
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Pagi pukul 09.00 WITA, Nindia dan Reyhan sudah sampai di Bandara Ngurah Rai Bali. Hari ini, cuaca Bali cukup panas. Reyhan dan Nindia langsung menuju villa milik Reyhan yang ada di Bali. Reyhan sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menjemput.
"Tuan," sapa seseorang yang sudah ada di depan mereka.
Reyhan melepas kaca mata hitamnya kemudian menaruhnya di kerah kaosnya. Ia melihat orang kepercayaannya datang dengan pakaian khas Bali.
"Pagi Darto. Semuanya sudah siap? Saya tidak mau megecewakan istri saya." sapa Reyhan
"Sudah Tuan. Semuanya sudah siap." jawab Darto sopan.
"Siapa?" bisik Nindia.
"Darto, dia istri saya. Sayang dia Darto yang akan orang kepercayaan aku." ucap Reyhan memperkenalkan Nindia dan Darto.
Nindia menjabat tangan Darto dan saling bekenalan. Setelah sisi perkenalan selesai, Darto memasukkan koper milik Nindia dan Reyhan ke bagasi sedangkan Reyhan dan Nindia sudah memasuki mobil terlebih dahulu.
"Sudah semua?" tanya Reyhan dan dijawab Darto dengan anggukan.
"Ini langsung ke hotel atau mau langsung jalan-jalan?" tanya Darto.
Reyhan melirik Nindia sebentar dan mendapati istrinya sedang menguap, "Langsung ke villa saja. Istri saya perlu istirahat dulu."
Darto menjalankan mobil meninggalkan area bandara dan membawa majikannya pergi menuju villa. Perjalanan memerlukan waktu 30 menit.
"Kamu ngantuk?" tanya Reyhan saat melihat Nindia menyender dan mencari posisi nyaman pada dada bidang milik suaminya.
"Iya. Boleh aku tidur?" tanya Nindia polos,
Reyhan terkekeh kemudian menggesekkan hidungnya pada hidung Nindia, "Kok pakek tanya sih? Ya boleh dong sayang. Tidur aja kalau kamu ngantuk, nanti aku bangunkan."
Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Darto sibuk di balik kemudi, Reyhan sibuk dengan ponselnya, sedangkan Nindia sudah berkelana di dunia mimpi. Meskipun pandangannya tertuju pada ponselnya, tapi tangannya masih senantiasa mengelus surai panjang Nindia dan bibirnya tak pernah absen memberikan kecupan pada Nindia.
____________________
"Sayang, bangun."
Nindia menggeliatkan badannya saat merasakan tidurnya terganggu. Sebenarnya Reyhan juga tidak tega untuk membangunkan Nindia, tapi harus dilakukan karena Reyhan akan membantu Darto membawa koper mereka. Kopernya memang hanya tiga, tapi kasihan kalau Darto harus membawanya semua.
Villa milik Reyhan ini diurus oleh Darto dan Ni Made Suasti orang Bali asli, sedangkan Darto adalah orang jawa yang merantau ke Bali.
"Udah sampai?" tanya Nindia saat sudah sepenuhnya bangun dari tidurnya.
Reyhan mengangguk dan mengulurkan tangannya, "Ayo turun."
Nindia dan Reyhan mulai berjalan memasuki halaman Villa. Saat tiba di depan villa, Nindia begitu terkesan. Bangunan terkesan tradisonal, tapi mewah. Terdapat gazebo kecil di depan kolam renang.
(image from google)
"Wawww..." ucap Nindia yang kagum dengan desain villanya. "Kenapa kamu gak pernah bilang kalau punya villa di Bali?"
Reyhan tersenyum sambil mengelus surai panjang milik Nindia, "Tapi sekarang kamu tahu kan? Enggak mau masuk dulu?"
Nindia dan Reyhan berjalan memasuki villa. Saat sampai pintu utama, mereka disambut oleh dua orang. Nindia membalasnya dengan senyuman sedangkan Reyhan hanya mengangguk. Memang dasarnya dingin tetap aja dingin.
Nindia semakin dibuat kagum setelah memasuki villa. Sangat luas, itulah kata yang pertama kali terucap saat memasuki villa milik suaminya tersebut. Nindia langsung menolak saat diajak Reyhan beristirahat dengan alasan ingin melihat seluruh sudut yang ada di villa. Nindia berkeliling ditemani oleh Ni Made Suasti. Nindia baru mengetahui kalau villa ini termasuk baru, Reyhan baru membelinya lima tahun yang lalu.
"Terimakasih, Mbok . Kalau begitu saya ke kamar dulu." (Maaf jika panggilannya salah. Jika ada yang tahu mohon dibetulkan.)
__ADS_1
Made Suasti menganggukkan kepalanya, "Silakan Nyonya, kalau begitu saya permisi masak terlebih dahulu."
____________________
Nindia dan Reyhan masih asik bergelung dalam selimut. Saling memeluk, seakan tak rela melepaskan kehangatan yang diberikan pasangan masing-masing. Memang setelah lelah keliling, Nindia masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan badannya. Niat awalnya hanya tiduran, tapi karena diberikan pelukan hangat oleh Reyhan akhirnya Nindia kembali berlabuh dalam dunia mimpi.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 11.00, Nindia dan Reyhan sudah terbangun dari tidurnya. Mereka sudah siap untuk menjalankan schedule yang mereka buat saat di Jakarta karena Reyhan dan Nindia hanya 4 hari 3 malam di Bali. Pertama, mereka akan mengunjungi
Selesai mandi dan bersiap, mereka turun untuk makan siang terlebih dahulu. Saat sampai di meja makan, mereka melihat Made Suasti sedang menyiapkan makanan.
"Siang Tuan, Nyonya," sapanya sopan.
"Siang Mbok. Nanti malam jangan masak ya, Saya sama Mas Reyhan mau makan diluar."
Made Suasti mengangguk lalu pergi meninggalkan meja makan. Sekarang hanya ada Reyhan dan Nindia yang meikmati makanan dalam diam. Sesekali Reyhan bertanya kepada Nindia begitupun sebaliknya.
Setelah selesai, Reyhan dan Nindia langsung masuk ke mobil untuk mengunjungi destinasi wisata pertama mereka.
"Mau kemana Tuan?" tanya Darto.
"Ke Pura Patitengget dulu." jawab Reyhan.
Hanya butuh 6 menit untuk menuju Pura Patitenget. Pura Patitenget berlokasi di desa kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Lokasinya berada di tepi pantai Petitengget atau pantai Petitengan Bali yang suasana pantainya sepi..
Pura Patitenget memiliki daya tarik pada pesona keindahan alam pantainya dan Sejarah Pantai Petitenget nya. Konon tempat ini dulunya sangat angker, dimana penduduk sekitarnya sering diganggu oleh kehadiran mahluk halus yang berwujud Bhuta Ijo. Kawasan ini berubah aman setelah Dang Hyang Nirartha ( Penyebar ajaran Hindu di Bali ) menaklukan Bhuta Ijo dan membuat bangunan suci disana. Bangunan suci tersebut adalah berupa sebuah tempat pemujaan, yang kemudian diberilah nama Petitengget yang berarti Peti Angker.
Yang menarik dari Pura Petitenget adalah arsitektur puranya sangat unikm dan pura ini sering digunakan warga sekitar sebagai tempat Upacara Piodalan. Pada saat hari Melasti, kawasan pantai petitengget ini adalah merupakan pusat melis bagi masyarakat desa adat Kerobokan, Padang sambian dan Dalung Bali. Waktu operasional tempat wisata di seminyak bali ini adalah setiap hari buka 24 jam, dan harga tiket masuk pura petitenget adalah gratis.
Setelah kurang lebih satu jam di Pura Patitenget, Reyhan dan Nindia beralih ke Dream Museum Zone Bali. Dari Pura ke DMZ hanya membutuhkan waktu sekitar sebelas menit.
Trick Art 3D Gallery Dream Museum Zone (DMZ) ini berlokasi di jalan Nakula No 33X, Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361. Daya tarik objek wisata ini menyajikan trick lukisan tiga dimensi yang sangat unik, dimana akan membawa alam imajinasi setiap pengunjungnya ke ruangan atau dunia lain. Objek wisata ini mengingatkan kang dian akan sebuah tempat wisata di Bandung yang sangat terkenal, yaitu Museum 3D, Amazing Art World Bandung.
Di dalam museum ini pengunjung akan dibuat takjub dan heran saat menikmati beragam karya seni lukisan 3 dimensi yang luar biasa. Dengan teknik khusus, maka pengunjung akan seperti berilusi menjadi bagian dari karya lukisan tiga dimensi tersebut. Dream Museum Zone (DMZ) ini masuk ke dalam salah satu daftar tempat wisata di Bali yang instagramable.
Waktu operasional sendiri Dream Museum Zone (DMZ) ini adalah setiap hari, mulai buka pukul 09.00 – 22.00 WITA. Harga Tiket Masuk 3D Dream Museum Zone (DMZ) Bali terbaru saat ini adalah setiap pengunjung akan dikenakan tarif Rp.100.000/orangnya.
Nindia mulai mencoba beberapa gaya, mulai dari lucu, marah, tertawa, hingga sedih. Tak lupa Nindia juga mengambil beberapa foto dengan Nindia.
"Sayang, kamu enggak capek? Kalau capek kita istirahat dulu baru lanjut jalan lagi. Jangan lupa kalau kamu lagi hamil." ingat Reyhan karena melihat dari tadi istrinya snagat asik dengan berbagai kegiatan.
Nindia tersenyum kemudian mengelus rahang tegas Reyhan, "Iya sayang, sebentar lagi kita kan ke Pantai Double Six. Jadi, kita istirahatnya disitu aja."
Reyhan mengangguk setuju, "Ya udah kalau gitu. Tapi kamu jangan lari-lari lagi, jangan buat aku khawatir!"
Nindia mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Reyhan hanya bisa memperhatikan dan menjaga Nindia dari belakang. Melihat Nindia behagia membuat Reyhan ikut bahagia, meskipun setelah liburan Reyhan harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
"Darto, setelah ini kita ke Pantai Double Six"
"Baik Tuan." jawab Darto.
Selama perjalanan, mengeluarkan rayuan yang membuat pipi Nindia memerah. Beberapa kali Nindia melemparkan beberapa cubitan di pinggang Reyhan karena tingkah Reyhan yang membuatnya malu. Darto yang melihat majikannya tertawa ikut tersenyum bahagia.
"Wawaww..." ucap Nindia takjub akan keindahan Pantai Double Six.
Reyhan mengecup puncak kepala Nindia, "Kamu suka?"
Nindia mengangguk, "Banget, rasanya aku mau tinggal di Bali aja. Surabaya terkadang panas banget jadi akunya kepanasan deh."
Reyhan tertawa mendengar keluhan istrinya, "Kamu mau pindah? Kalau kamu mau, aku bisa kabuli."
Reyhan menarik Nindia untuk mencari tempat yang kosong. Mereka berencana menikmati sunset hari ini.
"Enggak ah. Sahabat aku ada di Surabaya semua."
Reyhan menarik Nindia untuk duduk di sampingnya dan menarik kepala Nindia agar bersandar pada dadanya, "Kalau seandainya aku ditugaskan di Bali dalam jangka waktu yang lama gimana?"
Nindia terdiam sebentar kemudian mendongak menatap wajah Reyhan, "Aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Karena itu adalah salah satu tugas istri. Lucu kali kalau kamu di Bali aku di Surabaya." ucap Nindia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kan banayk cewek cantik di sini, jadi aku enggak kesepian." jawab Reyhan yang memang sengaja ingin menggoda istrinya.
__ADS_1
Nindia berusaha melepaskan pelukan saat mendengar ucapan Reyhan barusan. namun, usahanya gagal karena Reyhan terus saja menahannya.
"Lepas, ihhhh Cari aja sekarang, enggak usah nunggu besok-besok. Tinggal pilih aja tuh, mau yang bule atau yang lokal."
Reyhan terkekeh melihat kekesalan istrinya, "Bercanda sayang. Mana mungkin aku cari yang lain saat sudah ada bidadari di depan aku."
blushhh
Lagi dan lagi pipi Nindia memerah. Rasa marahnya tak tahu kemana perginya. Nindia mengakui kalau suaminya sangat tahu bagaimana membujuk dirinya agar tidak merajuk lagi dan see berhasil.
Reyhan menoel-noel pipi Nindia, "Merah lagi."
Nindia memalingkan pandangannya, "Au ah."
"Kamu sama dedeknya mau makan apa?" tanya Reyhan sambil mengelus perut Nindia.
"Dedek mau makan sate ayam, Yah. Boleh kan?" tanya Nindia dengan menirukan suara anak kecil.
"Boleh sayangnya Ayah."
Setelah itu Reyhan membawa Nindia dalam rengkuhannya. Ingin sekali waktu berhenti saat ini juga. Reyhan tak mau kehangatannya dan Nindia berakhir hanya di Bali. Maka dari itu, reyhan sellau meinta kepada Tuhan agar bermurah hati menyandingkannya dengan Nindia sampai nafas terakhir. Hanya Nindia yang ia inginkan.
Setelah puas bermesraan di Pantai Double Six, Reyhan dan Nindia memutuskan untuk pulang ke Villa. Sebelum pulang, mereka terlebih dahulu berkunjung ke Tamade Cafeteria untuk makan malam . Kebetulan di Tamade Cafeteria menyediakan menu sate ayam dan letaknya berdekatan dengan villa mereka.
"Sudah kenyang atau mau nambah lagi?" tanya Reyhan.
"Sudah Bee. Dedeknya udah kenyang. huaaa AKu sekarang ngantuk." ucap Nindia dengan suara lucu.
"Ya udah, kita pulang sekarang. Mbak, minta bill nya."
Perjalanan mereka hari ini berakhir di Tamade Cafeteria. Setelah itu mereka kembali ke hotel untuk istirahat sebelum besok melanjutkan jalan-jalan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
- My Destiny
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Terimakasih 😊😊
__ADS_1