HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 38 Manjanya Nindia


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Sinar matahari menyinari salah satu kamar di rumah milik Reyhan. Dapat dilihat satu orang masih tertidur nyenyak karena terlalu lelah menuruti kemauan sang istri yang sulit dimengerti.


hoekk hoekk


Suara itu berhasil membangunkan orang yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia mengucek matanya, berusaha mengumpulkan kesadaran secara penuh.


hoekk hoekk


Suara itu terdengar lagi sehingga membuat Reyhan langsung beranjak menuju sumber suara.


"Kamu sakit?" tanya Reyhan saat melihat Nindia sibuk memuntahkan isi perutnya. Tapi bukan makanan yang keluar melainkan cairan bening.


"Nggak tahu. Perut aku rasanya gak enak banget," ucap Nindia sambil memegang rambutnya agar tidak terkena cairan muntahnya.


Reyhan mendekat dan memijat tengkuk Nindia agar cepat selesai, "Paati kamu keracunan makanan deh. Kemarin aku kan sudah bilang, jangan makan terlalu banyak. Habis dua porsi rujak cingur, 3 cup es krim vanilla." kesal Reyhan saat melihat tingkah istrinya kemarin.


"Aku kan juga gak tahu kalau sanpau seperti ini. Aku minta maaf ya, hoekk." Reyhan masih memijit tengkuk Nindia.


"Aku cuma mau makan itu kemarin," ucap Nindia yang masih memegang perutnya yang masih belum enakan.


"Tunggu, aku ambilkan minyak angin dulu," ucap Reyhan yang berlalu ke dalam kamar.


Nindia masih sibuk mengeluarkan isi perut nya. Ia kemudian membasuh mulutnya dan duduk di atas closet.


Reyhan menungkan minyak di telapak tangannya, "Sini aku olesin di perut sama punggung kamu," ucap Reyhan sambil mengoleskan minyak tersebut di perut dan punggung Nindia. Kemudian ia membaui minyak tersebut di hidung Nindia.


"Masih pusing?" tanya Reyhan yang sudah membaringkan Nindia di ranjang.


"Masih," jawab Nindia dengan manja.


"Ya udah, kamu istirahat dulu. Aku mau siap-siap ke perusahaan."


Nindia memegang tangan Reyhan, "Jangan pergi, aku mau ditemani kamu." ucap Nindia dengan manja.


Reyhan semakin merasa aneh dengan Nindia. Kadang marah, kadang manja, kadang juga tertawa tanpa alasan.


"Tapi ini penting, sayang. Aku harus hadir. Aku pergi sebentar, nanti aku janji pulang cepat." bujuk Reyhan.


"Ya udah kalau gitu. Gak usah pulang sekalian." sarkas Nindia yang mulai bergerak memunggungi Reyhan.


See. Ini salah satu sikap yang membuat Reyhan bingung. Tadi manja, sekarang sudah mengeluarkan sarkasme nya.


"Boleh ya,?" tanya Reyhan yang masih berusaha membujuk Nindia.


"Terserah," jawab Nindia dengan ketus.


Jawaban Nindia membuat Reyhan tidak tenang. Ia mulai bimbang antara pergi atau tidak. Tapi melihat Nindia yang kurang sehat, akhirnya membiarkan Reyhan untuk menunda meeting pentingnya.


Reyhan mulai berjalan keluar kamar. Ia ingin menelepon Ilham untuk datang ke Aristarco Corp, agar bisa berbicara dengan klien agar bisa memundurkan jadwal meetingnya.


Reyhan : Ham, gue minta tolong sama lo. Gantiin gue ketemu sama Mr. Momota. Kalau bisa undur aja, kalau enggak bisa lo gantiin gue. Nindia sakit soalnya.


📲 Ilham : Oke kalau gitu. Semoga Bu Bos cepat sembuh.


Reyhan : Makasih Ham,


📲 Ilham : Sama-sama, Bos.


Sedangkan di dalam kamar, Nindia merasa kesal saat mengetahui Reyhan keluar dari kamar. Ia mengira Reyhan beneran lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya.


Namun, tebakannya salah. Saat melihat pintu terbuka dan menampilkan seseorang yang membuatnya kesal beberapa waktu yang lalu.


"Kamu nangis?" Reyhan panik saat melihat Nindia menangis.

__ADS_1


"Ada yang sakit? Mau ke dokter? Aku antarin ya?" tanya Reyhan tanpa henti. Ia sangat khawatir melihat wajah pucat Nindia.


hiks hiks


Nindia mengulurkan tangannya minta dipeluk oleh Reyhan. Sifat manjanya muncul lagi secara tiba-tiba.


Reyhan membalas pelukan Nindia, "Kenapa, Hem?" tanya Reyhan sambil membelai surai hitam milik Nindia.


"Aku kira hiks kamu pergi hiks kerja," ucap Nindia sambil menangis di dada bidang milik Reyhan.


"hustt.. udah ya, jangan nangis" bujuk Reyhan yang sesekali mencium puncak kepala Nindia.


Reyhan masih berusaha untuk menenangkan Nindia yang masih terisak.


"Udah dong, nangisnya!" bujuk Reyhan. "Kalau kamu gak berhenti nangis, aku bakalan berangkat kerja," ancam Reyhan yang berhasil membuat Nindia berhenti menangis.


Nindia mendongakkan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi takut Reyhan menolak.


"Kenapa?" tanya Reyhan sambil mencium hidung Nindia.


Nindia ragu untuk mengatakannya, "Kenapa, Sayang?" tanya Reyhan.


Nindia menarik tengkuk Reyhan dan membisikkan sesuatu.


"Kamu yakin?" tanya Reyhan mencoba memastikan sambil mengulum senyum.


Nindia menganggukkan kepalanya, "Iya. Aku mau kamu."


____________________


Bella, Tia, dan Gita menunggu Nindia dengan perasaan cemas. Kemarin ada dosen yang meminta jadwal ulang sehingga di ganti hari jumat. Bella sebagai penanggung jawab pelajaran sudah menginformasikan di grup kelas.


"Nindia kemana sih?" tanya Bella.


"Gue gak tahu," jawab Gita aingkat sambil terus memeriksa ponselnya, siapa tahu Nindia mengirimkan pesan.


"Ada pesan atau telepon gitu?" tanya Bella yang mendapatkan gelengan dari dua sahabatnya.


"Emang udah berapa kali Nindia absen?" tanya Tia.


"Git, coba lo hubungi lagi. Siapa tahu diangkat sama Nindia." ucap Tia.


"Bentar,"


Gita mencoba menghubungi Nindia. Tapi tetap saja tidak ada respon.


"Gak ada respon. Ponselnya gak aktif" kata Gita.


"Awas aja tu anak kalau ketemu gue," geram Bella sambil mengepalkan tangannya.


____________________


Nindia masih tertidur setelah kegiatan panas mereka. Sedangkan Reyhan tengah asik memandangi wajah cantik milik Nindia yang beberapa hari ini selalu menampilkan ekspresi yang berbeda.


"Lagi sakit aja masih cantik," puji Reyhan yang membelai wajah Nindia.


"Aku sayang sama kamu, cup" Reyhan mencoum Nindia di kedua mata, hidung, dan terakhir yang selalu menjadi candunya. Dimana lagi kalau bukan di bibir.


Setelah puas memandangi Nindia, Reyhan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rencananya ia akan menanyakan sesuatu kepada Ilham mengenai kerjasama dengan Mr Momota. Reyhan berjalan keluar kamar dan beralih menuju ruang kerjanya.


Ia mulai menghidupkan komputer yang terhubung langsung oleh CCTV yang ada di penjuru rumahnya. Terutama di kamar utama


Berbeda dengan yang lain, CCTV di kamar utama hanya bisa diakses oleh Reyhan secara pribadi. Semua CCTV juga terhubung langsung pada ponsel pribadi milik Reyhan.


Reyhan sudah menyuruh Ilham langsung ke rumahnya untuk membicarakan kerjasama dengan Mr Momota. Ia sudah menyuruh Ilham untuk langsung masuk dalam ruang kerjanya.


ttokk ttokk


Ilham masuk dengan membawa dokumen haril meeting dengan Mr Momota.

__ADS_1


"Gimana, Ham?" tanya Reyhan yang sudah duduk di kursi kebesaran nya.


"Sudah 80%, Bos. Mr Momota ingin bertemu langsung sama Bos." jelas Ilham sambil menyerahkan dokumen yang ia bawa.


Reyhan memeriksa dokumen yang diberikan Ilham. Ia beberapa kali memeriksa CCTV untuk memastikan keadaan Nindia yang beberapa hari ini selalu berubah-ubah.


"Lihat apa sih, Bos?" tanya Ilham yang sedari tadi memperhatikan tingkah Reyhan.


"Pantau Nindia. Soalnya dari tadi pagi kurang enak badan. Sekarang baru bisa tidur," jelas Reyhan sambil terus membaca dokumen.


Ilham hanya ber– oh ria mendengar penjelasan Reyhan. Ia kembali sibuk dengan ponselnya.


"Bi Minah mana?" tanya Ilham.


"Pulang kampung. Nanti sore baru sampek sini." jawab Reyhan.


"Ya udah kalau gitu. Saya pulang dulu, Bos."


"Makasih, Ham." ucap Reyhan.


"Hem,"


Setelah itu Ilham meninggalkan rumah Reyhan. Sedangkan Reyhan masih fokus dengan dokumen yang diberikan Ilham.


Saat melihat ada pergerakan dari Nindia, Reyhan langsung berdiri dan berlari menuju kamar utama.


Nindia yang terbangun mulau meraba tempat tidur di sebelah nya. Mencari seseorang yang tadi menemaninya. Ia mulai duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuh naked nya. Matanya mulai berkaca-kaca saat tidak mendapati orang yang ditunggu.


"Reyhan," lirih Nindia.


krekk


"Hei," sapa Reyhan yang berada di ambang pintu.


Reyhan berjalan cepat menghampiri Nindia dan duduk di tepi ranjang, "Aku di ruang kerja tadi. Ilham ngantar dokumen hasil pertemuan tadi," ucap Reyhan sambil membelai surai hitam Nindia.


Nindia langsung berhambur dalam pelukan Reyhan. Air matanya sudah tidak dapat di tahan.


"hustt, jangan nangis ya." ucap Reyhan berusaha menenangkan Nindia.


"Jangan pergi,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow

__ADS_1


- Bintang


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran.


__ADS_2