HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Episode 24 Kencan Pertama


__ADS_3

HAI CHINGU.....๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


SELAMAT MEMBACA


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Nindia sedang sibuk di dapur. Ia ingin memasak untuk Reyhan. Namun, Ia melihat bahan yang tersedia di dalam kulkas hanya tinggal beberapa bahan makanan yang tersisinya. Memang akhir-akhir ini Ia jarang mengecek keperluan dapur.


"Bi.." panggil Nindia.


Bi Minah menghampiri Nindia di dapur dengan masih mengenakan mukena.


Nindia tidak enak hati saat melihat Bi Minah. "Maaf ya Bi. Anin ganggu Bibi ya?" tanya Nindia dengan memperlihatkan raut wajah penyesalan.


"Tidak apa-apa, Non. Bibi sudah selesai." ucap Bi Minah untuk menenangkan Nindia. "Ada apa Non?"


"Bahan makanan habis ya Bi?" tanya Nindia.


"Iya, Non. Beberapa ada yang habis."


Nindia mengambil buku dan pulpen untuk mencatat bahan dan keperluan dapur apa saja yang habis. Ia ingin memulai memegang dapur kembali.


"Apa aja yang habi?" tanya Nindia yang sudah duduk di meja makan.


"Sayuran tinggal Brokoli dan sawi, buah tinggal kiwi, mangga, dan alpukat. Beras dan minyak goreng tinggal sedikit. Itu saja Non yang habis. Kalau Non mau beli yang lain juga tidak apa-apa. Bibi juga lebih gampang kalau bahan masakannya lengkap," canda Bi Minah.


"Siap Bi," Nindia meningalkan dapur dan kembali ke kamar.


____________________


Nindia masih melihat Reyhan tertidur pulas. Padahal jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Nindia perlahan-lahan mendekati suaminya. Mengingatkan untuk segera shalat.


"Bee, bangun." Nindia membelai rambut Reyhan.


"Hmmm,"


"Ayo bangun,"ย  Nindia menggoyangkan badan Reyhan.


Reyhan menggeliatkan badannya karena tidurnya terganggu. "Jam berapa?" tanya Reyhan dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Enam sore,"


Reyhan langsung duduk saat mendengar perkataan Nindia. Ia melirik jam didinding yang terpasang di kamarnya. Kemudian mengusap matanya agar terbuka sepenuhnya.


"Kenapa gak bangunin aku dari tadi?" tanya Reyhan sambil berjalan ke kamar mandi.


Nindia hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan manja sang suami. Ia beranjak, kemdian membereskan tempat tidur. Melipat selimut dan mengembalikan bantal ke tempat semula.


Suara gemericik air masih terdengar di dalam kamar mandi. Sudah hampir dua puluh menit Reyhan tak kunjung keluar dari dalam sehingga membuat Nindia sedikit khawatir.


dookk dookk dookkk


Nindia mengetuk pintu kamar mandi. Namun tak ada jawaban dari dalam.


"Bee, kamu gak apa-apa kan? kenapa lama banget? Maghribnya udah mau habis." teriak Nindia yang masih di depan kamar mandi.

__ADS_1


Nindia seperti setrika. Bolak-alik tidak jelas sambil menggigit jarinya.


krekk.. Suara pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan secara live bentuk sixpack Reyhan. Ditambah lagi buliran air yang menetes dari rambut basah semakin menambah kesan sexi Reyhan. Dada bidang tempat favoritnya bersandar terpampang nyata. Membuat wajah Nindia memerah menahan malu.


Nindia membalikkan badannya. "Kenapa gak pakai baju sih?" tanya Nindia berusaha menahan malunya.


Reyhan tersenyum melihat tingkah Nindia. Sebenarnya ia ingin sekali menggoda sang istri kalau tidak ingat durasi maghrib sangat singkat.


"Hahaa.. Kamu kenapa yang?" goda Reyhan. Akhirnya ia tetap menggoda Nindia sambil menggunakan bajunya. Sedangkan wajah Nindia semakin memerah mendengar godaan Reyhan.


"....."


"Malu?" tanya Reyhan yang sudah selesai mengenakan pakaiannya.


"Tau ah. Buruan shalat! waktunya sudah hampir habis." kata Nindia sambil meninggalkan kamar.


Jantungnya masih berdebar saat mengingat bentuk tubuh suaminya. Nindia masih menyandarkan punggungnya di balik pintu. Wajah merahnya kembali lagi. Ia sangat ingin menyentuk roti sobek suaminya, namun ia malu untuk mengatakannya.


"Ya ampunnn roti sobeknya." teriak Nindia dalam hati Aku pingen pegang. Kalau roti sobeknya aja memukau apalagi...." gumam Nindia. Tiga detik kemudian, Nindia menggelengkan kepalanya saat pikiran kotor mulai melingkupi kepalanya.


"Gila! Pikiran gue udah gak waras!" Nindia pergi menuju ruang keluarga.


____________________


Reyhan melaksanakan ibadah shalat Maghrib dengan khusyuk. Seperti biasa, Reyhan selalu menyempatkan waktu untuk membaca ayat suci Al- Qur'an walaupun hanya sedikit. Setelah selesai ia mencium kitab suci, meletakkannya pada tempatnya.


Ia melihat Nindia sedang asik menonton televisi. Reyhan menghampiri Nindia dengan masih menggunakan sarung.


"Asik bener nontonnya," Reyhan duduk disebelah sang istri.


"Udah selesai?" tanya Nindia yang tak mengalihkan pandangannya dari televisi. Jujur saja Nindia asih malu dengan kejadian tadi. Namun, ia berusaha menyembunyikannya.


"Bee, lapar.." keluh Nindia dengan nada Manja.


"Belum makan? Apa bibi gak masak?" tanya Reyhan sambil mengelus pipi Nindia.


Nindia menggelengkan kepalanya. "Aku pingin makan diluar."


Reyhan tersenyum. "Makan apa?"


"Terserah. Pokoknya aku mau makan malam berdua sama kamu."


Senyum Reyhan semakin lebar. "Maksud kamu Kencan?"


Nindia menganggukkan kepalanya. "Aku mau berdua sama kamu. Salah kamu sendiri yang gak penah ajak aku makan diluar." Nindia memasang wajah cemberut.


"Oke. Kamu tunggu ya! Aku mau ganti baju dulu, Terus kita kencan Malam ini. Aku akan pergi sesuai perintah tuan putri," Reyhan lari menuju kamarnya. Keinginan sang istri tak akan pernah ia tolak. Kecuali keinginan untuk pergi meninggalkannya.


Nindia tersenyum sat Reyhan mengiyakan apa yang dimintanya. Ia sangat senang memiliki suami yang pengertian dan juga sabar dalam mendidik dirinya. Menariknya dari kesalahan terbesar.


"Terimakasih Tuhan. Engkau telah mengirimkan laki-laki yang bisa membimbing hamba, yang bisa mengerti hamba, dan yang paling penting adalah bisa memaafkan kesalahan terbesar hamba" guman Nindia dalam hati. "Lindungilah rumah tangga hamba ya Allah hingga kakek nenek. Hindarkan keluarga kami dari orang-orang yang membenci kami." Tak sadar air mata sudah mengalir deras.


"Yang, kenapa nangis?" tanya Reyhan.


Nindia yang tersadar dari lamunannyaย  langsung menghapus air matanya. "Aku gak apa-apa kok. AYo keburu malam." Nindia menggandeng tangan Reyhan dan menghadiahkan satu kecupan di pipi kiri Reyhan.


"Makasih ya," Reyhan hanya membalasnya dengan senyuman. sebenarnya ucapan terimakasih dari istrinya untuk apa.

__ADS_1


____________________


Reyhan dan Nindia sudah tiba ditempat kencan petama mereka Mereka memilih kencan di Taman Bungkul. Taman Bungkul sendiri merupakan salah satu tempat favorit untuk jalan-jalan. Selain itu terdapat beberapa kelebihan yang dari Taman Bungkul antara lain :


1. Penataan Pedagang disekitar area Taman Bungkul Surabaya dilakukan secara rapi\, sehingga keberadaan pedagang bisa saling menguntungkan dan tidak menimbulkan kesan kumuh.


2. Adanya penyediaan fasilitas air minum gratis bagi pengunjung. Bila Anda merasa haus\, cukup minum dari wastafel khusus yagn disediakan dan Anda bisa menikmati air minum yang sehat dari wastafel tersebut.


3. Penyediaan sarana Wifi.


4. Sebagai tempat wisata dan berziarah.


Selama perjalanan, Nindia tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia seakan-akan takut Reyhan akan berpaling dari dirinya. Lucu bukan? Seharusnya Reyhan yang merasa takut kehilangan Nindia karena ia pernah dihianati. Namun, disini lebih terlihat seolah-olah Reyhan yng pernah menghianatinya.ย (Curhatan author. Kembali ke cerita)


Nindia dan Reyhan benar-benar menikmati kencan pertama mereka. Banyak anak-anak yang sedang bermain disana. Ada beberapa penari untuk menghibur pengunjung.


Reyhan mencium tangan Nindia. "Masih mau jalan-jalan atau mau langsung makan?" tanya Reyhan penuh perhatian.


Nindia tersenyum. Akhir-akhir ini dirinya lebih banyak tersenyum. Apalagi saat bersama dengan Reyhan.


"Jalan-jalan dulu. Nanti kalau capek kita istirahat terus makan." Nindia menarik tangan Reyhan untuk duduk disalah satu tempat duduk yang sedikit jauh dari orang.


Mereka masih asik menikmati pemandangan dengan tangan syang masih menaut satu sama lain. Sesekali Reyhan menggosok tangan Nindia agar tidak kedinginan.


"Dingin?"


"Gak terlalu," Nindia membalas perhatian Reyhan dengan senyum manisnya. "Makasih ya" ucap Nindia yang sudah mengalihkan pandangannya.


"Terimakasih buat apa?" tanya Reyhan. "Dari tadi kamu bilang terimakasih mulu," Reyhan sedikit heran dengan tingkah Nindia.


"Terimakasih sudah memilihku sebagai istrimu, pendampinmu. Terimakasih karena telah sabar menungguku. Terimakasih karena telah membimbingku, terimakasih untuk kesetiaanmu, terimakasih karena kamu sudah memaafkan kesalahan terbesarku. Mungkin selama ini aku belum menjadi istri yang baik untuk kamu. Belum bisa menjalankan kewajiban sebagai istri. Aku benar-benar mengucapkan terimakasih karena telah menyayangiku dengan tulus, menyanyangiku setelah penghianatan yang aku lakukan. Dan maafkan aku untuk segala kesalahan yang pernah aku lakukan," Nindia menundukkan kepala untuk menyembunyikan air mata yang mengalir deras.


Reyhan membalik tubuh Nindia menghadap dirinya. Reyhan mengangkat dagu Nindia dan mengusap airmata dengan dua ibu jarinya. "Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih atas apa yang aku lakukan. Aku melakukan itu sebagai imam kamu. sudah seharusnya aku membimbing kamu, menarik kamu dari jurang kesalahan, menyelamatkan kamu dari dosa besar. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menyesal karena sudah memilih kamu sebagai istriku, sebagai calon ibu dari anak-anakku. Karena kamu, aku semakin tahu akan arti sabar, akan arti kesetiaan, dan akan arti kewajiban. Aku tidak akan pernah membiarkan makmumku terjerumus dalam dosa besar. Dosa yang sangat benci Tuhan. AKu akan sebisa mungkin melindungi dan menjaga kamu dari semua bahaya yeng mengincar. Jadi aku mohon jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi. Lupakan! Aku sudah memaafkan kamu. Aku sadar, kita menikah dilandasi dengan perjodohan dan keterpaksaan. Namun, aku sudah berhasil mengubah landasan pernikahan kita dengan cinta dan kepercayaan. Jadi aku minta tolong, lupakan masalalu. Kita mulai dari awal. Kamu mau kan?"


Nindia menganggukkan kepalanya. "Iya. Aku mau, aku mau memulai hubungan ini dari awal. I Love You, Bee." Nindia menghambur dalam pelukan Reyhan.


"I Love You My Wife, myheart, and my life" Reyhan mencium puncak kepala Nindia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2