Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 55


__ADS_3

Hans menatap sang Ayah dengan sangat serius dia kembali bertanya, "Apa tidak ada satupun yang Daddy rasakan seperti gairah menurun setelah daddy mendapatkan suntikan itu jika masih dalam kadar yang aman sih tidak apa-apa tapi kalau benar-benar sudah tidak punya Gairah, Daddy harus benar- benar pensiun untuk suka lakuan itu sama gadis-gadis," kekeh Hans


"Sialan kau Hans, beraninya kau mengatai ku," seloroh Damian.


"Bukan begitu Dad aku mengistirahatkan mu, takut gak bisa begituan lagi soalnya efeknya pasti beda denganku Dadd," kekeh Hans yang pergi keluar ruangan ayahnya begitu, saja, tak lama kemudian Brain datang menghampiri sang majikan, dengan rambut, yang masih basah.


Damian tersenyum sinis sambil melihat asisten putranya itu.


"Enak sekali kau, begituan di saat majikanmu mendapatkan kesusahan, dan kau tak aku dalam keadaan buruk," hardik Damian pada Brain.


"maaf tuan ku kira mereka akan sanggup menjagamu, aku berikan enam pengawal," jawab Brain pada majikannya dengan wajah menunduk.


"Enam katamu apa kau tidak salah menghitung, kata Hans hanya lima, itu artinya gadis itu tidak sendiri tapi dengan temannya, kenapa kau begitu ceroboh Brain sehingga tidak tahu di antara mereka ada penyusup, jika kau bukan orang lama yang ikut denganku sudah ku bunuh kau!" teriaknya kesal.


"Maaf tuan, tolong maafkan saya, saya memang ceroboh hari dua tawanan kita juga kabur, Tuan," jawabnya sambil menunduk.


Damian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Ya sudah, jangan kau ulangi lagi, apa sudah siap semua dan tolong siapkan gadis di kamarku yang paling cantik!" perintahnya.


"Baik tuan," jawabnya sambil mengikuti langkah tuannya.


Mereka berjalan ke lantai atas yang di gunakan sebagai landasan, dan di sana sudah menunggu helikopter, Damian masuk kedalam dan pilot sudah menjalankannya segera menerbangkannya.


Tiga puluh menit dia sudah berada di rumah yang berada di pesisir pantai dan menghadap tepat di bibir pantai.


Damian turun dari helikopter dan berjalan menuju ruangannya, sudah menunggu seseorang gadis dengan pakaian minim menunggunya.

__ADS_1


Dia mengamati gadis itu dengan seksama dan mulai menyentuh bagian tubuh yang membuatnya bergairah. Namun tak membuatnya senjatanya bangkit dia menghela nafas resah, 'Apa yang terjadi denganku? apa pengaruh campuran obat itu membuatku semacam ini aku tidak akan trima, akan ku buru gadis itu di mana pun dia berada, tunggu! Akan ku buat kau menyesal seumur hidupmu, aku tak akan turun tangan sendiri, tunggu Nina,' batinnya.


"Pergilah kembali ke tempatmu!" perintahnya.


Dia berjalan menuju ke jendela kaca tatapannya menerawang pada beberapa tahun yang lalu, dia marah saat Clara tewas karena ulahnya sendiri wanita yang terakhir di cintainya, membuatnya semakin gila, mengumbar hasrat merusak banyak gadis dengan paksa.


'Apa ini akhir dari petualangan ku? bisakah ini kembali normal? aku harus berobat, setidaknya masih bisa melakukan walau tidak seperti dulu lagi,' pikirnya.


"Aaah, Sialan gadis itu di mana dia sekarang bahkan aku tidak tahu wajah aslinya, namanya juga, aku harus meminta bantuan jendral dia pasti tahu siapa-siapa yang di tugaskan untuk menyelidiki ku.


Sementara itu di ruangannya Hans melangkah ke kamarnya dan membuka pintu kamar dan melihat Cahaya terlelap di dalam selimutnya. Ditatapnya gadis yang telah menjadi miliknya dengan paksa.


Diperiksanya kembali luka gadis itu, lalu di oleskan obat kembali tubuh gadis itu menggeliat karena merasa ada yang menyentuh bagian tubuh sensitifnya, lalu dia membuka matanya, melihat pria yang dia benci sedang mengobati lukanya.


"Aku tidak menggangu mu, Haya, aku hanya memeriksa mu saja, aku ini seorang dokter jadi wajar saja jika aku periksa anu mu itu yang sudah ku pakai berkali-kali bahkan aku lupa berapa kali aku melakukannya," jawabnya sambil terkekeh.


"Iya Anda dokter mesum," makinya, sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam sang dokter yang menembus uluh hatinya.


"Iya, aku memang dokter mesum dan aku gak akan marah kamu maki seperti itu, Haya. Kenyataannya memang begitu, mulai sekarang aku berjanji hanya menjadi dokter mesum mu saja cuma kamu, Haya. Kamu bole benci aku tapi jangan terlalu lama yaa," katanya sambil mendekatkan wajahnya pada Cahaya lalu di tautkan kembali pada bibir gadis itu yang terlihat merah merona alami, dinikmatinya dengan sepenuh hati, hingga sang gadis kehabisan nafas, baru melepaskannya.


Di ruangannya Dokter Ari mengingat gadis yang nampak lugu dan ketakutan saat duduk di sofa. 'Aku tak mengira ternyata kau bisa mengatasi Daddyku, cuma aku tidak tahu kenapa kau harus menunggu sampai ke ruangan Daddy, kau bisa saja melawan mereka saat ada disini, Nina,' pikir dokter Ari.


"Ahh, aku tidak tahu bagaimana wajah Daddy saat tahu keadaannya begitu berantakan," katanya sambil tertawa dia sangat puas melihat sang daddy kena batunya. 'Semoga kau selamat dan jangan datang kesini lagi tempat ini sangat berbahaya buatmu,' batin Dokter Ari.


...----------------...

__ADS_1


Belvi saat ini sudah berada di dalam pesawat menuju ke Jakarta, dan duduk bersama Vino.


"Vi, ku mohon keluarlah ini sangat bahaya, hampir saja kau kehilangan apa yang menjadi ke bangga wanita," kata Vino berbisik di telinganya.


"Aku tidak mau berdebat lagi dengan mu, Vin," jawabnya sambil memejamkan matanya menghindari perdebatan dengan pria itu.


Vino menghela nafas berat, begitu sulitnya dia berbicara pada gadis ini, apa dia tidak tahu betapa dia begitu mengkhawatirkannya, bahkan gelisah saat Belvi berada di ruangan tua bangka yang mesum itu.


Kembali, melirik gadis yang sangat mirip dengan wanita pujaan yang telah pergi dari dunia hampir lima tahun yang lalu.


'Perasaan apa ini, tidak mungkin aku menyukainya, dia begitu berbeda dengan Gloriaku, tak ada kelembutan samasekali dari gadis ini, mungkin ini karena aku punya kewajiban untuk menjaganya Sebagai saudaramu Glo, cinta ku tak mungkin terkikis oleh waktu,' batinnya.


Vino kembali mengalihkan pikiran dengan menyapukan pandangannya ke seluruh area pesawat, mata elangnya dengan cermat memindahi beberapa orang yang mungkin mencurigakan. Namun, dia tidak menemukannya, dia pun berfikir bahwa anak buah tuan Damian belum menyadari apa yang terjadi hari ini, Vino sedikit legah setidaknya dia bisa beristirahat barang sejenak sebelum bertemu dengan Ayah dan kakaknya yang mulai menuntutnya untuk menikah.


'Apa aku menikahi gadis ini saja, biar mereka tidak mendesak ku lagi untuk menikah dan selalu saja mencarikan jodoh buatku, ahh, rasanya aku malas sekali pulang walaupun aku sangat rindu keponakan ku,' pikirnya.


Dia melirik, gadis itu membayangkan jika benar dia menikahi Belvi mungkin rumah akan jadi ajang perkelahian bahkan adu jotos, dia pun tertawa membayangkan itu.


Belvi yang sudah mulai terpejam membuka matanya kembali dan melihat ke arah Vino. "Apa kau sudah gila hingga kau tertawa sendiri?" tanya Belvi pada Vino.


"Ya, aku akan jadi gila jika harus pulang ke rumah," katanya padaku Belvi.


"Ooh aku kira karena kau sangat rindu pada kakakku membuat mu gila," sarkasnya pada Vino.


"Ya kau betul itu salah satu pemicunya," jawabnya acuh.

__ADS_1


__ADS_2