Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Pergi ke makam Gloria


__ADS_3

Setibanya Vino di apartemen, langsung menuju kamarnya, dia berusaha memejamkan matanya. Namun ternyata kantuk enggan datang kepadanya, ingin rasanya segera pagi dan pergi ke makam Gloria. Namun apa daya malam terasa panjang. Dia bangun dari ranjangnya lalu turun kemudian berjalan keluar kamar.


Vino melangkah ke dapur untuk membuat secangkir kopi.


Perutnya juga merasa sangat lapar, ia mencari sesuatu di dalam lemari pendingin ternyata ada puding dan juga beberapa buah-buahan serta roti yang ia yakini buatan kakaknya, ia mengambil beberapa potong roti, serta puding ditaruh di dalam piring dan membawa keruang tengah bersama dengan kopi kemudian duduk berselonjor di atas karpet dengan bersandarkan pada dinding.


Dia mulai menyuapkan makanan dalam mulutnya dan meminum kopinya secara perlahan, hati dan otaknya mengembara kemana-mana, malam semakin larut tak membuat keresahan hilang. Walaupun cinta memang tak harus memiliki akan tetapi perpisahan dengan cara ini sangat begitu sakit, jika ada kata cinta mungkin tak sesakit ini. Namun, hidup haruslah terus berjalan apapun yang terjadi.


Waktu terus berjalan jam dinding terus berputar, malam pun semakin larut, roti juga puding telah tandas begitu pula dengan kopinya.


Dia pun berdiri dari duduknya membawa piring dan gelas yang kotor kedalam dapur serta mencucinya lalu di letakan ke atas rak piring kemudian melangkah kaki menuju tempat tidur dan mulai membaringkan badannya dan melepaskan kelelahan hati dan ragaku hingga hilang semua rasa, Vino menatap langit- langit kamar apartemen.


Terbayang senyum gadis itu, belum puas rasa memandang menimati kecantikan namun harus pergi begitu saja. Pikiran Vino terus mengembara di ruang tak terjangkau bunga layu seketika hilang keindahan dan semerbak harumnya.


hingga terlelap dengan sendirinya.


...----------------...


Alarm handphone-nya berbunyi menunjukkan jam setengah lima pagi, Vino menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh.


Setelah sholat subuh mereka berolahraga sebentar di ruang olahraga, setelah itu mereka sarapan. Beberapa menu makanan sudah disiapkan di karpet ruangan sebelah, terlihat mereka sudah berkumpul dan menikmati sarapan paginya. Vino terlihat tergesa-gesa ia segera menyelesaikan makannya lalu bergegas ke kamarnya berganti pakaian dengan rapi, hendak keluar dari apartemen, Bara yang mengetahui itu segera mengejar Vino dan berteriak memanggilnya.

__ADS_1


"Vino, tunggu!"


Vino pun menghentikan langkahnya dan Bara menghampiri adik iparnya itu.


"Jangan pergi sendiri, minta antar sopir dia sudah tahu kemana kamu akan pergi, dan ini untuk kamu."


Vino terkejut menatap mata kakak iparnya itu. "Gak usah Bang, aku sudah dikasih sama Ayah.


"Gak apa-apa ambil saja," jawab Bara.


Vino mengangguk dan mengambil kartu debit itu lalu meneruskan jalannya dan masuk kedalam lift yang mengantarkan ke lantai dasar kemudian ia naik mobil yang telah dipersiapkan dia untuk mengantar ke makam Gloria.


Setelah satu jam perjalanan mereka tiba di area pemakaman di Gloria di kuburkan, Vino keluar dari mobil dengan membawa rangkaian bunga mawar merah dan berjalan memasuki area pemakaman.


Dengan hati yang tak menentu dan pandangan matanya yang sedang focus mencari-cari keberadaan makam kekasihnya, sampai dia tidak memperhatikan keadaan yang ada di sekelilingnya. Hingga dia merasa ada sesuatu yang menabrak tubuhnya begitu keras dan terdengar bunyi sesuatu terjatuh kemudian menyusul dengan teriakan kesakitan, umpatan dan cacian, Vino baru sadar ada seorang gadis jatuh terjengkang didepannya dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat gadis itu mirip Gloria. Namun, ketika melihat kalung yang dipakai gadis itu tatapannya berubah dingin layaknya es batu. "Can't your eyes see!? Until it just crashes into me!" katanya dengan mata yang terbuka lebar dan dengan rahang yang mengeras (Apa matamu tidak bisa melihat!? Hingga menabrakku!)


"You hit me, not me. Why are you mad?" teriak Vino marah dan berlalu begitu saja tanpa peduli dengan umpatan gadis itu (Kau yang menabrakku, bukan aku. Kenapa kau marah?)


"What? Wait!" kata gadis itu sambil berlari ke arah Vino lalu menarik tangan pria itu, hingga membuat Vino menghentikan langkahnya. (Apa? Tunggu!)


"Our troubles aren't over yet, you can't just go off on your own!" kata gadis itu sambil berkacak pinggang (Masalah kita belum selesai, kamu tidak bisa pergi seenaknya sendiri!)

__ADS_1


"I have no problem with you, your problem is with yourself, so please go away! Don't bother me!" kata Vino dengan tatapan tajam membunuh.


(Aku tak punya masalah denganmu, masalahmu ada pada dirimu sendiri, jadi tolong pergilah! Jangan ganggu aku!)


Pertengkaran mereka tidak luput dari pengelihatan seorang lelaki paruh baya yang datang menghampiri mereka.


"Enough dear! this is at your sister's grave, please respect her!" kata lelaki itu. (Cukup, sayang! ini di makam kakakmu tolong hormat dia)


Gadis itu langsung terdiam dan menunduk tajam. "Excuse my daughter, you can continue your business here," kata pria itu sambil tersenyum lalu menarik gadis itu mengajaknya pergi. (Maafkan putri saya, Anda bisa melanjutkan urusan Anda di sini)


Vino mengangguk. "Thank you, sir," katanya sambil mengatupkan tangannya lalu pergi sambil mengumpat lirih masih bisa di dengar gadis itu, tetapi dia hanya diam saja karena tak tahu arti dari kalimat yang di ucapkan Vino. "Dasar gadis gila!"


Vino berjalan terus mencari makam yang bertuliskan Gloria Ashalina. Hingga matanya berserobok pada gundukan tanah yang ada rangkaian mawar merah yang masih segar, dalam hatinya bertanya, apakah Gloria mempunyai pria lain selain dirinya sehingga tidak ingin menghabiskan sisa umurnya bersamanya.


Dia menatap gundukan tanah itu lalu berjongkok dan menaruh bunga di atasnya. "Assalamualaikum, Gloria. Mengapa tak kau ijinkan aku bersamamu barang sebentar saja? Setidaknya satu mingu atau tiga hari bersamamu, cukup membuatku merasa sangat istimewa di hatimu, dan apa ini? Ada bunga mawar lain yang menghiasi makammu, aku tak ingin berprasangka apapun, karena nyatanya aku tak tahu apa-apa tentangmu," katanya sambil menatap gundukan tanah yang belum kering.


Dia pun berjalan pergi meninggalkan makam Gloria dengan langkah lebarnya


membawa hati yang terluka. Tak ada yang tahu sebesar apa rasa kecewanya pada Gloria dan sebesar rasa cintaku padanya, di begitu sangat kecewa hingga tak bisa menerima logikanya, Hatinya benar- benar beku sulit untuk mencair.


Vino berjalan terus dengan langkah yang tegap dan lebar tanpa menengok kembali ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2