HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
EPILOG


__ADS_3

HAI CHINGU.... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


 


Tidak terasa sudah dua bulan kejadian naas itu terjadi. Reyhan sendiri sudah mulai menata kehidupannya sedikit demi sedikit bersama orang terkasih. Meskipun masih sangat sulit untuk melupakan, tetapi Reyhan tetap berusaha meyakinkan diri bahwa setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Lagi pula Tuhan adil dalam menentukan balasan bagi setiap umatnya.


Di sudut ruangan, seorang perempuan tengah berdiri di anak tangga terakhir sambil tersenyum manis saat melihat Ayah dan anak yang tengah asik bermain. Dirinya sangat bersyukur karena telah diizinkan hadir di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan cinta. Berada di posisi ini tak pernah terbayangkan dalam benaknya, apalagi setelah mendengar cerita bagaimana terpuruknya keluarga ini.


"cup cup, anak Ayah haus ya?" tanya Reyhan pada anak perempuannya yang sedang menangis.


Reyhan menoleh ke belakang dan mendapati bidadarinya tengah tersenyum, "Nafeeza mau minum cucu, Buna."


Perempuan yang dipanggil Buna langsung tersenyum melihat sang ayah yang menirukan suara anak kecil, "Nafeeza mau cucu ya? Cini-cini, uluh-uluh anaknya Buna udah haus ya, Nak?" tanyanya sambil mengambil alih Nafeeza dari gendongan sang ayah.


Reyhan menatap penuh cinta perempuan yang duduk disampingnya. Entah berapa banyak rasa syukur yang ia ucapkan karena diberikan pendamping yang kuat seperti perempuan yang ada di sampingnya ini. Tuhan sungguh masih memberikan kesempatan untuk bersama.


Flashback On


Reyhan menunduk, meratapi nasibnya yang begitu miris. Masa depan berada di tangannya. Hanya ia yang bisa menentukan kebahagian yang akan Ia rasakan. Reyhan tersenyum getir, Ia merasa takdir mempermainkannya dengan memberikan cobaan yang begitu berat.


"Permisi, waktu yang diberikan oleh dokter sudah habis," ucap Suster yang berdiri di ambang pintu. Sebenarnya ia tidak tega mengatakan ini, tapi keputusan Reyhan sudah ditunggu oleh dokter.


"Reyhan enggak bisa Mih," Maya langsung memeluk Reyhan yang rapuh. Maya mengeratkan pelukannya, sesekali mengusap dan mengecup puncak kepala anaknya.


"Mohon maaf, kita tidak bisa membuang waktu."


"Apa yang harus Reyhan lakukan Mih?"


"Semuanya percaya sama kamu. Semua yakin yang kamu pilih adalah yang terbaik,"


Reyhan mengambil nafas dalam-dalam sambil mengepalkan tangannya, "Selamatkan anak saya," ucap Reyhan dengan air mata yang mengalir deras. Seperti permintaan istrinya yang menginginkan keselamatan anak mereka. Biarlah dirinya mati secara perlahan asalkan permintaan Nindia bisa ia kabulkan.


Semua orang memejamkan mata mendengar keputusan Reyhan. Berbeda dengan Helena yang sudah kehilangan kesadaran. Buah hantinya sebentar lagi akan bertemu dengan ayahnya. Haruskah ia bahagia karena al suaminya tidak kesepian lagi? ataukah harus menangisi takdir?


Sakit, hati Reyhan sangat sakit saat mengucapkan keputusannya. Namun, apa dayanya bila sang istri sendiri yang meminta. Meskipun sulit, Reyhan  mengabulkan permintaan terakhir Nindia. Setelah Reyhan mengambil keputusan, operasi langsung dilaksanakan. Meskipun kondisinya belum pulih, Reyhan tetap memaksa untuk menemani istrinya yang sedang berjuang. Reyhan juga masih meminta kepada dokter agar berusaha menyelamatkan keduanya.


Setelah beradu argumen dengan dokter dan disetujui oleh pimpinan Rumah Sakit, Reyhan dan Ilham diizinkan untuk menemui Nindia sebelum operasi dilakukan. Saat masuk, hati Reyhan teriris saat melihat tubuh Nindia tertempel berbagai macam alat penopang kehidupannya.


"Assalamualaikum sayangnya, Mas." ucap Reyhan sambil menggengam tangan Nindia. "Maafkan Mas kalau baru bisa menjenguk kamu. Kamu lihat sendiri, kaki Mas luka dan sekarang duduk di kursi roda, tapi lukanya Mas tidak se sakit lukanya kamu. Kalau boleh, Mas minta kamu untuk bertahan," air mata Reyhan luluh sudah. Mana tahan dirinya melihat Nindia terbaring lemah di brankar Rumah Sakit.


Reyhan mengusap surai Nindia dan merasakan luka yang ada di pipi Nindia, "Pasti ini sakit. Sekali lagi maafkan Mas. Kalau saja Mas malam itu tidak mengajak kamu pulang dan mengiakan ajakan Mami untuk menginap, pasti sekarang kamu baik-baik saja."


"Jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Semua ini sudah ada yang ngatur. Pulang atau enggaknya Lo malam itu, semua pasti tetap terjadi entah jalannya sama ataupun beda," ucap Ilham yang sudah lelah mendengar Reyhan selalu menyalahkan dirinya sendiri.


"Mungkin sekarang kita masih bisa menikmati minggu-minggu terakhir sebelum kamu melahirkan, mungkin Mas masih bisa melihat kemanjaan kamu, mungkin kita masih bisa nonton oppa-oppa idola kamu," Reyhan terkekeh meskipun air matanya mengalir deras. "Dan semua itu hanya akan menjadi mungkin. Bisakah Mas meminta kamu kembali dalam dekapan Mas. Mas rindu memeluk kamu, Mas rindu wangi rambut kamu, dan Mas rindu kehangatan saat bersama kamu."


Reyhan menunduk sambil mencium tangan Nindia, "Jika ka- kamu memang sudah lelah menahan sakit, Mas rela melepasmu," hancur hati Reyhan saat mengatakan itu. Bohong jika ia bisa melepaskan belahan jiwanya. "Tapi kalau Tuhan masih mengizinkan, Mas akan meminta kamu untuk berjuang dan bertahan agar bisa membesarkan anak kita bersama-sama dan menua bersama. Tolong, Mas minta kamu bertahan Sayang. Mungkin kamu menganggap Mas egois karena meminta kamu untuk bertahan, tapi itu benar-benar keinginan Mas saat ini. Kalau perlu sampai nanti keinginan Mas adalah tetap bersama kamu,"


"Maaf, waktunya sudah habis," ucap Suster yang sejak tadi berada dalam ruangan, tetapi tetap memberikan privasi.


"Saya minta sebentar lagi, Sus." ucap Ilham dengan mata sembab.


Reyhan berusaha bangkit dari kursi roda dengan brankar Nindia sebagai perantaranya. Meskipun berkali-kali jatu, Reyhan tetap berusaha agar bisa berdiri. Bahkan ia dengan tegas meolak bantuan dari Ilham.


Reyhan mendekat ke telinga kanan Nindia, "Aku mengabulkan keinginanmu cintaku, hidupku, separuh jiwaku, istriku, Anindia Putri Aristarco. Aku memilih anak kita seperti keinginanmu. Good luck, honey. Me and good prayers always by your side. I love you, will always love you until death do us part and if God allows, I will love you until we reunite in the next life." Reyhan mengecup kening Nindia lama. Seakan memberi kekuatan Nindia untuk berjuang demi dirinya, anak mereka dan keluarga lainnya. Saat kecupan itu pula air mata Nindia menetes.


Reyhan tersenyum melihat respon Nindia, "Jangan nangis, Sayang. Mas menunggumu kembali,"


Tidak ada satupun orang yang tenang di depan ruang UGD. Helena dan Maya sudah tertunduk lemas, Bella menangis dalam rengkuhan Bi Ijah, sedangkan Ilham sejak tadi berusaha menenangakan Reyhan yang terlihat sangat khawatir, apalagi saat melihat suster keluar dengan raut wajah khawatir. Ketakutan semakin besar dalam benak Reyhan.


"Pa, gimana sama pelakunya?" tanya Reyhan sambil tangan tetap menggulir butiran tasbih.


Reno menghembuskan nafas, "Pelakunya sama dengan yang mencelakakan Nindia satu bulan yang yang lalu,"


"Luvita?" tebak Reyhan dengan senyum sinis yang terukir.


Reyhan mendesah kasar dan sekali lagi dirinya kecolongan. Padahal ia sudah menyuruh anak buahnya untuk memantau pergerakan Luvita, tapi sayangnya ular itu berhasil kabur dan kembali membahayakan Nindia.

__ADS_1


Setelah empat jam menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi masih dengan mengenakan baju operasi. Peluh terlihat menetes dari dahi menunjukkan berapa keras usaha mereka di dalam. Perlahan semua perlengkapan operasi dilepas, mulai dari sarung tangan, masker hingga penutup kepala.


"Bagaimana dok?" tanya Reyhan tak sabaran.


Dokter menghela nafas kemudian tersenyum, "Selamat atas kelahiran putri anda. Dia sangat cantik seperti ibunya, tidak ada yang kurang pada bagian tubuh dan tidak ditemukan kelainan pada organ dalam."


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di sana.


"Keadaan istri saya bagaimana?"


Dokter tersenyum tulus, "Alhamdulillah, Ny. Nindia berhasil keluar dari kondisi kritis dan bisa dijenguk setelah dipindahkan ke ruang perawatan."


"Alhamdulillah, terus bagaimana dengan kondisi pasien yang satunya?"


Dokter menggeleng pelan, "Maaf, pasien atas nama Luvita tidak berhasil kami selamatkan. Silakan pihak keluarga mengurus keperluan jenazah,"


"Terima kasih, dok"


____________________


Sebagai dosen, Reyhan tetap mengikuti prosesi pemakaman Luvita meskipun dengan hati yang masih dongkol. Apalagi saat mengingat nyawa Nindia hampir tidak selamat. Pihak keluarga juga sudah meminta maaf atas kelakuan putri mereka, terlebih lagi Tuan Herlambang.


Pemakaman Luvita cukup ramai, walaupin perilaku Luvita tidak bisa dikatakan baik. Beberapa mahasiswa yang pernah dibully oleh Luvita dengan lapang dada memaafkan. Sahabat Luvita pun datang dan berada disisi Mutiara yang sangat terpukul melihat anak yang disayang pergi meninggalkannya.


Bella memandang ukiran nama batu nisan di depannya, "Gue disini mewakili sahabat Gue, Nindia. Dia sudah memaafkan Lo,"


"Semoga lo tenang di sana," ucap Gita.


"Aamiin," jawab Bella danTia, setelah itu mereka melangkahkan kaki meninggalkan area pemakaman.


____________________


Sudah dua minggu berlalu, Nindia belum juga bangun dari tidurnya. Dokter mengatakan kalau kondisi Nindia sudah jauh lebih baik dan hanya menunggu sadar saja. Reyhan semakin kasihan saat melihat anaknya dua minggu ini meminum susu botol. Reyhan sangat beruntung karena memiliki Maya dan Helena yang dengan suka rela membantunya merawat Nafeeza. Kalau tidak ada keduanya, sudah dipastikan Reyhan akan sangat kerepotan.


Selama dua minggu pula Reyhan selalu menemani Nindia. Bahkan selama Reyhan fokus pada Nindia, perusahan sementara diambil alih oleh Reno. Percuma saja raganya di kantor, tetapi fikiran dan fokusnya berada di rumah sakit bersama Nindia.


"Kamu masih mau tidur? Bangun dong, sayang. Kasihan Nafeeza kalau terus-terusan minum susu botol," ucap Reyhan sambil menyeka badan Nindia.


Tanpa Reyhan sadari, Nindia merespon semua perkataan Reyhan dengan menggerakkan jarinya. Terlebih lagi saat Reyhan membicarakan anak mereka.


"Rey," panggil Nindia dengan lemah. Nindia akhirnya sadar karena dalam tidurnya Ia terus mendengar Reyhan memanggil dirinya untuk kembali.


"Sayang," Reyhan mengusap rambut Nindia. "Kamu udah sadar? Jangan banyak gerak dulu, tunggu dokter," Reyhan tak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat melihat Nindia sadar.


Setelah sepuluh menit, dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Nindia. Terlebih lagi dokter mengatakan tidak ada luka dalam pada kepala. Nindia hanya perlu melatih ototnya yang kaku karena hampir tiga minggu tidak digerakkan.


"Anak aku?" tanya Nindia sambil meraba perutnya. "Anak aku mana? Dia baik-baik saja kan?" tanya Nindia beruntun.


Reyhan meraih tangan Nindia yang hendak melepas selang infus, "Hey, tenang dulu!"


"Gimana aku bisa tenang kalau aku enggak tahu keadaan anak aku?" tanya Nindia sedikit teriak.


"Ini ada apa sih, kok rame-rame?" tanya Helena yang baru datang. "Nindia, kamu sudah sadar sayang?" Helena langsung memeluk Nindia. Ia sangat bersyukur karena Tuhan masih mengizinkan dirinya berkumpul bersama Nindia.


"Anak aku mana, Bun?" tanya Nindia.


"Tenang sayang,"


"Anin belum bisa tenang kalau kalian belum kasih tahu di mana anak Anin. Anak Anin selamat kan?" tanya Nindia yang masih terlihat syok saat mendapati perutnya sudah datar.


"Reyhan, anak kamu nangis terus." ucap Maya yang baru datang bersama Nafeeza digendongannya. Ia belum menyadari kalau Nindia sudah sadar.


Nindia melepaskan pelukan Helena. Pandangannya beralih pada bayi yang sekarang berada dalam gendongan Reyhan. Ia tak bisa menutupi air matanya saat melihat anaknya selamat karena dalam tidurnya, Nindia melihat anaknya sudah bahagia bersama dengan alm. ayahnya. Beruntung itu hanya mimpi, jika itu nyata, sudah dipastikan Nindia akan gila.


"Mas,"


Reyhan yang sadar akan permintaan Nindia langsung mendekat dan membiarkan Nindia menggendong anak mereka untuk pertama kalinya. Bahagia dan bersykur, itulah yang Reyhan lakukan semenjak Nindia sadar. Kebahagiaannnya semakin meningkat saat melihat Nindia menggendong Nafeeza.


"Subhanallah, ini beneran anak aku, Bun?


Helena mengelus surai milik Nindia, "Iya, Sayang. Ini anak kamu, anak kalian."


"Siapa namanya, cantik?" tanya Nindia tanpa mengalihkan pendangan dari anaknya.

__ADS_1


"Nafeezalwa Hibatillah Aristarco, Buna. Artinya anak perempuan anugrah dari Tuhan yang diharapkan menjadi pelipur lara untuk keluarga Aristarco," jawab Reyhan sambil mengelus puncak kepala Nindia.


"Bagus, aku suka. Cantik banget sih kamu. Buna?"


"Iya. Nafeeza udah aku biasakan panggil Ayah dan aku mau kamu dipanggil Buna,"


Nindia mengangguk, "Hay sayang. Ini Buna, Nak. Maaf kalau kamu harus nunggu lama," ucap Nindia sambil mencium pipi gembil Nafeeza.


Mengetahui Nindia sudah sadar, sahabat dan orang rumah langsung berbondong-bondong ingin mengunjungi. Reyhan harus memberikan pengertian kepada semuanya dengan mengatakan Nindia masih membutuhkan waktu istirahat.


"Istirahat sayang," ucap Reyhan sambil memeluk Nindia dari belakang.


"Bentar dulu, Mas. Aku masih mau lihat Nafeeza," ucap Nindia yang tak mau lepas dari Nafeeza. Ia juga telah memberikan asi kepada Nafeeza untuk pertama kalinya. "Aku masih enggak nyangka aja kalau aku masih diizinkan melihat kamu dan anak kita lagi setelah kejadian naas itu,"


Reyhan mempererat pelukannya, "Kamu tahu, waktu dokter mengatakan aku harus memilih salah satu di antara kalian, rasanya aku mau mati aja. Aku sangat bersyukur karena Tuhan masih mengizinkan kamu untuk kembali. Terimakasih istriku dan Bunanya Nafeeza"


"Sama-sama Mas,"


Flashback Off


"Mas,"


"Reyhan," panggil Nindia sambil melambai-lambaikan tangannya di depan muka Reyhan.


"Hemm," Reyhan tersentak dari lamunannya.


Nindia menaikkan satu alisnya melihat suaminya seperti orang linglung, "Kamu kenapa?"


"Mengenang masalalu. Mengenang saat aku hampir saja kehilangan kamu untuk selamanya," jawab Reyhan sambil memainkan helaian suarai coklat milik Nindia.


Nindia menghembuskan nafas lelah. Ia sangat mengetahui kalau Reyhan masih memiliki rasa takut dan sulit melupakan kejadian itu. Nindia takut jika ketakutan itu berlebihan dan menimbulkan trauma, tapi Nindia yakin Reyhan orang pemaaf dan secepat mungkin akan melupakannya.


"Mas, semuanya udah berlalu. Aku baik-baik saja karena itu aku masih ada di antara kalian.


Reyhan mengangguk. Ia membenarkan apa yang dikatakan Nindia. Seharusnya dirinya harus lebih banyak bersyukur karena masih memberikan kesempatan untuk bersama Nindia. Lebih baik mengambil hikmah dari semua yang terjadi. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang berat jika umatnya tidak bisa melewatinya. Tuhan pasti tahu kapan waktunya memberikan kebehagiaan dan penderitaan. Hidup ini seimbang, jangan terlalu terbuai oleh kebahagiaan atas keindahan dan melupakan penderitaan perjuangan dibalik proses keindahan. Jangan terlalu banyak mengeluh karena iri pada orang lain dan syukuri atas semua yang diberikan oleh Tuhan karena Tuhan Maha Adil.


 


 


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG

__ADS_1


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari pinterest dan google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan dan kesamaan baik nama tempat, tokoh maupun role model. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊


__ADS_2