HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 83 Cacing Obesitas


__ADS_3

HAI CHINGU.... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Sudah dua hari Nindia dirawat di rumah sakit. Sahabat bahkan keluarga bergantian untuk menjenguk dan menemani Nindia saat Reyhan terpaksa pergi ke kantor. Seperti saat ini, Nindia ditemani Bella karena Reyhan terpaksa pergi ke kantor untuk melakukan meeting penting bersama dengan Ilham. Bella dengan senang hati menemani Nindia meskipun harus izin tidak masuk.


"Bell, lo beneran gak apa-apa? Enggak ada kuis gitu?" tanya Nindia.


Bella menghentikan aktivitasnya mengupas apel, "Enggak Nin. Udah berapa kali sih gue bilang,"


Nindia hanya menyengir mendengar kekesalan sahabatnya, "Ya maap. Kan gue enggak mau lo ketinggalan dan enggak dapat poin"


"Tenang aja, gue hari ini free. Lo mau?" tawar Bella.


"Mau, aaa..." Nindia membuka mulutnya. Manjanya keluar lagi, jadi harus ekstrasabar.


"Mulai deh manjanya. Untung sayang gue," ucap Bella seraya menyuapikan sepotong apel.


"Jijik gue. Jangan sayang sama gue," ucap Nindia seraya bergidik ngeri.


Bella berdecak, "Gue sayang sebagai sahabat, dodol." ucap Bella seraya menoyor pelan kepala Nindia.


plakkk


"Sakit ogeb," ucap Bella seraya mengelus tangannya.


"Ya lo sendiri, siapa suruh noyor gue."


kreekkk


"Nindia...."


Teriak seseorang yang baru saja masuk kamar Nindia. Sudah tidak asing lagi dengan suara seperti toak. Siapa lagi kalau bukan Tia.


"Ini rumah sakit kalau lo lupa," ucap Gita yang berada di belakangnya.


"Siapa juga yang bilang ini hutan rimba," ucap Tia seraya mencebikkan bibirnya.


Ruang rawat Nindia tak pernah sepi karena sahabatnya datang untuk menemani. Jika tidak ada mereka, sudah bisa dipastikan Nindia akan mati kesepian.


Nindia juga ingin cepat pulang. Setiap malam ia melihat Reyhan selalu mengerjakan pekerjaan kantor di rumah sakit.


"Git," panggil Nindia.


"Hmm,"


"Lo udah beneran baikan sama Satria?"


Bella dan Tia langsung melihat Gita setelah mendengar pertanyaan Nindia. Mereka juga sangat penasaran tentang perkembangan hubungan Gita.


Gita mendengus mendengar pertanyaan Nindia. Setiap kali bertemu dengan sahabatnya, Gita selalu menghindari topik tentang hubungannya dengan Satria.


"Udah baik zheyenk-zheyenk kuhhh, ngapain coba pada kepo. Emang Satria ada cerita sama kalian?


Ketiganya menggelengkan kepalanya membuat Gita mendengus.


"Enggak sihhh, cuma ya..."


"Apa?" potong Gita.


"Dengerin dulu! Cuma ya gitu, saat berantem sama lo wajahnya kusut banget. Lo tau baju yang belum disetrika, sama persis," ucap Tia yang langsung mendapatkan lemparan jeruk dari Gita.


"Jelek banget berarti?" Nindia justru ikut-ikutan Tia.


"Idiihhh, pura-pura enggak denger lagi," sindir Tia.


"Bodo,"


Setelah puas menggoda Gita, kini giliran Tia yang menjadi objek bulian karena hanya tinggal dirinya yang masih jomlo. Gita bahkan dengan suka rela menjadi mak comblang. Mulai dari teman, sepupu, bahkan tukang bakso langganannya ditawarkan kepada Tia.

__ADS_1


"Kalau lo sampai jadi sama Bang Tomo, gue mau gratisan bakso jumbonya," ucap Nindia.


Bang Tomo adalah tukang bakso yang dibicarakan oleh Gita. Orangnya cukup ganteng, maka dari itu baksonya selalu laris. Tapi sayangnya belum punya pasangan.


"Kalau enggak sama asistennya Mas Reyhan," ucap Nindia.


"Ilham maksud lo?" tanya Bella tak slow.


Nindia mengerling nakal, "Boleh aja. Lo sama Kak Ilham belum taken kan?"


"Gila," sungut Bella. "Udah tahu taken, pakek nanya lagi."


"Santai Buk. Asistennya Mas Reyhan bukan Ilham doang. Masih ada Yudha. Gantengnya enggak kalah sama Mas Rey dan Kak Ilham. Tapi sama-sama kaku sih," jelas Nindia. Ia memang Reyhan mencari asisten dan sekretaris laki-laki bukan karena tak percaya sama Reyhan, tapi lebih tidak percaya dengan sekretaris perempuan. Memang tidak semua orang begitu, tapi lebih baik mencegah bukan?


"Ogah gue. Masih banyak laki-laki yang ngantri mau jadi pacar gue jadi kalian enggak usah repot cariin gue jodoh," ucap Tia seraya mengibaskan rambutnya.


"Sombong amat," ucap Nindia dan Gita bersamaan.


____________________


Meskipun sudah jarang mengajar di kampus, Reyhan tetap memenuhi permintaan bila ada yang memintanya mengajar kembali. Dedikasihnya terhadap kampus tak akan pernah hilang.


Tentang Luvita dan ancaman drop out tidak jadi Reyhan laksanakan karena permintaan dari Nindia. Reyhan tetntu saja sempat marah karena keputusan Nindia, tapi akhirnya luluh juga akibat rayuan dan permintaan yang tak bisa diabaikan oleh Reyhan. Saking sayangnya dengan Nindia, Reyhan sudah hampir sama dengan bucin.


Meskipun drop out tak dikeluarkan, Reyhan tetap melakukan pemanggilan kepada orang tua Luvita sebagai dosen. Untuk di luar kampus, orang tua Luvita adalah rekan bisnisnya berbeda jika sudah berada di kampus.


Ketiga sahabat Nindia juga ikut geram mendengar hinan yang dilontarkan Luvita. Tapi mereka tak bisa berbuat macam-macam karena sanksi telah menanti di depan mata jika melanggar peraturan.


"Sumpah ya, gue masih enggak habis fikir sama Luvita. Bisa-bisana dia bilang gitu ke Prof Reyhan," sungut Gita.


Tia menimpali di sela melahah makannya, "Namanya juga wabah, pasti gitu."


"Udah lah, lagian dia juga udah dapat peringatan langsung dari Prof Reyhan." ucap Bella yang lagi-lagi menjadi penengah.


"Buk, Git anterin gue ke toilet dong. Gue takut," ucap Tia yang sudah menyengir.


"Kalian dengerin gue nggak sih?" tanya Tia yang sudah kesal dengan Bella dan Gita.


Tia yang sudah kesal langsung saja mengganggu Gita yang sedang asik memberi makan cacing obesitas. Memegang layar atau menutup pandangan Gita dilakukannya.


Gita lebih memilih kembali menghabiskan waktu dengan bermain permainan yang sedang ngetren dikalangan anak muda. Apalagi kalau bukan worm zone.io


Pasti kalian sudah pernah memainkannya. Permainan yang bisa membuat cacing peliharaan menjadi obesitas kalau beratnya sudah mencapai 1 juta dan akan bertingkah seperti jaranan yang kesurupan bila cacing obesitas menabrak cacing yang cacingan.


Tia mendengus kesal, "Cacingan mulu lo, sahabat sendiri dikorbanin," kesal Tia.


"Bodo,"


"Gue yang anter. Enggak usah ribut, malu didengar orang lain,"


Setelah ditinggal Tia dan Bella, Gita masih saja berbaim cacing obesitas. Bahkan teman yang memanggilkan hanya diacuhkan, bahkan sampai di bentak karena mengganggu aktivitasnya memberi makan cacing obesitas. Beberapa teman Gita sudah tak heran dengan tingkah Gita, tapi tak sedikit yang merasa kesal saat Gita tiba-tiba teriak karena cacingnya menabrak cacing yang lebih kurus.


Anehnya Gita tak pernah mendapatka 1 juta meskipun memainkannya tiap hari. Paling tinggi hanya 700 ratus ribu, itupun diiringi dengan berbagai macam umpatan saat cacingnya akan menabrak.


"Ehhhh,,,"


"Hampir aja,"


"Ogeb, jangan sampai lo buat cacing gue nabrak,"


"Jingan, jangan deket-deket gue ****,"


"Sumpah ya, cacing warna merah mau gue bikin sate emang,"


"Minggir woy, jangan deket-dekat gueee.."


Selalu heboh seperti itulah saat Gita main. Apalagi kalau Tia sudah ikut larut dalam permainan itu. Sudah dipastikan kelas akan menjadi ajang paduan suara.


"Ahhh, siapa sih yang ganggu. Enggak tau apa kalau orang lagi ma....in," Gita memelankan nadanya saat mengetahui siapa yang barusan mengganggu kesenangannya.


Gita melihat Satria bersedekap dengan tatapan tajam. Sudah bisa dipastikan kalau Satria sudah datang sejak tadi dan diabaikannya.


"Mau marah?" tanya Satria.

__ADS_1


Satria memang tidak suka melihat Gita terlalu fokus dengan cacing obesitas. Satria selalu merasa dinomorduakan.


Gita menggeleng, "Kenapa ke sini? Bukannya ada kelas?" tanya Gita seraya menyimpan ponselnya pada tas.


"Enggak boleh aku ke sini? Ganggu kamu main?" tanya Satria ketus.


Gita pusing jika Satria dalam mode mood swing. Bisa-bisa ia kembali di diamkan seperti minggu lalu.


"Boleh, lagian ini bukan rumah aku. Sedikit ganggu sih, tapi i'm okay," jawab Gita


"Itu yang enggak aku suka dari kamu. Kamu itu kalau udah main enggak sadar sama sekitar. Jangan nge-game kalau ada aku. "


Satria berdecak. Inilah yang tidak disukai saat Gita fokus dengan cacing obesitas, "Nanti temenin aku ke mall. Mau beliin kado buat Shafea,"


"Safhea? Ponakan kamu yang lucu itu?" tanya Gita antusias. Ia memang pernah sekali diajak ke rumah orang tua Satria dan bertepatan dengan kedatangan Safira kakak Satria dari Semarang.


"Iya. Bisa kan?"


"Jelas bisa dong. Apasih yang enggak buat Shafea. Emangnya Kak Safira ke Surabaya?" ucap Gita.


"Iya. Semalam sampainya. Rencananya mau ngerayain ulang tahu di Semarang, tapi sayangnya suami Kak Safira ada tugas ke Surabaya, jadinya sekalian ngerayain ulang tahun Shafea di sini deh,"


Gita menganggukkan kepalanya, "Bawa lumpia semarang enggak?"


"Bawa. Kamu mau?" tanya Satria.


Gita lagi-lagi mengangguk, tapi kali ini lebih antusias, "Mau,"


Satria mengacak rambut Gita, "Nanti mampir dulu ke rumah. Gue balik kelas dulu."


"Satria, rambut gue berantakan dodol," teriak Gita.


"Berisik," ucap teman kelas Gita.


 


 


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG

__ADS_1


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊


__ADS_2