
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Seorang perempuan terlihat semakin dendam dan benci setelah kebahagian tetap berada di dekat Nindia. Tidak seperti dirinya yang hidup dalam kesusahan.
Bahkan perusahan yang dibangun keluarganya pun semakin kacau semenjak penarikan saham dan pembatalan beberapa kerja sama, tentu saja pelakunya tak lain dan tak bukan adalah penguasa Aristarco Corp, Reyhan. Tindakan yang dilakukan Reyhan berhasil membuat usaha miliki keluarganya collaps dan memiliki hutang yang cukup besar. Bukan hanya Aristarco Corp, saja yang menarik sahamnya. Beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahan Papanya mulai menarik saham setelah munculnya video pengakuan dua orang tentang dirinya yang terlibat rencana pembunuhan. Sampai sekarang dirinya menjadi incaran polisi.
"Sekarang lo boleh senyum sepuasnya. Tapi tenang saja, sebentar lagi senyum itu gue pastikan akan lenyap. Se la ma nya," ucap seseorang yang berada di dalam mobil sambil mengawasi setiap pergerakan Nindia.
____________________
Semenjak dua kejadian yang menimpanya secara beruntun, Nindia menuruti apapun yang dilarang oleh Reyhan. Ia sadar bahwa selama ini dirinya cukup egois dengan menentang larangan Reyhan dan mengakibatkan dirinya dan anaknya dalam bahaya.
Salah? Tentu saja Nindia tahu bahwa ia salah karena telah membantah Imamnya, surganya. Memang membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari dan menekan keegoisannya, tapi beruntung bagi Nindia yang memiliki suami seperti Reyhan yang dengan sabar menuntun dan menunjukkan jalan yang benar.
Tak ada satupun manusia yang sempurna. Sama halnya dengan Nindia yang terkadang melupakan kewajiban dan haknya kepada suami. Tapi dengan berjalannya waktu, Ia akan mencoba memperbaiki diri lagi agar tak akan ada kejadian yang merugikan siapapun.
"Maafin aku," ucap Nindia lirih saat mengingat kesalahan yang dilakukannya. Air matanya tak terasa jatuh begitu saja. "Maafin aku karena udah ngebantah kamu," ucap Nindia sambil melihat foto ilham di ponselnya.
Hari ini keadaan rumah Nindia cukup sepi karena ditinggal kerja oleh Reyhan. Apalagi sejak kemarin Bi Minah di minta ke rumah Bundanya karena Bi Siti sedang pulang kampung.
Sebenarnya Nindia tak masalah di rumah sendirian. Akhir-akhir ini perasaannya menjadi gelisah. Nindia merasa setiap gerak-geriknya selalu diawasi oleh seseorang. Tapi saat menoleh ke belakang, Nindia selalu tidak mendapati apapun.
tek tek tek
"Bentar," teriak Nindia sambil berdiri dari sofa.
tek tek tek
"Sabar dong.. Orangnya lagi jalan," ucap Nindia yang sudah kesal karena tamunya tak sabaran. Ia juga sempat mengernyit bingung saat tamunya tak langsung memencet bel rumahnya, melainkan memukul pintu pagar.
Nindia berjalan sambil memegangi pinggangnya. Sekarang sudah terasa jauh lebih berat karena usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan. Pergerakan dedekpun kerap kali membuat perutnya nyeri.
ceklekk
Saat pintu terbuka, Nindia tak mendapati siapapun di depan pintu pagar rumahnya. Ia hanya mendapati kardus yang tergeletak.
"Kok enggak ada orangnya sih?" bingung Nindia. Ia kemudian mengambil kardus dengan susah payah.
"Enggak tahu apa kalau orang hamil itu susuh jongkok." kesal Nindia.
Nindia kemudian melihat ke segala sisi kardus untuk melihat siapa pengirimnya. Siapa tahu ada yang salah kirim, tapi kenapa orang yang mengantar meninggalkannya bahkan tanpa nama pengirim?
Entah dari mana rasa penasaran Nindia muncul. Akhirnya ia membuka kardus tersebut setelah mengunci pintu pagar.
"Aaarrgghhhh," teriak Nindia kemudian menutup mulutnya.
Kardus tersebut langsung jatuh karena tangan Nindia yang gemetar. Nindia tak pernah membayangkan akan mendapatkan hal mengerikan seperti ini dalam hidupnya. Bagaimana tidak, di dalam kardus ada boneka yang wajahnya penuh luka dan dilumuri darah. Tepat di jantungnya terdapat kertas bertuliskan 'die' yang tertusuk pisau.
Dengan susah payah dan sisa tenaganya, Nindia langsung masuk ke dalam rumah. Nindia bersandar di pintu dan tak lama tubuhnya luluh setelah berhasil mengunci pintu rumah. Tangannya secepat kilat mencari kontak seseorang, ia butuh teman agar dirinya tenang.
📲 Bella : Hallo
Nindia : Ha.. Hallo.. (Jawab Nindia sambil sesenggukan).
📲 Bella : Lo kenapa?
Nindia : (Semakin terisak) Bel.. Bel.. Tolongin gue. Gu... gue takut.
📲 Bella : Hey... Lo kenapa?
Nindia : Awwww...
📲 Bella : Jangan bercanda Nin (Suara Bella terdengar khawatir). Lo di mana?
Nindia : Bella, perut gue kram. Tolongin gue. Gue di rumah, sendiri (terdengar sedikit rintihan).
tutt
Nindia langsung mematikan telponnya sepihak. Ia mencoba mengatur nafas agar perutnya tak bertambah kencang. Keringat sudah membasahi dahinya. Ia hanya berharap anaknya akan selamat walaupun dirinya harus berkorban. Ia ingin ankanya melihat dunia, meskipun tak bersama dirinya.
"Tahan ya sayang," ucap Nindia sambil mengatur nafas dan sekali mengelus perutnya. "Mama akan berusaha mempertahankan kamu,"
Di sebrang jalan rumah Nindia, seorang perempuan tersenyum puas mendengar teriakan ketakutan Nindia. Ini belum seberapa bagi orang itu. Ia akan melakukan segala cara yang setimpal dengan penderitaan keluarganya.
____________________
Baru saja sampai di kampus, Bella langsung dibuat khawatir setelah mendapat telepon dari Nindia. Ia secepat kilat menghubungi Tia dan Gita, setelahnya ia mamacu pinky, mobilnya menuju rumah Nindia.
Dalam perjalanan doa tak henti keluar dati mulutnya. Bahkan Bella beberapa kali terdengar mengumpat saat merasa lampu merah sangat lama, seakan menghalangi dirinya untuk sampai secepat mungkin.
"Shit! Ini kenapa lama banget sih? Enggak tahu orang lagi buru-buru." kesal Bella.
Saat menoleh ke belakang, Bella tak sengaja melihat mobil Gita tak jauh dari tempatnya sekarang. Bella sudah tak bisa berfikir lagi saat mengingat jerit ketakutan kesakitan Nindia. Setelah lampu hijau, Bella langsung memacu mobilnya secepat mungkin. Ia sudah tak menghiraukan umpatan yang Ia terima dari pengemudi lainnya.
cittt
Bella langsung memarkirkan mobilnya. Ia kemudian mencari kunci duplikat pagar yang diberikan oleh Reyhan semenjak kejadian keracunan makanan.
Isi kardus teror yang keluar berhasil membuat Bella terkejut dan sedikit mual.
"Bel, apaan?" tanya Gita yang berdiri di belakangnya.
Bella memasukkan kembali isi kardus tersebut dengan menahan rasa mual dan jijik, kemudian menyerahkan kardus tersebut ke Gita, sedangkan dirinya sudah lari ke dalam, "Buang itu kardus." perintah Bella.
Gita yang sudah mengetahui isinya pun langsung lari keluar untuk membuangnya. Ia masih tak bisa menebak maksud orang yang mengirim.
ttokk ttokk ttokk
"Nin, ini gue. Buka pintunya!" teriak Bella. Ia sudah tak menghiraukan tetangga sekitar.
ttokk ttokk ttokk
"Nindia..." panggil Bella tak sabaran
ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka dari dalam. Bella melihat Nindia yang sudah pucat dan dipenuhi keringat.
"Hey, Nindia. Jangan bikin kita panik!" Bella menepuk pipi Nindia agar tak kehilangan kesadaran.
Mata Nindia terlihat semakin sayu. Ia sudah tak memiliki tenaga untuk menjawab Bella. Ia mempertahankan kesadaran dengan susah payah.
"Gita, Tia. Bantuin gue," teriak Bella.
"Astaga," teriak Gita dan Tia saat melihat kondisi Nindia.
"Jangan banyak bacot! Tia ambilin minum, Gita bantu gue angkat Nindia. Kita bawa ke rumah sakit. Pakek mobil gue aja," jelas Bella cepat tanggap.
Setelah memastikan rumah Nindia terkunci dan aman, Bella langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sedangkan dibelakang Gita dan Tia mencoba membuat Nindia relaks dan beberapa kali mengusap peluh Nindia.
"Masih lama banget? Kasian gue lihat Nindia nya," ucap Tia sambil memberikan Nindia minum.
"Daripada terus ngerecokin Bella, mendingan lo telepon Prof. Reyhan." kesal Gita yang terus-terusan mendengar keluhan Tia.
Tia mendengus, "Gue kan cuma kasian sama Nindia." ucap Tia sambil mengapit telepon di telinga kanannya. Setelah tiga kali dering, Tia menggelengkan kepala saat tak mendapatkan jawaban.
Setibanya di rumah sakit, Bella langsung keluar untuk meminta bantuan. Setelah Nindia mendapatkan pertolongan pertama di ICU, ketiga sahabat itu tak bisa menutupi kekhawatiran yang tercetak jelas di raut wajah mereka.
Bella duduk dengan menggigit jarinya. Gita berjalan mondar-mandir di depan pintu ICU, sedangkan Tia sudah beberapa kali mengumpat saat telponnya dan mendapatkan respon.
"Gimana? Prof Reyhan udah bisa dihubungi?" tanya Bella yang berusaha mengembalikan kewarasannya.
Gita dan Tia menggelengkan kepalanya. Sudah puluhan kali mereka mencoba menghubungi dosen sekaligus suami daru sahabatnya ini, tapi hasilnya tetap sama.
"Buk,... Lo belum coba hubungi ayang bebeb?" tanya Tia yang membuat Gita dan Bella menepuk jidat. Bagaimana bisa mereka mepupakan orang yang kemungkinan besar sedang bersama dengan Reyhan.
"**** banget gue. Bentar, kalian tunggu di sini. Gue mau telepon Ilham dulu," ucap Bella yang menjauh ke tempat yang lebih sepi.
Tak lama Bella kembali dengan wajah yang jauh lebih tenang. Bisa dipastikan Reyhan sudah mengetahuinya.
"Gimana?" tanya Gita.
Bella mengangguk , "Syukurllah. Mereka lagi meeting. Katanya diusahakan secepat mungkin."
ceklekk
"Keluarga pasien.." ucap dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Bella langsung berdiri dan menghampiri dokter.
"Saya dok."
"Suaminya?" tanya dokter yang tak melihat laki-laki satupun.
"Masih dalam perjalanan," sahut Gita.
Dokter mengangguk, "Kondisi janin dan ibunya sudah jauh lebih baik. Tapi masih memerlukan perawatan yang intensif. Ini sudah ketiga kalinya Ny. Nindia masuk ke ruang ICU dalam waktu kurang dari satu bulan. Saya berharap kalian lebih menjaga dan memperhatikan apa saja yang dilakukan Ibu agar tidak membahayakan calon anaknya. Jauhkan segala hal yang membuat ibu syok dan berakibat fatal bagi janin." jelas dokter. "Jika Suaminya sudah datang, tolong diminta ke ruangan saya." tambahnya sambil tersenyum.
Bella membalas senyuman dokter tersebut, "Baik dok. Terimakasih,"
tap tap tap
Gema langkah tegas menginstrupsi segala kegiatan di lorong rumah sakit. Bahkan sang pelaku tak menghiraukan tatapan penuh pemujaan yang masih sempat-sempatnya dilayangkan oleh pengunjung ataupun suster yang sedang bertugas.
"Di ruang mawar no 432," jawab petugas yang sudah mengetahui siapa yang ada di depannya berbeda dengan suster baru.
Reyhan langsung pergi, bahkan tak mengucapkan terimakasih pada resepsionis.
Ilham yang melihat menganggukkan kepala, "Terimakasih,"
"Sama-sama tuan," jawab resepsionis.
Rasa khawatir memenuhi jiwa Reyhan. Ia menyesali karena tak berada di samping Nindia saat semuanya terjadi hingga malam hari. Bagaimanapun keselamatan dua malaikatnya adalah prioritas utama. Ia bahkan rela menukar seluruh hartanya untuk kebahagian dan keselamatan Nindia beserta anak-anaknya.
ceklekk
Orang yang ada di ruang rawat Nindia langsung menoleh. Mereka melihat jelas gurat kekhawatiran di wajah dosen sekaligus suami sahabatnya.
"Kami permisi dulu," ucap Bella sopan.
Reyhan hanya mengangguk dan langsung duduk di samping Nindia. Menggengam tangan sang istri begitu erat dan mengecupnya beberapa kali. Bibir pucat Nindia tak luput dari perhatiannya. Ia sangat menyesali apa yang terjadi pada Nindia dan Ia lagi-lagi kecolongan.
"Gimana keadaan Nindia?" tanya Ilham di depan ruang rawat Nindia.
"Ya gitu," jawab Bella.
"Gue sama Tia pulang dulu. Udah malam juga, titip salam buat Prof Reyhan," pamit Gita.
"Kalian hati-hati." pesan Ilham.
"Hati-hati lo, bawa mobil gue aja," ucap Bella sambil menyerahkan kunci.
"Lo?"
"Ada saya. Kalian tenang saja, Bella aman sama saya," Ucap Ilham menenangkan.
"Kita pamit dulu, Assalamualaikum." setelah itu Gita dan Tia meninggalkan rumah sakit dengan mobil Bella.
Bella menyandarkan punggungnya pada tembok. Kepalanya sangat pening karena sejak pagi tidak makan. Saar memejamkan mata, Bella merasakan usapan pada puncak kepalanya.
"Capek?" tanya Ilham dengan senyu manis.
Bella membalas senyum hangat sang kekasih. Yang dibutuhkannya saat ini adalah asupan makan. Kepalanya sudah sangat pusing.
"Ayo ke kantin rumah sakit," ucap Ilham sambil menarik tangan Nindia.
____________________
Nindia masih saja terlelap dalam tidurnya. Kemarin Nindia sudah sempat sadar, tapi karena keadaanya masih lemah Reyhan menyuruhnya tidur kembali. Di sebelahnya sudah ada Reyhan yang kembali sibuk dengan pekerjaan kantornya. Sesekali Reyhan melihat keadaan Nindia. Wajahnya sudah tak sepucat kemarin.
"Eeeuunghhhh," lenguh Nindia yang berhasil mengalihkan perhatian Reyhan.
Reyhan meletakkan laptop di meja dan segara bangkit menghampiri Nindia, "Sayang."
Nindia mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang baru saja diterima retina matanya. Hanya warna putih yang ia dapati setelah berhasil membuka mata sepenuhnya.
"Ha... us,"
__ADS_1
Reyhan langsung mengambilkan Nindia minum dan membantunya perlahan. Setelah meletakkan gelas, Reyhan mengelus surai panjang milik Nindia. Sesekali dikecupnya sayang kening istrinya.
"Kamu enggak kerja?"
Reyhan berdecak kesal, "Gimana aku bisa fokus kalau kamu saja masih gini,"
Nindia tersenyum sambil mengelus lengan kiri Reyhan, "Aku udah baik-baik aja. Kalau kamu sering enggak masuk, perusahaan akan anfal. Aku enggak mau ya anak-anak aku hidup susah,"
Reyhan terkekeh mendengar perkataan Nindia. Reyhan tidak merasa tersinggung sedikitpun meskipun istrinya tahu bahwa hartanya tak akan habis tujuh turunan. Reyhan juga tahu kalau istrinya hanya berusaha membujuk dengan cara halus agar Reyhan berangkat kerja, bukannya matre.
"Beneran enggak apa-apa aku tinggal?" tanya Reyhan.
Nindia mengangguk lemas, Ia tak boleh egois dengan menahan Reyhan di sisinya. Banyak nasib yang dipertaruhkan jika perusahaan mengalami masalah.
"Lagian hari ini kan libur kuliah. Entar aku suruh Bella ke sini buat temenin,"
"Ya udah kalau gitu,"
Reyhan mendekat dan mengecup bibir Nindia. Entah setan apa yang merasuki membuat Reyhan menuntut dalam ciuman, membuatnya mulai ******* dan mencecap bibir manis Nindia. Bahkan tangan kanan Reyhan sudah menahan tengkuk Nindia agar ciumannya semakin dalam.
Tanpa sadar, dua kancing atas Nindia sudah terbuka. Membuat kilat gairah Reyhan semakin membara, sampai....
ceklekk
"Oppsss,"
"Shit!" umpat Reyhan karena kesenangannya terganggu. Ia hafal betul pemilik suara tersebut. "lham," erang Reyhan.
Ilham berdecak beberapa kali, "Kalau mau berbuat mesum, kunci dulu pintunya. Beruntung yang masuk itu gue, kalau yang lain gimana?"
Nindia sudah sangat malu saat tertangkap basah oleh Ilham sedang bercumbu. Ya... Nindia sangat beruntung keluarga yang memergoki, kalau orang lain sudah dipastikan Nindia tak akan sanggup memperlihatkan wajahnya.
"Aku berangkat dulu ya," ucap Reyhan setelah mengecup kening Nindia.
"Nasib yang belum halal," ucap Ilham sambil mengelus dadanya. "Hati-hati ya. Nanti kalau ada sesuatu yang mencurigakan, telpon aja Kakak kalau Reyhan sibuk. Bella bentar lagi ke sini," pesan Ilham sambil mengelus puncak kepala Nindia.
"Iya Kak,"
plakkk
"Enggak usah pegang-pegang. Bukan mukhrim,"
Nindia cukup terhibur dengan tingkah Ilham dan Reyhan. Meskipun mereka sudah dewasa, tapi dibeberapa kesempatan selalu bertingkah seperti anak kecil.
klung kling
Nindia mengambil ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk. Ia berfikir yang mengirim pesan adalah Reyhan karena ada sesuatu yang tertinggal, tapi pesan tersebut dari nomor tak dikenal.
📩 +6285567xxxxxx : Are you scared? ha ha ha. I'm glad to see the look on your scared face, son of a *****. Not much, just wait for the next.
Ini sudah kesekian kalinya Nindia mendapatkan pesan bernada ancaman yang ditunjukkan kepada dirinya. Tapi yang anehnya nomor pengirim selalu berubah. Awalnya Nindia tidak menganggap serius setiap pesan yang dikirim. Tapi semakin lama, Nindia semakin yakin bahwa ada yang sedang mengincar nyawanya tyerbukti dari kejadian keracunan di restoran dan pengiriman boneka berdarah ke rumahnya.
"Nin, elo kenapa?" tanya Bella sambil meletakkan buah yang di bawa kemudian melihat Nindia yang melihat ponsel dengan kening berkerut.
Bella langsung mengambil ponsel yang dipegang Nindia. Ia juga mengernyitkan dahi saat membaca isi pesan tersebut.
"Nin, lo dapat ini dari siapa?"
Nindia berdecak setelah berhasil menguasai diri, "Kalau gue tahu, gue gak akan capek-capek buat mikir, ogeb"
Bella tak meannggapi ucapan Nindia. Sekarang yang ada dalam fikirannya adalah siapa pengirim pesan tersebut. Bella bahkan mengaitkan dengan orang berpakaian serba hitam yang Ia lihat sebelum Nindia keracunan makanan.
"Lo udah lama dapat pesan kayak gini?"
Nindia mengangguk, "Udah beberapa kali sih. Pertama itu sebelum gue berangkat ke restoran. Terus setelah pulang dari rumah sakit sampai sekarang masuk rumah sakit lagi, mungkin udah lima kali atau tujuh kali. Gue lupa soalnya,"
"Terus lo udah kasih tahu Kak Rey?" tanya Bella yang dijawab gelengan oleh Nindia. "****! Kalau udah tahu diteror gini, seharusnya elo langsung bilang. Mau tunggu lo masuk liang lahat baru bilamng?"
"Awalnya sih gue kira cuma orang iseng aja. Mana mikir sampai ke sana, orang gue kagak punya musuh. Kalau Reyhan tahu, dia akan semakin khawatir. Gue enggak mau kalau buat dia kepikiran terus sakit. Masalah di perusahaan juga enggak bisa dibilang gampang, mau ditambah masalah ini? Mana tega gue," jelas Nindia dengan sendu.
klung kling
📩 +6285567xxxxxx : Jangan banyak fikiran dulu. Lebih baik lo tiduran habis itu lo bebas rencanain apapun
Bella langsung keluar kamar dan melihat sekeliling. Di kejauhan, Ia melihat orang berpakaian serba hitam lagi. Sepertinya orang itu memang mengincar Nindia.
"Ada yang enggak beres," gumam Bella dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
- My Destiny
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari pinterest dan google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan atau kesamaan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊😊