
Hans menatap punggung gadis itu. Hasratnya pada gadis itu tetap terus bermain-main di pikirannya, namun kepalanya berdenyut sangat nyeri hingga ia tak mampu berdiri untuk menghampiri Cahaya yang sedang mengambilkan minuman. Entah apa yang dilakukan gadis itu. "Kenapa lama sekali?" protesnya dengan suara parau, menahan hasrat dan rasa nyeri di kepalanya yang bersamaan membuatnya hanya fokus kepada sakit. Hingga mengurangi rasa ingin bergumul.
Cahaya menoleh pada pria itu dan tertawa. Lesung pipi membuat Hans sedikit merasa teralihkan oleh rasa nyerinya. "Aku itu tidak pernah minum-minuman keras seperti ini tuan. Takut aku mabuk. Jika aku mabuk, bisa parah. Saya tidak akan bisa menyenangkan Anda. Bukankah akan lebih nikmat jika aku dalam keadaan sadar?" kata Cahaya pada pria itu.
"Hahaha, itu tidak akan membuatmu sangat mabuk tapi membuat akan lebih beringas saat Melayaniku. Kemarilah! Bawa ke sini! Kita minum bersama," kata pria itu.
Cahaya menelan salivanya. Dia pun membawa gelas wine berjalan ke arah pria itu lalu duduk di bibir ranjang dan memberikan satu gelas wine pada pria itu dan langsung meneguk habis. Dia menatap gadis itu, sambil tangannya menyentuh paha yang polos itu. "Kenapa tidak diminum? Takut? Apa kau berubah pikiran untuk menyenangkan ku?" katanya sambil menatap gadis itu.
__ADS_1
Cahaya melihat obat yang dicampur dalam gelas wine itu mulai bekerja. Hans mulai sedikit limbung. "Sebenarnya, tanpa ini, aku bisa saja ganas, Tuan," kata Cahaya kembali sambil mengerlingkan mata pada pria itu.
"Kalau begitu, senangkan aku sekarang juga, gadis nakal. Aku ingin segera kau senangkan," katanya sambil menatap penuh gairah.
Cahaya meletakan minumannya di nakas dekat ranjang, lalu membuka kancing kemeja Hans perlahan dan memasukkan tangannya di sela-sela kemeja serta mengusap dada bidang. Sang tuan muda mulai berfantasi. Matanya mulai meredup, kemudian terkulai di atas ranjang dengan kaki yang masih menjulur menjejak lantai.
Cahaya menghela nafasnya. "Sial, kau telah menjamah tubuhku, Tuan muda. Andai ku mau, aku bisa membuat tidak melakukan itu selamanya. Tapi aku masih punya nurani dan berharap setelah ini kau berhenti berlaku semena-mena untuk kesenanganmu sendiri," katanya sambil berjalan menuju lemari, mencari pakaian yang bisa digunakan untuk menutupi tubuhnya. Tidak lupa menganti cahaya lampu lebih redup agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia menemukan dua kemeja hitam dan mengambilnya kedua-duanya. Yang satu dipakainya, dan yang lainnya dililitkan di tubuh bagian bawahnya. Setelah itu, ia memandang seluruh ruangan mencari jalan untuk keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Dia melihat ada pintu menuju balkon. Ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya, lalu berjalan keluar. Dilihatnya ke bawah, kembali menelan salivanya. Ternyata kamar ini berada di lantai dua yang cukup tinggi. 'Aku harus pergi dari sini. Akan sangat berbahaya jika aku tetap berada di sini,' batinnya.
Dia kembali berjalan menuju lemari, mencari tirai barangkali ada di sana pengganti tirai jendela jika yang terpasang sudah kotor. Ternyata ada. Gadis itu tersenyum gembira. Dia menyambungkan tirai-tirai itu hingga menjadi panjang. Kembali berjalan ke arah balkon, di tutup hidungnya dengan tirai itu lalu disebarkan bubuk yang dia racik sendiri. Menunggu beberapa lama, baru dia menurunkan tirai ke bawah yang diikat di besi sebelah kiri tembok pembatas. Lalu dia turun menggunakan tirai tersebut.
Tidak seberapa lama dia sampai di tempat di mana semua penjaga tertidur pulas. Dia segera berlari ke arah hutan, berlari terus tak mengenal lelah. Dia tidak ingin tertangkap kembali. Sebelum fajar menyingsing, dia harus mendapatkan tempat persembunyian yang aman.
Cahaya sampai di sebuah sungai. Dia pun minum sepuasnya, kemudian dia memanjat pohon mencari dahan yang kokoh. Lengan kemeja panjang dililitkan dan dikat di dahan pohon agar dia tidak terjatuh. Dia pun tidur di sana karena kelelahan.
__ADS_1