
Fajar mulai menyingsing, semua penjaga mulai terjaga dari tidurnya. Mereka heran, mengapa kok mereka tertidur sangat pulas. Mereka menjadi sangat ketakutan segera berdiri dan mencari tahu apa yang terjadi semalam, dan mengapa mereka tertidur begitu lelap. Saat mereka melihat tirai menjulur dari kamar tuan mudanya, mereka semakin ketakutan. Mereka sudah mengira bahwa gadis yang ada di kamar tuan mudanya itu pasti telah melarikan diri.
"Bagaimana ini, apa yang akan kita katakan pada tuan besar, gadis itu kabur," kata salah satu pengawal.
"Bagaimana lagi, kita bahkan tidak sadar kalau kita telah tertidur," kata temannya pasrah.
Sementara itu, di kamar Hans, ia terbangun dari tidurnya dan merasa sangat dipuaskan. Namun, alangkah terkejutnya saat ia menemukan sprei dan ****** ******** basah oleh cairan yang keluar dari senjata itu. Ranjangnya menjadi sangat berantakan dan pintu balkon terbuka, menunjukkan apa yang terjadi tadi malam. Pria itu menjadi sangat marah karena merasa telah ditipu mentah-mentah oleh gadis itu. Ini kali pertama ia merasa dikalahkan oleh gadis anak dari tabib. 'Cerdik sekali dia memasukkan sesuatu dalam minumanku,' pikir Hans.
__ADS_1
Han menghembuskan nafas berat, lalu turun dari ranjangnya dan melihat dirinya sendiri. Ia tertawa menertawakan kebodohannya dan benar-benar mengakui kecerdikan gadis itu. "Aku akan mencarimu, pasti kutemukan. Jika sudah ku dapatkan maka jangan harap kau bisa lari dariku, karena sekarang aku hanya menginginkan dirimu, tidak yang lain," batinnya.
Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia berendam ke dalam bathtub yang penuh dengan air hangat, busa sabun, dan aroma terapi. Ia masih ingat tubuh indah gadis itu, yang sempat dia jamah dengan tangannya, lalu wajahnya yang cantik, kerlingan nakal serta lesung pipit di kiri-kanan pipinya tidak mampu dia lupakan.
Dia memejamkan matanya dan tak peduli apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan, gairahnya seolah menurun tidak menggebu-gebu seperti biasanya. 30 menit dia habiskan untuk merutuki dirinya sendiri. Setelah itu, dia keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya, rambut yang basah dikibaskan begitu saja, dan butiran-butiran air membasahi tubuhnya. Terdengar ketukan dari luar, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Terlihat ayahnya berdiri di depan pintu, dan tanpa di suruh, pria paruh baya itu masuk.
"Apa yang terjadi, Boy?" tanyanya pada putranya sambil melihat ranjang putranya itu. Dia terkejut sesaat kemudian tertawa.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi penakut, Boy? Dia tidak punya bukti, jadi dia tidak bisa menuntut kita. Toh aktivitas yang sesungguhnya tidak dilakukan di sini, Boy," kata Damian santai, seolah tak takut apa pun terjadi.
"Bukan takut, Dad. Selama ini aku lah yang menyelamatkan Daddy dari kecurigaan polisi terhadap organ tubuh manusia yang kita ambil dari pasien-pasien yang ada di rumah sakit kita, entah di pusat kota maupun di sini. Saat ini aku hanya memiliki firasat buruk saja. Kuharap Daddy dapat menghentikan bisnis yang satu ini, karena akan sangat berbahaya bagi Daddy," kata Hans.
"Apa yang terjadi tadi malam? Ceritakan padaku," tanya Damian pada putranya.
"Nanti saja, saya bahkan belum berganti pakaian. Daddy sudah ke sini menggangguku. Kenapa tidak mengganggu Ari?" tanyanya sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Dia itu anak mamimu, bukan anakku. Yang mirip denganku adalah kau, tapi aku tetap menikah di usia mudaku. Dan hanya mamimu yang bisa mengimbangi ku dan mengerti kekurangan ku. Cuma dia tak pernah tahu bahwa aku punya bisnis ilegal, dan dia tak pernah bertanya apa pun," jelas Damian sambil berdiri dari sofa tempat duduknya dan berjalan keluar. Sebelum sampai di pintu, dia menoleh ke anaknya.
"Penjaga kita tertidur pulas saat gadis itu kabur, dan kita kehilangan jejaknya," katanya lalu meneruskan langkahnya keluar dari kamar putranya.