Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 97


__ADS_3

Setelah tiba di rumah sakit Belvi di periksa dengan sangat teliti, setelah dirasa luka Belvi aman-aman saja maka dokter membolehkan pulang dan memberikan obat jalan.


Setelah selesai mereka pun pulang mengantarkan Belvi pulang kerumah.


Vino mengantarkan hingga masuk kedalam dan menjelaskan apa yang terjadi pada Belvi kepada ibu sambungnya, setelah itu, dia berpamitan pulang.


Natan pun mengantarkan Vino kerumahnya, di sana sedang berkumpul ayah, kakak bersama keluarga kecilnya.


Vino mengucap salam sebelum masuk dan di jawab oleh mereka dengan bersamaan.


Vino langsung masuk kedalam menuju meja makan dan mencium punggung sang ayah, kakak ipar, dan kakaknya.


"Aku ke kamar dulu ya, Yah, Kak. lanjutkan saja makannya sebab hari ini saya akan istirahat dulu," kata Vino.


"Om, gak mau makan siang bareng kita nih," tanya Aska.


"Om tadi sudah makan, As lanjutkan saja makan mu! Om mau istirahat jangan ganggu ya," pintanya kepada kepo


Vino pun berjalan ke arah kamarnya dan masuk kedalam lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah selesai berganti pakaian kemudian melaksanakan sholat duhur, setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia merasa lelah luar biasa akhirnya tertidur dengan lelapnya.


Alarm handphone berbunyi menunjukkan pukul Empat sore, Vino bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air lalu melaksanakan sholat.


Setelah selesai, dia menerima sebuah pesan dan ada kiriman sebuah video yang berdurasi lima belas menitan di bawah ada pesan wa dari Belvi


Belvi

__ADS_1


[Jika berubah pikiran hapus saja videonya karena pesan kak Gloria tidak boleh memberikan kepadamu jika kau tidak bisa mencintaiku]


Vino akhirnya membuka video itu isinya tentang pesan Gloria pada Belvi agar bersedia menggantikan Gloria sebagai kekasihnya.


Vino memejamkan matanya, kemudian menghebuskan nafasnya, 'Apa karena ini kau mengikutiku sampai kemari, Vi, apakah ada cinta selain untuk menepati amanatnya padamu. Aku harus tanya langsung padanya, jika kau tidak menyukaiku tidak masalah ganti aku yang akan mengejar mu, Vi,' batinnya.


"Enak saja kau sudah mengejarku giliran ku tangkap kau pergi, tak akan ku biarkan kau pergi Vi," bisiknya pelan.


.


.


.


Saat makan malam Vino bergabung dengan mereka. "Vin, kapan kau menemukan hatimu? Usiamu sudah berapa?sekarang, kau janji akan meninggalkan profesi dan mengurus perusahaan ayah." Haidar menagih janji Vino.


"Tentu Vin, setelah kamu siap memimpin perusahaan itu, baru aku akan mundur dari jabatan, atau bagaimana jika kau ambil kuliah di Boston dulu baru kau pegang perusahaan ayah," saran Ratih.


"Aku ingin kuliah di sini toh sama saja tinggal otak kita bukan?" tanya Vino.


"Ya kau benar terserah kau saja lah mana yang terbaik untukmu, kakak sekarang tidak memaksamu yang akhirnya membuatmu justru tidak mau pulang."


Vino tertawa. "Itu karena aku tidak suka dengan teman-teman kakak yang sering menyodorkan anaknya atau keponakannya," kata Vino


"Itu, karena kamu belum melepaskan Gloria, kakak pikir dengan adanya orang lain kamu bisa melupakan Gloria ternyata kakak salah," kata Ratih.

__ADS_1


"Seiring waktu berjalan tentu aku akan bisa melupakan Glori tetapi tentu saja aku ingin memilihnya sendiri." katanya pada kakaknya.


Setelah selesai makan malam Vino berpamitan untuk keluar rumah.


Dengan mengendarai motor sportnya dia meluncur kerumah Belvi. Sesampainya di sana Vino di sambut oleh Albert.


"Om, saya ingin bicara dengan Belvi di kamar, kalau Belvi yang keluar kasihan Om, lukanya belum benar-benar kering, pintu kamar biar terbuka saja Om, kalau Om curiga saya bakal ngapa-ngapain Belvi.


"Om, percaya kamu gak akan berlaku kurang ajar pada anak Om, jika iya pasti sudah kamu lakukan saat kalian sedang tugas bersama tutup saja pintunya mungkin ada hal yang privasi yang mau kalian bicarakan dan kami belum boleh tahu, lagi pula si kecil dia suka masuk ke kamar sang kakak jika tidak di tutup," kata Albert pada Vino.


Vino mengangguk dan berjalan menuju kamar Belvi ia pun masuk setelah mengucapkan salam lalu menutup pintu kamar Belvi.


"Kenapa harus di tutup, Vin?" tanya Belvi.


"Ya jelas memang harus di tutup, Vi, belum saatnya di buka kan belum halal,Vi," jawabnya menggoda gadis itu.


"Haiss, apaan sih, Vin?" tanya Belvi tersipu.


"Aku mau tanya sesuatu, Vi, dan ayahmu mengijinkanku kemari, serta menutup pintu itu," jawab Vino.


"Kau mau tanya apa?" tanya Belvi pada Vino.


"Hemm, apa kau pernah punya perasaan padaku?" tanya Vino pada Belvi.


Belvi menghembuskan nafas apa perlu aku jawab? Aah ... kau ini harusnya bukan begitu kau tanya padaku.

__ADS_1


"Lalu harus bagaimana Vi?" tanya Vino sambil terkekeh.


"Pikir sendiri sana," jawab Belvi kesal.


__ADS_2