
"Jika kau memilih dinas kebersihan maka kau tidak akan tinggal di pemukiman karena kau harus di sumpah untuk tidak membocorkan apa yang kau lihat dan akan tinggal di mes mereka dan di jaga dengan ketat, ini sangat beresiko Nina, taruhannya adalah kehormatanmu dan kau belum tahu seperti apa kondisi sebenarnya," kata Dokter Ara dengan tatapan serius.
Belvi menelan salivanya dengan susah payah.
"Biar yang pria saja yang di dinas kebersihan," kata Dokter Ara
Wanita itu menatap wajah Belvi dengan seksama lalu kembali berbicara," Kau terlalu cantik, rubah agar terlihat sedikit kusam setidaknya setara Ica," kata Dokter Ara sambil tertawa
Belvi mengangguk dan tersenyum. Sementara itu Ica mengerutkan keningnya sambil memprotes apa yang di katakan Dokter Arah.
"Apa seburuk itu wajahku, Dok?" tanya Ica pada Dokter Ara.
"Tidak, hanya dengan wajah seperti kamu akan sedikit aman Ica," kata Dokter Ara.
__ADS_1
Ica, menghembuskan nafas beratnya, dia masih ingat dia berlari dari desa untuk menyelamatkan sang kakak, sayangnya kakaknya itu, tertangkap, dan ia bersembunyi di ceruk tebing dan bertemu rombongan polisi, dia meminta bergabung dengan mereka, sudah satu Minggu berada di persembunyian ini dan mereka memang belum bergerak.
dia melangkahkan kaki mengikuti Ica, yang menunjukkan ruangan istirahat mereka.
"Kak, taruhlah di sana tas kakak, karena sewaktu-waktu ada orang yang masuk gua ini maka kita harus bersembunyi kak," kata Ica pada Belvi.
"Apa itu wajah aslimu?" tanya Belvi pada gadis itu.
"Ada apa? Sepertinya ada suatu beban yang kau pikul?" tanya Belvi pada gadis itu.
"Kakak baru tiba, istirahatlah dulu," katanya sambil pergi ke arah lorong yang lebih dalam.
Belvi merebahkan tubuhnya di atas terpal plastik yang terhampar di tanah yang sedikit lembab, menjadikan tangan sebagai bantalan kepalanya, dia tidak mengira akan ditugaskan bersama dengan Vino, pria yang membuatnya memilih profesi ini.
__ADS_1
Baru saja misinya telah selesai, di Club malam, ia harus bertugas di sini, tubuhnya terasa lelah. Namun, matanya tidak bisa di pejamkan sama sekali, entahlah tiba-tiba dia mengingat sang kakak.
Kak, Glo, aku mengejarnya hingga sejauh ini, aku tidak tahu apa aku bisa menjangkau hatinya, ataukah membawaku kepada kematian, jika hal terburuk terjadi padaku, maafkanlah aku, kak, bisiknya dalam hati
Akhirnya dia pun tertidur, hingga ica membangunkanku untuk makan.
Kami pun berjalan di lorong yang paling dalam dan aku melihat sebuah ruangan yang sedikit luas dengan telaga yang begitu indahnya, sorot matahari menembus dari lubang kecil gua, Belvi baru mengerti mengapa gua ini tidak terlalu gelap karena adanya sinar matahari yang menembus dinding goa.
Terlihat para pria keluar dari ceruk batu sebelah kiri dan ada sekitar tujuh orang perwira polisi kami duduk bersama di atas terpal plastik yang sudah tersaji makanan dengan lauk ikan yang di dapat dari telaga dan dedaunan yang tumbuh di hutan.
Di pojok kanan ada tungku perapian yang dibuat, memasak dan menghangatkan tubuh,
kami makan dengan sangat menu ikan bakar yang dibumbui garam dan sayur yang direbus dan di beri garam, itu saja sudah terasa nikmat karena jika kami berada dalam hutan dan misi telah di laksanakan apapun bisa kami makan, buah liar menjadi sasaran untuk memenuhi perut yang kosong.
__ADS_1