Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 18


__ADS_3

Jevelin menelan salivanya, ini lah akibat dari ke kesombongannya, andai saja tadi dia tidak menantang Vino dia yakin tidak akan menjadi seperti ini.


Pertandingan di mulai di tandai dengan di kibarkannya bendera setelah itu motor-motor yang berjajar sesuai urutan pun meluncur di area yang sepi beberapa putaran awalnya menjadi urutan pertama dia merasa senang namun putaran terakhir justru Roan yang memimpin dan dia berada di urutan kedua.


"Lin, aku menang bakal dapatin madumu," kekeh Roan


"An, jangan yang itu, yaa, aku tukar dengan motor ku saja yaa, An," pinta Javelin pada Roan


"Gak bisa, Lin, itu sudah tawaran awal kau tahu permainan jika tawaran sudah di lempar maka tidak bisa di ganti yang bisa hanya prosedurnya saja," kata Roan


An, kasihani gue dong, iya gue salah nantangi Vino karena gue tau Vino gak bakal minta itu ke gue," kata Jevelin.


"Hahaha, dan lo tahu aku bakalan minta itu ke lo?" tanya Roan


"Sudah jangan lama-lama Negonya, Natan bawa motor aku, aku akan bawa motor Jevelin.


"Ok, Bos!" kata Natan sambil mengambil alih motor Roan.


"Ayo Naik!" titah Roan


Dengan hati ragu Jevelin duduk di belakang roan. "Maju lagi Lin!" titah Roan


Jevelin maju. "Peluk lin!" perintah Roan sambil tersenyum menyeringai, dia harus kasih pelajaran sama cewek ini, agar tidak sembarang menawarkan barang berharga yang harusnya dia tidak tawaran pada sebarang orang.


"Gue rela deh make out sama kamu sepanjang kamu ingin, nanti itu mu aku puasin dengan yang lain," tawar Javelin


Roan terkekeh dalam mendengar rengekan dan negosiasi dari si cewek ini sebenarnya ia ngak mau Anu sih, tapi ada tawaran yang lebih menarik untuk di lewatkan begitu saja.


"Kita ke apotek dulu yaa, beli pil penunda kehamilan," kata Roan pada Jevelin.


"An, aku ngak mau, hiks hiks," kata Javelin menangis sambil memeluk Roan.


Dia semakin senang menggoda, Roan berhenti ke apotik dan diikuti oleh Jevelin


"Mbak beli pil penunda kehamilan," pesan Roan pada pelayan apoteker.

__ADS_1


"Buat siapa?" tanya pelayan itu.


"Buat istri saya, Mbak," kata Roan sambil melirik wajah Jevelin nampak pucat.


Roan membayarnya, lalu berjalan mendahului Jevelin lalu naik ke motor dan dengan lemas Jevelin duduk di di belakangnya.


Roan kembali memacu motor hingga ke apartemennya terlihat motor sudah berada di basement dia pun turun dan memarkirkan motor Jevelin dan pria itu menggandeng tangan gadis itu yang mulai dingin


Roan tidak berbicara dia menggandeng tangan Jevelin menuju apartemen Roan lantai atas, setelah sampai di sana Roan mengajaknya masuk sudah ada surat perjanjian yang harus di tandatangani.


Roan mengunci apartemennya lalu mendekati Jevelin. "An, aku gak mau," rengek jevelin pada Roan


Aku minta maaf ...." belum selesai Jevelin meneruskan kata-katanya Roan sudah mencium bibir gadis itu sambil membuka 3 kancing baju ke bawah


"lo tahu kan dari dulu gue suka sama lo, kenapa pakai nawarin orang dengan lo menjadi taruhannya, lo tahu gimana sakitnya hati gue, hari ini gue gak bakal ngapa-ngapain lo, cuma mau lihat tubuh indah lo.


"Bener, An, cuma itu?" tanya Jevelin.


"Enggak, tawaran yang kedua aku trima, maka sekarang aku tidak ingin dulu," kata roan sambil menatap manik matanya.


Roan menatap tanpa berkedip. "Sini duduk di pangkuan gue sambil lo baca dan lo tandatangani," kata Roan sambil menarik tangan Javelin lalu mendudukkan di pangkuannya.


sementara itu Vino yang meninggalkan arena balapan liar tak tahu mau kemana, pulang pun dia malas, ia melajukan motornya ke sembarang arah hingga berhenti di depan rumah Belvi.


Vino tak tahu kenapa tiba-tiba dia membelokan motor ke sini di ambilnya handphone dan di lihat sudah Jam 12 malam lebih pasti Belvi sudah tidur, ia mencoba melakukan panggilan terhadap gadis itu.


Belvi yang sudah terlelap terbangun oleh panggilan telepon, lalu dia melihat di monitor tertera nama ketua kelas. Ngapain dia malam-malam telpon kurang kerjaan saja, batinnya.


Dia pun menerima panggilan itu. "Assalamu'alaikum, ada apa memanggilku, " jawabnya dengan suara serak.


"Tidur?" tanyanya


"Enggak, lari-lari," kata Belvi dengan suara keras dan ketus membuat Vino menjauhkan handphone dari telinganya.


"Aku di luar rumahmu cepat ganti baju dan keluar!" perintahnya pada Belvi

__ADS_1


"Kau siapa? Main perintah saja," jawabnya.


"Aku mantan calon kakak iparmu, jadi cepat lah kemari!" perintahnya kembali.


"Ah kau ini, mengganggu orang tidur saja," teriak Belvi lalu menutup telponnya. kemudian ia bangkit dari ranjang berganti mengenakan celana panjang longgar berbahan kain dengan kaos lengan panjang tanpa kra dan memakai hijab instan dan mengambil kunci rumah, Belvi tahu Dia pasti di suruh ikut dengan pria itu dan mungkin dia tak akan mampu menolak.


Gadis itu keluar dari rumahnya


mengunci pintu pagar dan kemudian menghampiri pria itu.


"Ada apa? Kau menganggu saja," katanya setelah dekat dengan Vino.


"Suaramu keras sekali seperti tukang parkir saja," gerutunya sambil memberikan Helm pada Belvi.


Belvi memakai helm dan duduk di belakang tiba-tiba Vino menyuruhnya turun.


"Turun! Cepat Turun," kata vino pada Belvi.


"Kenapa lagi?" tanyanya sebal.


"Ambil jaket mu ini dingin, apa kau mau mati kedinginan?" tanyanya frontal sambil mengambil helm di kepala


"Ck, aku harus masuk lagi nih," kata Belvi.


"Emang kau bisa ambil dari sini?" tanyanya lagi tak mengubah expresinya.


"Tidak, Ahh kau ini merepotkan saja!" teriaknya sambil menghentakkan kakinya, ia pun melangkah kembali kerumah membuka pintu pagar lalu dengan cepat ia berjalan ke kamarnya kemudian menyambar Jaket yang ada di sofa dan memakainya lalu kembali dengan cepat menemui Vino.


Dia tak tahu kenapa setiap kali di perintah oleh Vino tak sanggup menolak, selalu saja dikerjakan dan ada sebuah kesenangan setidaknya ia berbicara dengannya bukan hanya diam saja.


Ia pun sudah berada diluar pagar dan mengunci kembali pagarnya lalu berjalan menuju motor. ia akan memakai helm tiba-tiba saja Vino meng hentikannya.


"Ada apa lagi?" tanya Belvi urung memakai helm.


"Aku merindukannya, jadi biarkan aku memandang wajahmu sebentar, agar bisa menghapus rindu ini," katanya sambil terkekeh.

__ADS_1


"baiklah olok-olok aku terus agar kau bisa tertawa dengan puasnya dan esok hari tidak akan membuatmu seperti manusia robot yang tak bisa tersenyum sama sekali," kata ku sambil memasang helm.


__ADS_2