
Belvi berjalan menuju toko buku sekitar 50 meter dari mushola tadi dan dalam perjalanan ke sana telponnya pun berbunyi, segera di terima telpon dari yang jelas dari Vino.
"Assalamualaikum, iya?" jawab Belvi sambil berjalan menuju toko buku dengan langkah yang lebih cepat.
"Kamu di mana? Aku sudah keliling tokoh buku ini," tanyanya dengan suara keras.
"Kalau orang lagi ucapkan salam itu, di jawab bukan marah-marah," jawab Belvi ketus.
"Iya, Wa'alaikumsalam, aku lupa tahu, kamu di mana?" Aku keluar mau cari makan belum dapat makan sudah kau caci maki," jawabnya.
"Sudah gak usah masuk aku yang keluar," kata sambil langsung menutup telponnya.
Dasar cowok resek, suka seenaknya saja, batinnya kata Belvi sambil berlari sekencang-kencangnya begitu sampai depan toko ia pun berhenti mengatur nafas yang masih memburu.
"Segitu laparnya kah hingga kau berlarian mencari makanan." Suara dari samping terdengar olehnya, siapa lagi kalau bukan si Vino cowok dingin.
Aku hanya menoleh, dan tersenyum, walau hatiku sangat sakit dengan ucapannya apa bole buat memang seperti itu mulutnya.
"Aku berlari karena kau protes, bukan karena terlalu lapar," kata Belvi pada Vino.
"Apa sudah dapat makanan?" tanyanya pada Belvi
Belum gimana mau dapat makanan kalau kamu telpon marah-marah karena tidak menemukan diriku di dalam toko buku tadi? aku juga harus berlari kesini.
"Ayo!" ajak Vino
"Kemana?" tanya Belvi.
"Mau cari apa lagi kau bukan makan, mau cari batu?" tanyanya tanpa menoleh.
"Memang buat apa?" tanya Belvi sambil berjalan setengah berlari karena Vino jalan terlalu cepat.
"Barang kali kamu lebih kenyang, dengan makan batu," kata Vino seenaknya.
__ADS_1
"Enak saja, masih ada makanan lebih enak di banding batu,"
"Naik!" perintahnya sambil memberikan helm.
Belvi mengambil helm itu dan memakainya lalu naik di belakang Vino.
"Pegangan yang benar Vi," kata Vino.
"Sudah, aku sudah pegang, Vin, kenapa belum jalan?" kata Belvi.
"Kau mau jatuh? Jaketku tebal Vi," kata Vino
Dengan ragu dia melingkarkan tangannya di perut Vino dan masih merenggangkan tubuhnya agar tak mengenai punggung Vino.
Setelah Vino yakin jika Belvi memang sudah aman, dia langsung memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi dan berhenti di warung tenda yang berjualan nasi goreng dengan berbagai varian topping.
Dari kejauhan telah tercium bau sedap dari masakan membuat perut Belvi semakin keroncongan segera minta di isi.
Belvi segera turun dari motornya, ia pun menunggu Vino memakirkan motor, Setelah selesai memakirkan motornya dia pun berjalan menghampiri Belvi lalu berjalan mendahulu gadis itu.berjalan menuju ke gerobak nasi goreng dan memesan untuknya lalu menoleh ke Belvi. "Kau mau makan apa?" tanyanya padaku
"Nasi goreng cumi-cuminya dua dan teh hangatnya dua, Pak," pesan Vino lalu ia pun berjalan mencari tempat duduk yang enak, di temukanlah tempat duduk ternyaman dan sedikit terpisah dari keramaian di sudut ruangan paling ujung. Vino menggeser kursi dan duduk di sana, aku pun mengikutinya dan duduk bangku di sebelahnya.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang, dia pun mengambilnya, lalu makan dengan lahap aku pun begitu, rasa nasi goreng yang sedap membuatku tidak berhenti berselera untuk memakannya.
Belvi benar-benar sangat lapar hingga nasi goreng dengan porsi jumbo itu pun tandas, begitu pula Vino yang lebih dulu habis bahkan dia memesan satu lagi untuk dibungkus.
Belvi menunggu pesanan Vino.
sambil menghabiskan teh hangatnya, Setelah itu Vino berdiri dan berjalan keluar dari warung tenda, aku segera menyusulnya. "Vin, biarkan aku yang bayar!" pinta Belvi.
"Tidak perlu sudah ku bayar," katanya sambil menerima bungkusan nasi gorengnya dan keluar meninggalkan Belvi, masih bingung dan bengong, pasalnya Vino tidak memberikan uang pada si penjual itu.
"Loh, sudah di bayar, Pak?" tanya Belvi dengan serius.
__ADS_1
"Sudah, Mbak, Den Vino patner kami, setiap datang ke sini dia minta untuk di potong dari pembagian hasil yang di dapatkan di sini.
"Vi!" Terdengar panggilan Vino dari luar.
"Tuh sudah di panggil, Non, cepat Non susul Den Vino," kata penjual itu. Belvi pun keluar dengan cepat dan menyusul Vino.
"Tanya apa sih kamu? Kalau dibilang sudah, ya sudah! Tidak perlu bertanya apapun!" kata Vino sambil menyerahkan helm pada Belvi.
Belvi hanya diam saja dia memakai helm kemudian naik di boncengan motor Vino.
Belajarlah untuk mendengarkan perkataan orang agar tidak terlalu lama menunggu mu," kata Vino sinis lalu dia mestater motornya dan melajukannya dengan sangat kencan.
Kembali dia menerjang bahaya yang datang melintasi mobil yang berjalan, meleok-leok diantara kendaraan yang padat, dia begitu lihainya dia dan telah menguasai medan.
Dengan cepat Belvi turun dari motor dan berjalan kearah pintu gerbang rumah, setelah itu dia pun masuk kedalam rumah, sambil mengucapkan salam dia menatap seorang wanita yang hijab, duduk di ruang tamu, aku sedikit terkejut karena wanita itu mirip ibunya, dan sambil tersenyum menjawab salamnya, dia masih sangat muda kira- kira selisih sekitar tujuh tahunan.
Belvi menghampirinya lalu menjabat tangan nya dan bertanya,"Anda...?"
"Kenalkan Namaku Naila Kamil, aku temannya mas Albert maaf malam-malam bertamu, tadi aku sudah bilang besok saja sekalian bertemu dengan mu," kata wanita itu pada Belvi dan Albert datang membawa dua cangkir teh hangat tepat saat perempuan itu menyelesaikan kalimat perkenalannya.
"Sayang, kok pulang malam? Mana motormu?" tanya Albert pada Belvi,
"Dibawa, Natan, Darurat Dad," jawabnya sambil berjalan menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangan pria itu, sambil berbisik," Apa dia yang akan menjadi ibu sambung ku?"
Albert terkekeh, kemudian mengajak gadis itu bergabung dengan mereka sejenak.
Belvi pun duduk di sofa bersama dengan mereka menunggu mereka berbicara menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah bisa Belvi tebak karena mulai sekitar satu bulan yang lalu Ayahnya begitu ceria, Aura bahagia nampak di wajahnya.
"Daddy menyukainya, Vi dan akan menikah besok pagi, Maaf terlalu mendadak memberimu kabar," kata Ayahnya.
"Tidak apa-apa Dad, Daddy sudah terlalu lama sendiri sudah saatnya Daddy ada yang menemani dan mendengar keluh kesah daddy, aku sangat senang, tapi aku tidak bisa menghadirinya, karena besok ada ujian, aku menjadi tidak kawatir lagi, jika aku nanti, meninggalkan daddy untuk bekerja di tempat yang Jauh karena ada mama Naila.
"Trimakasih, Nak," kata Naila,
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa menemani karena aku begitu lelah,Dadd. Oh, yaa, jangan terlalu lama menahannya di sini ya, Dad, bisa berbahaya," celetuk Belvi sambil tertawa dan mereka juga ikut tertawa.