, kelas ini adalah kelas Prof. Reyhan. Nindia mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan pesan pada grub yang berisikan Bella, Tia, Gita, dan jugadirinya.
Nindia : Reyhan udah di dalam?
Tiga detik kemudian.
📩 Gita : Dari tadi
📩 Bella : Kemana lo?
📩 Tia : Buruan masuk
Nindia menepuk jidatnya. Ia merapalkan doa saat mendekati ruang kelas. Bisa dipastikan Reyhan dan teman-temannya bisa melihat melalui jendela. Saat ingin mengetuk, pintu terbuka dan menampilkan sosok dosen killer yang ia hindari. Matanya menatap tajam seakan menguliti Nindia.
"Ehemm"
Nindia tersenyum, "Maaf Prof."
"Dari mana kam?" tanya Reyhan dingin.
"Dari rumah lah Prof. Mau dari mana lagi." jawab Nindia dengan cengengesan.
"Kamu masih bisa tersenyum saat melakukan kesalahan?" sinis Reyhan. Ia tidak pernah membeda-bedakan mahasiswanya. Meskipun mahasiswa tersebut saudaranya bahkan istrinyapun akan mendapatkan perlakuan yang sama.
"Santai saja dong Prof." jawab Nindia dengan tampang tidak bersalahnya.
"Kamu masih bisa berbicara seperti itu?"
Nindia mulai kesal, "Masalah kecil aja di besar-besarin," gumam Nindia yang masih bisa didengar oleh dosen killernya.
"Anindia Putri," bentak Reyhan.
Bentakan Reyhan mengejutkan mahasiswanya yang ada di dalam. Sekaligus mengejutkan bagi Nindia. Nindia tidak menyangka akan dibentak oleh Reyhan di depan mahasiswa kelasnya. Padahal ia hanya ingin bercanda dengan Reyhan. Ia juga tahu kalau ini kesalahannya. Tapi ia tidak suka kalau ada yang membentaknya. Bukankah Nindia
sudah pernah mengatakannya?
Tanpa ada kata yang keluar, Nindia lari meninggalkan Reyhan yang masih diam di depan pintu. Ia sudah bilag kalau dia tidak suka dibentak. Untuk saat ini, dia tidak ingin bertemu dengan Reyhan terlebih dahulu.
Reyhan masih mematung di depan pintu. Ia memejamkan matanya. Reyahan menyesal dengan apa yang dilakukakannya. Padahal sudah berjanji tidak akan membentak Nindia setelah kejadian itu.
"Permisi, saya tinggal sebentar. Kalau saya belum kembali, silakan kumpulkan tugas di loker saya," Reyhan meninggalkan kelas setelah merapikan Laptop nya. Ia bergegas untuk mengejar Nindia. Ia sangat-sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya.
Nindia terus berlari hingga parkiran. Diambilnya kunci mobil dari dalam tas.
"Nindia tunggu!"
Dari dalam mobil ia melihat Reyhan sedang berlari ke arahnya. Ia menatapnya dari dalam mobil. Entah sejak kapan air matanya mengalir. Ia menyekanya dengan kasar. Tanpa mendengarkan perkataan Reyhan, Ia menyalakan mobil dan mengendarainya meninggalkan area kampus.
__ADS_1
"Nindiaaa," teriak Reyhan saat mobil Nindia suda meninggalkan area kampus.
Reyhan langsung masuk ke dalam mobil. Ia melanjukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia melihat mobil Nindia tidak jauh dari depannya. Ia mencoba memepet mobil Nindia.
Reyhan membuka kaca mobil, "Nin.. Berhenti dulu sayang. Aku mau ngomong sama kamu," Nindia semakin menambah kecepatan.
Mobil Nindia kembali menjauhi mobil Reyhan. Ia melihat di depan ada lampu merah dan menambah kecepatannya. Nindia lolos dari lampu merah dan berhasil menghindari Reyhan.
"Sial!" umpat Reyham sambil memukul kemudi mobil.
Reyhan menarik rambutnya ke belakang, "Kenapa gue sampek bentak dia," sesal Reyhan "Ahhhhhh"
____________________
Nindia mengendarai mobilnya menuju rumah Maya. Ia bisa menebak bila Reyhan akan mencarinya ke rumah Helena setelah Reyhan tidak menemukan Nindia di rumah. Setelah sampai, Ia memarkirkan mobilnya di halaman. Kemudian mengetuk pintu.
"Mami," sapa Nindia saat pintu dibuka oleh wanita paruh baya.
"Sayang," ucap Maya. Kemudian ia memeluk Nindia erat.
Semenjak mereka pindah kerumah sendiri, Nindia dan Reyhan jarang mengunjungi rumah orang tua Reyhan ataupun rumah orang tuanya. Kesibukan menjadi faktor utama jarangnya mereka berkunjung.
"Anin kangen sama Mami," ucap Nindia dengan manja
"Mami juga kangen sama kamu,"
"Gak disuruh masuk nih," ucap Nindia dengan cemberut.
"Oh ya.. Masuk sayang," Maya mengajak Nindia masuk dan mendudukkannya di sofa ruang keluarga..
Maya kemudian beranjak menuju dapur untuk membuatkan Nindia minum. Ia melakukan sendiri untuk menantunya tersayang. Ia membuatkan jus alpukat kesukaan Nindia. Ia kemudian kembali ke ruang keluarga untuk memberikan jus tersebut.
"Makasih Mami," Nindia meminum jus itu. "Bi Ijah mana? Kok Mami yang buatkan Anin minum?"
"Oh.. Bi Ijah lagi pulang kampung. Cucunya sakit."
"Lhooo, Ilham punya saudara lagi?"
Bi Ijah adalah istri dari Mang Maman dan ibu dari Ilham.
"Ada. Dia punya adik laki-laki dan kakak perempuan. Nah, cucunya itu anak dari kakak perempuannya Ilham yang jadi dokter anak. Sedangkan adiknya masih SMA." jelas Maya yang merubah duduknya menjadi disebelah Nindia.
Nindia hanya ber oh ria mendengar penjelasan Maya.
"Kamu kok sendirian? Reyhan kemana?"
Skak mat. Nindia mulai kelabakan mendengar pertanyaan dari Maya. Ia bingung bagaimana mengatakan dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Kalian berantem?" tanya Maya penuh selidik.
Nindia menarik nafas, kemudian tersenyum. "Reyhan masih di kampus, Mi. Nindia udah gak ada kelas, jadi Nindia kesini deh." alibi Nindia yang diharapkan berhasil.
"Beneran?"
"Iya Ma," Nindia memeluk Maya.
Maya sebenarnya curiga dengan kedatangan mendadak Nindia. Ia semakin curiga saat tidak melihat Reyhan saat Nindia mengunjungi rumahnya.
Di sisi lain Reyhan mulai kelimpungan mencari Nindia. Saat pulang ke rumah, Reyhan tidak mendapatkan Nindia. Mobilnya juga tidak ada. Ia sudah mencari Nindia di rumah Helena, tapi Nindia juga tidak ada di sana.
Saat ini Reyhan menepikan mobilnya. Ia mulai berfikir kemana Nindia pergi. Nindia tidak mungkinpergi kesalah satu rumah sahabatnya karena mereka masih kelas. Satu tempat yang belum Reyhan kunjungi yaitu Rumah Maya.
Reyhan melajukan mobilnya menuju rumah Maya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya tidak tenang saat melihat rumah dengan keadaan kosong.
Ia sampai di rumah Maya hanya dengan tiga puluh menit. Normalnya jarak tempuh dari rumah Helena dan Maya adalah satu jam tanpa macet. Tapi ini hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit sudah termasuk macetnya.
ttokk ttok ttok
Reyhan sudah berdiri di depan rumah Maya. Ia sudah tidak sabar untuk mencari Nindia.
"Rey," sapa Maya setelah membuka pintu.
"Mi, Nindia ada di sini?' tanya Reyhan tanpa basa-basi.
"Yang ditanya dulu tu harusnya kabar Mami." sindir Maya.
"Maaf Mi, bukan maksud Reyhan melupakan Mami. Nindia ada di sini kan?" tanya Reyhan.
Maya menarik Reyhan untuk masuk ke rumah dan mendudukkannya di sofa rumah keluarga. Maya kemudian ke dapur untuk mengambilkan minum. Reyhan yang tidak sabar pun mulai gelisah.
"Mi,"
Maya menghembuskan nafasnya, "Ada di kamar ka-"
Reyhan langsung berlari menaiki tangga. Setelah sampai, ia membuka kamar dan mendapati Nindia yang sedang tengkurap dengan headshet terpasang dan membaca buku. Reyhan menghembuskan nafas lega. Ia kemudian berjalan menghampiri Nindia. Ia duduk di tepi ranjang dan Membelai rambut Nindia.
Nindia yang rambutnya di elus mulai terganggu. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kekanan, kemudian melanjutkan membaca buku.
"Sayang,"
Nindia cukup terkejut mendengar suara Reyhan,
__ADS_1
Merasa tak ada jawaban, Reyhan mulai mencium tengkuk Nindia.
"Apa sih?" ucap Nindia sedikit teriak.
Reyhan terkejut mendengar Nindia teriak. Selama tinggal bersama, Reyhan sama sekali tidak mendengar Nindia berteriak kepadanya bahkan kepada ART pun.
Setelah cukup lama diam, Reyhan yang tidak suka dibentak membalikkan badannya agar menghadap dirinya. Melepaskan headshet yang ada di telinga Nindia dan mengambil buku yang sedang Nindia baca.
Nindia mendudukkan tubuhnya setelah dibuat kesal oleh Reyhan. Bibirnya mengerucut dengan tangan bersedekap sebagai bentuk protesnya.
"Nindia," tegur Reyhan.
"Apa?" jawab Nindia yang menghindari tatapan Reyhan.
"Lihat aku," menarik dagu Nindia agar menghadap dirinya.
Nindia menolehkan kepalanya ke kanan sehingga cekalan tangan Reyhan di dagunya lepas.
"Aku minta maaf,"
"Emang ada salah?" ketus Nindia.
Reyhan menarik nafas dalam dan menghembuskannya, "Saya minta maaf," Reyhan memegang bahu Nindia agar menghadap kearahnya.
Nindia terkejut mendengar Reyhan menggunakan bahasa formal. Pasalnya ini kali pertama Reyhan menggunakannya.
"Saya minta maaf. Saya tahu saya sudah membentak kamu, bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya ingin kamu tidak terlambat dan mencari masalah dengan dosen." jelas Reyhan.
Nindia mencermati apa yang dikatakan Reyhan. Penyesalan dan ketulusan yang terlihat dari setiap ucapannya. Tak bisa di pungkiri bahwa ini salahnya. Tidak seharusnya ia marah dengan Reyhan. Namun, Nindia juga tidak suka dibentak.
"Maafkan saya," Reyhan memelas.
Nindia tersenyum dan mengangguk. Ia tidak bisa egois bila mengingat kesalahannya yang dengan mudah dimaafkan oleh Reyhan.
Reyhan tersenyum dan langsung mendaratkan ciuman di bibidr Nindia. Awalnya hanya ciuman biasa tapi lama kelaman menjadi lumatan dan menuntut. Reyhan membaringkan Nindia ke ranjang. Mengunci kedua tangan Nindia di atas kepala. Reyhan memiringkan kepalanya agar bisa memperdalam ciumannya.
"Aku ingin," bisik Reyhan.
Nindia tahu apa yang diinginkan Reyhan. Sudah menjadi kewajibannya untuk memberikan hak kepada Reyhan. Reyhan sudah sah secara hukum dan agama sebagi suaminya, ia akan berdosa bila menolk keinginan suami.
Nindia menganggukkan kepala. Ini sudah saatnya ia memberikan hak Reyhan.
Reyhan tersenyum menlihat persetujuan Nindia. Ia menindih Nindia dan kembali melumat bibir Nindia. Ia sudah tidak mencekal tangan Nindia lagi. Tangan kirinya ia gunakan untuk menyangga beban tubuhnya, sementara tangan yang kana ia letakkan di tengkuk Nindia agar bisa membantunya untuk memperdalam lumatannya.
Nindia melingkarkan tangannya di punggung Reyhan. Membalas setiap lumatan yang dilakukan Reyhan.
Mereka menikmati setiap ciuman. Sampai dirasa nafas Nindia mulai habis, Reyhan menyudahi ciuman panas mereka. Nafas mereka tersengal-sengal. Mata mereka saling bertatapan dan saling melempar senyum.
Reyhan melanjutkan dengan mencium leher jenjang Nindia, meninggalkan beberapa kissmark. Rasanya Nindia seperti tersengat aliran listrik. Ini pertama kalinya ia disentuh oleh laki-laki dengan sangat intim. Reyhan membuka kancing baju Nindia perlahan-lahan.
Reyhan dan Nindia sudah sama-sama telanjang. Mereka larut dalam kegiatan panas ini, sampai saat ke inti permainan. Reyhan sudah sangat siap untuk menjebol Nindia karena gairah yang sudah tinggi.
ttok ttok ttok
“Nindia, Reyhan... Ayo makan,” teriak Maya.
“Sial!” umpat Reyhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- Bintang
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.