
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
"Ini hanya milik aku, hanya aku yang bisa menyentuhnya," ucap Satria seduktif.
Wajah Gita memerah kemuadian mengangguk seraya tersenyum manis, "Makasih,"
Satria mengangguk dan terkekeh, "Cieee yang blushing" goda Satria.
Guta mengalihkan pandangannya, "Apaan sih,"
"Gak usah malu kali." Satria mencubit pipi Gita, "Gemes aku jadinya,"
plakkk
Gita memukul tangan Satria tang tadi mencubitnya, "Sakit, Sat. Kamu tuh hobi ya cubit pipi aku." protes Gita seraya mengusap pipinya yang terasa panas dan perih.
"Maaf, Sayang. Habisnya kamu buat aku gemes. Apalagi setiap pipi kamu merah." ucap Satria seraya memasang sabuk pengaman nya kembali.
"Sayang sayang, siapa sayangnya kamu?" tanya Gita.
Satria tersenyum, "Ya kamu lah. Siapa lagi coba."
"Udah deh, jangan kebanyakan gombal. Buruan jalan, Pasti udah ditungguin Mama."
"Oke,"
Satria menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Gita sampai rumahnya. Selama perjalanan, Satria tak henti-hentinya menggoda Gita.
Sedangkan yang digoda hanya bisa memalungkan wajahnya agar tidak ketahuan Satria saat blushing. Gita sangat bersyukur mendapatkan perhatian dari orang yang ia sayang.
"Makasih, Ya. Jangan ngebut-ngebut" ucap Gita saat sudah sampai di depan rumahnya.
Satria mengangguk, "Gih masuk. Setelah utu aku baru pulang"
Gita menuruti perkataan Satria untuk masyk lebih dahulu. Setelah melihat Gita menghilang di balik pintu, akhirnya Satria menjalankan mobilnya menjauh dari rumah Gita.
___________________
Sinar mentari menyinari wajah canti ibu muda yang masih bergelung di bawah selimut. Seakan tak terganggu oleh mentari yang mulai tinggi.
"Nin," panggil Reyhan.
Sebenarnya Reyhan tak mau mengganggu tidur sang istri, tapi ia harus melakukannya karena hari ini Nindia ada kelas dan kebetulan adalah kelas yang diampu oleh Reyhan.
Nindia yang merasa terganggu hanya bergumam tak jelas dan membalikkan badan mencari posisi tidur yang nyaman.
Reyhan tersenyum melihat tingkah menggemaskan Nindia, "Lihat sayang, Mommy kamu jadi pemalas." ucap Reyhan sambil mengelus perut Nindia dari belakang.
Nindia mengerjapkan mata saat merasakan elusan di perutnya, "Pagi, Bee."
Reyhan mendongak, menatap wajah wanita yang sialnya cantik meskipun bangun tidur, "Pagi," cupp. "Ayo bangun, kamu hari ini ada kelas"
Nindia tersenyum, "Itu mah urusan kecil. Aku bisa minta keistimewaan dari dosen hari ini"
"Enggak! Enggak ada keistimewaan meskipun kamu istri aku." batah Reyhan. Ia sangat tidak setuju dengan perkataan Nindia.
"Lhooo, emang kamu dosen yang aku bicarain?" goda Nindia. Ia sangat mengetahui bahwa suaminya sangat tidak suka pada orang yang memanfaatkan kekuasaan.
Reyhan mendengua kesal, "Sekarang kamu mandi terus sarapan. Aku udah buatkan kamu salad sayur sama susu hamil."
Nindia bangun dan memberikan morning kiss pada Reyhan, "Iya suamiku sekaligus dosen killer ku," Nindia mengelus rahang Reyhan.
Reyhan mengangguk, Ia sudah mulai terbiasa dengan panggilan Nindia. Yang paling penting adalah kebahagian dua nafasnya, anak dan istrinya.
__ADS_1
Nindia tersenyum sangat manis, "Makasih ya, Bee."
Reyhan berdiri dan berjalan menuju pintu, "Iya, Aku tunggu di bawah,"
Setelah Reyhan pergi, Nindia segera bangun dan mencepol rambutnya asal kemudian berjalan menuju kamar mandi.
____________________
Hari ini Reyhan memaksa Nindia untuk berangkat bersamanya. Ia takut kalau Nindia berangkat sendiri akan terjadi sesuatu. Sebenarnya Nindia sudah menolaknya, Ia takut teman-teman dikampusnya akan curiga bila dirinya turun dari mobil dosen Idola kampus. Asal tahu saja, Reyhan memiliki banya fans fanatik yang selalu mengirimkan bunga dan surat-surat cinta. Awalnya Nindia merasa risih setiap melihat tumpukan bungan dan surat yang ada di ruangan Reyhan, tapi makin kesini ia semakin terbiasa.
"Tuh kan banyak yang lihat," ucap Nindia yang masih di dalam mobil. Baru melihat mobil Reyhan memasuki parkiran kampus saja sudah banyak yang berkerumun. Apalagi nanti kalau Nindia keluar, Ia saja tak bisa membayangkan.
Reyhan melepas sabuk pengamannya, "Udah enggak apa-apa. Siapa yang berani sama kamu? Emang selama ini ada yang berani ganggu kamu?" tanya Reyhan. Ia pasalnya tahu kalau banya dari mahasiswanya yang takut jika berurusan dengan Nindia and the geng. Nindia dan sahabatnya terkesan jahil dan akan selalu menjahili orang yang menggangu mereka. Meskipun begitu, keadaannya saat ini berbeda. Ia sekarang tidak sendiri, melainkan berdua.
"Ya bukan gitu. Emang aku sama sahabat aku semenakutkan itu?" tanya Nindia seraya menggenggam kuat tali ranselnya.
Reyhan mengernyitkan kening karena tidak mengetahui arah pembicaraan Nindia. Namun tiga detik kemudian Reyhan tertawa saat mengerti maksud Nindia.
Reyhan mengacak rambut Nindia, "Menurut kamu gimana? Banyak dosen yang ngeluh sama sikap kalian. Untungnya kalian pinter, kalau enggak?"
Nindia meringis, menampilkan deretan giginya, "Parah banget ya?" Reyhan mengangguk. "Tapi aku janji, aku akan coba kurangin kejahilan aku."
"Jangan dikurangin aja, kalau bisa dihalangkan" potong Reyhan dan Nindia hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah sedikit berargumen dengan Reyhan, Nindia keluar dari mobil. Benar saja apa yang dikatakan Nindia, Ia langsung mendapatkan berbagai macam jenis tatapan. Mulai dari tatapan bungung, tak percaya, iri, marah, dan masih banyak jenis tatapan yang diberikan teman-teman kampusnya.
Bagaimana tidak, dosen idola mera turun dengan salah satu most wanted kampus mereka. Pasti banyak yang bertanya-tanya. Namun, Nindia tak memperdulikan bagainana tatapan teman-temannya. Ia terus melangkahkan kakinya untuk menuju kelas.
Setelah geger dengan berita Nindia dan Prof. Reyhan membuat sahabatnya penasaran.
📱GRUP BGSD📱
📢Kumpulan Mahasiswa Anti Tugas📢
📩Ibuk Bella
Nin, gimana? Lo dikeroyok fans suami atau enggak?
Gila! Satu kampus heboh cuma gara-gara Nindia.
Nindia
****, gue juga kepaksa kali berangkat bareng.
📩Gita Melow
Rasain lo! Siap-siap diamuk sama fans fanatik suami lo.
Nindia
😑
Setelah mengirimkan pesan terakhir, Nindia menatap sahabatnya satu persatu. Ia seperti memberi tatapan peringatan. Ia juga menyadari kebodohannya untuk menyetujui permintaan Reyhan, tapi utu juga demi kebaikan dirinya dan anak yang ada dalam kandungannya.
Nindia sama sekali tak bisa fokus pada pelajaran yang sedang dijelaskan oleh salah satu dosen. Ia masih kepikiran apa yang akab terjadi padanya setelah banyak mahasiswa yang mengetahui dirinya berangkat dengan Reyhan.
"Gini nih ribetnya punya laki yang tampannya maksimal," gerutu Nindia ditengah-tengah lamunannya.
____________________
Setelah mengikuti kuliah dua jam yang membosankan, akhirnya the glamorous (Nindia and the geng) bisa berkunjung ke salah satu tempat favorit di kampus.
"Itukan cewek yang berangkat bareng Prof. Reyhan"
"Cantik sih,,, tapi masih cantikan gue hahaha"
"Bagian mananya yang cantik?"
"Etdah,, gue kalah cepet sama Prof. Reyhan."
__ADS_1
"Emang dia mau sama lo?"
"Palingan Prof. Reyhan kena pelet tuh cewek"
Panas, telinga Nindia sangat panas mendengar perkataan mahasiswa yang ia temui saat mau ke kantin. Meskipun mereka hanya bisik-bisik, tapi masih bisa didengar oleh Nindia. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengatainya dengan suara keras.
Sahabat Nindia hanya bisa geleng-geleng kepala saat sudah sampai di kampus. Mereka juga tak menyangka ada yang berani mengatakan kalau Nindia menggunakan pelet. Kalau mereka jadi Nindia sudah didatangi langsung dan dipastikan rambut akan banyak yang rontok. Untungnya Nindia masih punya stok sabar meskipun telinganya sudah panas.
"Gila aja tu mulut-mult nenek lampir," hujat Tia.
Gita mengangguk, "Bukan itu aja, yang laki-laki ternyata juga suka gosip. Ih ternyata, laki-laki di kampus ini keturunan mak-mak rempon sama chili's"
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Bella sama sekali tidak memperdulikan mahasiswa yang menghujat Nindia. Bella hanya mengkhawatirkan Nindia. Kalau Nindia stres, bisa-bisa kehamilannya akan bermasalah.
Bella meraih tangan kiri Nindia dan mengelusnya, "Nin, lo gak apa-apa?"
Nindia tersenyum, "Gue gak apa-apa kok. Pasti ada saatnya kejadian ini terjadi. Enggak mungkin kalau selamanya bisa aman"
"Tapi lo gak boleh setres," Gita juga khawatir dengan keadaan Nindia.
"Bisa-bisa lo gila kalau mikirin mereka," timpal Tia.
ttukk
Satu bungkus kerupuk nelayang ke Tia, "Eh ogeb, mulut lo ya. Disini udah berlima. Jangan sampai anak gue denger kata-kata gak mutu dari lo,"
"Tahu tu anak, memang mulutnya seblak," ucap Gita.
Nindia, Bella, dan Tia diam sebentar sambil memikirkan perkataan Gita. Mereka merasa ada yang aneh dengan ucapan Gita.
1
2
3
"NYEBLAK OGEB," teriak mereka bertiga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
__ADS_1
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊