
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Tumpukan kertas sudah menjadi makanan Reyhan sehari-hari. Bepergian ke luar kota merupakan usaha untuk menghidupi orang. Seperti yang dilakukannya dua minggu lalu. Ia harus rela meninggalkan Nindia yang sedang hamil tua di rumah. Ia harus pergi ke Lombok untuk memenuhi panggilan rekan kerjanya. Mau tidak mau dirinya harus pergi.
"Selamat Pagi, Pak." sapa Yudha, sekertaris pribadiku setelah Ilham mengambil alih perusahanku.
"Pagi, ada perlu apa?" tanya Reyhan tanpa mengalihkan pandangan yang masih terpusat pada kertas di depannya.
"Saya hanya ingin menyampaikan jadwal Bapak hari ini. Pukul 10.00, Bapak ada meeting dengan Tuan Hiro dari perusahan Yamaguchi...." ucapan Yudha terpotong oleh suara telepon.
kringgg kringgg
📲 Nindia : Assalamualaikum, Mas.
Reyhan : Waalaikumsalam. Ada apa sayang? (Menyenderkan punggung seraya memberikan instruksi agar Yudha berhenti bicara)
📲 Nindia : Heemmmm,...
Reyhan : Nindia Apa sayang?
📲 Nindia : Nindia mau pergi keluar, boleh? (menggigit ujung kukunya)
Reyhan : (Reyhan diam sebentar seraya memijat pangkal hidungnya) emangnya mau kemana?
📲 Nindia : Mau ke rumah Mami. Boleh ya?
Reyhan : Tunggu mas pulang aja gimana?
📲 Nindia : (menggelengkan kepalanya) Maunya sekarang. Kalau nunggu Mas kelamaan.
Reyhan : Nindia Boleh, tapi kamu diantar Mang Tejo.
📲 Nindia : Nindia pingin bawa mobil sendiri.
Reyhan : Nindia, Mas enggak kasih izin kalau kamu pergi sendiri.
📲 Nindia : Ya udah kalau gitu. Nanti Aku pergi agak siang ya. Assalamualaikum.
Reyhan : Iya, Sayang. Waalaikumsalam.
"Hanya itu saja?" tanya Reyhan yang kembali fokus pada tumpukan kertas.
Yudha menggeleng, "Pukul 12.00 bapak akan menghadiri makan siang dari Tuan Herlambang beserta istrinya."
Reyhan memicing, "Apakah perusahaan kita masih ada proyek atau kerja sama lainnyadengan perusahaan Tuan Herlambang?"
"Saya rasa tidak ada," jawab Yudha.
"Kenapa saya memiliki jadwal dengan Tuan Herlambang?" tanya Reyhan.
"Maaf, Pak. Kemarin Tuan Herlambang ingin bertemu dengan Anda, sedangkan Anda masih berada di Lombok saat itu.Jadi Tuan Herlambang ingin menjadwalkan ulang pertemuan dengan Anda," jelas Yudha seraya menunjukkan tab kepada Reyhan.
Reyhan menghembuskan nafas lelah, "Menurut kamu, apakah saya harus menemui Tuan Herlambang?"
"Menurut Saya sebagai sekertaris dan asisten pribadi Anda, jawabannya Iya. Maksud saya adalah menghadiri untuk menghormati Tuan Herlambang karena hubungan baik antar perusahaan. Dengan kata lain hanya formalitas," ucap Yudha mengutarakan pendapat.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengikuti saran kamu. Terimakasih, Kamu bisa kembali bekerja."
Yudha menganggukkan kepala seraya keluar dari ruang kerja Reyhan.
Reyhan tak bisa kembali fokus pada pekerjaannya. Fikirannya berpusat pada Nindia yang ingin pergi ke rumah Maya tanpa dirinya. Perasaannya sangat tidak enak, seperti ada benda keras yang menghimpit hatinya. Jantungnya berdebar tak menentu. Satu yang Reyhan rasakan, Khawatir.
"Semoga kamu baik-baik saja," doa Reyhan seraya meraup mukanya.
Jika tidak ada meeting dan janji makan siang, sudah dipastikan Reyhan akan langsung meluncur ke rumah untuk mengantarkan Nindia ke rumah Maminya. Tapi lagi-lagi dirinya tak bisa egois, perusahannya membutuhkan pemasukan untuk menggaji karyawan yang jimlahnya melebihi seribu orang.
____________________
Sesuai dengan jadwal, Reyhan akhirnya memenuhi permintaan Tuan Herlambang untuk makan siang. Untung saja jalanan tidak terlalu macet sehingga Reyhan dan Yudha datang tepat waktu.
"Yudha, kamu ikut saya ke dalam dan cari meja lain, tapi usahakan yang cukup dekat," ucap Reyhan setelah turun dari mobil seraya merapikan jasnya.
"Baik," ucap Yudha seraya membungkuk hormat.
Saat masuk ke restoran tempat pilihan Tuan Herlambang, Reyhan langsung mengenali dua orang paruh baya dan seorang wanita muda.
"Selamat Siang Tuan Herlambang," sapa Reyhan seraya menjabat tangan Tuan Herlambang.
"Selamat siang. Perkenalkan ini istri dan anak saya,"
"Mutia Herlambang,"
"Vita," ucap Vita dengan gaya kecentilan.
Reyhan ingat pernah bertemu dengan anak dari Tuan Herlambang, tapi lupa di mana dan kapannya ia lupa. Ia juga sedikit risih saat tangannya dengan sengaja di elus menggunakan ibu jari Vita saat bersalaman.
"Maaf," ucap Reyhan seraya melepaskan tangannya.
Anak tuan Herlambang terlihat terpaksa saat menyunggingkan senyum karena menutupi kekesalannya.
"Silakan duduk, Tuan Aristarco," ucap Herlambang.
__ADS_1
Reyhan menarik kursi kemudian duduk seraya melepas kancing jas nya, "Maaf sebelumnya, ada perihal apa sehingga Tuan Herlambang ingin bertemu dengan saya?"
Tuan Herlambang menoleh ke arah istrinya, "Begini Tuan Aristarco,"
"Panggil saja saya Reyhan. Saya lebih nyaman dengan nama saya sendiri daripada dipanggil dengan marga saya," ucap Reyhan.
Mutiara menganggukkan kepalanya, "Sebelum kami berbicara, lebih baik kita memesan makanan terlebih dahulu,"
Dengan cekatan Mutiara memanggil pelayan dan memasankan makanan dalam jumlah lumayan besar. Kemungkinan makanan ini cukup untuk 7 sampai 8 orang.
Tak ada yang berbicara saat makan. Berbeda dengan Reyhan yang mulai tidak nyaman dengan tingkah anak Tuan Herlambang. Sejak tadi, anak Tuan Herlambang tak henti-hentinya menatap ditinya. Bahkan kadang-kadang tersenyum manja saat tak sengaja tertangkap oleh Reyhan. Bukannya tertarik, Reyhan justru jijik dengan tingkah anak rekan bisnisnya.
"Ada apa Tuan Herlambang," tanya Reyhan setelah menyelesaikan makan siangnya.
"Begini saya melihat, Anda merupakan laki-laki pekerja keras, pintar, mapan, dan tentunya saja tampan, sehingga membuat kaum hawa terpesona," ucap Tuan Herlambang yang hanya mendapatkan respon anggukan dari Reyhan.
"Begitupun dengan putri saya. Dia pintar, mapan, dan yang terpenting adalah cantik," lanjut Tuan Herlambang seraya mengelus rambut putrinya.
Reyhan mulai paham dengan arah pembicaraan Tuan Herlambang. Tapi bukan Reyhan jika tidak bermain terlebih dahulu sebelum melumpuhkan mangsanya.
"Maksud Tuan Herlambang?" tanya Reyhan pura-pura bodoh.
"Begini, Saya ingin Nak Reyhan menjadi suami anak saya. Saya sangat yakin bahwa anak saya cocok dengan Nak Reyhan," ucap Tuan Herlambang yang mulai berpucara informal. Sedangkan anak dan istrinya tersenyum mendengar perkataan Tuan Herlambang.
"Bukan begitu Nak Reyhan?" tanya Mutiara.
Reyhan tak terkejut dengan apa yang dikatakan Tuan Herlambang, "Mohon maaf sebelumnya. Bukan maksud saya untuk tidak sopan, tapi saya sungguh tidak bisa mengabulkan permintaan Tuan Herlambang,"
"Kenapa? Bukankah anak saya cantik, pintar, dan masih banyak lagi kelebihannya. Mengapa Anda tidak bisa? Bukankah Anda dan anak saya sama-sama single?" tanya Tuan Herlambang yang mulai tidak menerima penolakan Reyhan.
"Siapa nama kamu?" tanya Reyhan pada putri Tuan Herlambang.
"Saya Luvita Pramudya Herlambang. Putri tunggal pemilik Herlambang Corp." ucap Luvita dengan nada sombong.
Pertemuan ini merupakan rencananya. Ia tahu bahwa Papanya adalah rekan kerja Reyhan, jadi dia menggunakan koneksi Herlambang untuk mendapatkan apa yang dia mau. Bahkan ia sampai mengancam untuk mogok makan hingga ancaman bunuh diri pun dilakukan jika Herlambang tak menuruti permintaannya.
"Ohh... Jadi kamu yang namanya Luvita?" Luvita mengangguk, "Bukankah kamu mahasiswa di kampus tempat saya mengajar?"
"Benar sekali, saya salah satu mahasiswa yang Bapak ajar," jawab Luvita penuh percaya diri. Ia juga senang saat mengetahui Reyhan rupanya mengenal dirinya.
Reyhan mengangguk, "Jadi maksud Tuan Herlambang ingin menjodohkan saya dengan putri bapak?" tanya Reyhan.
"Benar sekali Nak Reyhan, Bagaimana?" tanya Tuan Herlambang.
"Mohon maaf sekali. Saya tetap tidak bisa karena saya sudah memiliki istri," jawab Reyhan pada akhirnya.
"Na.. Nak Reyhan sudah memiliki istri?" tanya Mutuara dengan wajah terkejut yang tak bisa tertutupi.
"Benar sekali. Apakah putri Anda tidak mengatakan bahwa saya sudah memiliki istri? Bahkan saya sering memposting kegiatan saya bersama istri saya, tidak mungkin jika anak Tuan dan Nyonya tidak mengetahuinya.
"Benar apa yang dikatakan Nak Reyhan?" tanya Mutiara pada putrinya.
"Astaga Vita, bagaimana bisa kamu melakukan ini?" tanya Herlambang seraya memijat pangkal hidungnya.
"Tapi Vita cinta sama Prof Reyhan. Vita bersedia menjadi istri Prof. Reyhan. Kalau Prof Reyhan keberatan, saya bersedia menjadi pemuas nafsu Prof Reyhan,"
"LUVITA," teriak Mutiara,
"Vita beneran enggak apa-apa kok Ma Pa asalkan Vita dekat dengan Prof Reyhan. Vita yakin kalau istri Prof Reyhan tidak secantik dan se sexy Vita." ucap Luvita yang tak mau menyerah padahal orang tuanya sudah sangat malu.
"CUKUP," teriak Reyhan. Sungguh, Ia sangat jijik dengan perempuan yang ada di depannya. Bagaimana bisa ia mengobral dirinya untuk menjadi pemuas nafsu suami orang. Sungguh keterlaluan dan tidak mempunyai harga diri.
Reyhan mulai gerah dengan tingkah mahasiswa sekaligus putri rekan kerjanya. Ia tak pernah menyangka ada perempuan yang tak memiliki harga diri. Ia mulai melepas jas dan hanya menyisakan kemeja putih. Bahkan dasinya sudah terlepas saat Tuan Herlambang mengungkapkan maksudnya.
"Tapi saya mencintai Bapak. Saya tidak masalah jika harus menjadi yang kedua ataupun hanya sekadar menjadi pemuas nafsu bapak," teriak Luvita. Sungguh, urat malunya sudah ia putus sejak bertemu dengan Reyhan.
"Saya tidak menyangka anak Tuan Herlambang bertindak seperti ini." ucap Reyhan kemudian ia mengalihkan pandangan kepada Luvita, "Saya malu mengakui kamu sebagai mahasiswa saya. Percuma kampus mengucurkan banyak dana untuk mahasiswa seperti kamu. Apa kamu tidak memiliki moral dan harga diri? Mengapa begitu rendah dirimu? Saya akui kamu memang cantik, fisik kamu juga sempurna dan ideal, tapi sayangnya hati dan akal kamu minus. Kamu sudah mempermalukan kedua orang tuamu. Sudah mengoleskan arang pada wajah kedua orang tua yang membesarkanmu. Sayangnya saya tidak sebejat dan se-brengsek penilaian kamu. Saya cukup puas dengan istri saya. Bukan hanya wajah saja yang cantik tapi hatinya juga bersih, bukan seperti kamu yang dengan sukarela menjadi perusak rumah tangga orang. Jangan berharap kamu bisa menggantikan dia karena sangat mencintai istri saya," ucap Reyhan dengan nada meninggi.
Bukan hanya Yudha yang terkejut dengan teriakan Reyhan, tapi semua orang yang ada di restoran juga terkejut. Bahkan pelanggan yang sebagian ibu-ibu sudah bisik-bisik dan menjelekkan Luvita dengan sebutan ******.
"Maaf Bapak menganggu waktunya, Ada telepon dari supir pribadi istri Anda," ucap Yudha seraya menyerahkan ponselnya.
Reyhan : Ada apa Mang?
.....
Reyhan : (Wajahnya berubah menjadi panik dan cemas) Di rumah sakit mana?
.....
Reyhan : Baik. Saya akan ke sana sekarang.
"Maaf sebelumnya tuan Herlambang, Saya permisi karena istri saya sedang membutuhkan suaminya dan untuk kerja sama yang sedang terjalin, saya akan mempertimbangkan lagi. Saya tidak mau istri saya mengetahui kejadian ini. Maaf jika saya terkesan tidak profesional, tapi istri saya jauh leb8h penting daripada kontrak kerja sama. Dan untuk kamu," tunjuk Reyhan ke Luvita, "Tunggu surat D.O dari kampus, karena saya tidak Menerim mahasiswa seperti kamu. Akan saya urus secepatnya, terimakasih." ucap Reyhan seraya meninggalkan restoran dengan raut wajah cemas.
"Permisi Tuan," ucap Yudha kepada Tuan Herlambang. Bagaimanapun, Tuan Herlambang lebih tua dari dirinya.
____________________
Ketukan pantofel terdengar nyaring di lorong salah satu rumah sakit. Semakin lama suaranya terdengar nyaring, menandakan bagaimana rasa khawatirnya terhadap orang terkasih. Tak menghiraukan bebrapa makian saat tak sengaja menyenggol bahu orang lain. Fikirannya hanya satu, istrinya Anindia Putri.
Krieekk
Hatinya teriris saat melihat istrinya terbaring di brankar rumah sakit. Tangan kirinya terdapat jarum, pelipisnya terlihat kasa yang membalut luka. Seharusnya ia tak mengizinkan istrinya pergi ke rumah orang tuanya meskipun dengan sopir. Seharusnya ia menuruti apa kata hatinya yang sudah merasakan kegelisahan.
"Bagaimana bisa terjadi Mang? Bukannya Nindia mau pergi ke rumah Mami?" tanya Reyhan pada supir yang menunggu Nindia.
Mang Tejo menunduk karena takut dipecat oleh Reyhan, "Maafkan saya, Den. Seharusnya saya bisa menjaga ENon agar tidak jadi begini." sesal Mang Tejo. "Tadi, Enon minta rujak buah di dekat rumah, saya sudah menawarkan diri untuk membelinya. Tapi, Non menolak dan membeli sendiri saat saya sedang memanasi mobil untuk ke rumah Nyonya." jelas Mang Tejo.
__ADS_1
Reyhan yang duduk di sisi brankar terus saja menghujani tangan Nindia dengan ciuman. Sungguh sakit melihat istrinya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Saya Mohon, jangan dipecat. Saya masih butuh uang untuk menghidupi anak dan istri saya," ucap Mang Tejo yang sudah bersujud di depan Reyhan.
Secara spontan Reyhan melepaskan genggaman pada tangan Nindia dan menarik Mang Tejo agar berdiri.
"Tidak apa-apa, Mang. Ini semua musibah yang di berikan oleh Tuhan. Jadi tidak ada satupun yang salah. Saya juga tidak akan memecat Mang Tejo," ucap Reyhan.
Mang Tejo mengangguk, "Terima kasih, Den."
"Apakah administrasi sudah diurus?" tanya Reyhan.
"Maafkan saya Den, saya belum sempat mengurusnya. Saya hanya menyebutkan nama Aden, seperti pesan Aden di telepon tadi," jelas Mang Tejo.
Reyhan mengangguk, "Sekarang Mang Tejo pulang dan minta Bi Minah menyiapkan baju ganti Saya dan Nindia," ucap Reyhan.
"Baik, Den."
"Yudha, tolong urus administrasi dan minta kamar VVIP untuk Nindia,"
Yudha menunduk hormat, "Baik, Pak."
Setelah Mang Tejo dan Yudha pergi, tinggalah Reyhan dan Nindia. Reyhan mulai mengamati Nindia dari atas hingga bawah. Memastikan tak ada lagi luka selain pelipis kanannya.
"Hai anak Papa, sehat-sehat kan? Kalain harus kuat, Papa sudah tunggu kalian," ucap Reyhan di depan perut Nindia.
"Iya Papa," jawab Nindia dengan pelan.
"Sayang," Reyhan menatap Reyhan yang dibalas senyum indah milik Nindia. "Mas panggilkan dokter," ucap Reyhan seraya memencet tombol dekat brankar Nindia.
"Haus,"
Reyhan langsung menuang air ke dalam gelas dan membantu Nindia untuk minum.
"Udah?" tanya Reyhan.
Nindia mengangguk, tak lama dokter masuk dengan satu perawat.
"Selamat siang Nyonya Nindia," sapa dokter itu.
"Siang, Dok"
"Saya periksa dulu ya,"
Dokter itu mulai memeriksa Nindia. Mulai dari denyut nadi hingga kondisi kandungan Nindia, sementara sang suster memeriksa roller knop.
"Alhamdulillah, kondisi ibu dan bayinya sehat. Mungkin tadi ibu hanya syok sehingga terjadi pendarahan. Untung saja cepat dibawa ke rumah sakit sehingga bisa dilakukan penanganan secepatnya, jika tidak nyawa ibu dan anaknya akan dalam bahaya," jelas dokter. "Jika sesak nafas, segera panggil saya. Jangan sungkan, ucap dokter seraya tersenyum."
"Terimakasih, Dok" ucap Reyhan seraya mengantarkan dokter.
Setelah selesai Reyhan balik badan dan melihat Nindia yang tengah mengusap perut buncitnya. Hatinya sangat bersyukur kedua malaikatnya dalam lindungan-Nya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kedua malaikatnya, Ia tidak tahu kehidupannya di masa depan.
"Mas, maafin aku ya. Gara-gara aku, anak kita hampir celaka," ucap Nindia dengan air mata yang mulai turun.
Reyhan mengusap air mata kemudian mengecup puncak kepala Nindia, "Iya sayang, Mas udah maafin kamu. Lain kali hati-hati," Nindia mengangguk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
- My Destiny
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊