
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Nindia telah menyelesaikan pelajaran terakhirnya. Jujur saja ia sangat bosan saat Prof. Rey menjelaskan materi. Nindia lebih suka praktek daripada teori. Maka dari itu nilai Nindia selalu bagus bila ada praktek secara langsung.
"Nin," panggil seseorang saat Nindia baru saja keluar dari pintu.
"Satria, ngapain lo disini?" tanya Nindia. Ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat keberadan Prof. Rey.
"Aku mau ngomong sama kamu!" Satria mulai tidak sabaran.
"Gue mau pulang. Lo gak lihat? bentar lagi mau hujan." sungguh, Nindia mulai jengah dengan Satria. Rasa yang dulu ada, entah kemana perginya sekarang.
"Jangan dipaksa kalau enggak mau," kata Bella yang datang dari dalam.
"Bentar doang," bujuk Satria.
"Gue tunggu di sini, jangan lama-lama lo! Dia mau pergi sama kita." timpal Gita.
Satria langsung menarik Nindia untuk menjauhi sahabatnya.
"Mau kemana mereka?" tanya Reyhan yang sukses membuat Bella, Gita, dan Tia terkejut.
__ADS_1
"Mau bicara pak," kata Tia.
"Sebentar doang pak," tambah Gita.
"Tenang aja, Pak! Hati Nindia sudah terkunci buat bapak seorang," canda Bella.
"Kalian?" tanya Reyhan yang merasa heran karena mereka bertiga tahu status Nindia.
"Kami sudah tahu pak, Jadi bapak bisa mempercayakan kita untuk menjaga Nindia dari kuman-kuman berbahaya," jelas Bella. Terlihat jelas raut kesungguhan di wajahnya.
"Terimakasih," setelah mengucapkan kata itu, Reyhan pergi menuju ruangannya. Ia tak mau lama-lama disana dan memunculkan fikiran negatif.
Satria membawa Nindia ditaman depan kantin, meskipun cukup ramai setidaknya tidak ada yang mengganggunya. Jauh dari sahabat Nindia yang super kepo. Jujur saja, Satria sangat tidak menyukai ketiga sahabat Nindia. Terlebih lagi Bella. Bahkan sejak awal hubungannya dengan Nindia, ketiga sahabat itu seakan mendorongnya untuk pergi.
"Ada apa? cepetan kalau mau ngomong! keburu hujan" tegas Nindia yang tetap menatap arah depan.
"Kenapa apanya?"
"Sikap kamu. Sikap kamu ke aku beda, bahkan jauh beda saat awal kita pacaran." jelas Satria.
"....."
"Aku ada salah sama kamu? kalau ada kamu bilang! jangan diam aja. Aku gak tahu letak salah aku dimana."
Nindia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Jujur aja ya Sat, gue udah gak ada feeling sama lo waktu lo ninggalin gue tanpa kabar. Lo seakan lari begitu aja. Mana ada perempuan yang mau ditinggal tanpa kabar. Yang udah nikah aja memilih pergi apalagi kita yang hanya pacaran,"
"Maksud kamu?" Satria memanas mendengar penjelasan Nindia.
__ADS_1
"Coba tanya pada diri lo sendiri. Gue sebagai wanita gak akan bertahan sama orang yang ninggalin gue tanpa kabar."
"Terus kenapa kamu mau aku deketin waktu itu?" Satria ingat saat mendapatkan sambutan hangat dari Nindia saat kepulangannya.
"Gue hanya memastikan. Gue memastikan apakah lo masih ada di sini atau enggak," menunjuk dadanya. "Ternyata gue dapat jawabannya. Saat lo kembali, rasa itu mungkin udah tergantikan dengan ungkapan kekecewaan gue?"
"Jadi maksud kamu?" Satria mulai mengerti arah pembicaraan Nindia.
"Karena gue rasa kita udah gak cocok, lebih baik kita sudahi saja sampai disini,"
"Maksud kamu, kamu minta putus?"
"Ya," tegas Nindia. Ia mulai berdiri dan hendak meninggalkan Satria.
"Enggak! Gue nggak mau putus sama lo, Dua tahun Nin. Dua tahun kita pacaran. Apa sebegitu mudahnya lo lupain gue? sebegitu mudahnya cinta lo berpaling?" Satria meluapkan emosinya dengan menggenggam erat pergelangan tangan.
"Tanya sama diri lo sendiri? Apa lo pernah mikirin perasaan gue? Apa lo tahu gue tersiksa sama sikap pemaksa lo."
"Gue bisa berubah Nin. Kalau itu alasan kamu. Tapi tolong, jangan minta putus," Satria semakin mengeratkan genggamannya.
"Bukan hanya itu alasan gue, Sat. Hati gue bukan lagi milik lo. Jadi tolong lepasin gue. Pasti ada yang lebih baik dari gue. Yang bisa mengerti apa kemauan lo." Nindia membingkai wajah Satria. Meskipun hatinya sudah sepenuhnya untuk Reyhan, namun saat ini yang ada di depannya adalah laki-laki yang pernah mengisi hatinya selama dua tahun.
"Gue gak bisa, Nind." tanpa diduga Satria memeluk Nindia.
Mungkin ini terakhir kalinya Nindia memeluk Satria. Ia jadikan pelukan ini sebagai perpisahan.
"Lo bisa," Nindi menepuk punggung Satria, mencoba memberinya kekuatan. Setelahnya ia pergi.
__ADS_1
"Selamat tinggal,"