HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 34 Penghalang


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Setelah kejadian dirumah sakit, Satria sedikit demi sedikit mulai menghindari Nindia. Ia akan berbicara kepada Nindia hanya seperlunya.


Tindakan yang berlebihan membuat Satria takut. Meskipun hanya berbicara sebentar pun Satria tetap merasa menjadi perusak rumah tangga.


"Ngapain lo ngelamun?"


"*******! Kaget gue, Git. Gimana kalau gue jantungan." umpat Satria yang hanya dibalas cengiran oleh Nindia.


"Lo kenapa?" tanya Gita yang duduk di sebelah Satria.


"Gak," Satria tidak ingin mengatakan masalah pribadinya kepada siapapun.


"tsk! Gue udah tahu dari Nindia kemarin." Satria menoleh.


"Gue gak nyangka bucin kaya lo bisa bicara sebijak itu," sindir Gita.


pletak


Satria menyentil kening Gita cukup keras, "Bangke lo!" maki Gita.


"Gue gak Bucin." bela Satria.


"Yang bener? Bukannya lo ngintilin Nindia kemana aja waktu pacaran" sindir Gita.


"Gak ya," sangkal Satria.


"Hilihhh... ngaku aja lo! Sampai-sampai kita aja yang sahabatnya susah ketemu Nindia." ucap Gita.


"Karena lo dan kedua teman lo selalu merusak acara gue sama Nindia," ucap Satria dengan tatapan tajam.


"Itu karena kita gak suka sama lo. Kita gak ikhlas Nindia jadi pacar lo," jelas Gita sungguh-sungguh.


"Apa alasannya?"


"Kita tahu lo pergi kemana saat lo ngilang selama dua minggu,"


duaarrr


Satria bagai tersambar petir saat mendengar perkataan Gita. Ia sudah mati-matian untuk menyembunyikannya, tapi tetap saja gagal.


"Lo tahu dari mana?" tanya Satria penasaran.


"Gampang bagi gue buat cari orang. Gue tinggal suruh anak buah bokap gue untuk cari tahu. Gimana rasanya 3 perempuan dalam dua minggu?" pertanyaan Gita menyindir Satria.


"Siapa aja yang tahu?" tanya Satria yang belum menjawab pertanyaan Gita.


"Tenang aja! cuma gue sama Bella yang tahu. Gue gak mungkin kasih tahu Nindia soal ini. Bisa-bisa dia mati bunuh diri" ucap Gita sambil tertawa membayangkan Nindia mati karena cinta.


"Makasih, Terimakasih karena lo gak ceritain ini ke Nindia." ucap Satria penuh tekanan.


"Tapi gue tahu kalau lo itu bersih. Mereka cuma lo buat sebagai taruhan."


"Gue rasa lo tahu semua tentang gue," sindir Satria.


Gita tertawa, "Jelas gue tahu. Lo temannya Akas kan? Lo taruhan juga sama dia?"


"Hemm. Tapi gue gak sebejat Akas yang berani tidurin anak orang." jelas Satria.


"Gue tahu," Gita pergi meninggalkan Satria.


Satria menatap kepergian Gita. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan Gita. Nasib mereka hampir sama. Bedanya disini adalah dia yang salah bukan Nindia.


Sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.


Sepintar pintarnya kita menuembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga.


Dua pepatah itu tepat untuk menggambarkan Satria saat ini. Niat awalnya hanya senang-senang, tetapi ia justru terperosok pada lubang hitam. Sekalinya ia ingin keluar, pasti akan kesusahan.


____________________


Satria telah menyelesaikan perkuliahan jam pertamanya. Ia memilih menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan.


"Ngapain lo?" tanya seseorang yang ada di belakangnya.


"Tidur," jawab Satria saat melihat siapa orang tersebut.


"Baru tahu gue perpustakaan buat tidur," balas orang itu.


Satria menghentikan kegiatannya saat orang tersebut masih mengeluarkan suaranya.


"Berisik! Kapan lo keluar dari rumah sakit?" tanya Satria yang berjalan mencari tempat tenang.


"Kemarin! Cieee...."

__ADS_1


"Apaan?" sewot Satria.


"Cieeeee...."


"Apaan sih, Bel." ucap Satria yang mulai geram.


"Gue belum percaya sama apa yang diceritakan Nindia," ucap Bella.


"Kalau gak percaya gak usah dipusingin. Gue mau baca, jangan ganggu!"


"Idihhh, siapa juga yang ganggu lo. Gue juga cari buku kali." Bella bangkit Meninggalkan Satria.


"Rese tu bocah. Hobinya ganggu orang aja, dari gue pacaran sama Nindia sikapnya gitu." gumam Satria dalam hati.


"Sat,"


"Hem,"


"Satria," panggil Bella.


"Hem,"


Plakk


Bella memukul lengan Satria karena tidak menjawab panggilannya.


"Sakit bego," maki Satria dengan suara keras.


Semua mahasiswa yang ada di dalam perpustakaan langsung memberikan tatapan tajam kepada keduanya.


"Kalau kalian mau berkelahi jangan di sini! Ini perpustakaan, bukan arena tinju" tegur penjaga perpustakaan.


Bella dan Satria hanya tersenyum kikuk saat mendapatkan teguran dari penjaga perpustakaan. Apalagi tatapan tajam dari mahasiswa lain membuat mereka merinding.


Satria memilih keluar dari perpustakaan daripada di amuk masa. Ia memilih berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.


"Lo bukannya masih ada kelas," ucap Bella yang ternyata masih mengikuti Satria dari belakang.


"Bukan urusan lo!"


"Sat, gue nebeng ke RC GROUP LTD, dong" bujuk Bella.


"Ogah.."


"Lo tega sama orang yang habis sakit" bujuk Bella.


"Banyak ojol, ngapain lo nebeng gue"


"Cari gratisan lah," ucap Bella acuh.


"Tega lo sama sahabat mantan lo" Bella memasang ekspresi sedih.


"Dihhh... jijik banget gue lihat ekspresi lo," ucap Satria memasang wajah mau muntah.


"Ya udah kalau gak mau," Bella melangkah meninggalkan mobil Satria.


Satria yang melihat Bella pergi menjadi iba. Tak ada salahnya menolong teman yang lagi membutuhkan. Meskipun pernah menjadi penghalang hubungannya.


"Masuk!"


Bella senyum kemenangan. Ini hanya trik Bella agar Satria mau mengantarnya.


Bella menahan senyuman, "Katanya gak boleh,"


"Mau masuk apa mau gue tinggal!" gertak Satria.


Karena tidak ingin melewatkan tumpangan gratis, akhirnya Bella masuk ke mobil Satria dan duduk di belakang.


"Duduk depan! gue bukan supir lo."


"tsk.. ribet banget idup lo,"


Satria menatap tajam karena perkataan Bella.


"Iya... iya gue pindah sekarang!"


Mobil Satria melaju meninggalkan area kampus. Ia meminta Bella untuk menunjukkan jalan menuju RC GROUP, LTD.


"Ngapain lo ke perusahaan itu?" tanya Satria.


"Kepo amat lu..."


"Ohhh.. Jangan-jangan lo mau ketemu sama om om ya"


"Jaga mulut lo!" tegas Bella.


"Idihhh. Dibayar berapa lo?" tanya Satria.


"Berhenti," pinta Bella.


Satria menoleh ke arah Bella. Ia hanya niat bercanda, tapi terkejut melihat respon Bella.

__ADS_1


"GUE BILANG B-E-R-H-E-N-T-I" teriak Bella.


Satria menepikan mobilnya.


"Bel, gue cuma bercanda" ucap Satria saat melihat Bella melepas seatbelt.


"Bercanda lo gak lucu."


brakk


Satria turun dari mobil dan mengejar Bella yang hendak naik Taxi.


Satria memegang tangan Bella, "Hei.. gue cuma bercanda"


"Lepas" pinta Bella


"Bel,"


"Lepas!" pinta Bella penuh penekanan.


Satria melepaskan pegangan tangannya pada tangan Bella. Ia hanya bisa melihat taxi yang dinaiki Bella pergi menjauh.


____________________


Bella sampai di perusahaan saat jam makan siang. Ia sekarang tidak menjadi sekertaris Ilham. Tetapi hanya menjadi asisten pribadi Ilham. Tugas sekretaris sudah dialihkan kepada Yuda, orang dari Ariatarco Corp.


Tapi Yuda hanya membantu saat Bella belum sampai di perusahaan. Setelah Bella datang, semua tugas di alihkan kepada Bella lagi.


"Apa jadwal saya hari ini?" tanya Ilham yang tahu-tahu sudah berada di depan mejanya.


"Pertemuan dengan Ibu Stevi dari TNR Corp." jawab Bella sambil melihat ipad yang ia pegang.


Bella selalu memperhatikan dan mengecek jadwal Ilham saat di kampus. Jadi ia sudah bisa menjawab saat Ilham bertanya.


"Di mana?"


"Reatoran Bugenville,"


"Kamu siap-siap ikut saya!" perintah Ilham.


Bella merapikan kembali tasnya. Memasukkan ipad dan beberapa berkas yang diperlukan.


Setelah merapikan tasnya, Bella melihat Ilham keluar dari ruangannya.


"Pak Ilham. Maaf sebelumnya" ucap Bella yang menghampiri Ilham untuk membenarkan letak daai yang berantakan.


Ilham rerkejut dengan apa yang dilakukan Bella. Jarak mereka sangat dekat. Bila tidak sedang di kabtor, mungkin Ilham akan khilaf dan langasung menerkam Bella.


"Terlalu pendek?" tanya Bella yang audah menyelesaikan tugasnya.


Ilham menunduk untuk melihat hasil kerja Bella.


"Cukup. Kerja bagus" Ilham menepuk kepala Bella dengan lembut. "Jam berapa pertemuannya?"


Bella sempat mematung beberapa detik karena perlakuan Ilham yang entah mengapa membuat jantunga tidak normal, "Dua puluh menit lagi,"


Setelah mengatakan itu, Ilham dan Bella langsung pergi ke basemant perusahaan. Ilham meminta tolong Yuda untuk mengantar mereka.


Selama perjalanan tidak ada satu orangpun yang membuka perusahaan. Bella sibuk dengan pemandangan di luar jendela.


"Siapa laki-laki yang bersama kamu tadi. Kenapa kamu kelihatan dekat dengannya." Ilham menggelengkan kepalanya. "Kenapa juga gue pikirin. Itu bukan urusan gue juga." ucap Ilham dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa  Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow

__ADS_1


- Bintang


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.


__ADS_2