
Brain menatap tuan muda keduanya itu, dengan tatapan penuh tanda tanya lalu tersenyum. "Maaf, jika sudah di tandai oleh tuan muda Hans artinya dia harus di bawa ke tuan Besar ataukah harus mati," kata Brain sambil melirik Belvi.
Belvi berusaha tenang. "Boleh minta ijin ke kamar mandi Tuan?" kata Belvi dengan suara yang sangat tenang.
"Anda di kamar mandi Tuan besar Nona," kata Brain.
Bagaimana jika aku tidak kuat menahannya, dan jatuh berceceran di lantai, aku ini hanya pegawai rendahan tuan, takut mengotori ruangan tuan besar," kata Belvi dengan tenang
sementara itu Dokter Ari tersenyum mendengar jawaban Belvi.
"Baiklah, saya tunggu Nona, jangan terlalu lama, tuan besar menunggu Anda," jawab Brain sambil menoleh perawat itu.
Kau antarkan dulu pesanan Tuan Hans," kata Brain pada perawat pria itu dan perawat itu pun bergegas keluar serta berjalan menuju ke ruangan Dokter Hans.
Belvi segera pergi dengan berlari ke kamar mandi, membuat Dokter Ari tertawa keras, dia merasa sangat lucu melihat kelakuan Nina.
"Tolong biarkan dia bersamaku Brain, aku tahu kau, kak Hans dan Daddy mencurigainya, tetapi ku rasa kalian salah," kata Ari.
"Kalau benar bagaimana, Tuan Bagaimana Anda mempertanggungjawabkannya? Kalau Anda menyerahkan pada saya, Anda sudah lepas tanggung jawab," kata Brain.
Sementara Belvi di kamar mandi menghubungi Vino, memberi tahukan bahwa dia telah di curigai.
"Vin, mereka tahu, misi kita gagal total, aku tidak bisa melarikan diri, di kamar mandi pun hanya di kelilingi tembok," kata Belvi.
__ADS_1
"Turuti dulu begitu ada kesempatan serang pria itu dan lumpuhkan, jangan memancing perkelahian aku ada depan ruangannya kita akan kabur lewat jendela kaca aku sudah meneliti kaca yang ada di dekat ruang tuan Ari mudah pecah. dan teman kita yang diparkiran sudah siapkan kendaraan untuk kita," kata Vino.
"Ok! Aku akan keluar," kata Belvi.
Tunggu Bel, Anggota kita tertangkap, hati-hatilah, jika rencana A tidak bisa lakukan rencana B, ikuti saja dia sampai kamar tuan Damian, satu-satunya cara adalah melukainya dan menjadikan dia sandra gunakan tipu muslihatmu," kata Vino.
"Baiklah!"kata Belvina dia menelan ramuan yang di racik ica, kemudian memakai pembalut yang diberikan cairan merah lalu keluar dengan wajah yang sangat tenang.
"Kenapa Anda, begitu lama? tanya Brain.
"Maaf tuan saya sedang berganti pembalut karena saya sedang datang bulan," katanya tenang.
"Ck, biar nanti pengawal perempuan kami mengeceknya, jangan coba-coba menipu kami, dua jam yang lalu kamu masih sholat," kata Brain kesal.
Dokter Ari tertawa kembali mendengar jawaban Nina, dia sangat atau Daddy dan kakaknya itu tidak pernah bisa lepas dengan yang dinamakan wanita, ia hanya berharap sang kakak juga Daddy-nya itu sadar suatu saat nanti.
"Baiklah Ayo jalan! kamu di depan!" perintah Brain dan di luar sudah menunggu beberapa pengawal, salah satunya adalah Vino. sekitar ada sepuluh orang.
Belvi mengerutkan dahinya dan menatap Brain, pria itu tidak menghiraukan keheran wanita itu. ia lalu berjalan mendahului Belvi.
"Kenapa begitu banyak pengawal, Tuan?" tanya Belvi pada Brain.
"Jangan banyak bertanya, Jalan saja!" perintah Brain.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan Dokter Hans dan di dalam kamar pribadinya, Hans sudah memasang infus di tangan Cahaya lalu mengobati mengobati bagian tubuh sensitif Cahaya dengan jarinya sambil bergumam, "Yang ini tidak boleh sampai rusak karena aku sangat menyukai punyamu, Haya," kekehnya.
Setelah itu dia duduk di sofa sambil tak bosan melihat tubuh bagaian bawah Cahaya yang polos dan sengaja kemeja dia singkap.
Beberapa lama kemudian Cahaya pun tersadar, dia membuka matanya perlahan, ketika dia teringat apa yang terjadi, air matanya menetes deras di melirik bagaian tubuh bawahnya hatinya teriris sembilu.
"Tuan kenapa Anda tidak bunuh saya saja, saya sudah tidak punya arti lagi untuk hidup, lebih baik Anda membunuh saya dan mengambil organ tubuh saya, setidaknya akan berguna bagi orang lain," katanya pada Hans.
"Apa kau masih berfikir bahwa aku lah yang melakukan tindakan kejam pada mereka, kau salah Haya, aku tidak pernah melakukannya, aku seorang Dokter yang punya kode etik yang tidak bisa di langgar begitu saja," kata Hans mendekati wanita itu.
"Aku tidak punya bukti, jadi kau bisa menyangkal sesuka hatimu," kata Cahaya membuang mukanya.
"Terserah kau saja yang jelas saat ini kau sangat berguna untukku," kata Hans sambil tangannya membelai paha Cahaya dengan lembut.
Cahaya tidak dapat menghindar tubuh bawahnya serasa kaku, sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Hans menatap wajah wanita itu yang sudah kembali dengan warna aslinya putih bersih nan Cantik.
"Apa itu masih sakit, hem?" tanyanya sambil memeriksa kening cahaya dengan tangannya.
Cahaya, diam saja tak menjawab. "Kau tak mau menjawabnya apa perlu ku ulang yang tadi karena ku anggap itu tidak sakit," katanya lagi sambil menatap pada gadis itu.
"Apa Anda tidak tahu, saat ini saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya karena Anda," jawab Cahaya dengan ketus.
Hans tertawa. "Dengarkan aku aku sudah menangkap adikmu juga ayah dan ibumu dan mereka sudah tahu keadaanmu mereka bersedia menikah ku dengan mu, jadi jangan bodoh lagi. Satu lagi aku suka kecerdikan mu, saat kau tak bisa melayaniku berikan ramuan itu saja padaku, Haya." Tawa lelaki itu terdengar kembali di telinga Cahaya seolah sedang mengolok-ngolok dirinya.
__ADS_1