
Bel pulang pun terdengar, semua siswa pun keluar dari kelasnya untuk pulang ke rumah masing-masing begitu pula Vino dan Belvi.
Belvi menyusuri taman depan sekolah berjalan dengan kaki jenjangnya lalu melewati gerbang sekolah, tujuan dia berdiri di sana menanti taksi yang akan lewat. Tiba-tiba sebuah sepeda motor sport berhenti di depannya. "Naik!" katanya pada gadis itu.
pada awalnya gadis itu tidak menanggapinya tapi sekali lagi dia itu pun berkata,"Naiklah! di sini daerah rawan dan jarang lewat taksi di sini, jika ada apa-apa apa yang akan ku katakan pada Gloria nanti." katanya sambil memberikan helm kepada gadis itu.
Ia pun mengambil helm itu selalu memakainya dan naik di belakang Vino. kuda besi itu pun berjalan dengan kencang menyusuri jalanan, saat dipacu dengan kencangnya Belvi terkejut, dia langsung meraih perut Vino.
Memegangnya dengan erat sambil memejamkan matanya seolah-olah merasa nyawanya sudah melayang motor itu karena dia mempunyai trauma yang belum bisa diatasinya. Berjalan begitu kencangnya, soalnya jalanan adalah merupakan tempat bermainnya.
"Di mana rumahmu?" teriak Vino pada Belvi
"Jalan mawar nomor 16 itu rumahku," jawab Belvi jawaban sambil berteriak.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah rumah yang besar berlantai dua dengan gaya artistik dan pintu gerbang warna putih terlihat mencolok diantara beberapa rumah dari yang lainnya. Belvi pun turun lalu memberikan helmnya pada Vino.
"Hargai nyawamu! Jika kamu mati belum tentu bertemu dengan kakakku kalaupun bertemu belum tentu dia mau menerimamu karena kau bukan Vino. Kata kakakku Vino ku adalah lelaki lembut tapi yang kulihat sekarang bukan seperti itu, kau bukan lelaki yang dipuja kakakku," kata Belvi sambil meninggalkan Vino yang termangu dengan ucapannya itu.
Setelah itu dia melajukan motornya dengan kecepatan kencang sekolah tidak pernah takut sesuatu terjadi padanya.
Belvi berjalanan menuju kamarnya menaruh tas di atas meja dan melepas hijabnya serta menggantungnya. Ia pun pergi walk in closet dia mengambil kotak berwarna pink bunga-bunga di bukanya kotak itu, sebuah hijab berwarna brown halus ada di dalamnya.
Disentuhnya hijab itu lalu bergumam, "Hatinya tak tersentuh Kak, dia hanya menoleh padamu, bukan padaku, hatinya sangat luka akan kepergian mu kak. Lukanya membuatnya berubah bahkan nyawanya seakan tak berharga, untuk bisa digenggamnya erat dia sekarang, sangatlah sulit, kak sanggupkah Aku memenuhi permintaanmu, jika suatu saat aku menyerah, maafkan aku Kak."
__ADS_1
Setelah puas mencurahkan segala hatinya lewat hijab Gloria yang diberikan padanya Ia pun mengambil pakaian dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia pun melaksanakan salat zuhur. Belvi melipat mukenanya dan keluar dari kamarnya duduk di kursi meja makan dan mulai mengambil makanan untuk mengisi perutnya.
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan karena dari pagi sampai siang ia selalu berdebat dengan Vino, apapun itu tak pernah sedikitpun dia mau mengalah padanya. Aku akan lapar setiap pulang sekolah karena aku setiap hari harus berjumpa dengan Vino, pikirku
Ia pun makan begitu lahapnya Lalu setelah itu dia pergi ke dalam kamarnya mengambil buah album berisi foto-foto kakaknya dari mulai kecil hingga dewasa dia sangat tahu banyak perbedaan dirinya dengan kakaknya walau wajahnya sangat mirip tapi karakternya sangat berbeda ia melihat kelembutan di balik senyum kakaknya. Ia menghela nafas. Mungkin inikah yang dikaguminya darimu kakak, bisik dalam hati.
Belvina kembali kedalam kamarnya ia mulai tugas-tugas sekolahnya, dia pun larut dengan aktivitas hingga sore hari setelah itu ia pergi ke dapur membuat makanan malam.
Belvi mulai memotong sayuran,seledri, paprika, bawang, lalu memotong sosis, daging kemudian membersihkan udang dan mencuci beras. Bahan yang ada semua dicampur menjadi satu diberi saos tomat dan cajun lalu di masukan dalam rice cooker dan dinyalakan setelah itu di biarkan masak. Sambil menunggu Jambalaya matang ia pun mulai menyetrika baju-baju hingga waktu magrib.
Kemudian ia pun melaksanakan sholat magrib, setelah selesai ia pun memeriksa makanannya ternyata powernya sudah turun dia kemudian membuka penutupnya lalu mengaduk sebentar lalu di taruh dalam
mangkok kaca.
Tak lama kemudian Ayah Belvi datang
Belvi mencium punggung tangan ayahnya.
Setelah itu ayah masuk ke kamar tak lama kemudian ayahnya keluar lagi dan bergabung dengan Belvi untuk makan makan malam.
Mereka makan dengan tenang, selesai makan malam Belvi pun membersihkan piring dan menyimpan makanan di lemari pendingin.
Sementara itu Vino sudah berada di club karate di sana ia berlatih selama dua jam lamanya setelah selesai ia berganti pakaian, kemudian keluar dari tempat club itu menuju motornya.
__ADS_1
Lalu dijalankan motornya dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah padepokan silat di sana ia pun berlatih selama dua jam lamanya lalu setelah selesai berganti pakaian dan pergi menuju club wusu.
Dia kembali mengendarai motornya dengan sangat cepat meleok-leok di antara mobil-mobil yang berjalan.
Vino keluar dari Club-ke club beladiri melatih ketangkasan berkelahinya ketika sudah larut malam ia pun bergabung dengan geng anak motor, melakukan balapan liar, setelah itu dia pulang ke rumahnya menjelang dini hari.
Ia selalu membawa kunci rumah sendiri karena sang ayah harus menangani perusahaan yang dulu sempat bermitra dengan Angga untuk mengamankan aset anak-anaknya yang sempat akan di rebut adik tiri istrinya itu.
Vino masuk dalam rumah dan memasukan motornya di dalam garasi rumahnya lalu dia pergi ke kamar tidur dan tidur untuk beberapa jam saja karena waktu sudah menunjukkan jam 03.00 dini hari.
Setelah tidur sebentar terdengar Adzan subuh ia pun bangun dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi setelah itu ia mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh, setelah selesai sholat subuh dia merebahkan diri sebentar hingga terdengar pintu kamar di ketuk oleh sang ayah, ia pun bangun dan membuka pintunya.
"Vin, baru bangun?" tanya sang Ayah.
"Iya, Yah," jawabnya dengan suara serak sehabis bangun tidur.
"Ini sudah jam setengah tujuh loh, cepat mandi dan sarapan kalau kamu gak ingin terlambat.
"Baik Ayah!" katanya sambil menutup pintu.
"Jangan tidur lagi kamu,Vin!" larang Haidar
"Iya, Vino mandi, yah," jawab Vino.
__ADS_1
Setelah selesai ritual membersihkan tubuhnya dan memakai seragam sekolahnya, ia pergi kemeja makan mengambil dua potong roti tanpa toping dan memakannya lalu minum segelas susu
hangat setelah itu dia berpamitan berangkat sekolah pada ayah setelah itu ia pergi ke garasi menaiki motor dan melesat pergi meninggalkan rumah menuju sekolahnya dengan kecepatan tinggi.