Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Andai saja


__ADS_3

Belvi meminta ijin pada ayahnya dan juga calon ibu sambungnya untuk masuk kedalam kamar, sungguh dia sangat lelah dari tadi sore sampai malam, berusaha mengelabui Vino agar tidak pernah tahu seperti apa sebenarnya dirinya, hanya dengan pura-pura tidak biasa melakukan banyak hal Belvi bisa sedikit dekat dengan Vino, walaupun vino selalu bilang semua yang dilakukan pria itu semata-mata karena Belvi adik dari Gloria, tetapi hal itu cukup membuat belvi senang karena dekat dengan pria tersebut.


Langkah kakinya terus berjalan menuju kamarnya betisnya, terasa kaku dan sakit karena harus berjalan kaki dan berlari-larian tadi.


Belvi membuka pintu kamarnya, dia masuk kedalam kamar dan menguncinya, lalu meletakan dompet dan handphone-nya di atas nakas.


Duduk di bibir ranjang lalu di angkat kedua kakinya dan berselonjor di atas matras tempat tidur, Belvi mulai memijit kedua betisnya yang sakit, sambil menatap foto yang ada di meja, itulah kenang-kenangan mereka, sebelum saudara kembarnya meninggal, dua foto yang terpajang di meja belajarnya, yang pertama foto bertiga dengan ayahnya lalu hanya berdua dengannya. Andai kami tidak terlambat menemukan mu kak, mungkin kau bisa tertolong, dan Vino tak akan menjadi pria dingin yang menyebalkan, batin Belvi


Belvi menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidurnya menatap jendela kaca yang belum tertutup tirainya. Bulan purnama terlihat indah di sana. Namun, tidak dengan hatinya. setiap kesempatan ia menatap wajah pria yang akhir-akhir ini dekat dengannya, begitu suram, tak pernah ada senyum di sana, mungkin hanya sesekali terlihat ketika dia harus berama-tama dengan sang guru.


Beberapa kali dia menguap, menandakan tubuh sudah terlalu lelah juga dengan pikirannya yang melalang buana. Belvi turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke walk in closet untuk berganti baju tidur berapa saat kemudian dia keluar sudah mengenakan piyama tidurnya dan berjalan menuju jendela kamarnya, menutup tirainya sambil menatap kembali bulan yang bersinar penuh. Kapan hatimu akan bersinar penuh menatap hatiku, Vin, pikirnya


Kenapa aku begitu mengharapkan cintamu akhir-akhir ini padahal aku hanya sebagai pengganti cinta kakakku yang tak sampai di ujung kebahagiaannya, bisik hatinya kembali, di mendesah lirih kemudian menutup tirai lalu berjalan perlahan menuju ranjang dan merebahkan tubuh diatasnya.


Matanya tidak lagi mau kompromi, begitu terpejam dia pun terlelap dalam tidurnya di temani malam yang sunyi dan terus merayap hingga akhirnya menghilang di gantikan sang. fajar yang bersinar cerah.

__ADS_1


...----------------...


Sementara itu Vino pun sama tak melanjutkan petualangannya di malam hari yang biasa dia lalui dengan berlatih ilmu beladiri di berbagai tempat. Dia melajukan motornya dengan kecepatan kencang menuju rumahnya.


Setelah sampai pintu gerbang yang masih terbuka dan dua sekuriti masih saling berbincang-bincang lalu menundukkan kepala saat majikan mudanya itu melewati mereka.


motor itu terus melaju masuk kedalam garasi dan tidak terdapat mobil sang ayah itu artinya beliau sedang berada di Surabaya beberapa hari untuk menangani perusahaannya yang ada di sana. Vino turun dari motornya lalu mengunci garasi kemudian masuk kedalam rumah dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya kemudian masuk kedalam menaruh dompet, kunci dan handphone di atas nakas.


Vino berjalan ke Walk in closet mengambil piyama dan memakainya, kemudian keluar berjalan ke arah ranjangnya dan membaringkan tubuhnya lalu mencoba memejamkan matanya, tak juga bisa terpejam dia mengambil handponenya dan melihat foto Gloria saat pergi di beberapa tempat pariwisata di Boston yang di ambil diam-diam tanpa sepengetahuan gadis itu.


Yaa, hanya itu yang dia punya dan dia sangat menyesal kenapa tidak merekam saat sedang video call dengan wanita pujaan hatinya itu.


Ditaruhnya kembali handphone diatas nakas, lalu dia memejamkan matanya berharap bermimpi dengan kekasih hatinya itu.


Waktu terus berjalan, dewi malam pun setia menemani insan yang tengah terlelap dalam kelelahan.

__ADS_1


Vino terbangun di saat alarm handphone-nya berbunyi menunjukkan jam tiga dini hari, ia mengerjapkan matanya, dengan malas ia menggeliat merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku, kemudian bangun dari atas ranjangnya, dan berjalan berjalan ke kamar mandi dan mengambil untuk membersihkan tubuh dan berwudhu.


Setelah selesai, menunaikan sholat tahajud setelah itu dia membaca Alquran untuk menunggu waktu subuh setelah itu ia menunaikan sholat subuh di rumah saja walaupun biasanya ia akan pergi ke masjid, entah hari ini terasa malas untuk keluar di saat fajar belum menyingsing, Vino masih di atas mengirimkan doanya sang kekasih.


Andai saja bunuh diri di perbolehkan aku mungkin sudah melakukannya sejak dulu, batinnya bergejolak antara rasa takwa dan cinta yang berlebihan, membuatnya tak sanggup melupakan nama yang telah terukir indah di hatinya.


Matahari sudah menampakan sinarnya, sudah siap dengan seragam sekolahnya duduk di meja sambil memakan roti selai kacang yang baru di buatnya sendiri serta meminum kopi panasnya yang baru di seduhnya sendiri setelah dia tuangkan dalam piring kecil agar uap panasnya segera hilang dan dia bisa menikmati tanpa menunggu terlalu lama untuk bisa di minum.


Setelah selesai dia pun pergi ke garasi, kemudian menaiki motornya, beberapa saat kemudian motor pun melaju dengan sangat kencangnya meleok-leok di sela-sela mobil yang berjalan lambat karena jalanan padat merayap, tak lama dia pun sampai, Vino melangkah kakinya menuju kelasnya, kaki jenjangnya itu pun membawa tuanya masuk dan duduk di bangkunya.


Terlihat Belvi sudah duduk di sana dari tadi sedang membaca buku karena hari ini memang akan ada ujian itu sebabnya Belvi tak memperhatikan kedatangan Vino.


Setelah menunggu agak lama Bel masuk pun berbunyi semua murid dengan tergesa-gesa masuk kedalam kelas, dengan tegangnya mereka menunggu guru masuk ke dalam kelas dan memberikan kertas soal yang harus mereka kerjakan.


Beberapa menit kemudian guru datang memberikan salam pembuka dan memerintahkan Vino memimpin doa setelah itu beliau membagikan soal dan lembar jawabannya kemudian dia kembali duduk di depan di tempat duduk guru sambil mengawasi mereka agar tidak mencontek atau berdiskusi dengan sesama teman.

__ADS_1


Ujian di bagi menjadi 3 sesi, dua di awal pelajaran dan satu setelah istirahat, sekarang adalah sesi ke tiga, mereka dengan sangat fokusnya mengerjakan dengan sangat teliti hingga waktu di berikan telah usai, Vino mencangklong tasnya lalu berdiri dan berjalan keluar kelas dan di ikuti Belvi.


"Vin, hari ini aku akan naik taksi saja, karena harus ke Restoran Larosa, Daddy mengadakan resepsi hari ini di sana," jelas Belvi.


__ADS_2