Hijab Cinta Belvina Dari Gloria

Hijab Cinta Belvina Dari Gloria
Bab 68


__ADS_3

Albert menemani Vino di ruang tamu. "Maaf, Om saya malam-malam ke sini karena mencemaskan Belvi, apa tidak apa-apa Om, kalau saya menunggu Belvi?" tanya Vino pada Albert.


"Tidak apa-apa, maaf cuma saya yang bisa nemani kamu, Nak karena ibunya anak-anak sedang menemani si bungsu tidur," jawab Albert.


Tak lama kemudian terdengar deru sepeda motor berhenti dihalaman rumah, dan berjalan pelan di garasi. Setelah itu berganti derap sepatu yang berjalan ke arah pintu masuk ruang tamu lalu salam dan kami menjawab bersamaan.


"Kok malam sayang?" tanya Albert pada putrinya.


"Iya, biasalah Dad kucing-kucingan dulu," kata Belvi.


Albert menghembuskan nafas. "apa kamu gak bisa ndok pindah begitu, jangan di kriminal, di satlantas apa dimana gitu?" tanya sang ayah.


"Daddy kita sudah ngomong itu dari dulu ya, dan pilihan Vi gak berubah," jawab Belvi sambil melihat Vino yang duduk di sebelah sang Daddy.


"Kamu ya Vin yang buat Daddy ngomong gitu ke aku?" tanya Belvi pada Vino.


"Lah, kok jadi aku sih Vi, aku itu kesini karena menghawatirkan kamu, beberapa panggilan tidak kau jawab," kata Vino


"Ya, memang harus tidak ku jawab, karena kalau ku jawab bisa berbahaya karena pemilik restoran itu selalu saja mendekati ku dan handponeku dalam keadaan silent," jawab Belvi sambil duduk di kursi di depan Vino.


Albert melihat interaksi Vino dengan Belvi sudah sedikit berbeda, seperti mencemaskan orang yang dicintainya.


"Itulah yang aku cemaskan ke kamu, kamu itu kalau nyamar ngak akan kelihatan jelek Vi, makanya itu aku cemas, penyamaran model apapun itu ujung-ujung mereka yang menjadi target penyelidikan kita, malah tertarik sama kamu," kata Vino sedikit kesal


Melihat itu Albert sedikit tersenyum dia berharap apa dia tangkap dari expresi Vino saat ini benar adanya.


"Itu kan lebih bagus Vin, bisa dekat dengan target yang sesungguhnya," kata Belvi pada Vino.


"Iya, tapi kalau pada akhirnya kamu diseret di lubang buaya lebih misi gagal Vi dari pada kamu kenapa-kenapa," kata Vino.


"Kenapa sih kamu bawel sekali, lagian kamu sekarang kan lagi bertugas, gak ingin itu-itu," tanya Belvi sambil menggerakkan kedua alis ke atas.


"Itu-itu apa sih Vi, kamu gak jelas banget?" tanya Vino


"Loh, kan kamu tadi bawa cewek cantik, Vin. Cantik banget malah dan bajunya itu bikin panas dingin, gak salah kan kalau aku ngira kamu habis begituan," kata Belvi yang mulai cemburu.


"Ya Allah, Vi, lo kayak gak kenal gue saja, kalau mau begituan kenapa sama dia, lebih baik sama lo sekalian gue halalin dan kamu berhenti kerja," kata Vino tegas

__ADS_1


"Ya kamu kan sukanya sama kakak gue bukan gue," jawab Belvi.


"Apa bedanya lo sama kakak lo, gak ada bedanya muka dan tubuh lo, semuanya sama, bedanya hanya nama doang dan ...." Vino menghela napas kasar


"Ini kayaknya kalian ada masalah deh, kalian selesaikan! Daddy mau nyusul bunda mu, Vi, dan dengan baik-baik, jangan bertengkar," kata Albert pada mereka.


Albert berjalan masuk kedalam kamar dan di sambut istrinya. Kenapa di tinggal?" tanya Naila begitu suaminya masuk kamar.


Albert tertawa. "Mereka sedang berdebat, sepertinya putri kita sedang cemburu dan Vino mulai mengkhawatirkan Belvi aku mengira Vino sudah mulai menyukai Belvi. Apa kita curi dengar saja ya Bun, di ruang tengah?" usul Albert pada istrinya.


"Boleh juga, Dad." Mereka pun berjalan mengendap-endap menuju ruang tengah dan duduk di meja makan.


Terdengar percakapan antara Vino dan Belvi terdengar. "Kamu itu kebiasaan selalu saja begitu, gak pernah terus terang sama gue kalau lo berani coba jelaskan sama gue, maksudnya dan ... itu apa?" tanya Belvi pada Vino


Vino menghembuskan napas. "Gue juga gak tahu, Vi, yang jelas gue cemas hari ini karena lo, dan gue dari tadi siang belum makan apapun karena sibuk nelpon lo dan lo gak jawab Vi," kata Vino pada Belvi.


"Lo pikir gue gak takut apa di sana, lo mala enak -enakan sama tu cewek," jawab Belvi kelepasan hingga mengungkapkan rasa cemburunya pada Vino.


Vino tertawa. "Lo cemburu Vi," tanya Vino.


"Lah itu hanya lo yang tahu, kalau gak cemburu sama gue ngapain segitu keselnya lo lihat gue jalan sama dia, padahal lo tahukan gue lagi bertugas dan cewek itu targetnya. Lagi pula gue perna tu colek-colek sama tu cewek, asal lo tahu ya Vi, Cewek yang pernah gue peluk cuman lo doang, walaupun itu terpaksa karena tugas lindungi lo," kata Vino sambil menundukkan wajahnya.


"Jadi kamu terpaksa peluk gue waktu itu?" tanya Belvi dengan tatapan tajam.


"Gue salah lagi kan? Ok! lo mau gue sengaja peluk lo yang belum halal buat gue, gak apa-apa kalau lo mau sini gue peluk lo, gue ngak akan keberatan," kata Vino terkekeh


"Apaan si Vin?" gerutu Belvi semburat merah menghiasi wajahnya sesaat lalu dia menyembunyikan rasa malunya pada Vino.


Vino tertawa. "Lo makin cantik saja Vi, kalau lagi tersipu begitu."


"Lo jangan gombal, sejak kapan lo bisa gombal kayak gini?" kekeh Belvi menghilangkan rasa malunya.


"Sejak tugas kita di rumah sakit itu, gue selalu saja cemas sama lo, sayangnya lo gak paham itu," kata Vino pada Belvi dan mereka pun terdiam sesaat dan suasana semakin sunyi, tanpa ada percakapan.


"Vi!" panggil Vino


"Apa?" tanya Belvi

__ADS_1


"Mana kunci motor lo? Kita makan di luar, perut gue lapar nih," kata Vino.


"Kenapa harus di luar? Bunda pasti masak, makan di sini saja aku siapkan, kamu kan lagi dalam penyamaran bagaimana kalau ketahuan nanti," jawab Belvi.


"Beneran Boleh makan di sini?" tanya Vino


"Hem," kata Belvi


Sementara Albert dan Naila yang ada di ruang tengah bergegas pergi menuju kamar mereka.


"Ayo ke dalam!" ajak Belvi.


"Bener nih, engak apa-apa, aku engak enak aja masuk kedalam," kekeh Vino.


"Lo kelamaan," kata Belvi sambil meraih tangan Vino dan menyeretnya masuk ke dalam.


"Lo duduk situ gue panasi dulu makanannya," kata Belvi mulai mengambil semua masakan yang ada di kulkas lalu memanaskan semua masakan lalu di letakan di atas meja. Vino tak berhenti menatap punggung gadis itu mencoba mengenali perasaannya, apakah benar dia telah jatuh cinta pada cewek barbar yang ada didepannya ini.


Belvi mengambilkan makanan pada pada Vino sambil tak berhenti bertanya apa yang di sukai pria itu. Vino tak bergeming menatap gadis itu hingga tak menyadari makanan sudah berada di depannya.


"Vin!" panggil Belvi


"Apa?" tanya Vino


"Itu, katanya lapar, kok malah bengong sih?" tanya Belvi.


Vino menatap makanan yang sudah berada di depannya lalu tertawa. "Ahh, iya hampir lupa, habis berasa seperti suami aku," gumamnya lirih meninggalkan logat lo dan gue dan masih bisa didengar Belvi


"Apa?" tanya Belvi berharap pria itu mengulang perkataannya tadi tapi seperti dia harus kecewa karena Vino justru mengalihkan pembicaraannya.


"Kamu gak makan,Vi?" tanya Vino


Enggak aku gak lapar, baru makan sebelum pulang tadi," jawab Belvi.


"Ayo lah Vi, makan sedikit, temani aku makan, ngak enak lah makan sendiri," protesnya.


"Ok, aku makan, jangan bawel!" kata Belvi yang akhirnya mengambil nasi dan lauknya menemani Vino makan.

__ADS_1


__ADS_2