
Begitu helikopter lepas landas, Rania merasa lega, Ya Allah, Mas, aku tadi rasanya takut sekali tatapan mereka seperti enam bulan yang lalu saat mereka menculikku, apa kamu gak lihat kaki dan tanganku gemetaran aku juga takut di amuk masa.
"Apa anda kira kami juga gak gemetaran pada waktu kami di datangi mereka dan bertanya siapa kami.
"Pak Jo, coba kita balik arah di tengah hutan sana ada tanah lapang yang sangat luas kita cek kesana sekalian apa bisa mendarat di sana ataukah tidak," kata Yuda pada pilot dan ko pilotnya.
"Baik, Pak saya akan balik arah," kata mereka.
"Mas kita gak mendarat kan, aku masih sangat takut coba sentuh tanganku masih dingin tubuh masih gemetaran bayangan di culik itu kembali terbayang dalam ingatanku," jelas Rania.
Yuda mengambil jemari wanita itu dan di genggamnya dengan sangat hangat lalu dipeluknya dibawa kedalam kehangatan tubuhnya agar wanita ini tenang. "Lupakan yang telah berlalu, kita hanya memeriksa tempat tadi harus di pikirkan dengan sangat masak-masak bagaimana untuk mengakhiri ritual yang sudah di yakini banyak warga dan bahkan harus merelakan putri untuk di jadikan ritual itu. Harus diakhiri bukan," kata Yuda pad Rania.
Wanita itu menggangguk, dan memeluk kekasih hatinya mencari kenyamanan hati dan pikirannya.
Helikopter itu terbang mengitari tanah lapang itu mulai mengukur apa bisa di gunakan sebagai landasan untuk mendarat, saya kira seperti kita bisa mendarat di sini pak nanti, kalau sudah mau memutuskan untuk eksekusi," kata ko pilot.
"Baik, kita kembali saya ingin memastikan saja karena mendarat di sana jelas tidak mungkin karena mereka akan tahu kalau kita datang," kata Yuda
"Betul apa kata Bapak rasanya akan lebih aman mendarat di sana bahkan kita bisa menyembunyikan dengan dedaunan.
"Ya, betul katamu, Jo. Helikopter terus melakukan penerbangan menuju kota di mana mereka tinggal.
Enam jam mereka mengapung di udara dengan perasaan yang tidak menentu, Jam enam sore mereka mendarat ke badara, dengan sangat hati-hati Yuda membantu Rania untuk turun setelah itu mereka berdua berjalan keluar dari bandara dan masuk ke mobil Yuda.
Yuda mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, Kemarin dan hari ini ada hari yang indah untuknya, kesedihan kemarin terhapus sudah di berhenti di sebuah butik di sana di membelikan banyak pakaian untuk Rania.
__ADS_1
Setelah itu mereka kembali ke mobil dan meneruskan perjalanannya menuju ke apartemen milik Yuda. Memakan waktu satu jam untuk bisa sampai di sana.
Jam tujuh malam mereka sampai, Yuda segera memakirkan mobilnya di area parkir mereka keluar dan bersama berjalan melewati lobby lalu masuk ke dalam lift.
Setelah sampai di lantai atas pintu terbuka dan mereka keluar dan berjalan menuju apartemen, Yuda menekan password dan pintu pun terbuka dia pun masuk dan mengantarkan sang kekasih menuju kamarnya lalu dia sendiri pergi ke kamarnya dan dia sendiri pergi ke dalam kamarnya.
Yuda berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah selesai segera berganti pakaian rumahan. setelah itu dia menelpon seseorang dan berbicara serius lalu menyudahi panggilannya kemudian dia masih sibuk dengan handphone-nya jemarinya mengetik sesuatu di handponenya, setelah itu keluar kamar dan mengetuk kamar sebelah. Tak lama kemudian, pintu terbuka, Yuda terpanah ketika sang kekasih muncul di hadapannya dengan terlihat sangat cantik walau tanpa make up menghiasi wajahnya.
"Aku baru saja memesan makanan karena dalam kulkas tidak ada bahan makanan aku di sini hidup sendiri, aku tidak pernah masak, jika lapar aku akan beli di luar," katanya sambil menarik tangan Rania mengajaknya di meja makan di tariknya kursi untuk Rania duduk lalu berjalan memutar dan kembali menarik untuk dirinya sendiri.
Beberapa saat terdiam dengan pikirannya sendiri-sendiri lalu terdengar bel berbunyi, Yuda bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu apartemennya kemudian membukanya.
seorang pria pengantar makanan telah berdiri di depan pintu. "Pesanannya, Tuan." Pria itu memberikan dua box makanan yang di taruh tas jinjing plastik. Yuda menerimanya dan memberikan tip pada pria itu, setelah itu masuk kedalam sambil menutup pintu apartemennya.
Mereka pun makan dengan tenang, tak ada percakapan serius saat ini Yuda tidak ingin acara makannya terganggu dengan masalah yang mungkin akan mengurangi selera makannya.
Dua puluh menit berlalu, mereka telah selesai makan malam. Yuda menatap Rania ada kecemasan terpancar dari raut muka dan tatapannya.
"Aku sudah menelpon temanku untuk mengamankan aset-aset ayah angkat mu serta telah membekap semua data-datanya, serta mengembalikan semua dana yang di curi oleh Beril, Paling lama nanti pagi kita akan mendapatkan tentang kesehatan perusahaannya serta sistem keamanannya juga.
"Apa Ayahmu tahu keadaan mu?" tanya Yuda
"Ya dia tahu, dan sempat memohon pada Beril untuk melepaskan ku, tapi dia tak mau melakukannya, bahkan menyeret Ayahku keluar, dia berteriak meminta maaf padaku," kata Rania.
"Syukurlah jika dia tahu yang sebenarnya bahwa Beril bukan pria yang baik," kata Yuda.
__ADS_1
"Hem, lalu bagaimana dengan nasibku, Mas Yuda?" tanya Rania pada Yuda.
"Jangan kawatir, aku akan menebus mu pada Beril," jawab Yuda pada pada Rania.
"Bagaimana Jika Beril tidak memberikan ku padamu?" tanya Rania.
"Akan ku pastikan bahwa dia akan setuju, untuk memberimu padaku," jelas Yuda
"Trimakasih," ucap Rania.
"Jangan berterima kasih dulu aku belum lakukan hal apapun kepadamu," katanya pada Rania.
"Aku tetap harus berterimakasih padamu walaupun belum tahu hasilnya, kau sudah banyak membantuku selayaknya aku berterimakasih padamu," kata Rania.
"Sudah jangan di pikirkan, tidur lah, mungkin kau sangat capek," kata Yuda.
"Baiklah, trimakasih untuk hari ini karena kamu sudah menenangkan ku," ucap Rania sambil berjalan menuju kamarnya, dan duduk di bibir ranjang hatinya berdebar kencang, dan dia menginginkan kemarin malam terjadi lagi, tetapi dia yakin tidak akan terulang, karena Yuda selalu membuktikan apa yang dikatakannya.
Seperti tadi jika dia mengatakan bahwa dia tak menyentuhnya sebelum hijab Kobul dia ucapkan untuk namanya.
'Ya aku harus menghargai apa yang di putuskan untukku, dan jelas itu untuk kebaikanku sendiri,' pikir Rania
Sementara itu Yuda pun berjalan masuk ke ruangannya. Sebenarnya merasa tidak kuat jika saling berdekatan Rania tetapi dia tak ingin membuat Rania tersinggung, dan itu aku tidak akan mengingkari apa yang menjadi keputusannya itu.
Yuda membaringkan tubuhnya diatas ranjang alu diapun terpejam menghilang rasa resahnya.
__ADS_1