
Vino melajukan motornya dengan kecepatan penuh meleok-leok dijalan raya. Menyalip mobil ke kiri dan ke kanan, dia sudah sangat bisa dengan laju kecepatan tinggi dan jalur jalanan yang ramai, ia melewati jalur yang tidak di jaga polisi, hanya sebentar saja dia sampai dan memarkirkan di area parkir sekolah.
Langkah tegapnya berjalan menuju kelasnya dengan cepat melangkah masuk lalu duduk di bangku di sebelah belvina.
dia Lalu mengeluarkan buku tugas rumah yang kemarin kemudian dengan cepat mengerjakannya, melihat itu Belvina tidak tahan berkomentar.
"Apa di rumah tidak sempat mengerjakannya hingga sampai di sekolah masih tetap mengerjakan?" tanya Belvina
"Apa kau guruku? Hingga menceramahi ku seperti itu.
"Bukan tapi aku peduli padamu," kata Belvina
"Jangan sok menjadi orang yang perhatian terhadap terhadap teman, aku tidak butuh itu," kata Vino sambil menyelesaikan tugasnya, setelah selesai, ia menutup Bukunya dan memasukkan dalam tas kembali mengeluarkan buku yang lain dan mengerjakan pekerjaan dengan cepat.
Belvi menghelah napas, walaupun merasa sebal dengan jawaban Vino tapi ia juga merasa kagum dengan ke eceran otak Vino yang luar biasa itu, hingga mampu menyelesaikan tugas dengan cepat.
Waktu tinggal lima menit Vino mengeluarkan buku yang lainnnya, dan mengerjakan kembali hingga terdengar suara bel tanda masuk berbunyi dan Vino masih tenang mengerjakan hingga seorang guru masuk dalam ruangan baru ia menghentikan aktivitasnya dan memasukan buku kembali ke dalam tas.
Pelajaran di mulai guru sudah mulai mengawali pelajaran dengan kata pengantar lalu meminta mereka mengumpulkan tugasnya.
Vino adalah ketua kelas sehingga dialah yang bertugas mengumpulkan tugas para siswa.
"Mana buku tugasmu? Jangan kau bilang kau lupa mengerjakannya! Setelah menceramahi ku panjang lebar," kata Vino pada Belvi.
"Aku bukan dirimu lupa mengerjakan tugas lalu menyelesaikan di sekolah yaa," katanya sambil mengeluarkan buku tugasnya dan memberikan nya pada Vino.
Vino tersenyum sinis sambil menyahut buku tugas belvi lalu berkeliling mengambil buku tugas temannya dan membawanya ke meja guru.
Setelah itu kembali ke tempat duduknya tanpa melihat teman sebangkunya, dan focus pada apa yang di jelaskan gurunya walaupun beberapa kali dia menguap.
__ADS_1
Setelah pelajaran pertama, berganti pelajaran yang berbeda dengan garu yang berbeda hingga akhirnya bel istirahat berbunyi sang guru mengakhiri penjelasan dan di lanjutkan setelah istirahat.
Begitu guru keluar kelas Vino meletakan kedua tangannya di meja dan menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangannya dan mulai tertidur.
Belvi hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Vino tertidur. Apa tidak pernah tidur di rumah hingga tidur seperti itu, pikirnya.
Belvi bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari kelasnya berjalan menuju kantin, dia berjalan ke arah sih penjual dan memesan makanan lalu mencari tempat duduk yang nyaman sambil menunggu pesanan datang.
Tak lama kemudian pesanan datang satu mangkok bakso dan segelas es teh manis. Tiba-tiba seseorang pria duduk didepannya dan mengambil bakso pesanan dan menuangkan caos dan sambal di dalamnya, membuat Belvi berteriak sambil menatap tajam pada pria yang mengambil begitu saja pesanannya, dia tak lain adalah Vino.
"Kau! Bukankah tadi kau tidur? Kenapa sekarang ada di sini dan mengambil pesananku?" tanya Belvi dengan marah.
"Tukar, sebentar lagi pesanan ku datang," kata sambil melahap bakso pesananku dan meminum es teh ku.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu pesanannya datang. Setelah selesai ia meletakan uang 50 ribuan di atas meja.
"Bayar juga pesanku! aku kembali kelas," katanya beranjak dari tempat duduknya dan akan melangkah pergi.
"Aku tidak lagi mentraktir mu tetapi titip kau bayarkan sekalian, kalau ada kembaliannya berikan padaku di kelas!" perintahnya sambil berjalan pergi meninggalkan ku.
Jika kakakku tak mencintai mu sudah ku getok kepalamu dengan sendok ini, gerutu Belvi dalam hati. Akhirnya ia mengambil uang yang di berikan Vino padanya.
Pesanan kedua datang Belvi mengambil dan mulai meracik dengan sambal dan caos lalu menikmati dengan hati yang sedikit gusar.
Di tengah menikmati makanannya seorang gadis seusianya duduk di depannya
"Namaku Zarina, ku dengar kau duduk sebangku dengan Vino dan ku lihat tadi kamu begitu akrab dengannya, aku boleh meminta tolong padamu? Aku menyukainya bisakah kau sampaikan perasaanku padanya?" kata Gadis itu pada Belvi.
"Apa aku mengenalmu? Tidak kan? Lalu kenapa aku harus mengurusi perasaanmu, aku tidak biasa mengurusi urusan orang lain jadi pergi lah, aku tidak ingin selera makanku hilang karena permintaan konyol mu itu," kata Belvi sambil menyuapkan makanan di mulutnya.
__ADS_1
"Kau sombong sekali anak baru," kata Zarina sambil bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Belvi.
Belvi menyelesaikan makanannya lalu membayarnya kemudian meninggalkan kantin menuju kelasnya beberapa siswi di kantin itu berbisik -bisik sambil melihat ke arah Belvi.
Beberapa menit kemudian ia sampai dikelas dan berjalan masuk lalu duduk di bangkunya, sambil melirik pada seseorang yang menelungkupkan wajahnya di atas tangannya di meja depan bangku sekolah.
Belvi menghelah napas dan berkata dengan lirih," Dasar pria aneh!" Begitu cepatnya dia tidur kembali, apa di rumah tidak pernah tidur?"
Hingga bel masuk Vino belum bergeming dari posisi tidurnya. Belvi mencoba membangunkannya.
"Vin, bangun Pak Dani sudah datang dan pelajaran akan segera di mulai," kata Belvi sedikit keras tepat di telinganya
Dia menoleh pada Belvi dengan mata yang masih terlihat merah tanpa berkata ia bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kursi tempat duduknya.
Aku meletakan uang kembalian miliknya di atas meja. "Itu uangmu!" kata gadis itu pada Vino.
Vino mengambil uangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Belvi kembali membuang nafas dengan kasar.
"Dasar patung!" umpatnya lirih tapi masih di dengar oleh Vino.
"Siapa yang patung?" tanya Vino sambil menyorot tajam ke arah Belvi
"Tidak ada, bangku sebelah," kata Belvi Asal.
Vino tak membahasnya lagi, ia mulai mendengarkan keterangan yang di berikan pak Dani sambil sedikit menguap, beberapa kali ia pejamkan matanya lalu kembali lagi membukanya, entah tidak ada yang menegurnya karena memang dia di kenal dengan kecerdasannya, ada beberapa yang bilang walaupun dengan mata terpejam ia mampu menyimak keterangan guru dan mampu menjabarkan kembali.
Pelajaran pun berakhir dan istirahat ke dua tiba, dia kembali ke posisi yang tadi menelungkupkan di atas punggung tangannya yang letakan di atas meja sambil berkata," tolong bangunkan kembali saat waktu istirahat telah selesai."
__ADS_1
Aku tak menjawab dan dia pun tak mempermasalahkannya. Aku kembali berkutat dengan buku -buku yang harus ku pahami maklum selama ini aku tinggal di Boston tentu sistem pendidikan di sana sangat lah berbeda dengan di Indonesia.